Connect with us

Fiqih

Dengan Apa Menetapkan Masuknya Bulan Romadhan?

Published

on

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “لَا تَصُوْمُوْا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوْا حَتَّى تَرَوْهُ. فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ”، رَوَاهُ الْبُخَارِي وَمُسْلِمٌ ، وَفِي رِوَايَةٍ لَهُمَا “فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا الْعِدَّةَ ثَلَاثِيْنَ”.

Dari Abdullah bin Umar -semoga Alloh meridhoi keduanya-, ia berkata, Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “janganlah kalian berpuasa sebelum kalian melihat hilal, dan jangan pula kalian berbuka sebelum kalian melihatnya. Maka jika terhalang (tidak bisa melihatnya) karena terdapat awan maka perkirakanlah (HR.al-Bukhori dan Muslim)  dan dalam riwayat keduanya,

فإن غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا الْعِدَّةَ ثَلَاثِيْنَ

Jika terhalang, maka sempurnakanlah bilangan (bulan Sya’ban) 30 hari.

Penjelasan :

Hadis ini merupakan dalil wajibnya puasa Romadhan bila telah valid terlihat bulannya secara syar’i, dan bahwasanya wajib (hukumnya) menyempurnakan (bilangan) bulan Sya’ban 30 hari bila mendung atau sejenisnya menghalangi terlihatnya bulan Romadhan. Juga menunjukkan wajibnya menyempurnakan (bilangan) bulan Romadhan 30 hari bila mendung atau sejenisnya menghalangi terlihatnya bulan Syawwal, karena pada asalnya tetapnya bulan. Maka, tidaklah dihukumi keluarnya kecuali dengan yakin. Bila seseorang yang dipercaya persaksiannya dalam hal masuknya bulan atau keluarnya menyatakan telah melihat bulan, maka hukum ditetapkan.

Dan makna sabda beliau, فَإِنْ غُّمَّ عَلَيْكُمْ ( yakni :  سُتِرَ الْهِلَالُ وَغُطِيَ بِغَيْمٍ أَوْ نَحْوِهِ, hilal tertutup oleh awan atau yang lainnya)

Sabada beliau, فَاقْدُرُوْا لَهُ, dengan huruf “Dal” didhommah atau dikasroh فَاقْدِرُوْا لَهُ, yakni : أَبْلِغُوْهُ قَدْرَهُ , yaitu : sempurnakan (bilangannya) 30 hari.  Makna ini diperkuat dengan riwayat di dalam shohihain,

فإن غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا الْعِدَّةَ ثَلَاثِيْنَ

Jika terhalang, maka sempurnakanlah bilangan (bulan Sya’ban) 30 hari.

Hari ke-30 dari bulan Sya’ban tidak dilakukan puasa padanya bila hilal tertutup oleh awan atau semisalnya. Karena malam tersebut termasuk ke dalam bulan Sya’ban pada asalnya. Maka, tidak termasuk dalam bulan Romadhan kecuali ditetapkan secara yakin (bahwa malam tersebut adalah bulan Romadhan). Juga berdasarkan perkataan Ammar bin Yasir –semoga Alloh meridhoinya-,

مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يُشَكُّ فِيْهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ

Barangsiapa puasa pada hari yang diragukan padanya, sungguh ia telah menyelisihi Abu al-Qoshim-shallallohu ‘alaihi wasallam.

Pendapat ahli falaq (astronom) tentang masuknya bulan (Ramadhan) ataupun tentang keluarnya tidak bisa dijadikan landasan, karena Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam mengaitkan hukum masalah ini dengan rukyah (melihat hilal/bulan baru) tidak kepada hisab. Metode rukyah dapat dilakukan baik oleh orang tertentu maupun orang awam, orang bodoh maupun orang yang berilmu. Dan ini termasuk kemudahan dalam syariat. Segala puji bagi Alloh.

Hadis ini juga menunjukkan bahwa puasa atau berbuka tidak wajib bagi orang yang keberadaannya jauh dari tempat terlihatnya bulan bila berbeda matla’nya ; karena syariat menggantungkan hukum kepada rukyah. Dan di sini hilal tidak terlihat baik secara hakiki/sebenarnya maupun secara hukum. Meskipun hadis mengajak bicara seluruh ummat. Maka, puasa dan berbuka dilakukan tatkala adanya sebab yaitu terlihatnya hilal. Maka, bagi kalangan yang melihat hilal, wajib baginya berpuasa atau berbuka karena adanya sebabnya. Dan bagi kalangan yang tidak terlihat bulan di daerahnya  maka tidak ada kewajiban bagi mereka untuk berpuasa atau berbuka karena tidak adanya sebabnya, seperti halnya dengan waktu-waktu sholat (yakni, jika waktu shalat telah masuk di suatu daerah, maka orang-orang yang berada di daerah tersebut telah berkewajiban untuk melaksanakan shalat, adapun orang-orang yang berada di luar daerah tersebut yang mana waktu shalat belum masuk, maka mereka belum berkewajiban untuk melaksanakan shalat-pen)   Wallohu a’lam

Dan bulan Sya’ban harus diperhatikan hingga malam ketiga puluh dapat diketahui yang mana pada malam tersebut hilal Romadhan dicari. Disamping itu, agar bisa digenapkan bulan tersebut bila bulan baru (Romadhan) tidak bisa terlihat, berdasarkan hadis Abu Huroiroh –semoga Alloh meridhoinya-, ia berkata, Rosulullohu-shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَحْصُوْا هَلَالَ شَعْبَانَ لِرَمَضَانَ . . . الحديث

Perhitungkanlah (bilangan) bulan Sya’ban untuk (menentukan masuknya) bulan Romadhan … al-Hadits

Yakni : bersungguh-sungguhlah dalam menghitungnya secara tepat, dengan cara mencarinya dan mengamati peredarannya, agar kalian memiliki landasan ilmu dalam mengetahui masuknya bulan Romadhan, sehingga tak terlewatkan sedikitpun darinya.

Apabila ada bukti telah masuknya bulan Romadhan setelah terbitnya fajar atau di tengah siang hari berupa terlihatnya hilal malam sebelumnya, maka wajib hukumnya orang-orang menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa untuk sisa waktu pada hari tersebut, akan tetapi hari tersebut termasuk Romdhan. Hal ini berdasarkan hadis Salamah bin Akwa’ –semoga Alloh meridhoinya-, ia berkata,

“أَمَرَ النَّبِيُّ  رَجُلاً مِنْ أَسْلَمْ أَنْ أَذَّنَ فِي النَّاسِ أَنَّ مَنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ أَكل فَلْيَصُمْ، فَإِنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ عَاشُوْرَاء”

Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam memerintahkan seseorang dari Aslam agar ia mengumumkan kepada khalayak bahwa barangsiapa yang telah mengonsumsi makanan, hendaklah ia berpuasa untuk sisa waktu  pada hari tersebut, dan barangsiapa yang belum mengonsumi makanan maka hendaklah ia berpuasa, karena hari ini adalah hari ‘Asyuro.

Dan, wajib diqodho puasa hari tersebut berdasarkan pendapat  yang nampak dari dua pendapat para ulama. Karena, hal itu sebagai kehati-hatian lepasnya diri dari kewajiban sesuatu perkara yang wajib lagi agung ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –semoga Alloh merahmatinya- berpendapat, ‘wajib menahan diri dan tidak wajib mengqodhonya.

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah –semoga Alloh merahmatinya- berkata, “ia wajib menahan diri namun tidak wajib mengganti puasa [1]

Pendapat ini diikuti oleh muridnya ibnu Qoyyim, semoga Alloh merahmatinya ; karena hukum itu tidak diharuskan kecuali dengan sampainya hukum tersebut kepada orang yang terkena pembebanan hukum. Syariat menjadikan hukum orang yang tersalah dan orang yang lupa menjadi satu yaitu sahnya puasanya, dan niat di malam hari bukan merupakan syarat (syah tidaknya puasa) baginya karena ia tidak mampu. Dan, diantara kaidah syariat dan usulnya adalah bahwa kemampuan menjadi patokan dalam pembebanan suatu kewajiban. Alloh ta’ala berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (Qs.al-Baqoroh:286)

Dan bila seseorang puasa di suatu negeri dan puasa sisanya di negeri lainnya sementara di negeri yang ia singgahi orang-orang masih berpuasa, maka orang tersebut tidak berbuka kecuali dengan bukanya mereka meskipun puasanya lebih dari 30 hari, berdasarkan sabda beliau shallallohu ‘alaihi wasallam,

اَلصَّوْمُ يَوْمُ تَصُوْمُوْنَ، وَالْفِطْرُ يَوْمُ تُفْطِرُوْنَ، وَالْأَضْحَى يَوْمُ تُضَحُّوْنَ

Puasa adalah pada hari kalian berpuasa, dan ifthor (tidak berpuasa) adalah pada hari kalian ifthor, dan iedul adha adalah pada hari kalian berhari raya iedul adha (HR. at Tirmidzi, 3/382, bersumber dari Abu Huroiroh –semoga Alloh meridhoinya, dan isnadnya hasan, silakan lihat : irwaul gholil, karya : al-Albaniy, no.905)

Imam at Tirmidzi –semoga Alloh merahmatinya- berkata, ‘sebagian kalangan ahli hadis menafsirkan hadis ini, seraya mengatakan, ‘makna hadis ini adalah bahwa puasa dan tidak puasa itu bersama jama’ah dan kebanyakan orang.  Selesai perkataan beliau.

Akan tetapi bila ia berpuasa sebanyak 28 hari karena daerah yang ia kunjungi (orang-orang yang berpuasa di daerah tersebut) telah mengakhiri puasanya, maka ia mengakhiri puasa bersama mereka kemudian ( pada hari lainnya) ia berpuasa sehari karena bulan itu tidak kurang dari 29 hari [2]

Ya Alloh munculkanlah bulan kepada kami dengan penuh keamanan dan keimanan, penuh keselamatan dan kesejahteraan, bantulah kami untuk (dapat mengisinya) dengan kebaikan wahai Dzat yang bila dimintai pertolongan niscaya menolong. Ampunilah kami dan kedua orang tua kami serta seluruh kaum muslimin dengan rahmatmu wahai Dzat yang Maha penyayang di antara yang penyayang.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para pengikutnya.

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

أَحَادِيْثُ الصِّيَامِ : أَحْكَامٌ وَآدَابٌ , Hadis Seputar Puasa ; Hukum dan Adab, karya : Abdullah bin Sholeh al-Fauzan (Dosen di al-Imam Muhammad ibn Sa’ud  Islamic University, Cabang Gassim, KSA )

[1] Silakan lihat : Majmu’ al-Fatawa (25/109), Zaadul Ma’ad,2/74, dan al-Mukhtaroot al-Jaliyyah, hal. 60, karya : Ibnu Sa’diy. )

[2]  Silakan lihat : Roudhotuththolibin,2/349, dan syarh al-Muhadzdzab, 6/274, dan Fatawa Islamiyyah, 2/133)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

baru

Tauhid Syiar Haji

Published

on

By

Pertanyaan :

Haji merupakan salah satu bentuk ibadah dari ibadah ummat ini. Allah- سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –  mewajibkannya atas para hamba-Nya dan Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- mengajarkannya kepada ummatnya seraya bersabda,

« خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ»

Ambilah dariku manasik-manasik kalian

Dan tujuan dari ibadah nan agung ini adalah pendeklarasian pengesaan seorang hamba kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- dan menegakkan dzikir, dzikrullah (mengingat dan menyebut Allah)- عَزَّ وَجَلَّ – , mempersembahkan peribadahan kepada-Nya- سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى -.

Barangkali Anda-semoga Allah menjaga Anda-, di awal perjumpaan ini, berkenan untuk berbicara melalui program acara ini, tentang beberapa tampilan pentauhidan kepada Allah- سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى -di dalam ibadah haji ?



Jawaban :

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّد وَعَلَى آلِهِ وأصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ،

Dengan (menyebut) nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta segenap keluarganya dan para sahabatnya semuanya.

Amma ba’du,

Sesungguhnya Allah- سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – telah mensyariatkan haji ke rumah-Nya al-Haram, ketika berfirman,

(وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْ الْعَالَمِينَ)،

Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam. (Ali Imran : 97)

Maka, berhaji ke Baitullah setiap tahun merupakan fardhu kifayah ; haruslah baitullah dikunjungi setiap tahun. Maka, bila ada orang yang cukup melakukannya, gugurlah dosa dari orang-orang yang lainnya. Adapun terkait dengan masing-masing individu, sesungguhnya Allah- سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – mewajibkannya satu kali seumur hidup atas orang yang mampu. Allah- سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – berfirman,

(وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً)

Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.

Dan, Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

« أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا »

Wahai sekalian manusia ! Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian berhaji. Maka, berhajilah kalian.

(Mendengar sabda beliau ini) maka berkatalah seorang lelaki, ‘Ya Rasulullah ! Apakah setiap tahun  ?

Namun, Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-diam (tidak menjawab pertanyaan lelaki tersebut). Kemudian, beliau -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- bersabda,

« أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا »

Wahai sekalian manusia ! Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian berhaji. Maka, berhajilah kalian.

Lalu, berkatalah kembali lelaki tersebut, ‘Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah ?

Namun, Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-diam (tidak menjawab pertanyaan lelaki tersebut). Kemudian, beliau -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- bersabda,

« أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا »

Wahai sekalian manusia ! Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian berhaji. Maka, berhajilah kalian.

Berkatalah kembali lelaki itu, ‘‘Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah ? ‘ maka, Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-menjawab,

لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ

Seandainya aku katakan ‘Iya’, niscaya wajib (setiap tahun), sedangkan kalian tidak mampu melakukannya.

Jadi, haji (merupakan kewajiban) sekali seumur hidup atas orang yang mampu, karena haji itu dilakukan dari tempat yang jauh. Untuk melakukannya terdapat beban dan kerepotan. Dan haji termasuk jihad di jalan Allah- سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –  . Dan termasuk karunia dan kemudahan yang diberikan oleh Allah- سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –    adalah menjadikannya sekali dalam seumur hidup atas orang yang mampu. Ini terkait kewajiban secara individu. Adapun terkait dengan kewajiban atas seluruh kaum Muslimin maka haji wajib ditunaikan setiap tahun.

(وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً)

Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.



Dan (yang dimaksud dengan) mampu mengadakan perjalanan ke sana, yaitu, adanya bekal dan kendaraan yang layak bagi seseorang yang mencukupinya untuk pergi dan kembali, dan cukup pula di belakangnya bagi orang-orang dibawah tanggungannya, disertai dengan keaman jalan. Maka, bila syarat-syarat ini terpenuhi wajiblah atas seorang muslim untuk menunaikan haji sekali dalam seumur hidup. Adapun melakukannya lebih dari satu kali, maka hal tersebut merupakan sunnah. Beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

« تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ؛ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ»

Tunaikanlah haji dan umrah silih berganti. Karena sesungguhnya keduanya akan dapat menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa, sebagaimana halnya alat tiup pandai besi dapat menghilangkan karat besi, emas dan perak.

Beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-juga bersabda,

« مَنْ أَتَى هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ».

Barang siapa mendatangi rumah ini, sedangkan ia tidak berbuat rafats dan tidak pula berbuat kefasikan/kemaksiatan, niscaya ia kembali dalam keadaan seperti keadaan ia dilahirkan oleh ibunya.

Dan tidak diragukan bahwa syi’ar haji ; syi’ar seorang yang tengah ihram adalah bertalbiyah dengan (ungkapan yang mengandung) pentauhidan (pengesaan) terhadap Allah- سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى -,

« لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ»

Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu.

Maka, pentauhidan/pengesaan kepada Allah- عَزَّ وَجَلَّ –  dinyatakan atau dideklarasikan, sebagaimana Allah – جَلَّ وَعَلاَ –berfirman,

(وَإِذْ بَوَّأْنَا لإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِي لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ)

Dan (ingatlah), ketika Kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), “Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, dan orang yang beribadah dan orang yang rukuk dan sujud. (al-Hajj : 26)

Maka, rumah ini, ia dibangun di atas tauhid ; dan mengesakan Allah – جَلَّ وَعَلاَ –   dengan ibadah, wajib disucikan dari kesyirikan, dari kebid’ahan, dan perkara-perkara baru yang diada-adakan, dan disiapkan untuk kaum Muslimin. Di zaman kita, Allah telah menyiapkan  untuk rumah ini pemerintahan yang terbimbing yang mengurusi perkara orang-orang yang menunaikan haji dan umrah. Dan pemerintah telah mediakan berbagai macam fasilitas. Ini tentunya termasuk karunia Allah – سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –   kepada kita dan kepada manusia semuanya. Ini merupakan kenikmatan yang besar yang Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berikan kepada Negeri yang diberkahi ini. Dia-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-memudahkan Negeri ini dan Dia-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-menundukkan untuk Negeri ini sesuatu yang dengannya Negeri ini dapat menegakkan rukun yang agung dari rukun-rukun Islam dan menjamin keamanan bagi para jamaah haji. Memberikan kepada mereka berbagai bentuk rizki. Memberikan kepada mereka kenyamanan. Kesemuanya ini merupakan bagian dari kemudahan yang Allah- عَزَّ وَجَلَّ –  berikan kepada masyarakat muslim yang datang ke negeri ini. Sebagaimana Allah – عَزَّ وَجَلَّ –  berfirman,

(أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَماً آمِناً يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا)

Bukankah Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam tanah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) sebagai rezki (bagimu) dari sisi Kami ? (al-Qashash : 57)

Dan Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا  [آل عمران : 97]

Barang siapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. (Ali Imran : 97)

Yakni, ia merasa aman dan Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-memudahkan orang untuk memberikan keamanan terhadap para jamaah haji dan orang-orang yang menunaikan umrah. Segala puji hanya bagi Allah.

Dan pada setiap masa Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-memudahkan untuk rumah ini orang yang akan  mengurusinya dan mengurusi urusan pada jamaah haji dan orang-orang yang menunaikan umrah. Ini termasuk karunia Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-dan kemudahan dari-Nya.

Wallahu A’lam

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

Sumber :

Mazhahir at-Tauhid Fi al-Hajj, Syaikh Shaleh bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan-حَفِظَهُ اللهُ-.

Continue Reading

baru

Apa Keutamaan 10 Hari Pertama dari Bulan Dzulhijjah ?

Published

on

By

Pertanyaan :

Apakah 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah memiliki keutamaan atas hari-hari yang lainnya ? dan, amal-amal shaleh apakah yang disunnahkan untuk diperbanyak pada 10 hari pertama ini ?

Jawab :

Alhmdulillah. Segala puji bagi Allah

Keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah

Termasuk musim ketaatan yang agung adalah sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah, yang Allah utamakan atas seluruh hari-hari sepanjang tahun. Ibnu Abbas-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-meriwayatkan dari Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-beliau bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ ، قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada hari di mana amal shalih saat itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yakni,  sepuluh hari ini.”





Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?”

Beliau menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan membawa apa pun.” (HR. al-Bukhari, 969,  Abu Dawud, 2438, -dan lafazh ini adalah miliknya-, at-Tirmidzi, 757 dan Ibnu Majah, 1727)

Dan Ibnu Abbas-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-juga meriwayatkan dari Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-beliau bersabda,

مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَا أَعْظَمَ أَجْراً مِنْ خَيْرٍ يَعْمَلُهُ فِي عَشْرِ الْأَضْحَى. قِيْلَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada amal yang lebih suci di sisi Allah azza wa jalla, tidak pula paling besar pahalanya daripada kebaikan yang dilakukan seseorang pada sepuluh adha (sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah).”

Ditanyakan (kepada Nabi),’Tidak juga jihad di jalan Allah ?’

Beliau pun menjawab, ‘ Tidak juga jihad di jalan Allah azza wa jalla, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan membawa apa pun.” (HR. ad-Darimiy, 1/357 dan isnadnya hasan seperti disebutkan di dalam al-Irwa, 3/398)

Nash-nash ini dan yang lainnya menunjukkan bahwa sepuluh hari pertama ini lebih utama daripada seluruh hari-hari dalam setahun tanpa terkecuali sedikitpun. Sampaipun sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan. Akan tetapi, malam-malam sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan lebih utama dari malam-malam sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, karena di malam-malam terakhir dari bulan Ramadhan terdapat lailatul qadar yang merupakan malam yang lebih baik daripada seribu bulan (Lihat : Tafsir Ibnu Katsir, 5/412)



Amal yang disunnahkan untuk dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzaulhijjah

Seorang muslim hendaknya membuka sepuluh hari pertama ini dengan bertaubat dengan taubat nasuha kepada Allah azza wa jalla, kemudian ia memperbanyak melakukan amal shaleh secara umum, kemudian pertahatiannya dengan amal-amal berikut ini lebih dikuatkan :

1-Puasa

Disunnahkan bagi seorang muslim untuk berpuasa 9 hari pertama bulan Dzulhijjah, karena Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-memotivasi agar beramal shaleh pada sepuluh hari pertama, sementara puasa termasuk amal yang paling utama. Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-telah memilih amal ini untuk diri-Nya sebagaimana di dalam hadis Qudsi :

“قَالَ اللهُ: كُلُّ عَمَلِ بَنِي آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامُ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ.”

Allah berfirman : setiap amal anak Adam baginya, kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya (HR. al-Bukhari, 1805)

Dulu, Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-berpuasa 9 hari bulan Dzulhijjah. Hunaidah bin Khalid meriwayatkan dari istrinya dari sebagian istri Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ia mengatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ. أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَخَمِيْسَيْنِ “

Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-biasa berpusa 9 hari (pertama) bulan Dzulhijjah, hari Asyura (10 Muharram), tiga hari setiap bulan, hari senin pertama awal bulan dan dua Kamis (HR. an-Nasai, 4/205 dan Abu Dawud, dan dishahihkan olel al-Albani di dalam shahih Abu Dawud, 2/462)

2-Memperbanyak Tahmid, Tahlil dan Takbir

Disunnahkan pula untuk mempernyak takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dengan mengeraskan suara di masjid-masjid, rumah-rumah, jalan-jalan dan di setiap tempat yang dibolehkan untuk berdzikir, mengingat dan menyebut Allah-سُبْجَانَهُ وَتَعَالَى-, untuk menampakkan ibadah dan sebagai peryataan secara terang-terangan di dalam mengagungkan Allah-سُبْجَانَهُ وَتَعَالَى-.



Kaum lelaki mengeraskan suaranya, sedangkan kaum wanita melirihkannya.

Allah-سُبْجَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ  [الحج : 28]

Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak. (al-Hajj : 28)

Jumhur ulama berpendapat bahwa  ‘الأيام المعلومات’  (beberapa hari yang telah ditentukan) ini adalah sepuluh hari pertama (dari bulan Dzulhijjah), berdasarkan keterangan dari Ibnu Abbas-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ –bahwa ia mengatakan, ‘الأيام المعلومات’ adalah sepulah hari pertama bulan Dzulhijjah.

Dan Abdullah bin Umarرَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا—-meriwayatkan dari Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bahwa beliau bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْدِ

Tidak ada hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak pula yang lebih dicintai-Nya untuk beramal di dalamnya daripada sepuluh hari ini. Maka, perbanyaklah oleh kalian tahlil, takbir dan tahmid pada hari-hari tersebut. (HR. Ahmad 7/224, dan dishahihkan sanadnya oleh Ahmad Syakir)

Sifat Takbir :

اللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ،

Allahu akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallahu, Wallahu Akbar, Wa Lillahil hamd

Allahu Maha Besar, Allah Maha Bersar.  Tidak ada Tuhan yang berhak dibadahi dengan benar kecuali Allah. Allah Maha Besar. Dan bagi Allah-lah segala pujian.

Ada  juga sifat takbir yang lainnya.

Takbir di zaman ini telah menjadi sunnah yang terabaikan. Apalagi pada awal sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini. Maka, hampir saja Anda tidak mendengarnya kecuali dari sedikit orang saja. Oleh karena itu, hendaknya takbir tersebut dikeraskan untuk menghidupkan kembali sunnah dan sebagai pengingat bagi orang-orang yang lalai. Dan telah valid bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah- رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- dulu, keduanya biasa keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama ini, keduanya bertakbir (dengan suara yang keras) dan orang-orang pun bertakbir dengan sebab takbir yang dikumandangkan oleh keduanya. Dan, yang dimaksud adalah bahwa orang-orang mereka teringatkan dengan takbir tersebut, lalu mereka pun bertakbir masing-masing. Bukanlah yang dimaksud adalah takbir secara berjama’ah dengan satu suara, karena hal ini tidaklah disyariatkan.

Sesungguhnya menghidupkan kembali sesuatu yang hampir sirna berupa perkara-perkara sunnah terdapat pahala yang besar yang ditunjukkan oleh sabda beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيْتَتْ بَعْدِي فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا

Barang siapa menghidupkan satu sunnah dari sunnah-ku yang telah dimatikan sepeninggalku, sesungguhnya baginya pahala seperti orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka. (HR. at-Tirmidzi 7/443. Ini adalah hadis hasan karena ada riwayat-riwayat lain yang menguatkannya)

3-Menunaikan Haji dan Umrah

Sesungguhnya termasuk amal yang sangat utama untuk dilakukan pada sepuluh hari pertama ini adalah berhaji ke Batullah al-Haram. Maka, barang siapa diberikan taufik oleh Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-untuk menunaikan haji ke rumah-Nya, melakukan manasik-manasiknya sebagaimana yang diminta maka baginya bagian-insya Allah- dari sabda Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –

اَلْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّة .

Haji yang mabrur itu tidak ada balasannya kecuali Surga



4-Berkurban

Termasuk amal shaleh pula yang dianjurkan untuk dilakukan pada sepulah hari pertama bulan Dzulhijjah ini adalah bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-dengan menyembelih hewan kurban dan mendaya gunakan harta di jalan Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-.

Maka, hendaknya seorang  muslim bergegas memanfaatkan dengan sebaik-baiknya hari-hari nan utama itu sebelum orang yang menyepelekan menyesal atas apa yang dia lakukan. Dan sebelum ia meminta untuk dikembalikan kembali ke kehidupan dunia sementara tak akan diibah apa yang dimintanya.

Wallahu ‘Alam

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

Sumber :

Maa-huwa Fadhlu al-‘Asyr Min Dzil Hijjah, Muhammad Shaleh al-Munajjid.

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: Hisbahtv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

baru

Sadarilah, Berzina Hanya Akan Menghancurkan Masa Depanmu

Published

on

Dalam hati kecil yang terdalam, jika setiap pemuda/i ditanya ingin menikah dengan siapa, pasti jawabannya ingin mendapatkan jodoh yang salih/ah. Yaitu yang baik agamanya, menjaga kehormatannya sebelum menikah dan ketika sudah menikah, sehingga setia tidak akan selingkuh.
Dan ini merupakan impian setiap muslim/ah, sehingga akan melahirkan keturunan yang salih/ah pula.

Namun, dengan pergaulan bebas di zaman ini, seorang pemuda/i memang mendapatkan godaan yang luar biasa hebatnya untuk tidak pacaran, sehingga butuh dengan benteng yang sangat kokoh untuk menahannya.

Diantara bentengnya adalah menjaga shalat, Allah Ta’ala berfirman:

ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Artinya:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Ankabut: 45)

Sungguh Shalat dapat menjauhkan dari perilaku yang keji dan munkar jika dilakukan dengan khusyu dan ikhlas. Padanya seorang hamba akan sadar bahwa ada Allah Ta’ala yang mengawasi tindak-tanduknya. Sehingga dia akan berpikir berulangkali untuk melakukan suatu kemaksiatan, apalagi yang dapat merusak kehormatan seperti zina.



Ketahuila bahwa zina itu sangatlah berat dosa dan konsekuensinya, bahkan Allah Ta’ala sampai melarang untuk menikahi seorang yang pernah berzina jika belum bertaubat.
Sebagaimana firman-Nya:

{الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ (3) }

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki yang musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin. (QS Annur: 3)

Dan jodoh adalah cerminan dari seseorang, jika dia baik-baik menjaga diri, maka Allah akan pilihkan baginya yang baik pula, jika tidak, maka Allah akan berikan untuknya yang semisal dirinya, sebagaimana firman-Nya:

ٱلْخَبِيثَٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَٰتِ ۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Artinya:
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS Annur: 26)

Dan di dalam Tafsir Al Muyassar ayat diatas dijelaskan:
“Setiap yang keji dari kaum lelaki dan kaum perempuan, ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan akan cocok, sejalan dan sesuai dengan yang keji pula. Dan setiap yang baik dari kaum lelaki dan kaum perempuan, ucapan dan perbuatan akan cocok dan sesuai dengan yang baik-baik (pula). Para lelaki dan wanita yang baik-baik bersih dari tuduhan buruk yang dilontarkan oleh orang-orang keji. Mereka akan mendapatkan ampunan dari Allah yang akan menutupi dosa-dosa mereka dan mendapatka rizki yang baik di surga.”

Maka dari itu, hendaklah menjaga diri sebaik mungkin dan semaksimalnya, karena apa yang terjadi di masa muda ini, itu yang akan menentukan arah masa depan di dunia ini, apalagi di akhirat.
Untuk itu, jauhilah segala hal yang dapat mengantarkan kepada zina, seperti pacaran dsbg.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا
Artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.



Dan di dalam Tafsir Al Muyassar ayat diatas dijelaskan:
“Dan janganlah kalian mendekati perzinaan dan segala pemicunya, supaya kalian tidak terjerumus ke dalamnya. Sesungguhnya zina itu benar-benar amat buruk, dan seburuk-buruk tindakan adalah perzinaan.”

Dan juga hendaklah seorang pemuda/i berusaha untuk dapat menikah sesegera mungkin, sebagaimana wasiat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada para pemuda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian yang berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah segera! karena menikah itu akan lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Terakhir, pintu taubat terbuka lebar bagi yang ingin memperbaiki kesalahannya, Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Azzumar:53)

Dan Rasululullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang sering bertaubat. (HR. Ibnu Majah)
Semoga Allah Ta’ala menjaga kita semua dari godaan syaitan yang terkutuk, dan senantiasa menaungi kita dengan taufik dan hidayah-Nya.

Continue Reading

Trending