Connect with us

Lain-lain

Berita Gembira Akan Kedatangan Romadhan

Published

on

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “أَتَاكُمْ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ. فَرَضَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ، وَتُغَلُّ فِيْهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِيْنِ، فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ”. رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِي وَإِسْنَادُهُ صَحِيْحٌ.

Dari Abu Huroiroh-semoga Alloh meridhoinya-, ia berkata, Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “ telah datang kepada kalian bulan Romadhan bulan yang diberkahi, Alloh azza wajalla mewajibkan puasa (di siang harinya) kepada kalian, pintu-pintu langit pada saat itu dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dedengkot setan dibelenggu, pada bulan itu terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa diharamkan mendapatkan kebaikannya, maka sungguh ia telah diharamkan (dari mendapatkan kebaikan yang banyak). (HR. Ahmad dan an Nasai, isnadnya shohih[1] )

Penjelasan :

Dalam hadis ini terdapat berita gembira untuk hamba-hamba Alloh yang sholeh dengan kedatangan bulan Romadhon yang berkah karena Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam menghabarkan kepada para sahabat-semoga Alloh meridhoi mereka- dengan kedatangannya.

Ini bukanlah sekedar pemberitahuan namun maknanya pemberitahuan yang dapat menggembirakan mereka berupa musim-musim yang agung yang mana orang-orang sholeh lagi arif mengagungkannya dengan sebenar-benar pengagungan.  Karena, Nabi shalallohu ‘alaihi wasallam  menjelaskan perihal yang ada di bulan itu apa-apa yang telah Alloh persiapkan untuk hamba-hambaNya berupa sebab-sebab untuk mendapatkan ampunan dosa dan keridhoan yang mana hal itu cukup banyak. Maka, barangsiapa terlewatkan tidak mendapatkannya di bulan Romadhan maka ia benar-benar telah diharamkan.

Sesungguhnya termasuk bentuk karunia Alloh ta’ala dan nikmatnya yang agung kepada hamba-Nya yaitu bahwa Alloh menyiapkan bagi mereka musim-musim yang penuh dengan keutamaan agar dijadikan sebagai kesempatan yang berharga bagi orang-orang yang tamak kepada kebaikan dan sarana untuk saling berlomba bagi orang-orang yang  gemar berlomba (dalam kebaikan).

Sesungguhnya musim-musim itu dihadirkan untuk menyampaikan harapan dengan upaya yang sungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan, mengangkat celah dan kekurangan dengan melakukan pengejaran terhadap kekurangan tersebut dan taubat. Tidaklah Alloh ta’ala menghadirkan musim-musim yang utama tersebut melainkan Alloh meletakkan padanya amalan-amalan ketaatan yang mana seorang hamba menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Alloh, Alloh mempunyai kelembutan yang diberikan -dengan karunia dan rahmat-Nya- kepada siapa saja  yang Dia kehendaki. Maka, orang yang bahagia adalah orang yang dapat memanfaatkan musim-musim, bulan-bulan dan hari-hari, serta waktu demi waktu untuk mendekatkan diri kepada tuhannya dengan melakukan berbagai macam ketaatan. Maka, orang seperti inilah yang diharapkan akan mendapatkan tiupan karunia dan rahmatNya sehingga oleh karenanya ia berbahagia dengan suatu kegembiraan yang menjamin dirinya terselematakan dari Neraka beserta segala siksaan yang ada di dalamnya [2]

Sungguh sampainya bulan Romadhan merupakan nikmat yang agung bagi orang yang sampai kepada bulan ini dan melakukan hal yang semestinya dilakukan di dalamnya. Melakukan Qiyamullail di malam harinya dan berpuasa di siang harinya. Ia kembali kepada Tuhannya dari melakukan kemaksiatan kepada ketaatan, dari lalai untuk berdzikir kepadaNya kepada mengingat-Nya, dari keterjauhan darinya kepada kembali kepadaNya.

Sesungguhnya kewajiban seorag muslim adalah selalu menghadirkan nikmat ini, mengetahui nilainya, karena bisa jadi seseorang diharamkan dari melakukan puasa karena dia telah meninggal terlebih dahulu sebelum sampai bulan Romadhan, atau bisa jadi karena ketidakmampuan untuk melakukan puasa atau bisa jadi pula karena kesesatan mereka dan berpalingnya mereka dari melakukannya.  Oleh kerenanya, seorang yang dapat berpuasa hendaknya ia memuji Robbnya atas nikmat yang satu ini, serta hendaklah ia menghadapi bulannya dengan penuh kegembiraan dan suka ria karena merupakan musim yang agung dari musim-musim ketaatan, bersungguh-sungguh dalam melakukan amal kebaikan, dan berdoa kepada Alloh ta’ala agar mengaruniakan kepada-Nya (taufiq dan kemampuan untuk)  berpuasa dan qiyamullail, serta memohon kepadanya agar dikaruniai kesungguhan, kekuatan dan kesemangatan sepanjang berada di bulan tersebut, membangunkannya dari tidur kelalaian agar ia dapat semaksimal mungkin memanfaatkan musim-musim ketaatan dan kebaikan tersebut.

Dan di antara hal yang patut dicatat adalah bahwa seseorang terbantu untuk melakukan ketaatan-ketaatan di bulan Romadhan, oleh karena itu, hendaklah ia bersyukur kepada Robbnya dan mengambil faedah dari waktunya. Namun, ada hal yang membuat miris yaitu bahwa kebanyakan orang tidak mengerti berharganya musim-musim kebaikan ini. Tidak pula memandangnya sebagai waktu yang mulia, bulan Romadhan tidak dijadikan sebagai bulan ketaatan, ibadah, membaca al-Qur’an, shodaqoh dan mengingat Alloh. Bahkan, sebagian orang menjadikan bulan ini sebagai kesempatan untuk mengonsumsi berbagai jenis macam makanan dan minuman, menyibukkan orang rumahan untuk membuat atau menyiapkan berbagai jenis makanan. Sementara sebagian yang lainnya tidak mengerti hakikat bulan Romadhan melainkan merupakan bulan bergadang di malam hari, tidur di siang hari, hingga sebagian orang ada yang tidur dari sholat wajib, ia tidak sholat bersama jama’ah. Bahkan, tidak pula pada waktu sholat. Sebagian yang lainnya tidak mengerti Romadhan kecuali merupakan musim-musim dari dunia tidak termasuk musim-musim akhirat.  Sehingga mereka bersemangat untuk melakukan transaksi jual beli pada bulan itu, mereka melazimi pasar-pasar, menjauhkan diri dari masjid-masjid. Meskipun mereka melaksanakan sholat bersama manusia namun mereka melakukannya secara tergesa-gesa. Dan begitulah berubahlah pemahaman-pemahaman dan rusaklah timbangan-timbangan. Maka hanya Alloh yang memberi pertolongan. Sebagian kalangan salaf berkata,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى جَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ مِضْمَاراً لِخَلْقِهِ يَسْتَبِقُوْنَ فِيْهِ بِطَاعَتِهِ إِلَى مَرْضَاتِهِ. فَسَبَقَ قَوْمٌ فَفَازُوْا، وَتَخَلَّفَ آخَرُوْنَ فخَاَبُوْا

Sesungguhnya Alloh ta’ala menjadikan bulan romadhan sebagai midhmaar [3] untuk para makhluq-Nya, di mana mereka berlomba di dalamnya dengan ketaatan untuk meraih ridhoNya. Maka, sekelompok orang mendahului yang lainnya, maka merekapun memenangkan (perlombaan), sementara yang lainnya tertinggal, maka mereka merugi [4]

Tidaklah seseorang mengetahui barangkali saja bulan ini merupakan romadhan terakhir dalam kehidupannya. Betapa banyak orang baik laki-laki maupun wanita maupun kalangan pemuda yang berpuasa bersama kita tahun lalu sementara sekarang mereka telah berada di bawah gugusan bintang, mereka tergadaikan dengan amal yang mereka lakukan padahal mereka telah berangan-angan sebelumnya akan berpuasa beberapa Romadhan tahun berikutnya, dan kita akan menapaki jejak mereka. Oleh karena itu, hendaklah seorang muslim bergembira dengan datangnya musim-musim ketaatan, tidak menyia-nyiakannya, bahkan hendaknya menyibukkan diri dengan perkara yang kemanfaatannya berkesinambungan, bekasnya akan tetap tertinggal. Hari-hari itu hanya dalam beberapa hari saja untuk berpuasa dan akan segera usai dengan cepat.

Ya Alloh jadikanlah ketaqwaan bagi kami sebagai dagangan yang paling menguntungkan, jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai lagi menyia-nyiakan, dan jadikanlah rasa ketakutan kami menjadi rasa aman pada hari terjadinya qiyamat, berilah ampun kepada kami, kedua orang tua kami dan seluruh kaum muslimin. Dan semoga sholawat dan salam tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad …

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

أَحَادِيْثُ الصِّيَامِ : أَحْكَامٌ وَآدَابٌ , Hadis Seputar Puasa ; Hukum dan Adab, karya : Abdullah bin Sholeh al-Fauzan (Dosen di al-Imam Muhammad ibn Sa’ud  Islamic University, Cabang Gassim, KSA )

[1]  HR. Ahmad 9/225,226 al-Fath ar Robbaniy, an Nasai,4/129, silakan lihat : Tahqiq Ahmad Syakir terhadap Musnad, no. 7148, Shohih at Targhiib karya al-Albaniy,1/490, Tamamu al-Minnah hal.395

[2]  Di antara perkataan Ibnu Rojab di dalam “ al-Latho-if “, hal.8

[3]  Dikatakan di dalam al-Qomus : المضمار: الوضع تضمّر فيه الخيل، وغاية الفرس في السباق , al-Midhmaar adalah  tempat yang dijadikan untuk menyembunyikan kuda, dan maksud utama dari kuda adalah digunakan untuk perlombaan) selesai perkataan penulis al-Qomus, Tartiibu al-Qomuus, 3/37.

[4]  Latho-if al-Ma’arif, hal.246

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keluarga

Tidak Adil Di Antara Anak

Published

on

Sebagian orang tua ada yang sengaja memberikan perlakuan khusus dan istimewa kepada sebagian anaknya. Anak-anak itu diberikan berbagai macam pemberian, sedang anak yang lainnya tidak mendapatkan pemberian.

Menurut pendapat yang kuat, tindakan semacam itu hukumnya haram, jika tidak ada alasan yang membolehkannya. Misalnya, anak tersebut memang dalam kondisi yang berbeda dengan anak-anak yang lain. Seperti sedang sakit, dililit banyak utang sehingga tak mampu membayar, tidak mendapat pekerjaan, memiliki keluarga besar, sedang menuntut ilmu atau karena ia hafal Al-Qur’an sehingga diberikan hadiah khusus oleh sang ayah.((Secara umum, hal ini dibolehkan manakala masih dalam hal memberi nafkah kepada anak yang lemah, sedang sang ayah mampu, Ibnu Baz).)







Sesungguhnya ungkapan, “Tidak ada terima kasih untuk menunaikan tugas wajib”, diperuntukkan bagi orang yang menyerahkan tugas wajibnya yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Justru sebaliknya, berterima kasih pada orang yang telah melaksanakan kewajibannya, adalah lebih baik.

Dari Abu Hurairah-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- ia berkata, Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللهَ

Siapa tidak berterima kasih kepada manusia, dia tidak bersyukur kepada Allah.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh al-Albani.)

**

“Bila tangan Anda tidak sanggup membalas (suatu kebaikan), maka hendaklah lisanmu mengulang-ulang ucapan terima kasih.”

**

Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Az-Zaujan Fi Khaimah as-Sa’adah Maharat wa Wasa-il, Abdurrahman bin Abdullah al-Qar’awi, hal. 76-77

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: Hisbahtv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

Lain-lain

Keistiqamahan Pasca Ramadhan

Published

on

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلاً لَا اَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ” قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ”(1) [رَوَاهُ مُسْلِمٌ].

Dari Utsman bin Abdillah-semoga Allah meridhainya-, ia berkata, aku pernah mengatakan (kepada Nabi) ‘Ya, Rasulullah !- صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- katakanlah kepadaku satu perkataan tentang Islam yang aku tidak akan bertanya tentangnya kepada seorang pun selain Anda.’ Beliau – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- pun bersabda, “ Katakanlah olehmu ‘Aku beriman kepada Allah’ kemudian istiqamahlah ! ‘ (HR. Muslim) [1]

**

Maka, hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa seorang hamba diperintahkan agar beristiqamah di atas ketaatan setelah beriman kepada Allah, (yaitu) dengan mengerjakan hal-hal yang diperintahkan dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang. Dan yang demikian itu dengan melazimi titian jalan yang lurus, yang merupakan agama yang lurus, tanpa melenceng darinya, tidak ke kanan dan tidak pula ke kiri.



Dan bila seorang muslim telah hidup di bulan Ramadhan, di mana ia telah meramaikan siang harinya dengan puasa dan malamnya dengan shalat malam, dan ia pun telah membiasakan dirinya di atas tindakan kebaikan, maka hendaknya ia senantiasa melazimi ketaatan kepada Allah selalu. Karena, inilah seharusnya keadaan seorang hamba. Karena, Rabb (Tuhan) bulan-bulan itu satu, dan Dia-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- memantau dan menyaksikan para hamba-Nya.

Dan sesungguhnya keistiqamahan seorang muslim pasca Ramadhan dan kebaikan perkataan-perkataannya dan perbuatan-perbuatannya merupakan dalil terbesar yang menunjukkan akan pengambilan faedahnya dari bulan Ramadhan dan kecintaannya terhadap ketaatan. Dan ini merupakan alamat diterimanya amal dan tanda-tanda keberuntungan. Dan, amal seorang mukmin itu tidaklah berhenti dengan keluarnya suatu bulan dan masuknya bulan yang lain. Tetapi, hal tersebut terbentang sampai kematian datang. Allah-سُبْجَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ  [الحجر : 99]

Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu [2]

Maka, sekalipun qiyam Ramadhan telah usai, sesungguhnya tahun itu seluruhnya merupakan waktu untuk mengerjakan shalat malam. Sekalipun waktu zakat fithri telah usai, sesungguhnya waktu-waktu untuk menunaikan zakat yang wajib dan sedekah sunnah terbentang sepanjang tahun. Dan, begitu pula membaca al-Qur’an dan mentadabburinya serta semua bentuk amal shaleh diminta untuk dilakukan pada setiap waktu.

Dan sesungguhnya termasuk karunia Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-atas para hamba-Nya adalah banyaknya pintu-pintu ketaatan dan beranekaragamnya jalan-jalan kebaikan, hal itu agar langgeng kesemangatan seorang muslim dan ia tetap dalam keadaan melazimi kebaktian terhadap Tuhannya.

Namun, termasuk  hal yang patut disayangkan adalah bahwa sebagian manusia mereka beribadah di bulan Ramadhan dengan melakukan berbagai bentuk ketaatan-ketaatan, mereka menjaga shalat lima waktu dengan mengerjakannya di masjid-masjid, mereka memperbanyak  membaca al-Qur’an, bersedekah dengan sebagian harta benda mereka, namun ketika kemudian Ramadhan usai mereka mulai bermalas-malasan melakukan ketaatan. Bahkan, boleh jadi ada di antara mereka yang meninggalkan hal-hal yang wajib, seperti shalat berjama’ah secara umum atau shalat Subuh secara khusus, mereka melakukan hal-hal yang diharamkan berupa menyengaja tidur dari shalat dan tetap asyik dengan memainkan alal-alat yang melalaikan dan alat-alat musik. Mereka menggunakan nikmat-nikmat Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-untuk melakukan kemaksiatan kepada-Nya. Dengan hal itu, mereka telah menghancurkan apa-apa yang telah mereka bangun, mereka menguraikan kembali apa-apa yang telah mereka pintal. Ini merupakan dalil yang menunjukkan terhalanginya mereka (dari kebaikan) dan merupakan pertanda kerugian. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan ketetapan.



Sungguh, semisal mereka ini beranggapan bahwa taubat dan berhenti dari berbagai kemaksiatan merupakan perkara yang ada waktunya yaitu di bulan Ramadhan. Berkesudahan waktunya dengan selesainya bulan Ramadhan, dan seakan-akan mereka meninggalkan dosa-dosa itu hanya karena Ramadhan, bukan karena takut terhadap Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- Sungguh, seburuk-buruk kaum adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-kecuali pada bulan Ramadhan.

Sesungguhnya bimbingan dan pertolongan dari Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-terhadap hamba-Nya untuk berpuasa Ramadhan dan menyelesaikannya merupakan nikmat yang sangat agung. Hal tersebut selayaknya mendorong seorang hamba bersyukur kepada Rabb-nya dan menyanjung-Nya. Makna ini terisyaratkan dalam firman-Nya,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ  [البقرة : 185]

Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur [3]

Dan termasuk kesyukuran kepada-Nya-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-adalah seorang hamba berpuasa setelahnya dan melakukan amal-amal shaleh. Adapun menyambut dan menghadapi nikmat taufik berpuasa Ramadhan dengan melakukan berbagai kemaksiatan setelahnya, bermalas-malasan mengerjakan shalat berjama’ah, maka hal ini termasuk bentuk dari menukar nikmat Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-dengan keingkaran, dan siapa yang melakukan hal tersebut maka ia berada dalam bahaya yang besar.

Sesungguhnya manhaj (jalan hidup) seorang muslim yang benar adalah ia senantiasa memuji Rabbnya dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat dapat berpuasa dan shalat malam, dan keadaan dirinya pasca Ramadhan hendaknya lebih baik daripada keadaannya sebelum Ramadhan, senantiasa bersemangat untuk melakukan ketaatan, cinta kepada kebaikan, bersegera untuk melakukan kewajiban, mengambil faedah dari madrasah Ramadhan, madrasah yang istimewa, dan ia takut puasanya tidak akan diterima, karena Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.

Sungguh, dulu kalangan Salafush Shalih bersungguh-sungguh dalam menyempurnakan amal dan melakukannya dengan sebaik-baiknya. Kemudian, setelah itu, mereka sangat memperhatikan perkara diterimanya amal tersebut dan sangat mengkhawatirkan ditolaknya amal tersebut. Dan, di antara ungkapan yang dinukil dari Ali bin Abi Thalib-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-adalah :

“Hendaklah kamu lebih perhatian terhadap perkara diterimanya amal daripada perhatianmu terhadap amal itu sendiri. Belum pernahkah kamu mendengar Allah azza wa jalla berfirman,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ  [المائدة : 27]

Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.[4]

Dan dari Aisyah- رَضِيَ اللهُ عَنْهَا-ia berkata, ‘Aku pernah bertanya kepada Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-tentang ayat ini,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ  [المؤمنون : 60]

Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut [5].



 

‘Aisyah mengatakan, ‘Apakah mereka itu adalah orang-orang yang minum khamer dan mencuri ? Beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-menjawab, ‘Bukan’, wahai putri ash-Shiddiq. Akan tetapi, mereka itu adalah orang-orang yang mengerjakan puasa, shalat dan bersedekah, sementara mereka dalam keadaan takut amal mereka tidak diterima.

أولئك الذين يسارعون في الخيرات وهم لها سابقون

Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.[6]

Karena itu, maka waspadalah…waspadalah dari berbalik setelah mendapatkan hidayah. Waspadalah dari kebengkokan setelah kelurusan.

Bertakwalah kepada Allah…bertakwalah kepada Allah…dengan melestarikan amal shaleh dan berkesinambungan di dalam melakukan  perbuatan baik dan meminta kepada Allah agar khusnul khatimah.

Ya Allah ! Bangunkan kami dari tidur dalam kelalaian, sadarkan kami untuk memanfaatkan dengan sebaik-baiaknya waktu-waktu yang terbatas, bimbinglah kami untuk melakukan hal-hal yang mengantarkan kami pada kemaslahantan-kemaslahan hidup kami, jaga dan lindungilah kami dari dosa-dosa kami dan keburukan-keburukan kami, dan bimbinglah seluruh anggota badan kami  untuk mentaati-Mu, jadikanlah kami orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan perantara bagi orang lain untuk mendapatkan petunjuk, bukan menjadi orang-orang yang sesat dan bukan pula menjadi perantara orang lain terjatuh kedalam kesesatan.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, berserta segenap keluarga dan para sahabatnya seluruhnya.

Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Al-Istiqamah ba’da Ramadhan, Abdullah bin Shaleh al-Fauzan-حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى  –

Catatan :

[1] Shahih Muslim 38

[2] Surat al-Hijr, ayat : 99

[3] Surat al-Baqarah, ayat : 185

[4] Surat al-Maidah, ayat : 27

[5] Surat al-Mukminun, ayat : 60

[6] HR. at-Tirmidzi (9/19) dan sabdanya (أولئك الذين) demikian dalam riwayat at-Tirmidzi, sementara di dalam al-Qur’an (أولئك يسارعون), dan hadis ini dishahihkan oleh al-Albani (shahih at-Tirmidzi, 3/79, 80).

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: Hisbahtv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

Trending