Bertaubat dari 3 hal

Ada beberapa hal yang mesti kita bertaubat darinya diantaranya :

1. Bertaubat dan memohon ampun atas kelalaiannya dari bertaubat.

2. Bertaubat atas hal-hal yang disangka sebagai perbuatan baik, padahal tidak, seperti halnya para ahli bid’ah.

3. Bertaubat dari ‘ujub (sikap bangga diri) kerena merasa telah melakukan perbuatan baik dan beranggapan bahwa hal itu dilakukannya semata-mata karena kekuatannya sendiri. Ia lupa bahwa Allah lah yang mengaruniakan nikmat berupa semua (kebaikan) yang telah dilakukannya itu. Ini merupakan taubat dari perbuatan tercela dan meninggalkan perintah.

Kerena itu, taubat adalah suatu sikap yang harus selalu menyertai hamba sejak ia dilahirkan sampai akhir hayatnya. Semua makhluk wajib bertaubat dan memelihara taubatnya.

Allah azza wa jalla berfirman,

لِّيُعَذِّبَ اللّٰهُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْمُنٰفِقَتِ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَالْمُشْرِكٰتِ وَيَتُوْبَ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

Sehingga Allah akan mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, orang-orang musyrik, laki-laki dan perempuan; dan Allah akan menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Qs. Al-Ahzab : 73)

Oleh kerena itu, di antara ayat yang turun terakhir adalah firman Allah,

اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ

وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا

 

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat. (Qs. An-Nashr : 1-3)

Telah dinyatakan dengan tegas dalam hadis shahih bahwa Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- membaca istighfar tiga kali selesai shalat.

Allah azza  wajalla berfirman,

وَالْمُسْتَغْفِرِيْنَ بِالْاَسْحَارِ

dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar.(Qs. Ali Imran : 17)

Maksudnya mereka bangun untuk shalat malam kemudian duduk pada waktu sahur  untuk beristighfar.

Surat al-Muzammil yang berisi perintah untuk bangun shalat malam diakhiri dengan firman-Nya,

وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

… Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Qs. Al-Muzammil : 20)

 

Wallahu A’lam

 

Sumber :

Dinukil dari “at-Taubatu Wal Istighfaru“, Syaikhul Islam Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Hahim bin Taimiyyah, Tahqiq : Muhammad Umar al-Haji dan Abdullah Badran (ei, hal.56-58)

 

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *