Connect with us

Ramadhan

Berita Gembira akan Kedatangan Ramadhan

Published

on

عنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ» (رواه أحمد والنسائي وإسناده صحيح)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan bulan yang berkah, Allah azza wajalla mewajibkan puasa (di siang harinya) kepada kalian, pintu-pintu langit pada saat itu dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan dibelenggu, pada bulan itu terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa diharamkan mendapatkan kebaikannya, maka sungguh ia telah diharamkan.” (HR. Ahmad 9/225,226 al-fath arRabbaniy, an Nasai,4/129, silakan lihat : tahqiq Ahmad Syakir terhadap Musnad, no. 7148, Shohih at Targhiib karya al-Albaniy,1/490, Tamamu al-Minnah hal.395 )

***

Dalam hadis ini terdapat berita gembira untuk hamba-hamba Allah yang sholeh dengan kedatangan bulan Ramadhan yang berkah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghabarkan kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhum dengan kedatangannya. Ini bukanlah sekedar pemberitahuan bahwa maknanya adalah pemberitahuan yang menggembirakan mereka berupa musim-musim yang agung yang mana orang-orang sholeh lagi arif mengagungkannya dengan sebenar-benar pengagungan.  Karena, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  menjelaskan perihal yang ada di bulan itu apa-apa yang telah Allah persiapkan untuk hamba-hambaNya berupa sebab-sebab mendapatkan ampunan dosa dan keridhoan yang mana hal itu cukup banyak. Maka, barangsiapa terlewatkan tidak mendapatkan di bulan Ramadhan maka ia benar-benar telah diharamkan.

Sesungguhnya termasuk bentuk karunia Allah ta’ala dan nikmatnya yang agung kepada hambaNya yaitu bahwa Allah menyiapkan bagi mereka musim-musim yang penuh dengan keutamaan agar dijadikan sebagai kesempatan yang berharga bagi orang-orang yang tamak kepada kebaikan dan sebagai sarana untuk saling berlomba orang-orang yang berlomba.

Dan sesungguhnya musim-musim itu dihadirkan untuk menyampaikan harapan dengan upaya yang sungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan, mengangkat kekurangan dengan melakukan pengejaran terhadap kekurangan tersebut dan taubat. Tidaklah Allah ta’ala menghadirkan musim-musim yang utama tersebut melainkan Allah meletakkan padanya amalan-amalan ketaatan yang mana seorang hamba menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, Allah mempunyai kelembutan yang ditimpakan dengan karunia dan rahmatNya kepada siapa saja  yang Dia kehendaki. Maka, orang yang bahagia adalah orang yang dapat memanfaatkan musim-musim bulan-bulan dan hari-hari, dan waktu demi waktu untuk mendekatkan diri kepada tuannya dengan melakukan berbagai macam ketaatan. Maka, orang seperti inilah yang diharapkan akan mendapatkan tiupan karunia dan rahmatNya sehingga oleh karenanya ia berbahagia dengan suatu kegembiraan yang menjamin dirinya terselematakan dari Neraka beserta segala siksaan yang ada di dalamNya. (Di antara perkataan Ibnu Rojab di dalam “al-Latho-if “, hal.8)

Sungguh sampainya bulan Ramadhan merupakan nikmat yang agung bagi orang yang sampai kepada bulan ini dan melakukan hal yang semestinya dilakukan di dalam bulan ini. Melakukan qiyamullail di malam harinya dan berpuasa di siang harinya. Ia kembali kepada Tuhannya dari melakukan kemaksiatan kepada ketaatan, dari lalai untuk berzikir kepadaNya kepada mengingat-Nya, dari keterjauhan darinya kepada kembali kepadaNya.

Sesungguhnya kewajiban seorang muslim adalah selalu menghadirkan nikmat ini, mengetahui nilainya, karena bisa jadi seseorang diharamkan dari melakukan puasa karena dia telah meninggal terlebih dahulu sebelum sampai bulan Ramadhan, atau bisa jadi karena ketidakmampuan untuk melakukan puasa atau bisa jadi pula karena kesesatan mereka dan berpalingnya mereka dari melakukannya.  Oleh kerenanya, seorang yang dapat berpuasa hendaknya ia memuji Rabbnya atas nikmat yang satu ini, serta hendaklah ia menghadapi bulannya dengan penuh kegembiraan dan suka ria karena musim yang agung dari musim-musim ketaatan, ia bersungguh-sungguh dalam melakukan amal kebaikan, dan ia berdoa kepada Allah ta’ala agar mengaruniakan kepadanya puasa dan qiyamullailnya, serta memohon kepadanya agar dikaruniai kesungguhan, kekuatan dan kesemangatan sepanjang berada di bulan tersebut, membangunkannya dari tidur kelalaian agar ia dapat semaksimal mungkin memanfaatkan musim-musim ketaatan dan kebaikan tersebut.

Dan di antara catatan adalah bahwa seseorang terbantu untuk melakukan ketaatan-ketaatan di bulan Ramadhan, oleh karena itu, hendaklah ia bersyukur kepada Rabbnya dan mengambil faedah dari waktunya. Dan di antara perkara yang miris adalah kebanyak orang tidak mengerti berharganya musim-musim kebaikan ini. Tidak pula memandangnya sebagai waktu yang mulia, bulan Ramadhan tidak dijadikan sebagai bulan ketaatan, ibadah, membaca al-Qur’an, shodaqoh dan mengingat Allah. Bahkan, sebagian orang menjadikan bulan ini sebagai kesempatan untuk mengonsumsi berbagai jenis macam makanan dan minuman, menyibukkan orang rumahan untuk membuat atau menyiapkan berbagai jenis makanan. Sementara sebagian yang lainnya tidak mengerti hakikat bulan Ramadhan melainkan bahwa ia adalah bulan bergadang di malam hari, tidur di siang hari, hingga sebagian orang ada yang tidur dari shalat wajib, ia tidak shalat berjama’ah. Bahkan, tidak pula pada waktu shalat. Sebagian yang lainnya tidak mengerti Ramadhan kecuali merupakan musim-musim dari dunia tidak termasuk musim-musim akhirat.  Sehingga mereka bersemangat untuk melakukan transaksi jual beli pada bulan itu, mereka melazimi pasar-pasar, menjauhkan diri dari masjid-masjid. Meskipun mereka melaksanakan shalat bersama manusia namun mereka melakukannya secara tergesa-gesa. Dan begitulah berubahlah pemahaman-pemahaman dan rusaklah timbangan-timbangan. Maka hanya Allah yang memberi pertolongan. Sebagian kalangan salaf berkata,

إن الله تعالى جعل شهر رمضان مضماراً لخلقه يستبقون فيه بطاعته إلى مرضاته. فسبق قوم ففازوا، وتخلف آخرون فخابوا

“Sesungguhnya Allah ta’ala menjadikan bulan Ramadhan sebagai midhmaar[1] untuk para makhluk-Nya, di mana mereka berlomba di dalamnya dengan ketaatan untuk meraih ridhaNya. Maka, sekelompok orang mendahului yang lainnya, maka merekapun memenangkan (perlombaan), sementara yang lainnya tertinggal, maka mereka merugi. (Latho-if al-Ma’arif, hal.246)

Tidaklah seseorang mengetahui barangkali saja bulan ini merupakan Ramadhan terakhir dalam kehidupannya. Betapa banyak orang baik laki-laki maupun wanita maupun kalangan pemuda yang berpuasa bersama kita tahun lalu sementara sekarang mereka telah berada di bawah gugusan bintang, mereka tergadaikan dengan amal yang mereka lakukan padahal mereka telah berangan-angan sebelumnya akan berpuasa beberapa Ramadhan tahun berikutnya, dan kita akan menapaki jejak mereka. Oleh karena itu, hendaklah seorang muslim bergembira dengan datangnya musim-musim ketaatan, tidak menyia-nyiakannya, bahkan seharusnya seorang muslim menyibukkan diri dengan perkara yang kemanfaatannya berkesinambungan, bekasnya akan tetap tertinggal. Hari-hari itu hanya dalam beberapa hari saja untuk berpuasa dan akan segera usai dengan cepat.

Ya Allah, jadikanlah ketaqwaan bagi kami sebagai dagangan yang paling menguntungkan, jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai lagi menyia-nyiakan, dan jadikanlah rasa ketakutan kami menjadi rasa aman pada hari terjadinya kiamat, berilah ampun kepada kami, kedua orang tua kami dan seluruh kaum muslimin. Dan semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada nabi kita Muhammad.

Footnote :

[1] Dikatakan di dalam al-Qomus : المضمار: الوضع تضمّر فيه الخيل، وغاية الفرس في السباق , al-Midhmaar : tempat yang dijadikan untuk menyembunyikan kuda, dan maksud utama dari kuda adalah digunakan untuk perlombaan). (Al-Qamus, Tartiibu al-Qamuus, 3/37).


Sumber : Dialihbahasakan oleh Abu Umair dari Ahaadiitsu ash Shiyam ; Ahkaamun wa Aadaabun, (hadis ketiga : Fii al-Bisyaroti Biromadhan) karya : Abdullah bin Sholeh al-Fauzan, Dosen di al-Imam Muhammad bin Sa’ud  Islamic University, Cabang Qosim, KSA.


Artikel : www.hisbah.net

Gabung juga di Fans Page kami hisbah.net

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasihat

Saat Idul Fitri Menjelang **

Published

on

Saat Idul Fitri Menjelang

**

Terakhir, inilah perasaan seorang muslim di pagi hari raya Idul Fitri. Ia menuturkan :

“Aku ingat pagi hari Idul Fithri, kutemui anak-anak yang yatim. Tidak ada yang mau mencium mereka. Bahkan sekedar memberikan senyum untuk mereka. Aku ingat di pagi hari Idul Fithri aku bersama para janda, yang tidak bisa lagi merasakan kelembutan, juga kerinduan kepada suami mereka. Aku ingat, di hari raya Idul Fithri kita semua menikmati hidangan makanan enak dan minuman segar yang dapat menghilangkan lapar.

Aku ingat, di hari raya Idul Fithri kita berkumpul bersama dari semua umur, anak-anak, bapak-bapak dan ibu-ibu. Sementara ada saudara kita (semisal di Palestina) yang waktunya terampas oleh peperangan. Tak ada kenyamanan, ketenangan dan rasa aman. Hari raya mereka hanyalah linangan air mata, kesedihan serta kenangan seperti dipenjara.



Pada saat  yang sama aku mengenakan baju baru, mengunjungi sanak-kerabat di sana-sini, menikmati makanan dan minuman…aku tertawa dan bercanda.

Tetapi, perasaan sebagai satu bagian utuh sebuah tubuh dan rasa persaudaraan tumbuh kuat dalam diriku. Aku tak akan melupakan mereka. Kalaupun aku tertawa, ada guratan duka menoreh wajahku. Lisanku bergetar melantunkan doa bagi mereka. Aku pun menceritakan keadaan mereka kepada keluarga dan tetanggaku.

Lisanku selalu berdoa untuk mereka, dimana keluarga dan tetanggaku menggunjingkan mereka…

Dalam Shahih Muslim disebutkan :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

‘Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam kasih sayang dan kecintaan mereka ibarat satu tubuh, jika anggota tubuh mengadu kesakitan maka semua anggota tubuh yang lain akan ikut demam dan terjaga semalaman.’

Barang siapa yang berbuat kebaikan maka kebaikan ini kembali kepada dirinya sendiri ; barang siapa yang tinggi cita-citanya maka kebaikan akan mengikutinya; namun  barang siapa yang rendah cita-citanya maka kehinaan akan selalu mengikutinya…

Kusucikan cita-citaku dari apa-apa yang dilarang Allah

Menuju bulan yang khusyuk dengan berbekal kekhusukan,

bulan yang suci, dengan bekal amal sholeh…

Orang-orang yang berpuasa dengan istiqamah

akan mendapatkan tempat yang kekal dan didampingi bidadari yang menyenangkan

Penuh ampunan dari yang Maha Agung dengan kekuasaan-Nya yang besar

Wahai saudaraku, segeralah bangkit beramal

sebelum Ramadhan pergi

Semoga Allah Yang Maha Pengasih menghapus semua dosa-dosaku

dan mengampuni kesalahanku sebelum di buku kejelekanku…

Amin

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Ruhaniyyatush Shiyam, Dr. Ibrahim ad-Duwaisy, ei, hal. 49-51.

Continue Reading

Nasihat

Puasa Agar Mereka Memperoleh Kebenaran **

Published

on

Puasa Agar Mereka Memperoleh Kebenaran

**

Ar-Rusyd adalah menemukan kebenaran dan mengamalkannya.”

**

Ar-Rusyd adalah tujuan ketiga di antara tujuan-tujuan disyariatkannya puasa, dan salah satu rahasia diwajibkannya puasa. Allah ta’ala berfirman di akhir ayat-ayat puasa :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ  [البقرة : 186]

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (al-Baqarah : 186)

Kebenaran yang merupakan salah satu buah puasa, dinilai sebagai sifat positif dan penting bagi kepribadian seorang muslim, yang memberinya keseimbangan jiwa, pikiran, perasaan, dan emosi, serta membebaskannya dari segala fenomena yang memperburuk kepribadian insan modern yang tidak tumbuh berkembang di sela-sela al-Qur’an dan tidak mengikuti hukum-hukumnya, sehingga kepribadiannya terserang kelemahan, kepolosan, kelalaian, egoisme, atau kesedihan, seperti yang dituturkan oleh Dr. Shalah al-Khalidi.



Ayat ini mengandung penjelasan tentang jalan yang mengantarkan kepada kebenaran, yaitu beriman kepada Allah Ta’ala, berdoa kepada Allah ta’ala, dan memenuhi perintah-Nya, termasuk di antaranya berpuasa Ramadhan.

Ada yang mengatakan, ar-Rusyd adalah istiqamah di dalam agama.

Fenomena-fenomena Kebenaran yang Diwujudkan Puasa

Di antara fenomena-fenomena kebenaran adalah istiqamah di dalam agama dan tetap berada di atas agama. Dan di antara fenomena-fenomena kebenaran yang diwujudkan puasa bagi seorang muslim adalah :

Pertama, kebenaran penglihatan. Kebenaran ini terwujud dengan menundukkan dan menahan penglihatan untuk leluasa memandang segala hal yang tercela atau terlarang, dan juga hal-hal yang dapat menyibukkan dan melenakan hati dari mengingat Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-.

Kebenaran ini terwujud dengan berlama-lama menatap al-Qur’an dengan membaca dan merenungkannya, serta menahan penglihatan dari memandang apa yang Allah haramkan, agar tidak menciderai puasa.

Seseorang bertanya kepada al-Junaid, “Dengan apakah aku bisa menundukkan pandangan dengan mudah ?’ Al-Junaid menjawab, ‘Dengan kau mengetahui bahwa Allah melihatmu, di mana penglihatan-Nya kepadamu lebih cepat dari penglihatanmu kepada objek yang engkau lihat.”

“Menundukkan penglihatan dari apa yang diharamkan Allah, akan mendatangkan cinta Allah.” (al-Hasan bin Mujahid)

Kedua, kebenaran lisan. Kebenaran ini terwujud dengan menjaga lisan dari kata-kata ngelantur tidak jelas, dusta, adu domba, ghibah, tutur kata kotor, kasar, permusuhan, dan perdebatan, tetap diam, menyibukkannya dengan dzikir menyebut Allah ta’ala dan membaca al-Qur’an. Ini merupakan puasanya lisan.



Kebenaran ini muncul sebagai dampak alami yang didapatkan siapa yang selalu membasahkan lisannya dengan mengingat Allah, membiasakannya jauh dari segala kata dan ucapan-ucapan yang dapat melukai puasanya. Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ

Pada hari ketika seseorang di antara kalian berpuasa, janganlah ia berkata kotor, dan janganlah (pula) berteriak-teriak (HR. al-Bukhari)

“Puasa itu tidak hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga menahan diri dari dusta, kebatilan, kata-kata sia-sia, dan sumpah.” (Umar bin Khaththab- رًضِيَ اللهُ عَنْهُ)

Ketiga, kebenaran telinga. Kebenaran ini terwujud dengan mencegah telinga dari mendengar apa saja yang dibenci Allah karena apa saja yang diharamkan diucapkan, haram pula didengarkan. Kebenaran ini muncul sebagai buah baik bagi siapa yang terbiasa mendengarkan al-Qur’an dan nasihat-nasihat di bulan Ramadhan, serta mendengarkan segala yang membawa manfaat dari kebaikan, juga menutup telinga dari segala yang diharamkan dan dimakruhkan oleh syariat.

“Apabila engkau berpuasa, maka hendaklah berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu, dan lisanmu dari berkata dusta dan dosa.” (Jabir bin Abdillah-رًضِيَ اللهُ عَنْهُمَا)

Ketiga, kebenaran otak. Kebenaran ini terwujud dengan meraih ilmu dan pengetahuan, serta menyibukkan otak dengan ibadah merenungkan nikmat-nikmat dan makhluk-makhluk Allah, serta menggunakannya untuk hal-hal yang membawa manfaat bagi seorang mukmin, baik di dunia maupun di akhirat. Kebenaran ini muncul sebagai buah baik mendalami perkara-perkara agama, khususnya puasa, semangat mendengarkan ceramah dan pelajaran. Juga sebagai buah baik menggunakan akal dalam merenungkan ayat-ayat Allah yang dibaca dalam kitab-Nya, dan merenungkan ayat-ayat yang nampak nyata di alam semesta-Nya.

Ummu Darda’ ditanya, ‘Apakah amalan terbaik Abu Ad-Darda’ ?” Ia menjawab, “Berpikir dan memetik pelajaran.”

“Berpikir itu cahaya, lalai itu kegelapan, kebodohan itu kesesatan, dan ilmu itu kehidupan.” (Orang bijak)

Keempat, kebenaran tubuh. Kebenaran ini terwujud dengan tidak memperbanyak makan meski halal sekalipun, dan menahan diri dari segala syubhat yang mubah manakala Allah memerintahkannya, karena tujuan dari puasa adalah mengosongkan perut dan mematahkan syahwat hawa nafsu, sehingga jiwa menjadi kuat untuk bertakwa.

Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

حَسْبُ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثُ طَعَامٍ وَثُلُثُ شَرَابٍ وَثُلُثٌ لِنَفْسِهِ

Cukuplah beberapa suap makan bagi anak Adam untuk sekedar menegakkan tulang punggungnya. Jika pun harus menambah, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk  minuman, dan sepertiga untuk bernafas.” (HR. Imam Ahmad)

Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Asrar Ash-Shiyam Wa Ahkamuhu ‘Ala al-Madzahib al-Arba’ah, Dr. Thariq as-Suwaidan, ei.hal.42-45.

 

 

 

Continue Reading

Nasihat

Wasiat Singkat Penutup Ramadhan 1445 H

Published

on

Wasiat Singkat Penutup Ramadhan 1445 H

Ramadhan 1445 H telah sampai ke penghujungnya, bulan nan mulia penuh ampunan dan rahmat Allah Ta’ala sekali lagi akan pergi meninggalkan kita semua, namun semoga kepergiannya tidak dengan membawa semua ketaatan dan perubahan positif pada diri kita selama sebulan ini, akan tetapi dia pergi dengan membawa kebiasaan buruk kita di bulan-bulan sebelumnya.

Semua ini karena memang manfaat kewajiban puasa ramadhan adalah agar kita menjadi bertakwa, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS Albaqarah: 183)



Dan Takwa adalah menjalankan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

 

Namun, di sisa hari yang ada, maksimalkanlah kesempatan yang ada, dengan shalat 5 waktu, terawih, tilawah dan itikaf.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR Bukhari dan Muslim).

Dan haditnya:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: Barangsiapa beribadah (menghidupkan) bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR Bukhari dan Muslim).

 

Dan perbanyaklah doa berikut ini pada setiap harinya:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اَللَّهِ: أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ اَلْقَدْرِ, مَا أَقُولُ فِيهَا? قَالَ: “قُولِي: اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

(صَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ)

Artinya, “Dari sayyidah Aisyah ra, ia bercerita, ia pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku mengerti sebuah malam itu adalah lailatul qadar. Bagaimana doa yang harus kubaca?’ Rasulullah saw menjawab, ‘Bacalah, ‘Allāhumma innaka afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī  (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan menyukai ampunan, maka ampunilah aku),’’” (Hadits ini diakui shahih oleh Imam A-Tirmidzi dan Al-Hakim).

 

Dan terakhir, agar tidak lupa menunaikan zakat fitrah bagi yang mampu, karena hukumnya wajib dan dia merupakan bentuk syukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat materi dan juga sebagai sarana untuk saling berbagi dengan sesama muslim yang membutuhkan.

Allah Ta’ala berfirman:

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعَامِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغَارِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

Artinya : “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
(QS Attaubah: 60)

Terakhir, semoga Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita selama bulan ramadhan ini dan mengampuni dosa-dosa kita semua, serta semoga Allah Ta’ala memanjangkan umur kita agar kembali dapat menemui ramadhan tahun depan, Aamiin.

Continue Reading

Trending