Bersama Orang-orang Jujur

5.jpg

Kejujuran adalah faktor terpenting kesuksesan dunia dan akhirat. Yang paling wajib menyandang akhlak ini adalah suami istri. Jujur dalam perasaan, ucapan, perbuatan, dan sikap antar pasangan. Tidak boleh saling menutupi, baik saat keluar rumah, datang, isi hand phone, tas, atau mobil. Dengan inilah, rasa saling percaya lebih kuat, rumah tangga akan langgeng, dan akan tumbuh generasi yang jujur lagi shaleh, yang mereka jujur terhadap diri sendiri, terhadap rabbnya, dan terhadap masyarakat. Sebaliknya, tidak boleh menjadikan dusta sebagai cara interaksi antar pasangan, meskipun itu dianggap benar. Hal itu karena larangan berdusta, yang akibatnya berujung pada hilangnya rasa saling percaya antar sesama, bahkan bisa terjadi sengketa karenanya. Allah ta’ala berfirman,

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman ! bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (Qs. At-Taubah (8) : 119)

Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

 

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Sesungguhnya jujur menghantarkan kebaikan, dan kebaikan mengahantarkan ke Surga. Sesungguhnya seseorang senantiasa jujur hingga menjadi ahli jujur. Dan dusta menghantarkan pada dosa, dan dosa menghantarkan pada Neraka. Sesungguhnya seseorang selalu berdusta hingga dinilai di sisi Allah sebagai ahli dusta.” (Shahih al-Bukhari)

Ini adalah ajakan untuk membangun prinsip jujur dalam hidup, khususnya bagi pasangan suami istri. Mereka boleh berbohong namun hanya dalam masalah perasaan hati. Apa saja yang mengundang rasa cinta, membahagiakan dan melunakkan hati, seperti pujian, terima kasih, ucapan cinta, menghargai, memuliakan, menyanjung pekerjaan rumah tangga, meskipun harus berbohong. Adapun perkara-perkara lainnya sama sekali tidak boleh bohong, takut karena Allah ta’ala dan demi menghargai pasangan.

<em>Wallahu a’lam

Sumber :

Dinukil dari “ Tis’un Wa Tis’una Fikrah li Hayah Zaujiyah Sa’idah”, karya : Dr. Musyabbab bin Fahd al-Ashimi (ei, hal. 59)

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: