Berinteraksi dan Bekerja di Bank-bank Ribawi

Berinteraksi dan Bekerja di Bank-bank Ribawi

Seorang penanya berkata, Apakah hukum syar’i untuk persoalan-persoalan berikut :

Pertama, orang yang mendepositokan uang di bank, selanjutnya ketika sudah berlalu periode satu tahun, ia mengambil bunga deposito ?

Kedua, orang yang meminjam uang dari bank dengan bunga hingga batas waktu tertentu ?

Ketiga, orang yang menyimpan uang di bank-bank, namun tidak mengambil bunganya?

Keempat, karyawan yang bekerja di bank-bank ribawi baik sebagai direktur ataupun yang lainnya ?

Kelima, pemilik tanah yang menyerahkan toko-toko miliknya ke bank-bank ribawi

Jawaban :

Tidak boleh menyimpan uang di bank-bank untuk mendapatkan bunga dan tidak boleh meminjam uang dengan bunga, karena itu termasuk riba yang jelas.

Juga tidak boleh menyimpan uang di selain bank dengan bunga. Tidak boleh meminjam uang dari siapapun dengan bunga. Bahkan, hal itu haram hukumnya menurut seluruh ahli ilmu, karena Allah berfirman,

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَ

 

ا

Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (Qs. al-Baqarah : 275)

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

 Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah (Qs. al-Baqarah : 276)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (278) فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ (279)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya(Qs. al-Baqarah : 278-279)

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (280)

Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (Qs. al-Baqarah : 280)

Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya, tidak boleh menuntut hutang kepada orang yang kesulitan membayar hutang, tidak boleh pula membebankan uang tambahan sebagai imbalan dari tangguhan waktu yang diberrikan.

Sebaliknya, ia wajib memberikan tangguhan waktu bagi orang yang kesulitan membayar hutang tanpa tambahan apa pun. Perintah ini sebagai bentuk kasih sayang Allah terhadap hamba-hamba-Nya, perlindungan Allah terhadap mereka dari kezhaliman dan keserakahan yang membahayakan mereka serta tidak mendatangkan manfaat apa pun.

Adapun menyimpan uang di bank tanpa riba, hukumnya tidak apa-apa jika memang seorang muslim terpaksa harus menyimpan uangnya di bank.

Terkait bekerja di bank-bank ribawi, hukumnya tidak boleh, baik bekerja sebagai direktur, sekretaris, kasir, atau pun jabatan-jabatan lainnya, berdasarkan firman Allah,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (Qs. al-Maidah : 2)

Juga berdasarkan hadis dari Nabi-صلى الله عليه وسلم – beliau melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, pencatatnya, dan dua saksinya. Beliau bersabda,’Mereka sama (berdosa)’ (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ayat-ayat dan hadis-hadis yang menunjukkan haramnya tolong-menolog dalam melakukan kemaksiatan, banyak jumlahnya.

 

Demikian halnya menyewakan tanah atau bangunan kepada pemilik bank-bank ribawi, hukumnya tidak boleh, berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan di atas, karena termasuk membantu mereka dalam melakukan praktek-praktek ribawi.

Kita mohon kepada Allah, semoga berkenan memberikan petunjuk kepada kita semua, memberikan pertolongan kepada kaum Muslimin seluruhnya, baik para pemimpin maupun rakyat, untuk memerangi riba dan mewaspadainya, serta mencukupkan diri dengan muamalah-muamalah syar’i yang dibolehkan Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penolong untuk itu, dan Maha Kuasa untuk melakukannya.

 

(Yang Mulia al-‘Allamah Abdul Aziz bin Bazz)

 

Sumber :

 

Fatawa Islamiyah Li Ash-habil Fadhilah al-Ulama, dikumpulkan oleh Muhammad al-Musnid (II/397)

 

 

 

Amar Abdullah bin Syakir    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *