Dampak Maksiat Bagi Manusia

maksiat.jpg

Segala hal yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan baik diketahui atau tidak pasti mengandung dampak negatif pada manusia, entah itu pada jiwa, badan, harta, hubungan sosial kepada sesama atau semacamnya. Oleh karena itu syariat Islam tidak mengharamkan suatu perkara tanpa ada hikmah dibalik larangan tersebut, namun terkadang kita sebagai manusia yang diberi ilmu yang sangat terbatas oleh Allah tidak mengetahuinya.

Ibnul Qayyim menyebutkan banyak sekali dampak maksiat kepada manusia dalam kitabnya ‘Al-Jawabul Kafi’ beliau berkata, “Maksiat memiliki dampak negatif yang merusak hati dan fisik baik didunia maupun di akhirat yang tidak diketahui kecuali oleh Allah subhanahu wa ta’ala.”

Kemudian beliau menyebutkan dampak-dampak negatif tersebut, berikut kami ambilkan beberapa saja dari sekian banyak dampak negatif yang beliau sebutkan di kitab tersebut, diantaranya:

Pertama, terhalang mendapatkan ilmu, karena ilmu adalah cahaya yang Allah anugerahkan kedalam hati, dan maksiat dapat memadamkan cahaya itu.

Kedua, terhalang dari rezeki. Dalam musnad Imam Ahmad Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ

“sesungguhnya rizki seorang hamba terhalang karena dosa yang dilakukannya…”. (Musnad Imam Ahmad No. 21352)

Sebagaimana bertakwa kepada Allah dapat mendatangkan rezeki, maka meninggalkan ketakwaan kepada Allah juga dapat menghalangi datangnya rezeki.

Ketiga, pelaku maksiat akan merasakan jarak didalam hatinya antara ia dengan Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak setara dengan kenikmatan apapun. Andai seluruh kenikmatan dunia dia miliki niscaya semua kenikmatan itu belum bisa untuk menutupi rasa tersebut. Namun rasa ini hanya akan dirasakan oleh mereka yang hatinya masih hidup, karena luka tidak akan dirasakan oleh orang mati.

Keempat, maksiat menyebabkan adanya jarak antara pelakunya dengan orang-orang sekitarnya terutama dengan orang-orang baik, sehingga ia tidak bisa mendapatkan keberkahan berkumpul dengan mereka dan ia akan semakin dekat dengan orang-orang yang telah dikuasai oleh setan. Jarak pemisah ini lama-kelamaan akan semakin menguat, dan nantinya akan terjadi jarak pula antara ia dengan istrinya, anak-anaknya, kerabat-kerabatnya, bahkan dengan dirinya sendiri.

Abul Ja’ad meriwayatkan bahwasanya Abu Darda’ berkata, “hendaknya seseorang itu hati-hati jangan sampai ia dilaknat oleh hati orang-orang beriman sedang ia tidak menyadari,” kemudian ia bertanya, “tahukah apa penyebabnya?” aku menjawab, “tidak,” Ia berkata, “yaitu ketika seorang hamba melakukan maksiat kepada Allah di saat ia sendiri, dan Allah menaruh kebencian kepadanya di hati orang-orang yang beriman sedang hamba tersebut tidak menyadarinya.”

Kelima, segala urusannya akan disulitkan, sehingga setiap ia menjalani suatu urusan tertentu ia mendapatkannya tertutup dan sulit. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah urusannya akan dimudahkan, orang yang tidak bertakwa urusannya akan dipersulit.

Keenam, ia akan terhalang untuk melaksanakan ketaatan (ibadah-red), dan hal tersebut juga akan menutup jalan untuk menuju ketaatan yang lain, dengan satu dosa macam-macam jalan ketaatan tertutup baginya, padahal setiap satu ketaatan yang ia lewatkan lebih baik baginya dari dunia dan seisinya. Orang yang seperti ini sama dengan orang yang makan suatu makanan yang menjadikannya menderita suatu penyakit tertentu, sehingga penyakit tersebut menjadikannya tidak dapat mengkonsumsi macam-macam makanan yang lebih lezat dari makanan yang menyebabkannya sakit tersebut.

Ketujuh, maksiat dapat menghilangkan keberkahan dalam kehidupan seorang hamba, dan ketakwaan dapat mendatangkan keberkahan dalam hidupnya.

Kedelapan, suatu maksiat akan menghantarkan kepada maksiat yang lain sampai menjadikan seorang hamba sulit untuk meninggalkan dan keluar darinya.

Sebagian salaf berkata, “diantara hukuman berbuat maksiat adalah terjatuh kepada maksiat yang setelahnya, dan diantara ganjaran berbuat ketaatan adalah dimudahkannya untuk berbuat ketaatan sesudahnya.”

Inilah beberapa dampak buruk maksiat bagi seorang hamba yang disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab ‘Al-Jawabul Kafi’, sebenarnya dampak-dampak lainnya masih banyak lagi yang beliau sebutkan namun kami cukupkan dengan beberapa poin diatas agar tidak terlalu panjang, karena tujuan sebuah nasehat bukan panjangnya tapi pengaruhnya, semoga beberapa point diatas dapat membuat hati kita luluh dan sadar akan bahayanya maksiat, karena kita tidak tahu kapan kematian akan menjemput, pada keadaan seperti apa ia akan menghampiri kita, yang pasti setiap kita akan bertemu dengannya, yang bisa kita buat hanyalah mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.

Wallahu a’lam Bisshowab

Penyusun: Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

543 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: