Cucilah Wewangian yang Melekat Pada Badanmu !

gjlk.jpg

Dari Shafwan bin Ya’la bin Umayyah bahwa Ya’la bin Umayyah berkata kepada Umar, ‘Andaikata aku melihat Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- kala diturunkan wahyu kepadanya. Maka, ketika beliau berada di Ji’ranah beliau dinaungi dengan sebuah kain, beberapa sahabat beliau tengah bersamanya. Perowi berkata, ‘tiba-tiba, datanglah seorang laki-laki yang bajunya telah diberi minyak wangi. Orang tersebut berkata,, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana menurut Anda tentang seorang lelaki yang telah berihrom dengan mengenakan jubah yang diberi minyak wangi ? maka beliau memandang ke arah lelaki tersebut beberapa saat. Kemudian, diturunkan wahyu kepada beliau. Lalu Umar mengutus orang untuk menemui Ya’la agar ia datang kepada Rasulullah. Maka, lelaki itupun datang, lalu ia memasukkan kepalanya. Tiba-tiba wajah Nabi memerah beberapa saat, lalu tersingkaplah darinya sedikit demi sedikit. Kemudian, beliau bersabda, ‘manakah orangnya yang bertanya kepadaku tentang umrah tadi ? maka, orang yang tadi bertanya dicari. (Setelah ditemukan) maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-memerintahkan kepadanya seraya mengatakan : adapun minyak wangi yang melekat pada badanmu, hendaknya engkau cuci sebanyak 3 kali. Adapun baju jubah yang engkau kenakan, hendaknya engkau lukar, kemudian lakukan dalam aktivitas umrahmu seperti yang engkau lakukan pada aktivits harimu. [1]

Dalam hadis ini terdapat banyak faedah dan pelajaran yang dapat dipetik yang terkait dengan masalah amar ma’ruf nahi munkar, di antaranya yang terangkum dalam  poin berikut ini :

 

Pertama, berihtisab (amar Ma’ruf Nahi Munkar) terhadap orang yang menggunakan wewangian atau menggunakan baju berjahit saat ia tengah dalam keadaan ihram.

 

Kedua, termasuk sifat seorang muhtasib adalah memastikan hal yang ditanyakan dan merujuk kepada ahli ilmu.

 

  • Penjelasan :

Sesungguhnya mengenakan wewangian dan memakai baju berjahit bagi kalangan laki-laki pada saat ihrom termasuk perkara yang terlarang yang tidak boleh dilakukan oleh orang yang tengah dalam keadaan ihrom sejak ia telah berniat untuk memulai aktivitas manasik. Sungguh Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- telah memerintahkan kepada lelaki tersebut yang datang menanyakan perihal umrah agar ia mencuci wewangian yang melekat pada badannya dan agar menanggalkan jubah yang tengah dikenakan. Oleh karena itu, seorang muhtasib hendaknya beramar ma’ruf nahi munkar terhadap orang yang mengenakan baju berjahit atau mengenakan wewangian saat ia tengah dalam keadaan ihram, bila mana orang tersebut tidak tahu (bodoh)

[1] Diriwayatkan juga oleh Imam al-Bukhari, 3/460, hadis no. 1536, Muslim, 8/319, hadis no. 2792

hendaknya diajari dan dibimbing serta diarahkan kepada yang benar. Karena, barangsiapa mengenakan wewangian pada pakaian ihromnya karena lupa atau karena tidak tahu kemudian ia mengerti, lalu ia segera menghilangkannya, maka tidak ada kafarat atasnya [1] Namun, bila mana ternyata hal itu dilakukannya dengan sengaja, maka hendaklah ia dihardik dan dijelaskan kepadanya bahwa ia berkewajiban membayar fidyah.

 

Seorang muhtasib hendaknya mengklarifikasi kebenaran terkait dengan pertanyaan yang ditanyakan kepadanya, dan bila mana belum mengetahui hukum masalah yang ditanyakan, maka hendaknya ia tidak tergesa-gesa untuk memberikan jawaban sebelum jelas baginya. Karena, hadis ini menunjukkan kepada wajibnya mengklarifikasi bagi seorang alim tentang hal yang ditanyakan kepadanya dan bila mana belum mengetahuinya hendaknya ia bertanya kepada orang yang lebih tahu darinya seperti yang dilakukan oleh Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam-[2]

Ibnu Hajar mengatakan, ‘di dalam hadis ini terdapat keterangan bahwa seorang mufti begitu juga hakim bila mana belum mengetahui hukum (masalah yang ditanyakan) hendaknya ia diam tidak memberikan jawaban hingga jelas baginya persoalan tersebut. [3] oleh kaerena itu, seorang muhtasib hendaknya ketika ditanya tentang hukum suatu masalah tidak segera memberikan jawaban terhadap orang yang bertanya bila mana ia belum memiliki jawabannya, hendaknya ia merujuk kepada para ulama, bertanya kepada mereka tentang perkara yang belum diketahuinya.

 

Wallahu a’lam

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Al-Ihtisab Fii Shahih Ibni Khuzaaemah, Abdul Wahhab bin Muhammad bin Fa-yi’ ‘Usairiy (hal.218-219)

 

[1] Fathul Baariy, Ibnu Hajar, 3/463. Dan, lihat pula : Syarh Shahih al-Bukhari, Ibnu Baththal, 4/204, Syarah Muslim, an-Nawawi, 8/318

[2] Syarh Shahih al-Bukhari, Ibnu Baththal, 4/206

[3] Fathul Baari, 3/463.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: