Dari Tempat yang Sama (Serial Kisah Anak-anak Durhaka, bag.3)

Ibunya ikut tinggal bersamanya setelah bapaknya meninggal. Dia termasuk orang yang kaya raya. Dia menafkahi dan merawat ibunya. Tak lama kemudian anak ini menikah dengan gadis yang memiliki sifat egois dan hanya mengharap kebaikan untuk diri sendiri. Dia selalu menyusahkan ibu mertuanya, memperlakukannya dengan tidak baik, dan menyakitinya baik dengan perkataan ataupun perbuatannya. Lalu Allah berkehendak ibu mertuanya ini terkena penyakit gila. Bumi pun terasa sempit bagi istri ini dan dia tidak sanggup lagi bersabar dengan keberadaannya.


Dia berkata kepada suaminya, “Kamu harus memilih antara dua hal ; ibumu atau aku ?”
Sang suami telah mencoba menasehati istrinya untuk sabar dan ridha, namun itu semua tidak ada manfaatnya.
Lalu sang suami berpikir dan menentukan pilihan; istri atau ibu. Akhirnya, ia pun mengikuti hawa nafsunya. Nafsunya memandang keburukan sebagai kebaikan. Setan telah menuntunnya pada kesesatan. Dia ingin berlepas diri dari ibunya !
Hingga pada suatu malam yang gelap dan dingin, dia membawa ibunya ke atap rumah. Dari atap rumah itu dia lemparkan ibunya. Ya, dia lemparkan ibunya. Dia lemparkan ibunya hingga terkapar di atas tanah dan menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sang ibu telah pergi menghadap Rabb-nya dan mengadukan pada-Nya kezhaliman anaknya !


Dan seperti biasa, anaknya mengadakan acara besar untuk menerima ucapan belasungkawa. Dia tidak menyadari bahwa keadilan Allah telah menunggunya.
Hari demi hari berlalu. Dia mengira bahwa dia berada di tempat yang aman dari (murka) Allah juga dari siksa-Nya yang tidak akan dipalingkan dari kaum yang berbuat dosa.


Tak lama kemudian, anak durhaka itu pun terkena penyakit gila. Penyakit yang sama yang diderita ibunya. Dunia pun terasa sempit bagi istrinya, sebagaimana yang dahulu istrinya rasakan ketika ibu suaminya sakit gila.
Lalu, pada suatu malam yang gelap lagi dingin, ia pun itu naik ke atap rumah. Namun kali ini tidak seorang pun yang menuntunnya. Ia naik sendiri. Dari tempat yang sama dia menjatuhkan diri ke tanah hingga menghembuskan nafasnya yang terakhir untuk menemui Rabb-nya disebabkan oleh perbuatannya sendiri. Karena, balasan itu tergantung dari jenis perbuatan.

وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرٰى


Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan.” (Qs. Thaha : 61)
Usai sudah lembaran hitam kehidupan rumah tangga yang berdiri di atas kezaliman dan kedurhakaan agar nasehatnya tetap menggema dalam relung hati siapa saja.

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَذِكْرٰى لِمَنْ كَانَ لَهٗ قَلْبٌ اَوْ اَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيْدٌ


Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. (Qs. Qaf : 37)

Sumber :

Dinukil dari “Aba-ya’dzibuna abna-hum wa abna ya’dzibuna aba-ahum”, Khalid Abu Shalih, ei,hal. 33-34
Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *