Connect with us

Akhlak

Berjalanlah Mengikuti Bayangan Unta!

Published

on

BERJALANLAH MENGIKUTI BAYANGAN UNTA!

Kisah Wail bin Hujr dan Muawiyah radhiallahu anhum

🌱 🌱 🌱 🌱 🌱 🌱

Setelah Fathu Makkah maka dakwah Islam semakin berkembang luas menyebar ke berbagai penjuru. Manusia berbondong-bondong masuk Islam. Kafilah dari Hadhramaut, Yaman Selatan, di tahun kesembilan Hijriyah bergerak menuju kota Madinah untuk menyatakan keislaman mereka dan berjanji setia kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Di antara rombongan ada seorang Raja yang bernama Wail bin Hujr. Mereka menemui Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam untuk menyatakan keislaman mereka.
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sangat bergembira dan menghormati para tamu yang datang.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memberi sebidang tanah dan kebun yang luas untuk Wail bin Hujr radhiallahu anhu selaku mualaf dan seorang raja. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu anhuma untuk mengantar Wail dan menunjukkan tanah untuk tempat tinggal Wail.

Muawiyah saat itu berusia sekitar dua puluh lima tahun masih dalam keadaan miskin. Ia berjalan tanpa alas kaki. Sedangkan Wail bin Hujr yang usianya sekitar sepuluh tahun lebih tua dari Muawiyah menaiki unta. Kota Madinah dalam keadaan panas yang menyengat, dan tempat yang dituju tidaklah dekat. Meskipun Muawiyah telah terbiasa berjalan tanpa alas kali tapi tetaplah merasa kepanasan, sehingga ia memohon kepada Wail agar memboncengnya di atas unta. Wail menjawab, “Aku bukanlah pelit untuk mengizinkanmu naik di atas unta, tapi anda tidak pantas untuk membonceng dan duduk bersama seorang raja.”

Ucapan yang keluar dari Wail sangat menyakitkan dan merendahkan Muawiyah. Muawiyah sendiri sebenarnya putra seorang bangsawan, anak dari pemimpin kota Makkah. Muawiyah yang masih muda dan juga baru masuk Islam tidak lebih dari dua tahun menahan diri dan tidak membantah. Beliau juga sadar bahwa dirinya diamanati oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk mengantar tamu yang harus dimuliakan. Muawiyah juga memaklumi bahwa Wail bin Hujr baru masuk Islam belum ditarbiyah oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat utama lainnya.

Muawiyah memohon lagi kepada Wail bin Hujr, “Pinjamkanlah sandalmu kepadaku!”
Wail pun tidak mau meminjamkan sandalnya meskipun ia duduk di atas unta dan tidak sedang membutuhkan sandal yang dikenakannya.

Wail menjawab, “Berjalanlah mengikuti bayangan unta!”
Muawiyah mampu meredam emosi dan tidak mendebat Wail.
Ia berjalan tanpa alas kaki di terik panas. Ia berlindung di bayangan unta yang berjalan yang sebenarnya tidak mengurangi rasa panas di kakinya. Seandainya unta itu diam berdiri selama empat jam, mungkin seseorang bisa berteduh di bayangan unta dan mengurangi rasa panas di kaki. Singkat cerita, Muawiyah dan Wail sampai di tempat tujuan, lalu Muawiyah pamit pulang.

Waktu berjalan sampai lebih dari tiga puluh tahun kemudian. Allah menakdirkan Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu anhuma menjadi Khalifah yang kekuasaannya meliputi Jazirah Arab, Persia, Afrika dan lainnya.

Di masa khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu terjadi perang saudara yaitu perang Shiffin antara pasukan Khalifah Ali radhiallahu anhu dan pasukan Muawiyah radhiallahu anhu, Wail bin Hujr radhiallahu anhu bersama suku dari Hadhramaut berpihak kepada Khalifah Ali radhiallahu anhu.

Setelah itu Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu wafat menjadi syahid in sya Allah, beliau dibunuh oleh kaum khawarij. Kekhalifahan berganti kepada putra beliau, Hasan bin Ali radhiallahu anhuma. Enam bulan setelah Hasan dibaiat oleh kaum muslimin, beliau menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah agar kaum muslimin bersatu dan tidak berpecah belah. Wail bin Hujr pun berbaiat kepada Muawiyah.

Suatu waktu, datanglah Wail bin Hujr menemui khalifah Muawiyah di Damaskus. Usia Wail bin Hujr saat itu sekitar delapan puluh tahun. Muawiyah menyambutnya dengan hangat dan menghormatinya. Muawiyah mendudukkan Wail bin Hujr di singgasananya. Khalifah juga memberinya uang, tapi ditolak oleh Wail sambil berkata, “Berikanlah harta ini kepada orang lain yang lebih membutuhkan dariku.”

Dalam pembicaraan mereka berdua di antaranya mengenang pertemuan mereka untuk pertama kali dan penolakan Wail bin Hujr untuk membonceng Muawiyah. Mereka berdua berbicara dengan suasana hangat.

Wail bin Hujr menyesali sikapnya dahulu saat baru masuk Islam kepada Muawiyah. Wail berkata kepada teman-teman majelisnya, “Jika waktu bisa mundur, aku ingin saat itu menggendong Muawiyah.”

🌱🍀🌴🌿☘️🎋

Pelajaran dan hikmah yang bisa kita petik dari kisah di atas di antaranya,

🎋 Menghormati dan memuliakan tamu merupakan tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

☘️ Dalam hidup kita harus sabar menahan rasa sakit hati disebabkan ucapan dan sikap saudara-saudara kita. Lebih khusus lagi kita harus banyak memaklumi kesalahan mualaf atau orang yang belum banyak belajar tentang Islam.
Tugas kita untuk terus membina diri dan membimbing mereka dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.
Sabar, santun, tahan emosi merupakan sifat dari orang-orang yang bertakwa.

🌱 Balaslah keburukan dengan kebaikan. Allah berfirman,

وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan. Tolaklah (keburukan itu) dengan cara yang lebih baik.”
(Surat Fushshilat 34)

🌴 Di antara akhlak yang mulia dalam Islam adalah rendah hati. Wail bin Hujr radhiallahu anhu setelah kuat keimanannya ia tidak gengsi untuk mengakui kesalahannya di masa lalu. Beliau dengan rendah hati menceritakan sendiri kisah aibnya di masa lalu bukan untuk membanggakan kesalahan tapi untuk menjadi pelajaran bagi kaum muslimin. Cerita beliau ini secara ringkas dimuat dalam musnad Imam Ahmad, Shahih Ibnu Hibban dan dibaca oleh kaum muslimin sedunia dari generasi ke generasi.

🌱 Nikmat itu tidak langgeng. Suatu saat orang miskin bisa berubah menjadi kaya. Setiap muslim harus selalu optimis dan tidak boleh pesimis atau putus asa. Orang yang kaya juga bisa jatuh menjadi miskin. Orang kaya, cendekiawan, dan setiap orang yang mendapatkan kenikmatan harus selalu bersyukur kepada Allah dan rendah hati serta mengatur ucapannya agar tidak menyakiti orang lain.

🍀 Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Kita berusaha menjadi pribadi yang mandiri dan merdeka. Orang-orang yang wara’, mereka khawatir jika menerima pemberian dari pemerintah atau pihak lain, menjadikan lidah mereka kelu dan tidak mampu untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Sikap mandiri dan merdeka juga harus dimiliki oleh lembaga, kelompok Islam dan negeri-negeri kaum muslimin. Ketergantungan suatu lembaga atau negara kepada pihak lain atau negara lain menjadikan mereka “dikuasai” dan “terjajah.”

اللهم إنا نعوذ بك من ضلع الدين و غلبة الرجال

“Ya Allah, kami berlindung kepadaMu dari lilitan hutang dan dari dikuasai oleh manusia.”

🌹Sifat pengikut Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah “ruhama bainahum” saling menyayangi. Sifat orang-orang yang dicintai Allah adalah “adzillatin alal mukminin” merendah kepada sesama mukminin.

Terkadang terjadi perselisihan di antara orang-orang yang beriman. Perselisihan sering terjadi disebabkan perangkap setan, mengikuti hawa nafsu, dan provokasi dari kaum munafikin atau orang-orang kafir. Hanya saja orang-orang yang bertakwa tidak terus menerus dalam perselisihan, mereka membenci perselisihan dan segera berupaya untuk bersatu.

Allah akan memuliakan dan meninggikan derajat orang yang tidak gengsi untuk meminta maaf dan tidak berat untuk memaafkan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat akan bersegera bersatu dan saling bersinergi serta tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai khaira ummah, sebaik-baik umat, aamiin.

📚📚

Referensi :
Buku Al Lu’Lu Al Maknun fii Sirah An Nabiyyi Al Ma’mun
Oleh : Musa Al Azimi

Al Bidayah Wan Nihayah
Oleh : Ibnu Katsir rahimahullah

🍀🌱🌴🌿☘️🎋🌹

5 Muharram 1442 H /
24 Agustus 2020 M
Oleh : Fariq Gasim Anuz

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Akhlak

Biasakanlah Mengatakan, “Maaf, Aku yang Salah”

Published

on

Salah bisa terjadi dari siapa pun, tidak ada yang Ma’shum darinya, sebagaimana Rasulullah -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- bersabda,

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ . وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ اَلتَّوَّابُوْنَ

“Setiap manusia banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang banyak bertaubat. [1]

Namun masalahnya adalah saat suami atau istri tahu dirinya salah, tetapi ngotot mempertahankan kesalahannya dan menolak mengakuinya, dengan alasan bahwa mengaku bersalah di hadapan pasangan akan membuat pasangan lancang terhadapnya dan membuat kehormatannya jatuh; inilah asumsi keliru yang dihiasi oleh setan.

Wahai suami-istri!

Bayangkan seseorang  berbuat salah terhadap kalian, kemudian dia datang mengakuinya dan meminta maaf, apakah masih ada ganjalan dalam jiwa terhadapnya ?

Saya hampir memastikan bahwa kedudukan orang ini di mata kalian berdua akan menjadi lebih baik dari sebelumnya saat kesalahan itu belum terjadi. Berapa banyak kesalahan menjadi awal hubungan yang akrab di antara dua orang, manakala orang yang bersalah mengakui kesalahannya dan orang yang benar memaafkan? Hingga ada yang berkata, “Hubungan yang lahir sesudah terjadinya problem, adalah hubungan yang lebih kuat daripada hubungan apapun selainnya.”

**

Kesalahan yang tidak kita akui, akan terjadi dua kali

**

Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Az-Zaujan Fi Khaimah as-Sa’aadah Maharat wa Wasa-il, Abdurrahman bin Abdillah al-Qar’awi, hal.17-18

 

Catatan :

[1] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim, dan dishahihkan oleh al-Albani

>www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: MDH tv (Media Dakwah Hisbah )
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

Akhlak

Mengesakan Allah Ta’ala Dalam Setiap Lini Kehidupan

Published

on

Mengesakan atau mentauhidkan Allah Ta’ala adalah risalah para Nabi dan Rasul, mereka diutus oleh Allah Ta’ala untuk mengajarkan umat manusia dan membimbing mereka, bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Ta’ala, dan mereka dilarang untuk menyembah Tuhan-Tuhan lainnya di saat bersamaan, yaitu syirik.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS Annahl: 36)

Dan firman-Nya:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. (QS Annisaa: 36)

Namun,  tidak sedikit yang mengira bahwa mengesakan Allah Ta’ala hanya pada urusan ibadah atau akhirat saja, namun pada urusan dunia mereka antara sadar atau tanpa sadar menggantungkan pengharapan mereka kepada selain Allah Ta’ala, di antaranya dalam hal rejeki, sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, baik dengan cara yang mistis seperti pesugihan atau cara yang kriminal seperti mencuri dan korupsi, yang mana semua tindakan itu menunjukkan lemahnya iman seseorang kepada Allah Ta’ala padahal Dialah Maha Pemberi Rejeki.

Maka dari itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam peringatkan:


عَنْ أَبِي عَبَّاسٍ عَبْدِ اللهِ بنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النبي صلى الله عليه وسلم يَومَاً فَقَالَ: (يَا غُلاَمُ إِنّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ : احْفَظِ اللهَ يَحفَظك، احْفَظِ اللهَ تَجِدهُ تُجَاهَكَ، إِذَاَ سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَاَ اسْتَعَنتَ فَاسْتَعِن بِاللهِ، وَاعْلَم أَنَّ الأُمّة لو اجْتَمَعَت عَلَى أن يَنفَعُوكَ بِشيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلا بِشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ لَك، وإِن اِجْتَمَعوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشيءٍ لَمْ يَضروك إلا بشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفعَت الأَقْلامُ، وَجَفّتِ الصُّحُفُ) رواه الترمذي)

Dari Abu ‘Abbas Abdullah bin ‘Abbas  Radhiallahu ‘Anhuma, beliau berkata: Suatu hari saya dibelakang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau bersabda: “Wahai ghulam, saya akan mengajarkanmu beberapa perkataan: jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya kamu mendapatkan Dia bersamamu, jika kamu meminta maka mintalah kepada Allah, jika kamu menghendaki pertolongan mintalah pertolongan Allah, ketahuilah seandainya segolongan umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu, dan seandainya mereka berkumpul untuk memudharatkanmu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan mereka tidak mampu memudharatkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah mengering tintanya. (HR. At Tirmidzi(

 

Kemudian dalam hal gaya hidup, beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya berarti juga menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, seorang muslim tidak boleh mendahulukan hawa nafsunya di atas aturan agama, maka ketika itu terjadi, dia berarti sedang mempertuhankan hawa nafsunya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?  (QS Al Jastiyah: 23)

 

Untuk itu, hendaklah seorang muslim kembali merenungi hakikat penciptaannya di dunia ini, yaitu untuk beribadah kepada Allah Ta’ala, dan itu tidak akan sempurna sampai dia berserah diri sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dan tidak bergantung kepada selain-Nya dalam segala aspek dan lini kehidupannya, karena jika tidak demikian, justru dia akan menemukan kebuntuan dalam urusannya, kesempitan dan kesusahan tak berkesudahan karena menyelisihi aturan yang dibuat oleh penciptanya, yaitu Allah Ta’ala.

 

Semoga Allah Ta’ala senantian menaungi kita dengan taufik dan hidayah-Nya.

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: MDH tv (Media Dakwah Hisbah )
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

Akhlak

Suami Rendah Hati Kepada Istri Sebagai Kunci Hidup Bersama

Published

on

 

Seorang suami seyogyanya bersikap rendah hati kepada istrinya. Artinya, agar bisa hidup bersama, seorang suami harus mempergauli istrinya dengan penuh keceriaan meskipun istrinya itu berkarakter bengkok.

Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

“Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Bila kau pergi meluruskannya, maka kau akan mematahkannya. Dan bila kau biarkan, maka ia akan terus bengkok. Maka, berwasiatlah mengenai wanita [1]

Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-juga bersabda,

“Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Bila kau pergi meluruskannya, maka kau akan mematahkannya. Dan, membiarkannya bisa membuat kamu hidup bersama.” [2]

 

Bermuka manis (mudarah) kepada orang lain itu dianjurkan sebagai media menjinakkan jiwa dan menyatukan hati. Menyiasati istri membutuhkan kesabaran terhadap kebengkokan mereka. Dan, suami yang hanya berhasrat meluruskan istri takkan mengambil manfaat mereka. Padahal, laki-laki itu cenderung kepada wanita, dan meminta bantuannya dalam semua sisi kehidupannya. Konsekuensinya, seolah-olah menikmati istri itu takkan pernah sempurna melainkan dengan bersabar menghadapi kebengkokan istri.

Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

“Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Bila kau pergi meluruskannya, maka kau akan mematahkannya. Dan biarkanlah, sebab kepadanya kesulitan dan kesusahan.” [3]

 

Suami dianjurkan menggunakan semua media yang bisa menjinakkan hati istri. Apabila ada suami yang menyangka takkan mampu menjinakkan istri, maka di samping Islam memperhatikan kemampuan suami, Islam juga memperhatikan faktor psikologis suami yang ragu tersebut. Oleh karena itu, jika ada seorang istri berduan dengan laki-laki ajnabi (laki-laki lain) dan tak berusaha menolak laki-laki ajnabi itu, maka Islam memperbolehkan si suami mentalak istrinya meskipun belum atau tidak terjadi sesuatu. Hal tersebut demi menjaga perasaan si suami.

Suatu saat ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasul-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- dan berkata : “Wahai Rasul !, istriku tidak pernah menolak tangan yang ingin memegangnya.”

“Talaklah dia, “ kata Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-.

“Tapi, aku amat mencintainya, “ jerit si laki-laki.

“Kalau begitu, nikmatilah dia, “ sabda Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- [4]

Manakala Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- yakin bila laki-laki itu mampu menguasai prasangkanya dan berinteraksi dengan fakta, maka beliau bersabda, “Nikmatilah dia”, karena sebenarnya wanita itu belum terjerumus ke dalam perbuatan keji. Sebab, perkataan laki-laki itu hanyalah pemberitaan mengenai istrinya yang terbiasa tidak menolak tangan yang ingin memegangnya, dan bukan memberitakan istrinya telah melakukan zina.

Di sisi lain, Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-memang melarang suami membiarkan sifat itu, hingga ia menjadi seorang dayyuts (tidak pencemburu). Meski begitu, manakala perbuatan itu lahir dari karakter istri, dan suami mengira istri tidak menolak semua ajakan berkhalwat (berdua-duaan) dengan laki-laki manapun, maka Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-pun memerintahkan agar mentalaknya.

Pun demikian, tatkala ternyata si suami amat mencintainya, maka beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-memperbolehkan hidup bersama. Sungguh, terjalinnya cinta itu fakta, dan terjadinya zina itu prasangka. Di sini berlaku kaedah ‘laa yushaar adh-dhararul ‘aajil li tawahhumil aajil’, artinya, ‘tidaklah sanksi itu dijatuhkan dengan prasangka yang belum menjadi fakta.’

Suami yang tidak bisa mengalahkan prasangkanya dan mendahulukan prasangka atas fakta, maka Islam membolehkan talak, apabila memang talak menjadi sumber ketenangan batin. Sedangkan suami yang menguasai prasangka dan mendahulukan fakta, maka dialah laki-laki takwa yang mampu bersabar atas orang lemah dan kesalahan mereka. Sungguh, manusia yang paling lemah adalah istri. Dan, kesalahan yang paling banyak adalah kebengkokan istri.

 

Laki-laki  yang mampu bersabar atas kebengkokan istri adalah manusia yang paling kuat takwanya dan paling sabar terhadap orang lemah. Yang demikian itu karena dia mengharap wajah Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-dan mendahulukan ridha Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- atas ridha dirinya. Suami jenis ini memahami perintah agar menjinakan  hati istri sebagai perintah untuk menjadi seorang pemaaf. Dan, Nabi-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-pun berwasiat :

“Berwasiatlah kebaikan atas wanita ! Sungguh, mereka itu adalah tawanan kamu. Dan kamu tidak memiliki dari mereka selain itu, kecuali bila mereka nyata-nyata berbuat keji. Bila mereka berbuat keji, maka jauhkanlah mereka dari ranjangmu dan pukullah dengan pukulan ringan [5]

Seorang suami harus menyadari tatkala istri berbuat keji, maka Islam telah memerintahkan agar menghukum dengan menjauhkan istri dari jimak (hubungan suami istri) dan memukulnya dengan tanpa menyakiti. Adapun kesalahan yang bukan perbuatan keji tentulah hukumannya lebih ringan. Maka, secara sadar, ia harus memudahkan dan memaafkan kesalahan tipe ini.

Di sisi lain, bila istri benar-benar melakukan perbuatan zina, maka suami boleh melaknat atau paling minim mentalaknya. Bahkan, Nabi-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- memuji rasa cemburu Sa’ad.

Saad berkata : “Sekiranya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku, niscaya aku akan memukulinya dengan pedang terhunus.”

Nabi-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-pun bersabda :

“Apakah kamu merasa takjub dengan kecemburuan Sa’ad. Sungguh, aku lebih pencemburu. Dan Allah itu lebih cemburu dariku.” [6]

Seorang suami harus menikmati kebengkokan istrinya dan menepis prasangkanya terhadap perbuatan istri yang lahir dari kebengkokan dan secara fakta prasangkanya itu memang tidak terjadi. Di sini, suami harus mempergauli istri di atas landasan fakta, bukan prasangka.

 

Wallahu A’lam

Continue Reading

Trending