Contoh Riba Nasiah dalam Akad Hutang-Piutang

taubat-2.jpg

Misal kasus riba riba dalam akad hutang piutang : Bila A berhutang kepada B uang sejumlah Rp. 1.000.000,- dengan perjanjian : A berkewajiban melunasi piutangnya ini setelah satu bulan dari waktu akad piutang. Dan ketika jatuh tempo, ternyata A belum mampu melunasinya, maka B bersedia menunda tagihannya dengan syarat A memberikan tambahan /bunga bagi piutangnya-misalnya-setiap bulan 5 %dari jumlah piutangnya. Atau ketika akad hutang piutang dilangsungkan, salah satu dari mereka telah mensyaratkan agar A memberikan bunga/tambahan ketika telah jatuh tempo.

Al-Mujahid –semoga Allah merahmatinya berkata :

Dahulu orang-orang jahiliyah bila ada orang yang berhutang kepada seseorang (dan telah jatuh tempo dan belum mampu melunasinya), ia berkata, ‘Engkau akan aku beri demikian dan demikian, dengan syarat engkau menunda tagihanmu, maka pemberi piutangpun menunda tagihannya (Tafsir ath-Thabari, 3/101)

Abu Bakar al-Jashshash –semoga Allah merahmatinya- berkata, “Dan gambaran riba yang dahulu dikenal dan dijalankan oleh orang-orang arab ialah : menghutangkan uang dirham atau dinar hingga tempo tertentu dengan mensyaratkan bunga/tambahan di atas jumlah uang yang tehutang sesuai kesepakatan antara kedua belah pihak, … dan gambaran transaksi riba yang biasa mereka lakukan ialah seperti yang saya sebutkan, yaitu menghutangkan uang dirham atau dinar dalam tempo waktu tertentu dengan mensyaratkan tambahan/bunga (Ahkamul Qur’an, oleh Abu BAkar al-Jashshsash, 2/184)

Inilah riba yang ada semenjak zaman jahiliyah, bahkan telah dilakukan oleh umat manusia sejak sebelum datang islam, sebagaimana dalam firman Allah ta’ala berikut :

 

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا (160) وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (161)

Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) Dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah,

Dan disebabkan mereka memakan riba, Padahal Sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih. (Qs. an-Nisaa : 160-161)

Riba jenis inilah yang dimaksudkan oleh Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam dari khutbah beliau di padang Arafah, ketika beliau menunaikan haji wada’ :

 

وَرِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ وَأَوَّلُ رِبًا أَضَعُ رِبَانَا رِبَا عَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَإِنَّهُ مَوْضُوعٌ كُلُّهُ

Dan riba jahiliyah dihapuskan, dan riba pertama yang aku hapuskan ialah riba kami (kabilah kami), yaitu riba Abbas bin Abdul Muththalib, sesungguhnya ribanya dihapuskan semua (HR. Muslim)

Sumber :

Dinukil dari buku, “ Riba dan Tinjaun Kritis Perbankan Syariah, karya : Dr. Muhammad Arifin bin Badri, MA. Penerbit : Pustaka Darul Ilmi, hal. 21-23.

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

 

 

 

462 kali dilihat, 11 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: