Diam Itu Bijak

awal.jpg

Diam setelah terjadi masalah rumah tangga, mencari pandangan, serta tidak menceritakan kepada orang  lain termasuk adab yang perlu dijaga. Dan ini termasuk ajaran Islam yang paling penting.


Dilarang memperburuk citra pihak lain apapun yang terjadi, bahkan apabila terjadi perceraian sekalipun. Yang demikian sebagai ketaatan kepada Allah ta’ala, mengharap pahala, menjaga hubungan, dan menghargai orang-orang dekat, terutama anak-anak. Rasulullahs-shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda,

 

« أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ »


Tahukah kalian apa itu ghibah ? para sahabat menjawab, Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “kamu menyebut apa yang dibenci saudaramu.” Ditanyakan, “Bagaimana jika itu ada dalam dirinya ?” Beliau menjawab, “Jika ada dalam diri saudaramu maka kamu telah meng-ghibahnya, sedangkan jika tidak ada maka kamu telah menfitnahnya.” (Shahih Muslim)


Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

 

وَإِنِ امْرُؤٌ عَيَّرَكَ بِشَيْءٍ يَعْلَمُهُ مِنْكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِشَيْءٍ تَعْلَمُهُ مِنْهُ ، دَعْهُ يَكُونُ وَبَالُهُ عَلَيْهِ ، وَأَجْرُهُ لَكَ


Apabila seseorang mencelamu lantaran aibmu yang ia tahu, maka jangan cela dia dengan aib yang engkau ketahui. Biarkanlah ia, dosanya atasnya namun pahalanya untukmu.” (Shahih al-Adab al-Mufrad)


Sebab terkadang banyak suami atau istri menjelekkan citra pasangannya untuk membela sikapnya, ingin balas dendam, untuk mengambil hati anak-anak, ataupun sebab lainnya. Ini adalah sikap yang salah. Sebab, dampak negatifnya akan kembali kepada pelakunya, kemudian kepada orang-orang sekitar. Hal itu akan membuat semua terus-menerus tegang dan gundah lantaran keluhan atau kritik yang biasa mereka dengar. Adakalanya mencoreng wajah keluarga di benak anak-anak, atau bahkan membuat mereka durhak kepada kedua orang tua atau salah satu yang zhalim. Realita membuktikan hal itu.


Dr. Hani al-Ghamidi berkata, “Sebagian anak menderita gangguan kejiwaan yang rumit karena mereka dipermainkan. Ini peringatan bagi pihak yang memanfaatkan keluguan anak sebagai senjata untuk menyerang pihak lain. Anak belum bisa menimbang baik secara emosi maupun akal. Kami menganjurkan bagi orang tua yang telah bercerai, jangan berfikir memanfaatkan keluguan anak untuk menekan pihak lain.”


Wallahu A’lam


Sumber :


Dinukil dari “ Tis’un Wa Tis’una Fikrah li Hayah Zaujiyah Sa’idah”, karya : Dr. Musyabbab bin Fahd al-Ashimi (ei, hal. 236)

 


Amar Abdullah bin Syakir

69 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: