Banyak Bertaubat Dicintai Allah

Banyak Bertaubat Dicintai Allah

Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُؤْمِنَ الْمُفَتِّنَ التَّوَّابَ

Sesungguhnya Allah mencintai seorang mukmin yang menarik hati lagi banyak bertaubat
***
Untuk menjelaskan hadis ini, perlu kirannya kita uraikan terlebih dahulu tentang tingkatan-tingkatan manusia terkait dengan taubat. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Qudamah al-Maqdisi di dalam Mukhtashar Minhaj al-Qashidin.

Tingkatan Pertama :
Seorang yang bertaubat, ia istiqamah di atas taubatnya hingga akhir umurnya. Dan, ia mengejar ketertinggalan sesuatu yang terlewatkan dari urusannya. Tidak mengatakan kepada dirinya untuk kembali lagi melakukan dosa-dosanya. Melainkan karena ketergelinciran yang mana manusia tak dapat terpisah darinya pada ghalibnya. Maka inilah dia istiqamah di atas taubat. Dan, pelakunya, dialah orang yang bersegera melakukan kebaikan-kebaikan. Dan, taubat yang demikian ini dinamakan dengan taubat nasuha. Jiwa ini dinamakan dengan nafsu al-Muthmainnah. Dan, mereka itu berbeda-beda keadaannya, di antara mereka ada yang syahwat-syahwatnya tenang, di bawah tekanan ma’rifah, maka ia merasa lemah untuk mencabutnya, dan di antara mereka ada yang nafsunya brontak, maka ia penuh dengan kesungguhan di dalam melawannya.

Tingkatan Kedua :
Seorang yang bertaubat telah menempuh jalan istiqamah dalam hal mengerjakan induk-induk ketaatan dan (menjauhkan diri dari) perbuatan-perbuatan keji yang besar, hanya saja ia tidak dapat terlepas dari dosa-dosa yang muncul di hadapannya, hal tersebut dilakukannya bukan dengan sengaja, akan tetapi ia dicoba dengan hal-hal tersebut di sepanjang keadaannya, setiap kali ia melakukannya ia pun mencela dirinya, menyesal dan bertekad kuat untuk menghindarkan diri dari sebab-sebabnya. Ini adalah nafsu lawwamah karena ia mencela pemiliknya atas jatuhnya dirinya ke dalam perkara yang menghinakan. Maka, ini merupakan tingkatan yang tinggi juga, meskipun lebih rendah dari tingkatan pertama, dan ini merupakan kondisi galibnya orang-orang yang bertaubat, karena keburukan merupakan hal yang melekat pada watak bawaan manusia, dan sedikit sekali peluang untuk dapat lepas darinya, upaya maksimal yang dapat dilakukan adalah kebaikannya mengalahkan keburukannya, sehingga timbangan kebaikannya lebih berat, adapun untuk sampai kosongnya telapak tangan dari keburukan, maka sangat jauh kemungkinannya. Dan, mereka itu memiliki janji yang baik dari Allah, di mana Dia berfirman,

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ [النجم : 32]

(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya … (Qs. An-Najm : 32)

Dan, kepada tingkatan ini diisyaratkan oleh sabda Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam-

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُؤْمِنَ الْمُفَتِّنَ التَّوَّابَ

Sesungguhnya Allah mencintai seorang mukmin yang menarik hati lagi banyak bertaubat.

Tingkatan Ketiga :
Seseorang bertaubat dan terus beristiqamah beberapa waktu, kemudian syahwatnya mengalahkannya pada sebagian kasus perbuatan dosa, maka ia pun melakukan dosa tersebut karena ketidakmampuan dirinya untuk mengekang syahwatnya tersebut, meski demikian ia tetap mengerjakan ketaatan-ketaatan dan meninggalkan sejumlah perbuatan dosa padahal dirinya mampu dan berhasrat melakukannya, ia hanya didorong oleh satu atau dua syahwat, dan ia pun sangat suka jika Allah memampukannya untuk mengekang syahwatnya dan menjaganya dari keburukannya, lalu bila syahwatnya usai melampiaskan hasratnya ia pun menyesal, namun ia berjanji dirinya bakal bertaubat dari perbuatan dosa tersebut. Maka ini adalah an-nafs al-Mas’ulah, dan pemiliknya termasuk golongan orang-orang yang Allah berfirman tentang mereka,

وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ [التوبة : 102]

Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Qs. At-Taubah : 102)
Maka, perkara ini, dari sisi kebiasaannya mengerjakan ketaatan dan ketidaksukaannya terhadap (keburukan) yang telah ia lakukan sangat diharapkan (bakal diterima taubatnya), karena firman-Nya,

عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِم

ْ
Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka.
Dan, kesudahannya berbahaya, dari sisi penundaannya dan sikap nanti-nantinya, karena boleh jadi nyawanya terenggut sebelum ia bertaubat, karena amal-amal itu tergantung penutupnya. Maka, atas dasar ini, kekhawatiran itu pada segeranya orang tersebut menutup kehidupannya, dan setiap jiwa mungkin untuk berhubungan dengan kematian, sehingga keadaan tersebut menjadi penutup hidupnya, maka dari itu hendaknya jiwa-jiwa senantiasa merasa dalam pengawasan Allah dan berhati-hatilah agar tidak terjatuh ke dalam perkara yang terlarang.

Tingkatan Keempat :

Seseorang bertaubat dan beberapa saat berjalan di atas istiqamah, kemudian ia kembali melakukan dosa-dosa (yang pernah dilakukannya) tersebut dengan asiknya tanpa ada bisikan pada dirinya untuk bertaubat, tidak pula ada rasa penyesalan atas perbuatan dosa yang dilakukannya, maka orang ini termasuk orang yang meneruskan perbuatan dosanya. Jiwa ini adalah nafs al-ammarah bi suu-i, nafsu yang memerintahkan kepada keburukan. Dan ditakutkan orang ini bakal mati dalam keadaan suul khatimah. Jika orang ini mati di atas tauhid, maka diharapkan ia bakal terbebas dari Neraka meski setelah beberapa waktu, bukan mustahil ia bakal tercakupi oleh keumuman pemberian maaf (dari Allah) disebabkan sesuatu yang tersembunyi yang tidak seorang pun melihatnya, hanya saja bersandar kepada hal ini tidaklah layak, karena sesungguhnya orang yang mengatakan,’Sesungguhnya Allah karim (pemurah) dan perbendaharaan-Nya luas, kemaksiatanku tidak membahayakan-Nya’, kemudian Anda melihat orang tersebut mengarungi lautan untuk mencari dinar (harta), andai dikatakan kepadanya, ‘Jika benar Dia karim, maka duduklah saja engkau di rumahmu barangkali Dia memberimu rizki,’ niscaya orang yang meremehkan (perbuatan dosa tersebut) bakal mengatakan : rizki itu diperoleh hanya dengan usaha.’ Maka, layak dikatakan kepadanya, ‘Demikian pula halnya keselamatan, hanya diperoleh dengan ketakwaan.’

Kalau demikian, maka makna hadis yang telah disebutkan di atas adalah keadaan orang yang bertaubat yang menempuh jalan istiqamah, hanya saja ia tidak dapat bebas dari dosa-dosa yang menimpa dirinya, bukan karena sengaja, akan tetapi dirinya dicoba dengannya pada sebagian keadaannya tanpa didahului sebelumnya dengan tekad kuat untuk melangkah maju untuk melakukannya, dan setiap kali dirinya terjatuh ke dalam perbuatan dosa tersebut, ia mencela dirinya sendiri, menyesal dan bertekad untuk menghindarkan diri dari sebabnya, maka ini adalah an-Nafs al-Lawwamah karena ia mencela pemiliknya atas apa yang dilakukannya berupa menjatuhkan diri ke dalam keadaan yang hina. Dan, ini sebenarnya merupakan tingkatan yang tinggi juga, hal tersebut merupakan kondisi umumnya orang-orang yang bertaubat, karena keburukan merupakan hal yang melekat pada watak bawaan manusia, dan sedikit sekali peluang untuk dapat lepas darinya, upaya maksimal yang dapat dilakukan adalah kebaikannya mengalahkan keburukannya, sehingga timbangan kebaikan-kebaikannya lebih berat (Mukhtashar Minhaj al-Qoshidin, Ibnu Qudamah al-Maqdisiy)

Wallahu A’lam

Sumber :
Syarh Ahaadiits at-Taubah, Ahmad Muhammad Buqurain, (1/8)

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *