Bagaimana Suatu Kaum Mengangkat Pandangannya !

6.jpg

Anas bin Malik –semoga Alllah meridhainya- meriwayatkan dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda, “bagaimanakah suatu kaum yang mengangkat pandangan mata mereka ke langit dalam shalat mereka- maka ucapan beliau tersebut pun semakin keras- hingga beliau bersabda, “sungguh mereka harus menghentikan perbuatan tersebut atau penghilahatan mereka akan disambar [1]

Dalam hadis ini terdapat banyak faedah dan pelajaran yang dapat dipetik yang terkait dengan masalah amar ma’ruf nahi munkar, di antaranya yang terangkum dalam  poin berikut ini :

Pertama, termasuk gaya melakukan pengingkaran adalah “tarhiib” (memberikan warning atau peringatan berupa ancaman)

Kedua, Seorang muhtasib hendaknya berupaya untuk melakukan sebab-sebab yang akan menjadikannya khusu’ ketika shalat.

Ketiga, Di antarara sifat seorang muhtasib adalah berada terhadap Allah.

Keempat, Di antara bentuk gaya pengingkaran adalah ta’ridh (tidak tunjuk hidung, namun menyebutkan secara umum)

  • Penjelasan :
  • Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- telah mengancam orang yang mengangkat pandangan matanya ke langit akan disambar penglihatannya.

Ini merupakan ancaman yang cukup keras dan merupakan larangan yang tegas yang menunjukkan haramnya tindakan mengangkat pandangan  ke langit ketika shalat. Ibnu Khuzaemah telah membuat bab untuk hadis ini dengan perkataannya : Bab at-Taghliizhu Fii an-Nazhar Ilaa as-Samaa-I Fii ash-Shalaat,  Ancaman keras bagi orang mengarahkan pandangannya ke langait saat shalat. Oleh karena itu, seorang muhtasib dianjurkan untuk menggunakan gaya pengingkaran berupa ancaman dalam mencegah suatu kemungkaran. Gaya ini akan memberikan pengaruh ke dalam jiwa dan akan mendorongnya untuk menolak dari melakukan tindakan munkar.

  • Seorang muhtasib hendaknya memperhatikan shalatnya, hendaknya ia mengerjakannya dengan khusyu’, dan berusaha dengan sungguh-sungguh agar tidak berkurang disebabkan karena sebuah tindakan seperti mengarahkan padangan mata ke langit dll, dan hendaknya ia mengingkari orang yang mengangkat pandangannya ke langit dalam shalatnya, karena sesungguhnya khusyu’ merupakan inti dan ruhnya shalat, yang harus diwujudkan dengan hati dan anggota badan, dan orang yang mengangkat pandangan matanya ke langit (ketika shalat) serta mengarahkan pandangannya ke sana kemari menunjukkan hati dan anggota badannya tidaklah khusyu’, hal demikian itu karena hati itu dengan pikirannya mengikuti pandangan mata [2]
  • Seorang Muhtasib haruslah beradab terhadap Allah dalam kesendiriannya dan dalam kondisinya disaksikan oleh orang lain serta dalam setiap keadaannya. Tindakan mengangkat pandangan mata ke langit ketika shalat menafikan adab terhadap Allah, “karena sesungguhnya orang yang tengah shalat sedang bermunajat dengan Allah, dan Dia berada di hadapannya di arah kiblatnya, maka tindakan mengangkat pandangan dan berpalingnya dari Dzat yang dilihatnya dengan hatinya merupakan bentuk adab yang buruk, tindakan ini menunjukkan bahwa dirinya tidak merasa bahwasanya ia tengah menyembah sesembahan yang selalu melihat dirinya dan lebih dekat kepadanya daripada urat leher [3]
  • Hadis di atas memperlihatkan kepada kita dengan jelas sebuah gaya dalam melakukan pengingkaran terhadap tindakan munkar, yaitu ta’ridh, di mana Nabi telah menyebutkan dengan tidak tunjuk hidung terhadap orang yang mengangkat pandangan matanya ke langit ketika shalat. Ini merupakan gaya dan metode nabawi yang mulia; seringkali beliau tidak tunjuk hidung terhadap pelaku perkara yang tidak disukai, namun beliau bila melihat atau mendengar perkara yang tidak disukainya beliau menyebutkannya secara umum, seraya mengatakan, “ bagaimanakah suatu kaum …melakukan ini dan itu “ hal itu dilakukan untuk menghindari kles secara langsung dengan perkara yang tidak disukainya, namun begitu dapat mencapai maksud yang dituju. [4] Dalam tindakan ini pula terkandung rasa kasih sayang terhadap pelaku perbuatan munkar dan menutupi aibnya. Sungguh, termasuk kebiasaan beliau ketika tidak menyukai sesuatu, beliau menyebutkan perkara yang tidak disukainya tersebut dan tidak tunjuk hidung terhadap pelakunya. Ini termasuk bentuk keagungan akhlak beliau-shallallahu ‘alaihi wasallam-; sesungguhnya yang dimaksudkan oleh beliau adalah si pelaku dan seluruh orang yang hadir dan juga selain mereka yang tersampaikan pesan tersebut kepadanya. Sehingga tidak terjadi hujatan terhadap pelakunya di hadapan orang banyak [5]

Wallahu a’lam

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Al-Ihtisab Fii Shahih Ibni Khuzaaemah, Abdul Wahhab bin Muhammad bin Fa-yi’ ‘Usairiy (hal.112-113)

 

 

[1] Diriwayatkan pula oleh imam al-Bukhari,2/727, hadis no. 750

 

[2] Taudhihu al-Ahkam, al-Bassam, 1/511

[3] Taudhiih al-Ahkaam, al-Bassam, 1/512

[4] Lihat, Aunul Ma’bud, al-Azhim Abaadiy, 13/100-3/127

[5] Syarh Muslim, an-Nawawi, 9/176

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: