Beberapa Pelajaran Dari Kisah Seorang Badui yang Buang Air Kecil Di Masjid

Beberapa-Pelajaran-Dari-Kisah-Seorang-Badui-yang-Buang-Air-Kecil-Di-Masjid.jpg

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ فَقَالَ لَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

Abu  Hurairah  radhiyallahu’anhu bercerita, “Seorang arab badui berdiri dan kencing di Masjid, lalu orang-orang ingin mengusirnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam pun bersabda kepada mereka: “Biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air, atau dengan seember air, sesungguhnya kalian diutus untuk member kemudahan dan tidak diutus untuk membuat kesulitan.” (HR. Bukhari No. 217)

Kisah ini adalah kisah yang sangat terkenal dan diriwayat kan oleh banyak perawi dalam banyak redaksi, dan yang kami sebutkan disini adalah redaksi Imam Bukhari rahimahullah. Hadits ini mengandung banyak pelajaran yang bisa dipetik baik dari sisi fiqih, akhlaq, dakwah, dan lainnya.

Diantara pelajaran-pelajaran tersebut adalah:

  1. Menghindar dari najis adalah suatu kebiasaan yang tertanam kuat di jiwa para sahabat, sehingga wajar saja jika mereka dengan spontan menegur (orang yang buang air kecil tersebut) tanpa meminta izin dari Nabi shallallahu alaihi wasallam sedang beliau ada ditengah-tengah mereka. Selain itu mereka juga sudah terbiasa dengan amar ma’ruf nahi mungkar. (Ibnu Hajar Al-Asqolaniy dalam kitab Fathul Bari).
  2. Bersegera dalam membersihkan najis khususnya ketika terik matahari, karena keringnya najis oleh terik matahari atau tiupan angin tidak membuat tempat najis tersebut menja disuci. Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan parasahabat untuk menyiram najis tersebut dengan air, karena membiarkannya sampai kering tidak cukup untuk membuatnya suci. (Fathul Bari)
  3. Keharusan berlemah lembut dalam mengajari orang yang berbuat keliru karena tidak Dalam kisah ini Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang parasahabat untuk menghardiksi orang badui karena ia melakukannya atas dasar ketidak tahuan.
  4. Kisah ini menunjukkan kebijaksanaan Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam mendidik Andai orang badui tersebut terus dihardik dan dimarahi sedang ia belum selesai dari hajatnya, mungkin ia akan bergerak dari tempatnya dan najisnya akan berpencar kemana-mana, sehingga lokasi yang terkena najis menjadi semakin luas.
  5. Masjid adalah tempat mulia yang wajib dijaga dari kotoran lebih lagi dari najis karena ia tempat shalat, dzikir dan Bahkan masjid tidak layak untuk digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan suatu perbuatan yang bersifat duniawi seperti nimbrung, mencari barang yang hilang, berdagang dan lainnya.

Sebagian ulama berpendapat bahwa lantai yang terkena najis menjadi suci setelah disiram, karena dalam hadits ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hanya memerintahkan untuk Namun, sebagian yang lain berpendapat; jika tanah tersebut bias menyerap air maka tidak mengapa, namun jika tidak, seperti lantai-lantai di zaman sekarang yang kebanyakanterbuat dari marmer maka harus dihilangkan beserta air yang dipakai untuk menyiramnya. Wallahua’lam

Dalam berdakwah seorang dai harus bijak dalam menimbang mashlahat dan Jika menghilangkan suatu kemungkaran akan mendatangkan kemungkaran yang lebih besar maka ia tidak boleh melakukannya. Dalam kisah ini orang badui melakukan suatu kemungkaran dengan buang air kecil di masjid, tapi jika ia di hardik pada saat itu, maka diperkirakan akan terjadi beberapa kemungkaran yang lebih besar; pertama ia akan bergerak dari tempatnya dan najisnya akan meluas. Kedua ia akan pergi dengan rasa jengkel dan tidak akan menerima dakwah apapun dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Ketiga ia akan berpandangan buruk terhadap Nabi shallallahu alaihi wasallam dan parasahabat dan ia punakan pulang kepada kaumnya dengan menceritakan apa yang ia terima dari nabi dan para sahabat. Keempat takmustahil ia akan menyimpan rasa dendam dari peristiwa tersebut dan dikemudian hari ia tampil sebagai orang yang memusuhi Nabi dan para sahabat dikarenekan rasa dendam yang bersarang didadanya tersebut.

Wallahuta’alaa’lam

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: