Connect with us

Fatwa

Fatwa Nishfu Syaban: Syaikh Shalih Al-Fauzan

Published

on

هل ورد نص قرآني أو حديث نبوي يفيد قيام ليلة النصف من شعبان وصيام نهاره ؟ وإذا كان ذلك واردًا هل هناك كيفية معينة لقيام ليلة النصف من شعبان ؟

Adakah nash baik Qur’an maupun hadis yang memberikan faedah disyariatkannya melakukan shalat malam pada pertengahan bulan sya’ban dan anjuran berpuasa pada
siang harinya ?

إنه لم يثبت عن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ بخصوص ليلة النصف من شعبان ولا صيام اليوم الخامس عشر من شعبان، لم يثبت عن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ دليل يعتمد عليه، فليلة النصف من شعبان كغيرها من الليالي، من كان له عادة القيام والتهجد من الليل فإنه يقوم فيها كما يقوم في غيرها، من غير أن يكون لها ميزة، لأن تخصيص وقت بعبادة من العبادات لابد له من دليل صحيح، فإذا لم يكن هناك دليل صحيح، فتخصيص بعض الأوقات بنوع من العبادة يكون بدعة، وكل بدعة ضلالة .

Tidaklah valid dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adanya pengkhususan melakukan shalat malam pada malam tengah bulan sya’ban tidak pula puasa pada siang hari tanggal 15 bulan sya’ban. Tak ada dalil yang bisa dijadikan pegangan yang berasal dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karenanya, malam nifsu sya’ban sama halnya dengan malam-malam yang lainnya. Barangsiapa yang mempunyai kebiasaan melakukan qiyamullail dan sholat tahajjud dari suatu malam, maka ia melakukannya pada malam tersebut ( nisfu sya’ban ) sebagaimana ia melakukannya pada malam-malam yang lainnya tanpa berkeyakinan bahwa malam nisfu sya’ban itu memiliki keistimewaan tersendiri. Karena pengkhususan waktu untuk beribadah  tertentu harus ada dalil yang shahih. Dan, bila tak ada dalil shahih yang menunjukkan hal tersebut maka pengkhususan sebagian waktu tertentu untuk melakukan ibadah tertentu menjadi perkara bid’ah ( perkara baru yang dia-dia adakan dalam agama), sementara setiap bid’ah itu adalah sesat.

وكذلك لم يرد في صيام اليوم الخامس عشر من شعبان أو يوم النصف من شعبان، لم يثبت دليل عن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ يقتضي مشروعية صيام ذلك اليوم، ومادام أنه لم يثبت فيه شيء بخصوصه، فتخصيصه بالصيام بدعة؛ لأن البدعة هي ما لم يكن له دليل من كتاب الله ولا من سنة رسوله صلى الله عليه وسلم، مما يزعم فاعله أنه يتقرب فيه إلى الله عز وجل، لأن العبادات توقيفية، لابد فيها من دليل من الشارع .

Begitu juga, tak ada dalil yang valid dalam masalah puasa pada tanggal 15 bulan sya’ban atau yang dikenal dengan istilah nisfu sya’ban ( pertengahan bulan Sya’ban ), tak ada dalil yang valid dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan disyariatkannya puasa pada hari tersebut. Berhubung, tak ada satu dalil pun yang valid akan pengkhususannya, maka pengkhususan hari tersebut untuk berpuasa merupakan kebid’ahan. Karena, bid’ah adalah perkara yang tak memiliki landasan hukum dari kitab Allah ( yakni : Al-Qur’an), tidak pula dari sunnah rasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana pelakunya bahwa ia bertaqarrub kepada Allah azza wajalla dalam apa yang ia lakukan tersebut. Karena ibadah itu bersifat tauqifiyah maka harus ada dalilnya dari sang pembuat syariat.

أما ما ورد من الأحاديث في هذا الموضوع فكلها ضعيفة، كما نص على ذلك أهل العلم، فلا يثبت بها تأسيس عبادة، لا بقيام تلك الليلة، ولا بصيام ذلك اليوم، لكن من كان من عادته أنه يصوم الأيام البيض، فإنه يصومها في شعبان كما يصومها في غيره، أو من كان من عادته أنه يصوم يوم الاثنين ويوم الخميس وصادف ذلك النصف من شعبان فإنه لا حرج عليه أن يصوم على عادته، لا على أنه خاص بهذا اليوم، وكذلك من كان يصوم من شعبان صيامًا كثيرًا كما كان النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ يصوم ويكثر الصيام من هذا الشهر (5)، لكنه لم يخص هذا اليوم، الذي هو الخامس عشر، لم يخصه بصيام فإنما يدخل تبعًا .

Adapun hadis yang ada dalam masalah ini, semuanya dho’if (lemah) seperti sebutkan oleh para ahli ilmu. Oleh kerena itu, maka tak valid menggunakan hadis-hadis tersebut sebagai landasan dalam pelaksanaan suatu ibadah, baik ibadah tesrebut adalah qiyamullail pada malam tersebut, maupun puasa pada siang hari itu. Akan tetapi barangsiapa memiliki kebiasaan puasa pada 3 hari setiap bualnnya ( al ayyam al Biidh ) maka ia berpuasa pada bulan sya’ban seperti ia berpuasa pada bulan lainnya.  Atau, seseorang mempunyai kebiasaan puasa hari senin-kamis dan bertepatan dengan puasanya tersebut dengan tanggal 15 bulan sya’ban, maka tak mengapa ia berpuasa berdasarkan kebiasaannya. Bukan karena khusus hari tersebut. Dan begitu juga halnya orang yang banyak melakukan puasa di bulan sya’ban sebagaimana yang dilakukan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , beliau banyak berpuasa pada bualan ini. Akan tetapi belia tidak mengkhususkan hari ini, yakni : tanggal 15 bulan sya’ban. (Abu Umair)

  


Sumber  :  al Muntaqa Min Fatawa al Fauzan, Syaikh Dr.Sholeh bin Fauzan bin Abdullah al fauzan

Artikel : www.hisbah.net

Gabung Juga Menjadi Fans Kami Di Facebook Hisbah.net | Dakwah Al-Hisbah | Hisbah.Or.Id

About Author

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fatwa

Sanksi Berat Bagi Orang Yang Berbuat Keji

Published

on

Agama Yahudi menerapkan hukuman berat bagi pelaku zina, berupa hukuman fisik dan moral.

Hukuman Fisik

Taurat telah menetapkan hukuman berat bagi pelaku zina, yaitu : dibunuh, dibakar, atau dirajam dengan batu.

Adapun hukuman bunuh disebutkan dalam Imamat:

“Bila seorang laki-laki berzina dengan istri orang lain, yakni berzina dengan istri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzina itu. Bila seorang laki-laki tidur dengan seorang istri ayahnya, jadi ia melanggar hak ayahnya, pastilah keduanya dihukum mati, … [1]

Adapun hukuman bakar hingga mati, “Bila seorang laki-laki mengambil seorang perempuan dan ibunya, itu suatu perbuatan mesum; ia dan kedua perempuan itu harus dibakar, supaya jangan ada perbuatan mesum di tengah-tengah kamu.”[2]

Adapun hukuman rajam, disyariatkan untuk wanita yang tidak ‘iffah (menjaga kesucian diri) setelah menikah, maka ia harus dirajam oleh seluruh penduduk kota. Dan disebutkan dalam Ulangan, “Tetapi jika tuduhan itu benar dan tidak didapati tanda-tanda keperawanan pada si gadis, maka haruslah si gadis di bawa  ke luar ke depan pintu rumah ayahnya, dan orang-orang sekotanya haruslah melempari dia dengan batu, sehingga mati-sebab dia telah menodai orang Israel dengan bersundal di rumah ayahnya. Demikianlah harus kau hapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.” [3]

Demikian pula jika seorang lelaki menzinai wanita yang telah dipinang, maka keduanya dirajam hingga mati. Disebutkan dalam Ulangan, “Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan –jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, maka haruslah mereka kedunya kamu bawa keluar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu sehingga mati…[4]

Hukuman Moral

Taurat tidak hanya menetapkan hukuman fisik bagi pelaku zina, akan tetapi menetapkan pula hukuman moral dan sosial. Taurat menyatakan bahwa wanita pezina adalah kotor, hina dan telah keluar dari kelompok Tuhan, serta tebusan nadzarnya tidak akan diterima.

Pernyataan bahwa zina sebagai perbuatan kotor terdapat dalam Yosua, “Setiap wanita pezina adalah kotor seperti sampah di jalan.” [5]

Adapun pernyataan bahwa dia keluar dari golongan Bani Israel-kelompok Tuhan menurut istilah mereka-terdapat dalam Ulangan, “ Di antara anak-anak perempuan Israel janganlah ada pelacur bakti, dan di antara anak-anak lelaki Israel janganlah ada semburit bakti.” [6]

Adapun pernyataan bahwa tidak diterima tebusan nadzarnya, disebutkan dalam kitab yang sama, “Janganlah kau bawa upah sundal atau uang semburit ke dalam rumah Tuhan, Allahmu, untuk menepati satu nadzar, sebab keduanya itu adalah kekejian bagi Tuhan, Allahmu.” [7]

Cap hina dan kotor tidak hanya mencoreng pelaku zina saja, akan tetapi berimabas kepada keturunan atau generasi mereka selanjutnya, seperti yang disebutkan dalam Ulangan : “Seorang anak haram janganlah masuk jamaah Tuhan, bahkan keturunannya yang kesepuluhpun tidak boleh masuk jamaah Tuhan.” [8]

Wallahu A’lam

About Author

Continue Reading

baru

Pacaran,adalah Cara Mendekati Hal Yang Salah

Published

on

 

**

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا  [الإسراء : 32]

**

Pacaran secara faktual merupakan salah satu wasilah menuju zina, karena pacaran tidak terlepas dari perkara-perkara yang menjadi pengantar perbuatan keji tersebut, seperti saling memandang, bergandengan tangan, duduk berdekatan, bermesraan di saat ngobrol dan lain sebagainya. Semua perkara ini akan membangkitkan nafsu birahi baik secara langsung maupun tidak langsung.

Ketika kesempatan terbuka dan keimanan dari masing-masing pihak terus melemah. Akhirnya terjerumuslah mereka ke dalam perbuatan keji (zina). Penyesalan tinggallah penyesalan. Kehormatan wanita telah terampas. Kesucian diri telah ternoda, dan nama baik keluarganya telah tercoreng. Mereka telah melakukan salah satu dosa besar yang sangat dibenci oleh Allah.

Sebuah kaedah mengatakan, “Sebuah wasilah (perantara) memiliki status hukum yang sama dengan maksud (yang menjadi tujuan).” Artinya apabila tujuannya adalah perkara yang haram, maka wasilah yang bisa mengantar pada tujuan tersebut juga menjadi haram. Zina hukumnya haram, maka hal-hal yang bisa menjerumuskan dan mengarah kepada perbuatan zina hukumnya haram. Oleh karena itu, pacaran adalah perbuatan haram. Mengapa ? Karena pacaran adalah wasilah yang bisa menjerumuskan para pelakunya pada perbuatan keji tersebut (zina).

Adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa pacaran adalah pemicu atau jalan menuju zina. Kementrian Kesehatan RI (2009) pernah merilis perilaku seks bebas remaja dari penelitian di empat kota yakni Jakarta Pusat, Medan, Bandung, dan Surabaya. Hasil yang didapat sebanyak 35,9 persen remaja punya teman yang sudah pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Bahkan, 6,9 persen responden telah melakukan hubungan seksual pranikah.

Kepala Badan Koordinasi Keluarga berencana Nasional (BKKBN), Sugiri Syarief mengungkapkan bahwa berdasarkan data yang dimilikinya menunjukkan sejak 2010 diketahui sebanyak 50 persen remaja perempuan di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) sudah pernah melakukan hubungan seks alias zina. Bahkan, tidak sedikit di antara pelakunya hamil.

“Dari data yang kita himpun dari 100 remaja, dimana 51 remaja perempuannya sudah tidak lagi perawan, “ jelas Sugiri kepada sejumlah media dalam Grand Final Kontes Rap dalam memperingati Hari AIDS sedunia di lapangan parkir IRTI Monas, Ahad (28/11/2010).

Selain di Jabodetabek, ungkap Sugiri, data yang sama juga diperoleh di wilayah lain di Indonesia. Ia merinci, di Surabaya remaja perempuan lajang yang sudah hilang kegadisannya mencapai 54 persen, di Medan 52 persen, Bandung 47 persen, dan Yogyakarta 37 persen. Menurutnya, data ini dikumpulkan BKKBN selama kurun waktu 2010 saja.

Dari kasus perzinaan yang dilakukan para remaja putri, yang paling parah terjadi di Yogyakarta. Pihaknya menemukan dari hasil penelitian di Yogya kurun waktu 2010 setidaknya tercatat sebanyak 37 persen dari 1.160 mahasiswi di kota Gudeg tersebut menerima gelar MBA (marriage by accident) alias menikah akibat hamil maupun kehamilan di luar nikah.

Wallahu A’lam

Sumber :

Dosa-Dosa Pacaran yang Diaggap Biasa, Saed as-Saedy, hal. 36-38. Dengan sedikit gubahan.

Amar Abdullah bin Syakir
Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: MDH tv (Media Dakwah Hisbah )
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

 

About Author

Continue Reading

Fatwa

Persyaratan Kalimat Tauhid

Published

on

Soal :

Seorang penanya bertanya, ‘Apa macam-macam tauhid dan persyaratan kalimat tauhid ?’

Jawab :

Syaikh menjawab,

Kalimat tauhid adalah لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ  yakni, tidak ada sesembahan yang hak selain Allah.

Ini mengandung dua hal yang sangat penting :

Pertama, penafian sesembahan yang hak selain Allah-azza wa jalla-. Maka, sesungguhnya tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah-azza wa jalla-

Kedua, Penetapan keilahiyahan yang benar untuk Allah –azza wa jalla-. Dengan ini, sempurnalah keikhlasan dalam kalimat agung ini yang merupakan pintu masuk dalam Islam. Dan, karena hal ini, barang siapa mengucapkan, لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ (tidak ada sesembahan yang hak disembah kecuali Allah) maka telah terjaga darahnya dan hartanya.

Di dalam hadis yang shahih disebutkan bahwa Usamah bin Zaid-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- mengejar seorang lelaki Musyrik yang melarikan diri darinya. Kala ia berhasil menemukannya dan hendak menangkapnya, si Musyrik tersebut mengucapkan, لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ  (tidak ada sesembahan yang hak disembah kecuali Allah). Lalu, Usamah membunuhnya setelah lelaki tersebut  mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ .  Lantas Usamah memberitahukan hal itu kepada Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-. Lalu, Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- mengatakan kepadanya, ‘Wahai Usamah, apakah kamu menbunuhnya setelah ia mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ  !  Usamah berkata, ‘saya katakan, ‘wahai Rasulullah ! lelaki tersebut mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ  hanya sekedar muta’awwidzan (mencari perlindungan) (yakni, kalimat tauhid yang diucapkannya tersebut hanya untuk menjaganya dari pembunuhan, tidak murni samata-mata karena Allah). Maka Nabi -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- mengatakan kepadanya, ‘Apakah kamu menbunuhnya setelah ia mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ  ! ‘  (Usamah mengatakan) terus saja beliau mengulang-ulang kalimat tersebut kepadaku, hingga aku berangan-angan andai aku belum masuk Islam sebelum hari itu [1]

Maka, ini merupakan hal terpenting dalam kalimatul Ikhlash (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ  , tidak ada sesembahan yang hak disembah kecuali Allah)

Dan diantara persyaratan diterimanya kalimat ini adalah seorang insan mengucapkan kalimat ini dengan penuh keyakinan, tidak ada unsur keraguan sedikit pun pada dirinya dan tidak pula karena sekedar ikut-ikutan belaka. Bahkan, ia yakin seratus persen bahwasanya tidak ada illah (sesembahan) yang hak kecuali Allah-تَبَارَكَ وَتَعَالَى-, dan kalimat ini mempunyai beberapa penyempurna, sebagiannya bersifat wajib dan sebagiannya bersifat sunnah, sebagaimana diketahui di dalam kitab-kitab para ulama.

Wallahu A’lam

Sumber :

(Fatawa Nur ‘Ala ad-Darb, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Kitab al-‘Aqidah, 1/20)

Amar Abdullah bin Syakir

 

Catatan :

[1] HR. al-Bukhari : Kitab al-Maghaziy, bab : Ba’tsu an-Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- Usamah bin Zaed, no. 6772, Muslim : Kitab al-Iman, bab : Tahrim Qatli al-kafir Ba’da An Qaala Laa Ilaaha Illallahu, no. 96)

About Author

Continue Reading

Trending