Beberapa Kiat Introspeksi Diri

introspeksi.jpg

Introspeksi diri atau muhasabah adalah kunci kesuksesan di dunia dan di akhirat.

Sayyidina Umar bin Khatthab ra. Berkata:

حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا، وزنوا أنفسكم قبل أن توزنوا، فإنه أهون عليكم في الحساب غدا أن تحاسبوا أنفسكم اليوم، وتزينوا للعرض الأكبر، ويومئذ تعرضون لا تخفى منكم خافية

Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah (amal) kalian sebelum (amal) kalian ditimbang, karena dengan menghisab diri kalian hari ini hisab kalian nanti akan lebih ringan, hiaslah diri kalian (dengan amal sholeh) untuk menghadapi pertemuan yang besar (hari kiamat). Ketika itu kalian diperlihatkan dan tidak sesuatupun dalam diri kalian yang tersembunyi.” (HR. Ahmad)

Berikut beberapa panduan untuk memudahkan kita mengintrospeksi diri:

1. Muhasabah (introspeksi) secara rutin.

Seorang muslim yang perhatian mengontrol jiwanya akan sungguh-sungguh melakukan muhasabah dari waktu kewaktu. Kita sangat perlu untuk introspeksi diri dari segala sisi, apa saja kelebihan kita yang perlu kita tingkatan dan apa saja kekurangan kita yang harus kita perbaiki.

Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan kepada kita salah satu kiat muhasabah diri, “Muhasabah yang paling baik ialah duduk sesaat ketika hendak tidur, lalu melakukan muhasabah terhadap dirinya tentang keberuntungan dan kerugiannya pada hari itu, setelah itu memperbarui taubat nasuhnya kepada Allah SWT. Lalu tidur dalam keadaan sudah bertaubat dan bertekad untuk tidak mengulangi dosa yang sama jika ia bangun. Hendaknya ia mengerjakan hal itu setiap malam. Jika ia meninggal di malam tersebut dalam keadaan demikian, maka ia meninggal dalam keadaan bertaubat. Jika ia bangun, ia bangun dalam keadaan  siap beramal dan senang karena masih diberi kesempatan untuk memperbaiki ketertinggalannya dan karena ajalnya masih ditangguhkan hingga (tiba waktu) ia menghadap Tuhannya.

2. Tingkatan-tingkatan muhasabah.

Hal pertama yang harus kita evaluasi sebagai muslim dalam adalah bagaimana akidah dan tauhid kita. Sudah benarkah keyakinan kita dalam beragama?? Sudah sucikah tauhid kita dari segala bentuk kesyirikan baik yang besar maupun yang kecil?? Syirik besar lebih tampak dan kita bisa lebih waspada, namun syirik kecil tidak terlalu tampak, sehingga banyak orang yang melakukan syirik kecil sedang ia tidak sadar, disitulah kita perlu untuk lebih jeli dan teliti melihat hati kita agar tidak terjatuh kedalam syirik kecil. Kemudian kita intropeksi diri tentang ibadah kita, bagaimana shalat lima waktu kita sudahkan kita laksanakan sebagaimana mestinya, sudah khusyu’kah shalat kita, bagaimana hubungan kita dengan kedua orang tua, sudahkah kita berbakti kepada mereka? Bagaimana dengan amar ma’ruf nahi mungkar? Sudahkah kita melaksanakannya? Bagaimana dengan puasa, zakat dan haji kita? Setelah itu kita intropeksi diri tentang sejauhmana kita menjauhi perbuatan dosa dan mungkar, baik kecil atau besar, sudahkah kita menundukkan pandangan kita dari hal-hal yang haram untuk dilihat, sudahkah kita menjaga lidah kita dari berkata bohong, menggunjing, atau mengadu domba? Sudahkah kita menjaga diri kita dari menikmati rizki yang haram?? Dan seterusnya.

3. Jenis-Jenis Muhasabah.

Muhasabah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim terbagi menjadi dua jenis; pertama muhasabah sebelum berbuat, dan kedua muhasabah setelah berbuat.

Adapun muhasabah sebelum berbuat adalah dengan merenung terlebih dahulu, melihat dengan jeli dan teliti dan tidak langsung berbuat terutama dalam hal-hal yang masih syubhat (belum jelas halal-haramnya) takut terjatuh kepada perbuatan haram.

Sedangkan muhasabah setelah berbuat terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  • Muhasabah ketaatan kita kepada Allah SWT, apa saja ketaatan yang kita lalaikan.
  • Muhasabah perbuatan yang lebih baik kita tinggalkan daripada kita lakukan.
  • Muhasabah terhadap hal-hal yang mubah (boleh), mengapa kita mengerjakannya? Apakah kita mengerjakannya karena Allah SWT dan kebahagiaan akhirat atau karena kebahagiaan dunia.

4. Muhasabah waktu

Hal penting juga yang perlu kita muhasabah juga adalah waktu, karena ia adalah modal utama dalam hidup yang tak akan pernah terulang. Sejauh mana kita memanfaatkan waktu? Apakah kita akan membiarkan waktu berlalu begitu saja sedang kita larut dalam maksiat dan hiburan? Apakah kita akan santai dan berleha-leha tanpa berbuat apapun sedang hidup kita terus berkurang dan kita semakin mendekati kematian?  Atau akan kita gunakan untuk hal-hal bermanfaat sebaik mungkin dengan berbuat hal-hal positif dan amal sholeh yang dapat menjadi bekal kita di akhirat nanti.

Marilah kita renungkan baik-baik sabda Nabi SAW berikut:

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مِنْ  عِنْدِ  رَبِّهِ  حَتىَّ يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَ عَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَ عَنْ  مَالِهِ  مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَ فِيْمَا أَنْفَقَهُ وَ مَا ذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

Kedua kaki anak Adam tidak akan beranjak pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya sehingga ditanya tentang lima perkara; tentang umur pada apa ia habiskan, masa mudanya dihabiskan untuk apa, hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan dan apa yang telah ia kerjakan pada apa yang telah ia ketahui.” [HR. At-Turmudziy]

5.Mengingat hisab di hari kiamat.

Salah satu motivasi terbesar bagi seorang muslim untuk mengintrospeksi diri adalah dengan mengingat hisab nanti di hari kiamat. Dimana semua amalan baik kecil ataupun besar baik atau buruk akan ada balasannya semua, Allah SWT berfirman:

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah).

Oleh karena itu Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Hisab sebagian orang dipermudah di hari kiamat karena mereka melakukan introspeksi terhadap diri mereka di dunia, dan hisab seseorang akan dipersulit karena mereka mengerjakan banyak hal tanpa muhasabah.” (Adab An-Nufus, karya Imam Abu Bakar Al-Ajriy hal. 28).

 

Dipetik dari kitab; ‘At-Tarbiyah Adz-Dzatiyah’ karya Syekh Abdullah bin Abdu; ‘Aziz Al-Aidan

Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

681 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: