Connect with us

Bid'ah

Bid’ah-Bid’ah di Bulan Muharram (1): Bid’ah Kesedihan Pada Rofidhah (Syi’ah)

Published

on

Segala puji milik Allah semata. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi terakhir yang tidak ada lagi nabi setelahnya.

Pembaca yang budiman…

Tidak diragukan bahwa Muharrom adalah bulan yang mulia. Namun, sungguh menyedihkan tatkala kita menyaksikan atau mendengar sebagian kalangan dari saudara kita kaum muslimin, atau kalangan yang mengklaim bahwa mereka termasuk bagian dari kalangan kaum muslim, menodai bulan yang mulia ini dengan perkara-perkara bid’ah.

Di antara perkara bid’ah terkait dengan bulan ini adalah, “Bid’ah Kesedihan Pada Rofidhah (Syi’ah)“

Pembaca yang budiman…

Pada hari kesepuluh dari bulan Muharram, yang dikenal dengan Asyuro, Allah Subhanahu WaTa’ala memuliakan al-Husain bin Ali bin Abu Thalib (semoga Allah meridhoi keduanya) dengan kesyahidan, di tahun 61 H. Kesyahidannya merupakan salah satu yang menjadikan Allah Subhanahu WaTa’ala mengangkat kedudukannya dan meninggikan derajatnya. Dia dan saudaranya al-Hasan adalah dua pemimpin muda penghuni syurga. Kedudukan yang tinggi tidak didapat akan kecuali dengan cobaan, hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah Shallallohu ‘alaihi Wasallam ketika ditanya, “Siapa orang yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab,

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُونَ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ مِنَ النَّاسِ يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ صَلاَبَةٌ زِيدَ فِى بَلاَئِهِ وَإِنَ كَانَ فِى دِينِه رِقَّةٌ خُفِّفَ عَنْهُ وَمَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَمْشِىَ عَلَى ظَهْرِ الأَرْضِ لَيْسَ عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Para nabi, kemudian orang-orang sholeh, kemudian yang semisalnya. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya. Jika pada agamanya kuat, ditambahlah ujiannya. Jika pada agamanya ada kelemahan diringankan ujiannya. Ujian bagi seorang mukmin tidak akan berhenti hingga dia berjalan di muka bumi ini tanpa dosa.”

Al-Hasan dan al-Husain (semoga Allah meridhoi keduanya) telah terlebih dulu memiliki kedudukan yang tinggi dari Allah Subhanahu WaTa’ala. Keduanya tidak mengalami cobaan seperti yang dialami generasi pertama. Keduanya dilahirkan di masa kejayaan Islam. Diasuh dalam kehormatan dan kemuliaan. Kaum muslimin menghormati dan memuliakan keduanya. Ketika Nabi wafat, keduanya masih kanak-kanak. Diantara nikmat Allah yang Dia berikan kepada keduanya adalah Allah berikan ujian dengan apa yang terjadi atas ahlulbait-nya  (keluarga Nabi). Sebagaimana orang yang lebih baik dari keduanya telah diuji. Ali Ibnu Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (ayah dari al-Hasan dan al-Husain) lebih baik dari keduanya, dia mati syahid terbunuh.

Kematian al-Husain menyebabkan fitnah besar ditengah kaum muslimin. Sebagaimana terbunuhnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu adalah sebab terbesar berkobarnya fitnah. Umat menjadi tercabik-cabik hingga hari ini karenanya.

Ketika Abdurrahman bin Maljam membunuh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, pemimpin kaum mukminin ketika itu, para sahabat Nabi membaiat al-Hasan, putra Ali, yang telah dikatakan oleh Nabi,

إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَسَيُصْلِحُ اللهُ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْن عَظِيْمَتَيْن مِنَ اْلُمسْلِمِيْنَ

“Sesungguhnya anakku  ini adalah sayyid, Allah akan menjadikannya pendamai dua kubu besar kaum muslimin yang saling berseteru.”

Catatan : Al-Hasan adalah cucu Rasulullah, beliau menggunakan kata anak maksudnya keturunan.

Al-Hasan melepaskan haknya dari kepemimpinan, sehingga Allah mendamaikan antara dua kubu kaum muslimin. Kemudian dia wafat.

Lalu muncullah kelompok yang membuat surat pernyataan kepada al-Husain, yang menjanjikan akan memenangkan dan menolongnya jika mau merebut kepemimpinan. Tetapi hakikatnya tidaklah seperti yang dijanjikan. Bahkan ketika al-Husain mengirim sepupunya kepada mereka, mereka mengingkari janji dan membatalkan kesepakatan. Bahkan mereka membantu musuhnya untuk menyerahkannya kepada lawannya dengan (seolah-olah) berperang bersamanya.

Ketika itu para cendikia dan pencinta al-Husain seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan selain keduanya telah memperingatkan untuk jangan pergi bergabung bersama mereka. Tetapi al-Husain tidak menggubrisnya. Para cendikia menilai bahwa keluarnya al-Husain tidak mengandung kemaslahatan, tidak pula menyongsong kebahagiaan. Dan pada akhirnya terjadilah apa yang telah dikhawatirkan. Sungguh ketetapan Allah telah ditakdirkan dan ditentukan.

Ketika al-Husain radhiyallahu ‘anhu keluar dan melihat bahwa keadaannya telah berubah, dia minta agar diundang untuk berdamai atau memerangi para penghianat atau menemui sepupunya Yazid. Tetapi semua permintaannya ditolak. Sampai mereka melakukan kongkalikong dan memeranginya sehingga beliaupun memerangi mereka, walau akhirnya terbunuh bersama dengan orang-orang yang ada bersamanya, terbunuh secara zalim dan menemui kesyahidan. Allah memuliakannya dengan kesyahidan itu. Dipertemukan dengan ahlulbaitnya (keluarganya) yang baik lagi suci (diakhirat). Dan Allah menghinakan mereka yang mendzalimi dan mengkhianatinya.

Peristiwa itu mengakibatkan terjadinya keburukan ditengah manusia. Sehingga muncullah kelompok yang jahil lagi zalim, kelompok yang mulhid (kafir) lagi munafik atau dhoolah (sesat) lagi qhawiah (melampaui batas), menampakkan loyalitas kepada ahlulbait dan menjadikan hari Asyuro sebagai hari berkabung, kesedihan dan ratapan. Pada hari itu dinampakkan syi’ar jahiliah seperti menampar-nampar wajah, mencabik pakaian dan berbelasungkawa dengan cara jahiliah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Dengan kematian al-Husain setan membuat dua bid’ah di tengah manusia: bid’ah kesedihan dan ratapan pada hari Asyuro dengan menampar-nampar wajah, menjerit-jerit, menangis, bersin-bersin dan membuat acara nostalgia. Semua itu menggiring kepada mencela dan melaknat generasi salaf dan mengaitkan mereka yang tidak terlibat menjadi para pendosa. Sampai-sampai mereka mencela generasi pertama Islam. Membacakan kisah-kisah yang kebanyakannya adalah dusta. Maksud mereka melakukan hal-hal itu adalah untuk membuka pintu perpecahan di antara ummat. Apa yang mereka lakukan (pada hari asyuro) bukanlah hal yang wajib, tidak pula mustahabbah (disukai) menurut kesepakatan kaum muslimin. Perbuatan-perbuatan itu hanyalah ingin mengenang dan meratapi musibah masa lalu yang merupakan perbuatan yang diharamkan Allah Subhanahu WaTa’ala. (selesai perkataannya)

Perbuatan mereka itu menyelisihi syari’at Allah. Yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya ketika tertimpa musibah (jika baru menimpa) adalah bersabar, mengembalikannya kepada Allah dan mengharap balasan pahala, sebagaimana yang Allah Subhanahu WaTa’ala firmankan,(yang artinya),

“Dan kabarkanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” . Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. “

Di dalam hadits shahih Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ، وَشَقَّ الْجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

“Bukanlan dari (ajaran) kami siapa yang menampar-nampar wajah, mencabik-cabik pakaian dan berdoa dengan doa jahiliah (ketika ditimpa musibah).”

Sabdanya yang lain,

أنا بَرِئَ مِنَ الصَّالِقَةِ وَالْحَالِقَةِ وَالشَّاقَّةِ

“Aku berlepas diri (tidak ridha) dari wanita yang meraung-raung, memotong rambut dan mencabik-cabik pakaian (ketika ditimpa musibah).” [Hadits riwayat Muslim]
Sabdanya,

النَّائِحَة إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْل مَوْتهَا تقام يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَعَلَيْهَا سِرْبَال مِنْ قِطْرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرْب

“An-Naaihah (wanita yang meratapi mayit) jika belum bertobat sebelum mati, pada hari kiamat akan dibangkitkan berpakaian dari ter (aspal) dan baju tameng dari kudis .”

Sabdanya pula, “Tidaklah seorang muslim apabila ditimpa musibah kemudian mengatakan,

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ, اللهم أَجِرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma ajirni fii mushiibati wa akhlif li khairan minha]

Artinya: ‘Sesungguhnya segala sesuatu adalah milik Allah dan kepada-Nyalah ia berpulang. Ya Allah berilah ganjaran pahala atas musibah yang menimpaku dan gantilah untukku dengan yang lebih baik.’

Melainkan akan Allah ganjar dia (dengan pahala) atas musibah yang menimpanya dan digantikan dengan yang lebih baik.”  [Hadits riwayat Muslim].

Sabdanya yang lain,

أَرْبَع فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْر الْجَاهِلِيَّة لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ : الْفَخْر فِي اْلأَحْسَاب ، وَالطَّعْن فِي اْلأَنْسَاب ، وَالاِسْتِسْقَاء بِالْأَنْوَاءِ ؛ وَالنِّيَاحَة

“Ada empat hal pada ummatku dari perkara jahiliah yang tidak ditinggalkan: berbangga dengan suku, mencela keturunan, meminta hujan dengan bintang dan meratapi mayat.”

Lalu bagaimana jika ditambah lagi dengan menzalimi mukmin lain, melaknat, mencela mereka, membantu pelaku perpecahan dan kekafiran mencapai maksud mereka merusak agama ini serta hal-hal lain yang tidak dapat dihitung selain oleh Allah Subhanahu WaTa’ala.

Dari apa yang dihiasi setan kepada pengikut kesesatan dan keburukan adalah menjadikan hari Asyuro sebagai hari berkabung, meratap dan mengeluh, melantunkan kosidah-kosidah atau nasyid-nasyid kesedihan dan riwayat berita-berita yang penuh dengan kedustaan. Kejujuran yang tersisa hanyalah memperbaharui kesedihan dan kefanatikan, membangkitkan kebencian serta permusuhan, menyusupkan fitnah di tengah kaum muslimin dan menjadikannya wasilah mencaci orang-orang soleh generasi pertama serta memperluas kedustaan dan fitnah dalam agama ini.

Kaum muslimin tidak mengetahui yang lebih banyak kedustaan, fitnah dan penghianatannya terhadap Islam daripada kelompok sesat lagi menyimpang ini. Mereka lebih buruk daripada Khawarij yang keluar dari Islam, sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, “Memerangi ahli Islam dan membiarkan penyembah berhala.”

Mereka membantu kaum Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik memerangi ahlulbait Nabi dan ummatnya yang beriman. Sebagaimana bantuan mereka terhadap kaum musyrikin, musuh Islam di Baghdad (Irak) dan tempat-tempat lain. Memerangi keluarga Nabi yang merupakan tambang risalah, putra Abbas Ibnu Abdul Muthalib dan selain mereka dari ahlulbait serta kaum mukminin. Membantai anak-anak dan menghancurkan tempat tinggal. Keburukan dan bahaya mereka terhadap umat Islam tidak dapat dihitung lagi.

Mereka ini adalah kelompok Rhafidhah (syi’ah), yang paling terkenal dalam mencela dua khalifah ar-Rasyidin; Abu Bakar dan Umar (semoga Allah meridhai keduanya). Mereka melaknat, membenci dan mengkafirkan keduanya (kita berlindung kepada Allah). Oleh karena itu, ketika Imam Ahmad ditanya, “Siapa Rafidhah itu?” beliau menjawab, “Adalah mereka yang mencela Abu Bakar dan Umar.”

Karena itulah mereka dinamakan Raafidhah. Mereka menolak Zaid bin Ali (ahlulbait) yang loyal kepada dua khalifah, Abu Bakar dan Umar (semoga Allah meridhai keduanya) karena kebencian mereka kepada keduanya. Mereka yang benci dua khalifah ini adalah Raafidhah. Ada pula yang mengatakan bahwa dinamakan Raafidhah karena mereka menolak Abu Bakar dan Umar (Allah meridhai keduanya).

Raafidhah ini asalnya adalah kaum munafikin lagi zindik. Dipelopori oleh Abdullah bin Saba’ (Yahudi Yaman) yang zindik, dia menampakkan penghormatan yang berlebihan terhadap Ali radhiyallahu ‘anhu, dengan mengklaim bahwa Ali diangkat sebagai imam dengan nas dan menyatakan kemaksuman Ali ra (terjaga dari dosa).

Karena pondasinya adalah kemunafikan, sehingga sebagian salaf mengatakan, “Kecintaan kepada Abu Bakar dan Umar adalah wujud keimanan dan membencinya adalah kemunafikan. Mencintai Bani Hasyim adalah iman dan membencinya adalah kemunafikan.”

Kelompok inilah yang dideskripsikan oleh Saikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan: “Kelompok Rafidhah (syi’ah) adalah ummat yang tidak memiliki akal yang jelas, tidak pula naql (sumber rujukan) yang shahih (benar), tidak pula agama yang diterima, tidak juga dunia yang ditolong. Bahkan mereka adalah kelompok yang paling banyak berdusta dan bodoh. Agama mereka yang masuk ke dalam tubuh kaum muslimin adalah kezindikan dan kemurtadan. Sebagaimana masuknya agama Nasrani, Ismailiah dan selain mereka. Mereka dengan sengaja memusuhi orang-orang pilihan ummat dan kepada musuh Allah dari kaum Yahudi, Nasrani dan musyrikin mereka loyal. Dengan sengaja menolak kejujuran yang terang lagi tak dapat disangkal, dan kedustaan yang nyata yang mereka buat serta  mereka perjuangkan.

Mereka sejalan dengan apa yang telah dikatakan oleh Sya’bi (semoga Allah merahmatinya): “Orang yang paling pintar diantara mereka jika mereka itu dari bangsa hewan adalah keledai, jika dari bangsa burung maka ia adalah burung pemakan bangkai.

Adapun sekarang ini, sebagian yang mengklaim sebagai muslimin di beberapa negara menyambut bulan Muharram dengan kesedihan, kegundahan, khurafat dan kebatilan-kebatilan. Mereka membuat keranda dari kayu dihiasi kertas warna-warni yang dinamakan dengan kubur al-Husain atau Karbala. Juga membuat dua kubur dan dinamakan sebagai takziah. Anak-anak berkumpul dengan pakaian, bunga-bungaan atau dedaunan dan menamakan mereka sebagai fuqoro al-Husain (yang berhajat kepada al-Husain).

Pada hari pertama bulan Muharram mereka menyapu rumah, mandi dan bersih-bersih. Kemudian dihidangkan makanan dan dibacakan surat al-Fatihah, permulaan surat al-Baqarah, surat al-Kafirun, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas, shalawat kepada Nabi, lalu menghadiahkan pahala makanan tersebut kepada orang-orang yang telah mati.

Pada bulan ini dilarang berhias. Para wanita tidak memakai perhiasannya, tidak makan daging, tidak mengadakan perayaan dan pesta, bahkan tidak mengadakan akad nikah, istri tidak boleh berhubungan dengan suaminya bila umur pernikahan belum melewati dua bulan, memperbanyak memukul wajah dan dada, mencabik pakaian, meratap dan mulai melaknat Muawiah dan para sahabatnya, Yazid serta para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Di sepuluh hari pertama bulan Muharram, api dinyalakan dan manusia menglilinginya. Anak-anak pawai dijalan-jalan sambil berteriak-teriak: ‘Ya Husain, ya Husain’. Semua bayi yang dilahirkan pada bulan ini dianggap kesialan, dan pada sebagian wilayah beduk dan kentongan dipukul-pukul, musik dimainkan dan bendera dipasang. Keranda diletakkan lalu para lelaki, wanita dan anak-anak lewat dibawah keranda itu. Mereka mengusap-usapnya dengan bendera dan bertabaruk (mengharapkan barokah), meyakini bahwa hal itu akan membuat mereka tidak terkena penyakit dan dapat memanjangkan umur.

Di sebagian negara yang lain, orang-orang keluar pada malam Asyuro, para lelaki begadang menyusuri jalan-jalan. Jika matahari akan terbit barulah kembali ke rumah-rumah mereka.

Pada hari Asyuro mereka memasak masakan khusus. Para penduduk desa dan kota berduyun mendatangi suatu tempat yang mereka namakan dengan ‘Karbala’ untuk melakukan towaf  (mengelilingi) keranda yang mereka buat dan bertabaruk dengan keranda itu dengan wasilah bendera, menabuh beduk dan gendang. Bila matahari tenggelam, keranda tersebut dikubur atau ditenggelamkan ke dalam air dan orang-orangpun kembali kerumahnya masing-masing. Sebagian orang duduk-duduk di jalan-jalan sambil minum minuman yang mereka namakan as-Salsabil dan membagi-bagikannya kepada orang-orang secara gratis. Sebagian orang yang dianggap bijak pada sepuluh hari pertama bercerita tentang kelebihan-kelebihan al-Husain, sedangkan keburukan-keburukan ditimpakan kepada Muawiah serta Yazid (yang juga ahlulbait) dengan tidak lupa menumpahkan sumpah serapah kepada keduanya dan para sahabat.

Mereka meriwayatkan keutamaan hari Asyuro dan bulan Muharram dengan hadits-hadits palsu dan lemah juga dengan riwayat-riwayat dusta. Empat puluh hari setelah hari asyuro mereka melakukan perayaan sehari penuh yang mereka namakan al-Arba’in. Pada hari itu mereka mengumpulkan dana, dengan dana itu mereka membeli makanan khusus dan mengundang orang-orang untuk datang mencicipinya.

Bid’ah seperti ini dilakukan di India dan Pakistan serta negara-negara yang didominasi syi’ah. Terlebih lagi di Iran dan Iraq serta Bahrain.

Perayaan hari berkabung, ratapan, keluhan, membuat dokumentasi acara, memukul-mukul dada dan hal-hal lain yang biasa dilakukan pada hari asyuro dan sebelumnya di bulan-bulan haram diyakini sebagai pendekatan diri kepada Allah dan dapat menghapus seluruh dosa yang terjadi pada tahun sebelumnya. Mereka tidak sadar kalau apa yang mereka lakukan jusru mengharuskan penolakan dan menjauhkan mereka dari rahmat Allah Subhanahu WaTa’ala.

Sangat benar yang Allah Subhanahu WaTa’ala firmankan dalam kitab-Nya, yang artinya,

“Maka Apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu Dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ? Maka Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS.Faathir:8)

Dan firman-Nya,yang artinya,

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS.al-Kahfi:103,104)

Sumber:

Al-Bid’ah al-Hauliah,  Abdullah at-Tuwaijri.

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bid'ah

Bulan Muharram, Antara Keutamaan dan Kebid’ahan.

Published

on

Bulan Allah al-Muharam adalah bulan pertama dari bulan-bulan Hijriyah, dan merupakan satu dari empat bulan-bulan haram. Nabi-shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita beberapa hukum seputar bulan ini yang  datang di dalam kitab Allah atau di dalam as-Sunnah yang suci. Dan di antara hukum-hukum yang terpenting adalah sebagai berikut :

Pertama : Keutamaan bulan Muharram

Bulan Muharram merupakan bagian dari bulan haram yang diagungkan oleh Allah azza wa jalla dan Dia menyebutkannya di dalam kitab-Nya. Seraya berfirman :

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhul mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa (at-Taubah : 36)




Dan Allah memuliakan bulan ini di antara bulan-bulan yang lainnya, sehingga bulan ini dinamakan dengan bulan Allah al-Muharram. Dia azza wa jalla menyandarkan bulan ini kepada diri-Nya sendiri sebagai bentuk pemuliaan terhadap bulan ini dan sebagai sebuah isyarat bahwa Dia subhanahu wa ta’ala sendiri yang mengharamkannya dan tidak seorang pun dari kalangan makhlukNya yang berhak menghalalkannya.  Sebagaimana Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam-jelaskan akan pengharaman Allah atas bulan-bulan haram tersebut, di mana di antaranya adalah bulan  Muharram, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah-semoga Allah meridhainya- dari Nabi-shallallahu alaihi wasallam-bahwa beliau bersabda,

“Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana mestinya, hal itu ditetapkan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan yang mulia. Tiga darinya berturut-turut, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab yang biasa diagungkan Bani Mudlar yaitu antara Jumadil tsani dan Sya’ban.”[1]

Sekelompok ulama telah merajihkan pendapat bahwa Muharramlah bulan haram yang paling utama. Ibnu Rajab-semoga Allah merahmatinya- mengatakan : Para ulama berbeda pendapat tentang bulan apakah dari bulan-bulan haram yang paling mulia. Al-Hasan dan yang lainnya mengatakan : yang paling mulia adalah bulan Muharram, dan pendapat ini dirajihkan oleh sekelompok ulama muta-akhirin [2] dan menunjukkan kepada hal ini apa yang diriwayatkan oleh an-Nasai dan yang lainnya dari Abu Dzar-semoga Allah meridhainya-, ia berkata :

Aku pernah bertanya kepada Rasulullah-shallallahu alaihi wasallam-‘malam apakah yang paling baik, dan bulan apakah yang paling utama ? Beliau pun menjawab : sebaik-baik (waktu) malam adalah pertengahannya, dan bulan yang paling utama adalah bulan Allah yang kalian menyebutnya al-Muharram. [3]

Ibnu Rajab-semoga Allah merahmatinya- mengatakan : pemutlakan ungkapan beliau ‘bulan yang paling utama’ dalam hadis ini dibawa pemahamannya kepada ‘bulan setelah bulan Ramadhan’ sebagaimana dalam riwayat Hasan secara Mursal.

Di antara hukum-hukum yang terpenting terkait bulan ini adalah sebagai berikut :

Pertama : Haramnya melakukan peperangan di dalamnya.

Maka, termasuk ketetapan hukum terkait bulan Allah al-Muharram adalah haramnya memulai perang pada bulan ini. Ibnu Katsir- semoga Allah merahmatinya-mengatakan : para ulama berbeda pendapat mengenai haramnya memulai peperangan pada bulan al-Haram, apakah hal tersebut mansukh (terhapus hukumnya) ataukah tetap diberlakukan ? Ada dua pendapat, pendapat pertama-dimana pendapat inilah pendapat yang paling masyhur-, bahwa hal tersebut mansukh, karena Allah berfirman di sini,

فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ

maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu)

Sementara Dia-subhanahu wa ta’ala- memerintahkan untuk memerangi orang-orang musyrik.

Pendapat kedua : Bahwa memulai perang pada bulan haram adalah haram dan bahwa pengharaman bulan haram tersebut tidaklah dihapuskan, berdasarkan firman-Nya,

اَلشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمٰتُ قِصَاصٌۗ فَمَنِ اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوْا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ ۖ

Bulan haram dengan bulan haram dan (terhadap) sesuatu yang dihormati) berlaku (hukum) kisas. Oleh sebab itu, siapa yang menyerang kamu, seranglah setimpal dengan serangannya terhadapmu. (Al-Baqarah [2]:194)




Dan, Dia subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

فَاِذَا انْسَلَخَ الْاَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ

Apabila bulan-bulan haram telah berlalu, bunuhlah (dalam peperangan) orang-orang musyrik (yang selama ini menganiaya kamu)(at-Taubah : 5)[4]

Dan dahulu di masa Jahiliyah orang-orang Arab mengagungkannya, dan dulu bulan ini dinamakan dengan bulan Allah al-Asham, karena saking kerasnya pengharamannya…dan puasa pada bulan Muharram termasuk perkara sunnah yang paling afdhal, imam Muslim meriwayatkan dari hadis Abu Hurairah bahwa Nabi-shallallahu alaihi wa sallam-bersabda,

أفضلُ الصِّيامِ بعد شَهرِ رمضانَ شهرُ اللهِ الذي تَدْعونَه المُحَرَّمَ، وأفضَلُ الصَّلاةِ بعد الفَريضةِ قيامُ الليلِ

Puasa yang paling utama setelah puasa bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan yang kalian menyebutnya al-Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah ahalat fardhu adalah shalat malam.

Kedua : keutamaan Puasanya

Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam-telah menjelaskan keutamaan puasa bulan Allah al-Muharram, dengan sabdanya :

((أفضَلُ الصِّيامِ بعد رمضانَ شَهرُ اللهِ المُحَرَّمُ))

Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah al-Muharram [5]

Para ulama berbeda pendapat tentang apa yang ditunjukkan oleh hadis ini, apakah hadis ini menunjukkan puasa sebulan secara sempurna ataukah mayoritas hari-harinya ? Zhahir hadis-Wallahu A’lam-menunjukkan keutamaan puasa bulan Muharram secara sempurna,sementara sebagian ulama membawa pemahaman hadis ini sebagai motivasi untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharram, bukan berpuasa seluruh harinya. Karena perkataan Aisyah, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan  puasa sebulan penuh sama sekali kecuali Ramadhan, dan aku pun tidak pernah melihat beliau pada suatu bulan di mana beliau paling banyak berpuasa di bulan tersebut melebihi puasa pada bulan Sya’ban. (HR. Muslim)[6]

Akan tetapi, boleh jadi dikatakan, ‘Sesungguhnya Aisyah menyebutkan apa yang ia lihat di sini, akan tetapi nash menunjukkan puasa sebulan secara sempurna.

Ketiga : Bulan Allah Muharram dan hari Asyura

Asyura adalah hari ke-10 dari bulan Muharram, dan hari tersebut memiliki keistimewaan,  puasa hari tersebut memiliki keutamaan, Allah telah mengistimewakannya, dan Rasulullah telah memotivasi untuk melakukannya.

1-Keutamaan hari Asyura

Asyura merupakan hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya dan menenggelamkan Firaun dan kaumnya, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai bentuk kesyukuran (kepada-Nya atas nikmat tersebut), kemudian Nabi-shallallahu alaihi wasallam-berpuasa pada hari tersebut. Berdasarkan apa yang diriwayatkan Ibnu Abbas, ia berkata : “Ketika Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam-datang ke Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura, maka mereka ditanya tentang hal itu. Mereka pun menjawab : hari ini adalah hari di mana Allah menolong dan memenangkan Musa dan Bani Israil  atas Fir’aun, maka kami pun berpuasa sebagai pengagungan terhadapnya. (Mendengar pernyataan mereka tersebut) maka Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam-bersabda : kami lebih utama dengan Musa daripada kalian, lalu beliau perintahkan (para sahabatnya) untuk berpuasa nantinya pada hari itu. [7]

Dalam satu riwayat milik imam Muslim, ‘Maka Musa berpuasa pada hari itu (Asyura) sebagai kesyukuran , lalu kami pun berpuasa juga pada hari tersebut…

Tentang keadaan nabi terkait dengan puasa Asyura ada 4 keadaan [8] :

Keadaan pertama :

Bahwa beliau pernah berpuasa pada hari itu saat berada di Mekah,   namun beliau tidak memerintahkan manusia untuk berpuasa.

Di dalam shahihain disebutkan hadis dari Aisyah, ia berkata, ‘dulu asyura menjadi hari untuk berpuasa oleh orang-orang Quraisy di masa Jahiliyah, dan dulu Nabi pun berpuasa. Lalu, ketika beliau datang ke Madinah beliau pun berpuasa hari itu dan beliau (juga) memerintahkan orang-orang untuk berpuasa pada hari itu. Lalu, ketika turun kewajiban berpuasa Ramadhan, di bulan Ramadhanlah beliau berpuasa, lalu beliau meninggalkan puasa Asyura. Maka, siapa yang berkeinginan berpuasa, silakan ia berpuasa, dan siapa yang ingin tidak berpuasa, ia pun boleh berbuka (tidak berpuasa) [9]

Dan dalam satu riwayat milik imam al-Bukhari : dan Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam-bersabda, “Siapa yang ingin, maka silakan berpuasa. Dan siapa yang ingin, maka silakan berbuka.”[10]

Keadaan Kedua :

Bahwa Nabi, saat datang ke Madinah dan melihat puasa kalangan ahli kitab pada hari tersebut dan pengagungan mereka terhadap hari tersebut, -dan dulu beliau suka untuk mencocokinya dalam hal-hal yang tidak diperintahkan-beliau pun berpuasa hari tersebut dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa hari tersebut,  dan beliau menekankan perintah dengan berpuasa pada hari tersebut dan memotivasi orang-orang untuk melakukannya, hingga merekapun melatih anak-anak mereka yang masih kecil untuk berpuasa.

Keadaan Ketiga :

Bahwa ketika diwajibkan melakukan puasa Ramadhan, Nabi meninggalkan urusan para sahabat terkait berpuasa pada hari Asyura, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh imam Muslim di dalam shahihnya, bahwa Nabi bersabda,

((إنَّ عاشوراءَ يومٌ من أيَّامِ اللهِ، فمن شاء صامه، ومن شاء تركه))

Sesungguhnya Asyura merupakan hari di antara hari-hari Allah. Maka, barang siapa ingin maka silakan ia berpuasa pada hari itu, dan siapa ingin, silakan ia meninggalkannya.

Dan dalam satu riwayat imam Muslim juga,

((فمن أحَبَّ منكم أن يصومَه فلْيَصُمْه، ومن كَرِه فلْيَدَعْه))

Maka, barang siapa di antara kalian suka untuk berpuasa hari itu, maka hendaklah ia berpuasa. Dan barang siapa tidak suka, maka hendaklah ia meninggalkannya.




Keadaan Keempat :

Bahwa Nabi bertekad kuat pada akhir-akhir usianya untuk tidak akan berpuasa secara menyendiri tanggal 10-nya saja, beliau ingin menggabungkannya dengan bepuasa juga pada hari kesembilannya, untuk menyelisihi kalangan ahli kitab, dalam berpuasa. Berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwa ia berkata, ketika Rasulullah berpuasa Asyura dan beliau pun memerintahkan orang-orang agar berpuasa, mereka (para sahabat ) mengatakan : duhai Rasulullah ! Sesungguhnya Asyura adalah hari yang diagungkan oleh kalangan Yahudi dan Nasrani ! Maka Rasulullah bersabda,

((فإذا كان العامُ المُقبِلُ إن شاء الله صُمْنا التاسِعَ))

Kalau begitu, pada tahun yang akan datang, insya Allah, kita akan berpuasa (juga) pada hari kesembilan.

Ibnu Abbas mengatakan,”belum saja tiba tahun mendatang, ternyata Rasulullah telah meninggal dunia.[11]

2-Keutamaan puasa Asyura

Adapun keutamaan puasa hari Asyura, maka telah ditunjukkan oleh hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah, di dalamnya ia mengatakan : Rasulullah pernah ditanya tentang puasa hari Asyura. Beliau pun menjawab :

((أحتَسِبُ على اللهِ أن يُكَفِّرَ السَّنةَ التي قَبْلَه))

Aku berharap kepada Allah agar menghapus kesalahan satu tahun sebelumnya.[12]

Kalau pun seorang muslim berpuasa hari kesepuluh, niscaya ia memperoleh ganjaran yang besar ini walaupun melakukannya hanya pada hari tersebut saja, tanpa dimakruhkan. Berbeda dengan pandangan sebagian ulama. Andai kata puasa tersebut ditambahkan dengan puasa pada hari kesembilannya, niscaya akan lebih besar pahalanya. Berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh ibnu Abbas bahwa Nabi-shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

((لَئِنْ بَقِيتُ أو لئِنْ عِشْتُ إلى قابلٍ لأصومَنَّ التاسِعَ))

Jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa (juga) hari kesembilan(nya).

Adapun beberapa hadis yang datang dan disebutkan di dalamnya puasa sehari sebelumnya dan sehari setelahnya, atau puasa sehari sebelumnya atau setelahnya maka tidak benar kemarfuannya kepada Nabi, sementara ibadah-ibadah itu -sebagaimana dimaklumi-bersifat tauqifiyah, tidak boleh mengerjakannya kecuali berdasarkan dalil….sebagian atsar ini telah valid secara mauquf terhadap ibnu Abbas, maka tidaklah dicela orang yang berpuasa Asyura dan berpuasa juga sehari sebelumnya dan sehari setelahnya, atau mencukupkan diri dengan bepuasa hari itu dan berpuasa juga sehari setelahnya saja.

3-Perkara-perkara bid’ah pada hari Asyura

Al-Allamah syaikh Abdullah Fauzan-semoga Allah menjaganya-berkata : telah sesat pada hari ini dua kelompok manusia : satu kelompok menyerupai kalangan Yahudi, di mana mereka menjadikan Asyura sebagai musim hari raya dan bergembira ria, pada hari tersebut dinampakkan syiar-syiar kebahagiaan, semisal, bercelak, memberikan kelapangan nafkah kepada keluarga, memasak berbagai bentuk makanan yang keluar dari kebiasan, dan tindakan lainnya berupa tindakan orang-orang bodoh, orang-orang yang menyambut kerusakan dengan kerusakan pula, dan menyambut kebid’ahan dengan kebid’ahan pula.

Sementara itu, kelompok yang kedua, mereka menjadikan asyura sebagai hari duka lara, kesedihan, dan ratapan karena terbunuhnya Husain bin Ali, dinampakkan pada hari tersebut syiar-syiar Jahiliyah, berupa menampar-nampar pipi, merober-robek kerah baju, dan didendangkan kasidah-kasidah kesedihan, dan dibacakan riwayat berita-berita yang kedustaannya lebih banyak daripada kebenarannya, dimana yang menjadi target dari dilakukannya hal tersebut adalah membuka pintu fitnah dan memecah belah kesatuan di antara umat. Ini adalah perbuatan orang yang sesat usahnya di kehidupan dunia, sedangkan ia mengira bahwa ia telah berbuat sebaik-baiknya.

Allah telah memberikan petunjuk kepada kalangan ahlu sunnah, sehingga mereka mengerjakan apa yang diperintahkan oleh nabi mereka berupa puasa, dibarengi dengan memperhatikan perkara tidak menyerupai kalangan orang-orang Yahudi dalam berpuasanya. Dan, mereka pun menjauhkan diri dari perkara yang diperintahkan oleh setan kepada mereka berupa perbuatan-perbuatan bid’ah. Maka, segala puji hanyalah bagi Allah.[13]

Para ulama telah menashkan bahwasanya tidak ada ibadah  apapun yang valid untuk  dilakukan pada hari Asyura selain berpuasa, tidak valid akan adanya anjuran untuk melakukan shalat pada malam harinya, atau mengenakan celak atau minyak wangi, atau memberikan melapangan kepada keluarga, atau hal-hal yang lainnya, tidak valid adanya dalilnya dari Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam.

Wallahu A’lam

 

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Ahkamu Syahrillahi al-Muharram, Syaikh Dr. Nahar al-Utaibiy

 

Catatan:

[1]Muttafaq Alaihi

[2] Latha-if al-Ma’arif, 70

[3] Diriwayatkan oleh Abu Dzar : an-Nasai di dalam al-Kubra, dan dari Abu Hurairah : Diriwayatkan oleh Ad Darimiy, Ahmad, ath-Thabrani, dan al-Baihaqi. Dan dari Jundub bin Sufyan : an-Nasai dan al-Baihaqi, dan hadis ini shahih.

[4] Tafsir al-Quran al-Azhim 2/468-469. Dan Ibnu Katsir telah menyebutkan sejumlah dalil dan bantahannya ; maka silakan merujuknya di sana.

[5] HR. Muslim

[6] HR. Muslim

[7] HR. Al-Bukhari dan Muslim

[8] lihat Lathaif al-Ma’arif, 96-102

[9] HR. Al-Bukhari dan Muslim

[10] HR. Al-Bukhari

[11] HR. Muslim

[12] HR. Muslim

[13] Risalah Fii Ahaadiits Syahrillah al-Muharram

Continue Reading

Akhlak

Kemungkaran Dalam Qurban – Bagian 3

Published

on

Pada bagian pertama dan kedua dari tulisan ini, telah disebutkan beberapa kesalahan atau kemungkaran kaitannya dengan bentuk ibadah qurban. Dan, berikut ini adalah bentuk kesalahan dan kemungkaran yang lainnya.

 

Sebagian orang ada yang meyakinkan sahnya bersedekah dengan harga hewan kurban sebagai ganti dari menyembelihnya, dan bahwa hal tersebut adalah lebih utama.

Hal ini merupakan kesalahan. Imam Ibnul Qayyim –semoga Allah merahmatinya- mengatakan, ‘Menyembelih (hewan kurban) pada tempatnya adalah lebih utama dari pada bersedekah dengan harganya. Oleh karenanya, andai kata seseorang bersedekah sebagai ganti dari menyembelih hadyu haji tamattu’ dan qiran dengan nilai hewan yang harusnya disebelih yang jauh lebih banyak, bahkan berkali-kali lipat misalnya, maka hal tersebut tidak dapat mengunggulinya, dan demikian pula halnya dalam kasus kurban. (Min Ahkami al-‘Idain Wa ‘Asyri Dzil Hijjah, Abdullah ath-Thayyar, hal. 75-89. Dengan sedikit gubahan)

Dan, hal ini menyelisihi sunnah Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-. Tidak ada keterangan yang valid dari beliau dan tidak pula dari kalangan para sahabatnya –semoga Allah meridhai mereka- bahwa mereka mengeluarkan harga hewan ternak sebagai ganti dari menyembelih hewan kurban.

 

Sebagian orang ada yang sengaja mengambil rambut kepalanya dan badannya atau memotong kuku-kukunya baik kuku tangannya maupun kuku kakinya dengan alasan bahwasanya membiarkannya bagi orang yang ingin berkurban hanya merupakan perkara sunnah saja, ia tidak berdosa kala tidak melakukannya. Ini merupakan kesalahan. Pelakunya wajib beristighfar memohon ampunan kepada Allah, bila mana ia secara sengaja mengam rambutnya.

Ada juga orang yang keadaanya berkebalikan dengan kondisi mereka, di mana ketika ia dibolehkan untuk mengambil rambutnya karena suatu kondisi darurat yang mengaruskannya, namun ia tidak mengambil rambutnya. Atau, ia membutuhkan untuk memotong kuku karena mengalami keretakan atau sobek, misalnya, namun ia tidak memotong kukunya tersebut. Ini merupakan kesalahan.

 

Ada juga sebagian orang yang mewajibkan membayar fidyah atas orang yang ingin berkurban bila ia tidak memotong kukunya atau rambutnya. Ini merupakan kesalahan. Hal ini tidak memiliki dalil, baik dari kitab ataupun dari sunnah. Yang wajib dilakukannya adalah bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah.

 

Banyak kalangan wanita-kecuali yang dirahmati Allah-yang menganggap remeh urusan kurban, mereka enggan berkurban dengan alasan bahwasanya ia tidak akan mampu untuk menjaga dirinya saat menyisir rambutnya, di mana akan ada rambut kepalanya yang terpotong atau tercabut karena tindakannya tersebut. Maka, kita katakan kepadanya, ‘tidak ada hal yang menghalangi dari tindakan kurban dan menyisir rambut kepala, meskipun ada sebagian rambut kepala yang jatuh tanpa sengaja.

 

Sebagian kalangan lelaki boleh jadi ada yang tidak berkenan untuk berkurban dengan alasan ia khawatir akan berdosa terhadap dirinya sendiri karena ketidakmampuannya untuk membiarkan rambut jenggotnya atau kumisnya.

 

Bersambung …

 

Wallahu A’lam

 

Sumber :

Al-Akhtaa-u Wa al-Mukhalafat al-Muta’alliqah Bi al-Udhiyah (https://e7saan.com/article/details/1014)

 

Amar Abdullah bin Syakir

Continue Reading

Bid'ah

Merayakan Maulid Nabi, Benarkah Bukti Rasa Cinta?

Published

on

Sungguh, nikmat yang teragung dan terbesar adalah Allah mengutus Rasul-Nya Muhammad  kepada ummat ini dengan membawa kebenaran dan petunjuk yang dengan itu ia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya; ia mewajibkan kepada mereka untuk mencintainya dengan kecintaaan yang mengungguli kecintaan kepada seluruh makhluk, sebagaimana sabda beliau :

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

Tidak beriman salah seorang di antara kalian sebelum aku dicintainya melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kecintaan kepada Nabi adalah dengan mengikuti beliau dan berjalan di atas jejaknya. Bukan dengan mengadakan perkara baru yang tidak disyariatkan. Allah  berfirman, artinya, Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (Qs. Ali Imran : 31)

Di antara bentuk perkara baru adalah apa yang diada-adakan oleh sebagian orang di bulan Rabi’ul Awwal, yaitu : merayakan Maulid Nabi; di mana mereka berkumpul pada malam tanggal 12, mereka beramai-ramai bershalawat kepada Nabi dengan bentuk shalawat yang dibuat-buat, membaca sanjungan dan pujian-pujian kepada Nabi yang berlebih-lebihan yang dilarang oleh Nabi. Beliau e bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اَلْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ

Wahai sekalian manusia! jauhilah oleh kalian sikap/tindakan ghuluw (berlebihan) di dalam agama ini, karena ghuluw dalam perkara agama telah menyebabkan orang-orang sebelum kalian binasa. (HR. Ibnu Majah dan an-Nasai)

Perkara bid’ah ini pertama kalinya dilakukan oleh kalangan al-Ubadiyyun pada abad ke-4 Hijriyah. Mereka itu dari kalangan Rafidhah Bathiniyyah yang dikatakan oleh al-Baqilaniy, “mereka kaum yang menampakkan fanatisme dan menyembunyikan pengingkaran”.

Berkata Ibnu Katsir,  “al-Qadhi al-Baqilaniy telah mengarang kitab untuk membantah mereka kaum yang menisbatkan dirinya kepada kalangan Fathimiyyun, beliau menamai kitabnya dengan, “ Kasyfu al-Asrar Wa Hatku al-Astar”, di dalamnya beliau menguraikan secara panjang lebar tentang borok dan kejelekan mereka, menjelaskan hakekat ajaran mereka kepada setiap orang sehingga faham akan kecongkakan dan kesombongan perbuatan dan perkataan mereka, beliau mengatakan dalam salah satu ungkapannya, “mereka itu adalah sekelompok kaum yang menampakkan fanatisme dan menyembunyikan pengingkaran” (al-Bidayah wa an-Nihayah, 15/539-540)

Tidak sedikit kalangan yang merayakan maulid Nabi beranggapan bahwa hal tersebut merupakan bentuk kesempurnakan rasa cinta kepada Nabi, mengagungkannya dan menghormatinya. Sejatinya, ini tidaklah benar. Karena, mencintai beliau, mengagungkan dan menghormatinya tidaklah terwujud dengan menyelisihi petunjuknya dan membuat-buat hal baru dalam agama yang telah disempurnakan oleh Allah untuknya dan ummatnya. Mewujudkan rasa cinta kepada beliau, mengagungkan dan menghormatinya adalah dengan senantiasa mentaatinya, mengikuti perintahnya, dan mengambil petunjuknya, menggigit sunnahnya dengan gigi geraham, dan menghidupkan sunnahnya dengan perkataan dan perbuatan, serta menjauhkan diri dari segala bentuk perkara baru yang telah diwanti-wantinya dan telah diberitakan olehnya bahwa hal-hal tersebut merupakan keburukan dan kesesatan. Nabi bersabda,

لَا يٌؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

Tidak beriman seorang di antara kalian sehingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim di dalam as-Sunnah, no. 15 dari Abdullah bin Umar. Syaikh al-Albani melemahkan sanandnya di dalam Zhilalu al-Jannah (1/12). Akan tetapi maknanya shahih dan didukung dengan firman Allah, yang artinya, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman sebelum mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Qs. An-Nisa : 65))

Jalan inilah yang ditempuh oleh orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik.

Sungguh, para sahabat adalah orang-orang yang sangat mencintai Nabi, paling mengagungkan dan menghormati beliau, dan mereka juga orang-orang yang paling bersemangat melakukan kebaikan dibanding orang-orang yang datang setelah mereka; namun begitu mereka tidak memperingati kelahiran beliau dan tidak pula menjadikannya sebagai sebuah perayaan, kalaulah saja melakukan perayaan maulid merupakan bagian dari rasa cinta kepada Nabi yang paling rendah tingkatannya niscaya mereka akan sedemikian bersemangat melakukan hal tersebut dan telah menjadi orang-orang pertama yang melakukannya.

Maka, cukuplah bagi kita jalan yang pertama, Ibnu Umar berkata, “Barangsiapa ingin mengambil teladan maka hendaklah mengambil teladan orang-orang yang telah meninggal dunia, mereka itulah para sahabat Nabi Muhammad, mereka adalah orang-orang terbaik ummat ini, yang berhati paling bagus, paling mendalam ilmunya, paling sedikit membebani diri, sekelompok orang yang dipilih oleh Allah untuk menjadi shabat Nabi; oleh karenanya, hendaklah kalian berusaha meniru akhlak mereka dan cara beragama mereka, karena mereka para sahabat Muhammad Sallallahu alaihi wa sallam  berada di atas petunjuk yang lurus, demi Allah Rabb pemilik Ka’bah. (HR. Abu Nu’aim di dalam Hilyatu al-Auliya 1/305). Berkata Ibnu Mas’ud, “hendaknya kalian mengambil petunjuk yang pertama (as-Sunnah, 80, al-Marwaziy), beliau juga berkata, “ ikutilah, janganlah membuat-buat perkara baru, sungguh telah cukup bagi kalian, dan setiap perkara bid’ah adalah sesat (HR. ad-Darimiy, no. 211)

Mareka adalah para sahabat yang Allah berfirman tentang mereka,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia (Qs. Ali Imran : 110)

Nabi bersabda tentang mereka,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي

Sebaik-baik generasi adalah yang hidup di masaku (yakni, para sahabat) (HR. al-Bukhari, no. 3651 dan Muslim, no. 2533).

Sementara mereka tidak mengadakan peringatan atau perayaan maulid Nabi, tidak pula generasi yang mengikuti mereka dengan baik, padahal mereka orang-orang yang paling mencintai Nabi dan paling bersemangat di dalam menerapkan sunnahnya, paling jauh dari melakukan perkara bid’ah dan kemungkaran. Imam Malik  berkata, “tidak akan menjadi baik akhir ummat ini kecuali dengan melakukan perkara yang telah menjadikan baik generasi ummat yang pertama (Dinukil oleh al-Qadhi ‘Iyadh di dalam kitabnya, “asy-Syifa bi ta’riifi Huquqi al-mushthafa (2/205).

Baleh jadi ada yang berkata : sesungguhnya orang-orang yang melakukan perayaan atau peringatan maulid tujuannya baik, mereka tidak menginginkan kecuali ridha Allah, menampakkan rasa cinta kepada Nabi dengan melakukan perayaan tersebut.
Kita katakan : bahwa tujuan yang baik harus selaras dengan sunnah Nabi, sebagaimana hal ini ditunjukkan dalam sebuah riwayat bahwa salah seorang sahabat pernah menyembelih hewan kurbannya sebelum shalat ied karena ia suka untuk memberi makan Nabi dari sebagian daging kurbannya tersebut seusai beliau melaksankan shalat ied, namun kala Nabi mengetahui hal tersebut, beliau berkata kepadanya,

شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ

kambing yang kamu sembelih adalah kambing daging biasa” (yakni, kambing yang kamu sembelih tersebut bukan merupakan kurban, kamu tidak mendapatkan pahala kurban, bahkan kambing yang kamu sembelih tersebut sama halnya dengan kambing yang dipotong hanya sekedar untuk dimakan) (HR. al-Bukahri, no. 955 dan Muslim, no. 1961)

Yakni, sembelihannya tersebut bukan sebagai kurban karena ia menyembelihnya diluar waktu yang telah ditentukan untuk menyembelih kurban, maka yang demikian itu menyelisihi sunnah, kebaikan tujuannya tidak memberikan faedah kepadanya karena tindakannya yang menyelisihi sunnah.

Sebagian orang yang membolehkan melakukan bid’ah maulid ini berdalih, “ bila mana ahlu salib (kalangan Nasrani) menjadikan malam kelahiran Nabi mereka sebagai perayaan yang paling besar, maka ahlu islam (ummat Islam) lebih utama dan lebih layak tentunya untuk memuliakan (Nabinya) (Dikatakan oleh as-Sakhawiy di dalam kitabnya, at-Tibr al-Masbuk Fii Dzaili as-Suluk, hal. 14). Ini adalah pengakuannya bahwa dilakukannya perayaan Maulid Nabi untuk menyerupai kalangan Nasrani yang menjadikan kelahiran al-Masih sebagai hari perayaan.  Maka, benar sekali apa yang dikatakan oleh Nabi,

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوْهُمْ قُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللَّهِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Sungguh kalian akan mengikuti cara, jalan dan tradisi/kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta hingga pun kalau mereka masuk ke dalam lobang Dhabb(binatang sejenis biawak) niscaya kalian akan mengikuti mereka. Kami (para sahabat) berkata : wahai Rasulullah, apakah mereka Yahudi dan Nasrani? Beliau menjawab, “siapa lagi kalau bukan mereka”. (HR. al-Bukhari, no. 3456 dan Muslim, no. 2669)

Dengan demikian, tindakan merayakan atau memperingati Maulid Nabi menyerupai tindakan kalangan Nasrani atas kesaksian sebagian kalangan yang menganggap hal tersebut baik. Padahal, Nabi telah bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa menyerupai (tindakan) suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka (HR. Abu Dawud, no. 4031)

Maka dari itu, berhati-hatilah Anda dari tertipu oleh semisal  ini sehingga Anda tidak terjatuh ke dalamnya. Allah berfirman, yang artinya, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (Qs. An-Nuur : 63)

 

Penulis :

Amar Abdullah bin Syakir

 

Sumber :

Disarikan dari “ Hukmu al-Ihtifal bi al-Maulid an-Nabawiy”, Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Badr.

Continue Reading

Trending