Buhul Tali yang Amat Kuat

knot-540389_960_720.jpg

Segala puji bagi Allah yang telah dan masih mengaruniakan kepada kita “Buhul Tali yang Amat Kuat”, itulah iman yang benar yang tidak tercampuri dengan sedikitpun unsur kesyirikan dan keraguan. Allah berfirman:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS. Al-Baqarah: 256)
Inilah jalan yang benar

Maka, barangsiapa kafir (mengingkari) kepada segala apa yang disembah selain Allah dan beriman kepada Allah, maka ia telah berjalan lurus dan tegak di atas jalan yang benar, berpegang kepada agama dengan tali yang paling kokoh yang tidak akan terputus. (At-tafsir Al-Muyassar, 1/42)

Adapun jalan yang salah adalah sebaliknya, yaitu, tidak mengingkari segala apa yang disembah selain Allah namun justru menetapkan dan melakukan peribadatan kepada selain Allah, atau menyekutukan-Nya dengan yang lainnya, dan ia tidak beriman kepada Allah Rabb dan Ilah (sesembahan)nya yang hak. Apabila demikian halnya, maka sungguh ia sedang meniti jalan yang bengkok dan tegak di atas jalan yang batil, ia telah berpegang dengan tali yang paling rapuh yang sangat mudah terputus. Semoga Allah menyelamatkan kita darinya. Aamiin


Dasar-Dasar Iman

Pembaca yang budiman, Iman kepada Allah merupakan salah satu dasar-dasar iman. Dasar iman yang lainnya, yaitu iman kepada para malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada para rasul-Nya, iman kepada hari Akhir, dan iman kepada takdir yang baik dan yang buruk.

Dasar-dasar ini telah ditunjukkan oleh Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.
Allah berfirman:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi.” (QS. Al-Baqarah: 177)

Dan tentang takdir, Allah berfirman:

كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ, وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata.” (QS. Al-Qamar: 49-50)
Nabi juga bersabda sebagai jawaban terhadap malaikat ketika bertanya tentang iman:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ]

“(Imam adalah) engkau mengimani Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kemudian dan mengimani takdir yang baik dan yang buruk.” (HR. al-Bukhari, I/19, 20 dan Muslim, I/37)

 

Unsur-Unsur Iman Kepada Allah

Iman kepada Allah mengandung empat unsur:

1. Mengimani Wujud (adanya) Allah, yaitu bahwa Allah itu ada.

2. Mengimani Rububiyah Allah, yaitu mengimani sepenuhnya bahwa Dialah Rabb satu-satunya, tidak ada sekutu dan tidak ada penolong bagi-Nya. Dialah Dzat yang menciptakan, memberikan rizki, memiliki segala sesuatu serta memerintah.

3. Mengimani Uluhiyah Allah, yaitu benar-benar mengimani bahwa Dialah Ilah (sesembahan) yang benar dan satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah berfirman:

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (tuhan) yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al-Hajj: 62)

4. Mengimani Asma dan Sifat Allah, yakni menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang sudah ditetapkan Allah untuk diri-Nya dalam kitab suci-Nya atau sunnah Rasul-Nya dengan cara sesuai dengan kebesaran-Nya tanpa tahrif (penyelewengan), ta’til (penghapusan), takyif (menanyakan bagaimana?) dan tamtsil (menyerupakan). Allah berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan Allah memiliki asmaa-ul husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya, mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 180)
Dia juga berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” (QS. Asy-Syuura: 11)

Maka, jika Allah menetapkan untuk diri-Nya bahwa Dia Maha mendengar, maka pendengaran itu sudah maklum dari segi maknanya, yaitu kemampuan menangkap suara-suara. Tetapi hakikat hal itu dinisbatkan kepada pendengaran Allah tidak maklum, karena hakikat pendengaran jelas berbeda, walau pada makhluk sekalipun. Jadi perbedaan hakikat itu antara pencipta dan yang diciptakan jelas lebih jauh berbeda.
Begitu juga, bila Allah memberitahukan tentang diri-Nya bahwa Dia bersemayam di atas arsy-Nya, sebagaimana firman-Nya:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)
Maka, bersemanyam dari segi asal maknanya sudah maklum tetapi hakikat bersemayamnya Allah itu tidak dapat diketahui. Pada makhluk, hakikat bersemayam di antara mereka berbeda-beda. Bersemanyam di atas kursi yang diam tentu berbeda dengan bersemayam di atas tunggangan yang sudah dijinakkan. Bila perbedaan pada makhluk demikian jelasnya, tentu perbedaannya antara pencipta dan makhluk sangat jelas dan nyata.
Buah Iman Kepada Allah

Keimanan seseorang yang benar kepada Allah memberikan buah yang baik, di antaranya yaitu:

1. Merealisasikan pengesaan Allah sehingga tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah, tidak takut kepada yang lain, dan tidak menyembah kepada selain-Nya.

2. Menyempurnakan kecintaan terhadap Allah, mengagungkan-Nya sesuai dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang maha tinggi.

3. Merealisasikan ibadah kepada Allah dengan mengerjakan apa yang diperintah serta menjauhi apa yang dilarang-Nya.

Pembaca yang budiman, demikianlah bahasan singkat mengenai dasar iman yang pertama, yaitu Iman kepada Allah. Semoga Allah mengaruniakan kekokohan iman kepada kita sehingga tetap berpegang teguh dengan buhul tali yang amat kuat ini. Amiin.
Wallahu a’lam

At-Tauhiid Lishshoffi ats-Tsaniy al-‘Aliy, Tim Ahli Tauhid.

Syarh Ushulil Iman, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

At-Tafsir al-Muyassar, Kumpulan Pakar Tafsir.

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: