Berita Gembira akan Kedatangan Ramadhan

ramadhan-kareem1.jpg

عنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ» (رواه أحمد والنسائي وإسناده صحيح)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan bulan yang berkah, Allah azza wajalla mewajibkan puasa (di siang harinya) kepada kalian, pintu-pintu langit pada saat itu dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan dibelenggu, pada bulan itu terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa diharamkan mendapatkan kebaikannya, maka sungguh ia telah diharamkan.” (HR. Ahmad 9/225,226 al-fath arRabbaniy, an Nasai,4/129, silakan lihat : tahqiq Ahmad Syakir terhadap Musnad, no. 7148, Shohih at Targhiib karya al-Albaniy,1/490, Tamamu al-Minnah hal.395 )

***

Dalam hadis ini terdapat berita gembira untuk hamba-hamba Allah yang sholeh dengan kedatangan bulan Ramadhan yang berkah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghabarkan kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhum dengan kedatangannya. Ini bukanlah sekedar pemberitahuan bahwa maknanya adalah pemberitahuan yang menggembirakan mereka berupa musim-musim yang agung yang mana orang-orang sholeh lagi arif mengagungkannya dengan sebenar-benar pengagungan.  Karena, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  menjelaskan perihal yang ada di bulan itu apa-apa yang telah Allah persiapkan untuk hamba-hambaNya berupa sebab-sebab mendapatkan ampunan dosa dan keridhoan yang mana hal itu cukup banyak. Maka, barangsiapa terlewatkan tidak mendapatkan di bulan Ramadhan maka ia benar-benar telah diharamkan.

Sesungguhnya termasuk bentuk karunia Allah ta’ala dan nikmatnya yang agung kepada hambaNya yaitu bahwa Allah menyiapkan bagi mereka musim-musim yang penuh dengan keutamaan agar dijadikan sebagai kesempatan yang berharga bagi orang-orang yang tamak kepada kebaikan dan sebagai sarana untuk saling berlomba orang-orang yang berlomba.

Dan sesungguhnya musim-musim itu dihadirkan untuk menyampaikan harapan dengan upaya yang sungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan, mengangkat kekurangan dengan melakukan pengejaran terhadap kekurangan tersebut dan taubat. Tidaklah Allah ta’ala menghadirkan musim-musim yang utama tersebut melainkan Allah meletakkan padanya amalan-amalan ketaatan yang mana seorang hamba menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, Allah mempunyai kelembutan yang ditimpakan dengan karunia dan rahmatNya kepada siapa saja  yang Dia kehendaki. Maka, orang yang bahagia adalah orang yang dapat memanfaatkan musim-musim bulan-bulan dan hari-hari, dan waktu demi waktu untuk mendekatkan diri kepada tuannya dengan melakukan berbagai macam ketaatan. Maka, orang seperti inilah yang diharapkan akan mendapatkan tiupan karunia dan rahmatNya sehingga oleh karenanya ia berbahagia dengan suatu kegembiraan yang menjamin dirinya terselematakan dari Neraka beserta segala siksaan yang ada di dalamNya. (Di antara perkataan Ibnu Rojab di dalam “al-Latho-if “, hal.8)

Sungguh sampainya bulan Ramadhan merupakan nikmat yang agung bagi orang yang sampai kepada bulan ini dan melakukan hal yang semestinya dilakukan di dalam bulan ini. Melakukan qiyamullail di malam harinya dan berpuasa di siang harinya. Ia kembali kepada Tuhannya dari melakukan kemaksiatan kepada ketaatan, dari lalai untuk berzikir kepadaNya kepada mengingat-Nya, dari keterjauhan darinya kepada kembali kepadaNya.

Sesungguhnya kewajiban seorang muslim adalah selalu menghadirkan nikmat ini, mengetahui nilainya, karena bisa jadi seseorang diharamkan dari melakukan puasa karena dia telah meninggal terlebih dahulu sebelum sampai bulan Ramadhan, atau bisa jadi karena ketidakmampuan untuk melakukan puasa atau bisa jadi pula karena kesesatan mereka dan berpalingnya mereka dari melakukannya.  Oleh kerenanya, seorang yang dapat berpuasa hendaknya ia memuji Rabbnya atas nikmat yang satu ini, serta hendaklah ia menghadapi bulannya dengan penuh kegembiraan dan suka ria karena musim yang agung dari musim-musim ketaatan, ia bersungguh-sungguh dalam melakukan amal kebaikan, dan ia berdoa kepada Allah ta’ala agar mengaruniakan kepadanya puasa dan qiyamullailnya, serta memohon kepadanya agar dikaruniai kesungguhan, kekuatan dan kesemangatan sepanjang berada di bulan tersebut, membangunkannya dari tidur kelalaian agar ia dapat semaksimal mungkin memanfaatkan musim-musim ketaatan dan kebaikan tersebut.

Dan di antara catatan adalah bahwa seseorang terbantu untuk melakukan ketaatan-ketaatan di bulan Ramadhan, oleh karena itu, hendaklah ia bersyukur kepada Rabbnya dan mengambil faedah dari waktunya. Dan di antara perkara yang miris adalah kebanyak orang tidak mengerti berharganya musim-musim kebaikan ini. Tidak pula memandangnya sebagai waktu yang mulia, bulan Ramadhan tidak dijadikan sebagai bulan ketaatan, ibadah, membaca al-Qur’an, shodaqoh dan mengingat Allah. Bahkan, sebagian orang menjadikan bulan ini sebagai kesempatan untuk mengonsumsi berbagai jenis macam makanan dan minuman, menyibukkan orang rumahan untuk membuat atau menyiapkan berbagai jenis makanan. Sementara sebagian yang lainnya tidak mengerti hakikat bulan Ramadhan melainkan bahwa ia adalah bulan bergadang di malam hari, tidur di siang hari, hingga sebagian orang ada yang tidur dari shalat wajib, ia tidak shalat berjama’ah. Bahkan, tidak pula pada waktu shalat. Sebagian yang lainnya tidak mengerti Ramadhan kecuali merupakan musim-musim dari dunia tidak termasuk musim-musim akhirat.  Sehingga mereka bersemangat untuk melakukan transaksi jual beli pada bulan itu, mereka melazimi pasar-pasar, menjauhkan diri dari masjid-masjid. Meskipun mereka melaksanakan shalat bersama manusia namun mereka melakukannya secara tergesa-gesa. Dan begitulah berubahlah pemahaman-pemahaman dan rusaklah timbangan-timbangan. Maka hanya Allah yang memberi pertolongan. Sebagian kalangan salaf berkata,

إن الله تعالى جعل شهر رمضان مضماراً لخلقه يستبقون فيه بطاعته إلى مرضاته. فسبق قوم ففازوا، وتخلف آخرون فخابوا

“Sesungguhnya Allah ta’ala menjadikan bulan Ramadhan sebagai midhmaar[1] untuk para makhluk-Nya, di mana mereka berlomba di dalamnya dengan ketaatan untuk meraih ridhaNya. Maka, sekelompok orang mendahului yang lainnya, maka merekapun memenangkan (perlombaan), sementara yang lainnya tertinggal, maka mereka merugi. (Latho-if al-Ma’arif, hal.246)

Tidaklah seseorang mengetahui barangkali saja bulan ini merupakan Ramadhan terakhir dalam kehidupannya. Betapa banyak orang baik laki-laki maupun wanita maupun kalangan pemuda yang berpuasa bersama kita tahun lalu sementara sekarang mereka telah berada di bawah gugusan bintang, mereka tergadaikan dengan amal yang mereka lakukan padahal mereka telah berangan-angan sebelumnya akan berpuasa beberapa Ramadhan tahun berikutnya, dan kita akan menapaki jejak mereka. Oleh karena itu, hendaklah seorang muslim bergembira dengan datangnya musim-musim ketaatan, tidak menyia-nyiakannya, bahkan seharusnya seorang muslim menyibukkan diri dengan perkara yang kemanfaatannya berkesinambungan, bekasnya akan tetap tertinggal. Hari-hari itu hanya dalam beberapa hari saja untuk berpuasa dan akan segera usai dengan cepat.

Ya Allah, jadikanlah ketaqwaan bagi kami sebagai dagangan yang paling menguntungkan, jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai lagi menyia-nyiakan, dan jadikanlah rasa ketakutan kami menjadi rasa aman pada hari terjadinya kiamat, berilah ampun kepada kami, kedua orang tua kami dan seluruh kaum muslimin. Dan semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada nabi kita Muhammad.

Footnote :

[1] Dikatakan di dalam al-Qomus : المضمار: الوضع تضمّر فيه الخيل، وغاية الفرس في السباق , al-Midhmaar : tempat yang dijadikan untuk menyembunyikan kuda, dan maksud utama dari kuda adalah digunakan untuk perlombaan). (Al-Qamus, Tartiibu al-Qamuus, 3/37).


Sumber : Dialihbahasakan oleh Abu Umair dari Ahaadiitsu ash Shiyam ; Ahkaamun wa Aadaabun, (hadis ketiga : Fii al-Bisyaroti Biromadhan) karya : Abdullah bin Sholeh al-Fauzan, Dosen di al-Imam Muhammad bin Sa’ud  Islamic University, Cabang Qosim, KSA.


Artikel : www.hisbah.net

Gabung juga di Fans Page kami hisbah.net

2,949 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: