Connect with us

baru

Gay Lebih Parah dan Lebih Buruk dari Zina

Published

on

Luthiy, dia adalah orang yang melakukan tindak kekejian pada anus seorang lelaki. Dinamakan dengan ‘luthiy ‘ sebagai penisbatan kepada kaum Luth; karena kaum Luth –kita berlindung kepada Allah- merekalah orang yang pertama kali melakukan tindakan keji  di alam semesta ini. Berkata Nabi mereka kepada mereka,

{أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ} [الأعراف: 80] ،

“Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” (al-A’raf : 80)

Dan tindakan keji ini lebih parah dan lebih buruk daripada zina ; karena zina merupakan tindakan keji terhadap vagina yang dibolehkan pada sebagian waktu. Akan tetapi, tindakan keji yang dilakukan pada lobang anus tidak diperbolehkan selamanya.

Oleh karena ini, Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman tentang zina,

{وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً} [الإسراء: 32]

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji (al-isra : 32)



Sementara Luth mengatakan kepada kaumnya,

{أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ}

“Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu.

«ال» (pada kata الْفَاحِشَةَ) menunjukkan bahwa tindakan buruk ini telah mengumpulkan kekejian seluruhnya. Tindakan keji yang sangat besar tersebut tidak ada lagi kekejian di atasnya. Dan, ini merupakan perkara yang disepakati di antara manusia, bahwa keburukan tindakan keji ini lebih besar daripada keburukan zina. Lantas, apa hukuman tindakan keji ini ?

Pengarang mengatakan : «كزان» seperti pezina. Maka, hukuman untuk tindakan keji ini adalah hukuman untuk pezina. Jika pelakunya telah menikah, maka ia dirajam sampai mati. Dan jika pelakunya belum menikah, maka ia didera dan diasingkan.

Adapun argumentasi mereka bahwa hukuman tindakan keji ini seperti yang diberlakukan terhadap pezina, mereka mengatakan, ‘karena ini merupakan ‘tindakan keji’ dan tentang zina, Allah menamakannya pula dengan ‘tindakan keji’. Bila mana hal tersebut demikian, maka kita memberlakukan (hukuman untuk tidakan keji yang ini) sebagaimana hukuman yang diberlakukan terhadap pelaku tindakan keji yang kedua (yakni, zina). Jadi, hukumannya adalah hukuman pezina.

Sebagian ulama mengatakan : hukumannya, ‘dibunuh.’ Dan ini adalah pendapat tertinggi yang dikatakan terkait dengan hukuman tindakan keji ini.



Kemudian mereka berbeda pendapat tentang bagaimana cara pelaku tindakan keji ini dibunuh ?

Yang lain mengatakan, ‘Bahkan pelaku tindakan keji ini diberikan sangsi dengan sangsi hukuman yang tidak sampai pada hukuman had.

Yang lain mengatakan, ‘Pelakunya tidak diberi sangsi hukuman dan tidak ada sesuatu pun yang harus diberlakukan kepadanya. Hal ini tidak berarti bahwa perbuatan tersebut halal. Akan tetapi, tidak ada dalam kasus ini hukuman, cukup dengan bahwa jiwa menolak perbuatan tersebut. Karena jiwa itu membenci (tidak menyukai) tindakan tersebut.

Maka, andai kata seseorang disuguhkan makanannya berupa tinja dan urin, lantas ia makan tinja itu dan ia pun minum urin itu ! niscaya mereka akan mengatakan : Orang tersebut tidak diberikan sangsi hukuman, karena jiwa itu cukup untuk menolak perbuatan ini.’

Tidak diragukan bahwa pendapat ini merupakan pendapat yang paling batil. Andaikan saja pendapat ini tidak disebutkan niscaya kami tidak akan menyebutkannya. Akan tetapi, kami menyebutkan pendapat ini agar kita tahu bahwa sebagian ahli ilmu berpendapat dengan pendapat yang buruk sekali pada apa yang dia katakan. Apakah ia lupa bahwa Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- telah membinasakan negeri mereka, telah menghujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar (secara bertubi-tubi) dan membinasakan mereka ?

Tidakkah ia ingat bahwa Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-telah bersabda,

«مَنْ وَجَدْتُمُوْهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوْطٍ فَاقْتُلُوْا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُوْلَ بِهِ»



Siapa yang kalian mendapatinya tengah melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah si pelaku dan yang menjadi objeknya. [1]

Yang benar dari pendapat-pedapat ini adalah bahwa hukuman tindakan keji ini adalah ‘dibunuh’ pada segala kondisi, baik pelakunya telah menikah atau pun belum menikah, akan tetapi harus (terpenuhi) syarat-syarat (ditegakkanya) hukuman had yang telah lalu, yaitu, berakal, baligh, multazim, mengetahui akan keharamannya.

Bila syarat-syarat ditegakkannya hukuman had yang empat ini yang bersifat umum telah terpenuhi, maka pelaku perbuatan keji ini ‘dibunuh’.

Dalil yang menunjukkan kepada hal ini adalah :

Pertama, sabda Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-,

«مَنْ وَجَدْتُمُوْهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوْطٍ فَاقْتُلُوْا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُوْلَ بِهِ»

Siapa yang kalian mendapatinya tengah melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah si pelaku dan yang menjadi objeknya.

Kedua, Bahwa para sahabat-رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ- sepakat bahwa hukumannya ‘dibunuh’ sebagaimana dihikayatkan tidak hanya oleh seorang ahli ilmu. Akan tetapi, mereka berselisih. Di antara mereka ada yang mengatakan, ‘pelakunya dibakar’. Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Zubair, dan Hisyam bin Abdul Malik.[2]

Sementara, Ibnu Abbas mengatakan : Bahkan, dilihat kepada tempat yang paling tinggi di daerah tersebut dan ia (pelaku perbuatan keji tersebut) dilempar darinya dalam posisi kepalanya di bawah, dan diikuti dengan (dihujani) dengan batu [3]; karena Allah melakukan hal tersebut terhadap kaum Luth. Meski pun pendapat ini perlu ditinjau ulang.

Dan, sebagian ulama mengatakan, ‘Bahkan pelakunya dirajam sampai mati ; karena Allah menghujani kaum Luth dengan batu dari tanah yang terbakar. Adapun, diangkatnya negeri mereka kemudian dibalik, ini adalah berita israiliyyah, tidak dibenarkan dan tidak pula didustakan. Akan tetapi yang valid bahwa Allah menghujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar, dan Dia menjadikan yang di atas ke bawah, yakni, ketika batu itu menghujaninya maka negeri itu hancur dan jadilah yang di atas dia di bawah, lantas mereka dilempari dengan batu.

Inilah tiga pendapat terkait dengan bagaimana pelaku perbuatan kaum Luth ini dibunuh.

Adapun dalil teoritik akan wajibnya pelaku perbuatan keji ini dibunuh adalah karena (perbuatan) ini merupakan (hal yang akan menimbulkan) kerusakan masyarakat yang sangat besar. Kaum lelaki dijadikan menempati posisi kaum wanita. Dan tidak mungkin hal ini untuk dihindarkan darinya. Karena lelaki sebagian mereka akan tetap bersama dengan kalangan mereka selamanya. Karena, kalau kita mendapati seorang lelaki misalnya tengah bersama dengan seorang pemuda, maka tidak mungkin kita mengatakan kepadanya, ‘tinggalkanlah pemuda ini, apa yang telah engkau lakukan terhadapnya ?’. Akan tetapi, kalau kita mendapati seorang lelaki bersama dengan seorang wanita, sementara kita ragu apakah laki-laki tersebut termasuk mahrom wanita tersebut ataukah bukan, mungkin kita menanyakan dan mencari tahu.

Maka, ketika hal ini (perbuatan keji ini) merupakan perkara yang mengerikan yang merusak masyarakat dan tidak mungkin untuk menghindar darinya, maka jadilah balasannya (hukumannya) adalah ‘dibunuh’ pada setiap keadaannya. Dan pendapat inilah pendapat yang shahih (benar).

 

Wallahu A’lam

 

Sumber :

Asy-Syarh al-Mumti’ ‘Ala Zaad al-Mustaqni‘, Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, 14/240-243

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

Catatan :

[1]  HR. Imam Ahmad (1/300), Abu Dawud di dalam al-Hudud, bab : Fi man ‘amila ‘amala qaumi luth (4462), at-Tirmidzi, di dalam al-Hudud, bab : Ma-jaa-a fi haddi al-Luthiy (1456), Ibnu Majah di dalam al-Hudud, bab : Man ‘Amila ‘Amala Qaumi Luth (2561) dari Ibnu Abbas-رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا –dan dishahihkan oleh al-Hakim (4/355) dan disepakati oleh adz-Dzahabiy, dan dishahihkan oleh Ibnu Abdil Hadiy di dalam al-Muharrar (1152) dan (dishahihkan pula oleh) al-Baniy di dalam al-Irwa (2350)

[2]  HR. Al-Baihaqi (8/232) dari Abu Bakar dan Ali-رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا -, dan lihat : ad-Dirayah (2/103) dan diriwayatkan oleh Ibnu Hazm dari Ibnu Zubair –رضي الله عنه-dan Hisyam bin Abdul Malik. Lihat : al-Muhalla (11/381, 384)

[3]   HR. Ibnu Abi Syaibah (28337), al-Baihaqiy di dalam as-Sunan al-Kubra (8/232) dari Ibnu Abbas-رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا – dan isnadnya shahih, dan lihat : Nashbu ar-Rayah (3/342)

Subscribe Chanel Youtube Kami

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aqidah

Hukum Seputar 10 Hari Dzulhijjah dan Hari-hari Tasyri’

Published

on

Soal :

Dari saudari pendengar dengan inisial A. A. S. dari kota Jedah, menyampaikan surat yang berisikan suatu masalah, ia mengatan :

Aku pernah mendengar dari seorang guru agama di sekolahku bahwa termasuk disunnahkan puasa pada sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah dan bahwa amal shaleh pada sepuluh hari ini merupakan amal yang paling dicintai oleh Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-. Bilamana hal ini benar, padahal dimaklumi bahwa hari kesepuluh dari bulan Dzulhijjah yang jatuh setelah hari Arafah dan hari setelahnya  yang merupakan awal hari-hari Tasyriq merupakan hari raya bagi kaum Muslimin, bagi para Jamaah haji dan yang lainnya. Dan termasuk hal yang saya ketahui bahwasanya tidak boleh berpuasa pada hari-hari ied. Maka, apa penjelasan Anda tentang hal tersebut. Jika diharamkan puasanya sementara ia termasuk sepuluh hari pertama ?

Dan apa ganti untuk hari kesepuluhnya jika pada hari tersebut tidak dilakukan puasa ? dan apakah bila aku berpuasa hari-hari ini wajib atasku untuk berpuasa seluruh hari-harinya ? Perlu diketahui bahwa aku berpuasa pada hari ke-6, ke-7, ke-8, ke-9 dan aku tidak berpuasa pada hari ke-10-nya. Mohon juga dijelaskan tentang jumlah hari Idul Fithri, Iedul Adha, apakah ada perbedaan pendapat dalam hal tersebut ?

Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.



Jawab :

‘Sepuluh hari’ yang disebutkan, dimutlakkan maknanya ‘Sembilan hari’. Hari iednya tidak dihitung sebagai 10 hari bulan Dzulhijjah. Dikatakan, ’10 hari bulan Dzulhijjah’, yang dimaksudkan adalah ‘9 hari bulan Dzulhijjah’ yang terkait dengan puasa. Dan hari ied tidak untuk puasa, dengan kesepakatan kaum Muslimin, dengan kesepakatan para ulama. Maka, jika dikatakan puasa sepuluh hari, yakni, maknanya, sembilan hari, hari terakhir untuk berpuasa adalah tanggal 9-nya, yang merupakan hari Arafah. Puasa pada hari-hari itu disunnahkan dan merupakan qurbah (pendekatan diri kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-). Dan diriwayatkan dari Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bahwa beliau berpuasa pada hari-hari tersebut, dan beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-juga mengatakan tentang hari-hari tersebut : Sesungguhnya amal yang dilakukan pada hari-hari tersebut lebih dicintai Allah dari pada amal yang dilakukan pada sisa hari-hari yang lainnya. Beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ ، قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada hari di mana amal shalih saat itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yakni,  sepuluh hari ini.”

Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?”

Beliau menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan membawa apa pun.”

Maka, di sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah ini disunahkan untuk dzikir, takbir, membaca al-Qur’an, sedekah, termasuk pada hari kesepuluhnya.

Adapun puasa (pada hari kesepuluhnya) maka tidak dilakukan. Puasa khusus pada hari Arafah dan hari-hari sebelumnya. Karena sesungguhnya di hari Ied tidak dilakukan puasa menurut semua ulama. Akan tetapi, pada hari-hari tersebut kaitannya dengan Dzikir, Doa, dan sedekah adalah termasuk ke dalam amal yang dianjurkan untuk dilakukan pada sepuluh hari Dzulhijjah dan hari raya.

Dan hari-hari ied ada tiga, selain hari ied. Yaitu, tanggal 11, 12, 13. Jadi, jumlah seluruhnya adalah empat hari, yaitu, hari ied (tanggal 10) dan tiga hari tasyriq. Inilah pendapat yang benar menurut para ulama. Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –bersabda,

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum, serta berdzikir (mengingat dan menyebut) Allah azza wa jalla.



Jadi, hari-hari itu ada 4 hari untuk bulan Dzulhijjah; yaitu, hari Nahr (penyembelihan), dan tiga hari tasyriq.

Adapun terkait bulan Ramadhan, maka hari raya itu hanya satu hari saja. yaitu, hari pertama dari bulan Syawwal. Inilah dia ied. Adapun selainnya maka bukanlah ied. Seseorang boleh berpuasa pada hari kedua dari bulan Syawal. Karena, ied itu khusus pada hari pertama dalam bulan Syawal saja.

Pembawa acara :

Jazakumullahu khairan (semoga Allah memberikan balasan kepada Anda dengan kebaikan). Lalu, terkait dengan idul adha ? (bagaimana ?) Jazakumullahu khairan.

Syaikh menjawab :

Ada empat, seperti telah disebutkan, yaitu, hari ke-10, hari ke-11, hari ke-12, dan hari ke-13. Semua hari-hari ini merupakan hari-hari ied, tidak dilakukan puasa pada hari-hari tersebut. Kecuali hari-hari tasyriq bisa dilakukan puasa pada hari-hari tersebut bagi orang yang tidak mampu untuk menyembelih hadyu ; hadyu orang yang berhaji tamattu’ dan hadyu orang yang berhaji qiran. Sebagai rukhshah (keringanan) khusus bagi orang yang tidak mampu menyembelih hadyu; hadyu tamattu’ dan hadyu qiran, ia boleh berpuasa tiga hari yang merupakan hari-hari tasyriq, yaitu, hari ke-11, hari ke-12, hari ke-13, kemudian ia berpuasa tujuh hari di tempat keluarganya, di antara keluarganya. Adapun hari ied, maka tidak dilakukan puasa pada hari tersebut. Bukan karena ketidakmampuan seseorang untuk menyembelih hadyu, tidak pula karena hal yang lainnya, berdasarkan ijmak (konsensus) kaum Muslimin.

Pembawa acara :

Jazakumullahu khairan. Adapun iedul fithri, maka satu hari saja ?

Syaikh menjawab :

Ya, satu hari saja.

Pembawa acara :

Jazakumullahu khairan. Ingat ya syaikh, bahwa wanita ini (si penanya) tersebut menyebutkan bahwa ia berpuasa sebagian dari hari-hari pertama bulan Dzulhijjah, ia menyebutkan bahwa ia misalnya berpuasa hari ke-7, hari ke-8, dan hari ke-9, apa arahan Anda dalam kondisi apa yang disebutkan ini.

Syaikh berkata : Coba ulangi !

Pembawa acara :

Kita katakan bahwa si penanya berpuasa pada sebagian hari-hari dari sepuluh dari pertama bulan Dzulhijjah.

Syaikh menjawab :

Tidak mengapa. Apabila ia berpuasa hari ke-7, hari ke-8, dan hari ke-9 ; tidak mengapa. Atau pun ia berpuasa lebih banyak dari itu. Yang menjadi maksud adalah bahwa hari-hari tersebut merupakan hari-hari untuk berdzikir dan hari-hari untuk berpuasa. Maka, apabila ia berpuasa sembilan hari seluruhnya (dari tanggal 1 sampai tanggal 9-nya), maka ini baik. Dan apabila ia berpuasa sebagian hari-harinya, maka semuanya baik. Dan apabila hanya berpuasa Arafah saja (yaitu, tanggal 9) (maka tidak mengapa pula), di mana puasa hari tersebut merupakan puasa yang paling utama dari sepuluh hari pertama ini. Tentang puasa hari Arafah Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda, ‘Puasa Arafah, saya berharap kepada Allah akan menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya.’

Hari Arafah merupakan hari nan agung. Disunnahkan puasa pada hari tersebut bagi segenap penduduk kota dan desa seluruhnya. Kecuali, bagi orang-orang yang tengah menunaikan ibadah haji. Mereka tidak berpuasa pada hari Arafah.

Begitu pula sisa hari yang lainnya, sedari hari pertama bulan Dzulhijjah sampai hari Arafah. Disunahkan puasanya sembilan hari. Akan tetapi yang paling utama adalah puasa pada hari Arafah. Puasa ini merupakan puasa sunnah. Adapun pada hari Ied, maka tidak dilakukan puasa pada hari tersebut. Baik saat tengah menunaikan ibadah haji atau pun tidak.

Orang-orang yang tengah menunaikan ibadah haji tidak berpuasa pada hari Arafah. Yang sunnah adalah orang yang tengah berhaji tidak berpuasa pada hari Arafah. Hendaknya ia berbuka sebagaimana halnya Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-berbuka pada hari Arafah.

Pembawa acara :

Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

Sumber :

Ba’dhu Ahkam ‘Asyr Dzi al-Hijjah Wa Ayyami at-Tasyriq, Syaikh Abdul Aziz bin Bazz-رَحِمَهُ اللهُ-.

Continue Reading

baru

Apa Keutamaan 10 Hari Pertama dari Bulan Dzulhijjah ?

Published

on

By

Pertanyaan :

Apakah 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah memiliki keutamaan atas hari-hari yang lainnya ? dan, amal-amal shaleh apakah yang disunnahkan untuk diperbanyak pada 10 hari pertama ini ?

Jawab :

Alhmdulillah. Segala puji bagi Allah

Keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah

Termasuk musim ketaatan yang agung adalah sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah, yang Allah utamakan atas seluruh hari-hari sepanjang tahun. Ibnu Abbas-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-meriwayatkan dari Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-beliau bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ ، قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada hari di mana amal shalih saat itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yakni,  sepuluh hari ini.”





Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?”

Beliau menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan membawa apa pun.” (HR. al-Bukhari, 969,  Abu Dawud, 2438, -dan lafazh ini adalah miliknya-, at-Tirmidzi, 757 dan Ibnu Majah, 1727)

Dan Ibnu Abbas-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-juga meriwayatkan dari Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-beliau bersabda,

مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَا أَعْظَمَ أَجْراً مِنْ خَيْرٍ يَعْمَلُهُ فِي عَشْرِ الْأَضْحَى. قِيْلَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada amal yang lebih suci di sisi Allah azza wa jalla, tidak pula paling besar pahalanya daripada kebaikan yang dilakukan seseorang pada sepuluh adha (sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah).”

Ditanyakan (kepada Nabi),’Tidak juga jihad di jalan Allah ?’

Beliau pun menjawab, ‘ Tidak juga jihad di jalan Allah azza wa jalla, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan membawa apa pun.” (HR. ad-Darimiy, 1/357 dan isnadnya hasan seperti disebutkan di dalam al-Irwa, 3/398)

Nash-nash ini dan yang lainnya menunjukkan bahwa sepuluh hari pertama ini lebih utama daripada seluruh hari-hari dalam setahun tanpa terkecuali sedikitpun. Sampaipun sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan. Akan tetapi, malam-malam sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan lebih utama dari malam-malam sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, karena di malam-malam terakhir dari bulan Ramadhan terdapat lailatul qadar yang merupakan malam yang lebih baik daripada seribu bulan (Lihat : Tafsir Ibnu Katsir, 5/412)



Amal yang disunnahkan untuk dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzaulhijjah

Seorang muslim hendaknya membuka sepuluh hari pertama ini dengan bertaubat dengan taubat nasuha kepada Allah azza wa jalla, kemudian ia memperbanyak melakukan amal shaleh secara umum, kemudian pertahatiannya dengan amal-amal berikut ini lebih dikuatkan :

1-Puasa

Disunnahkan bagi seorang muslim untuk berpuasa 9 hari pertama bulan Dzulhijjah, karena Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-memotivasi agar beramal shaleh pada sepuluh hari pertama, sementara puasa termasuk amal yang paling utama. Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-telah memilih amal ini untuk diri-Nya sebagaimana di dalam hadis Qudsi :

“قَالَ اللهُ: كُلُّ عَمَلِ بَنِي آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامُ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ.”

Allah berfirman : setiap amal anak Adam baginya, kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya (HR. al-Bukhari, 1805)

Dulu, Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-berpuasa 9 hari bulan Dzulhijjah. Hunaidah bin Khalid meriwayatkan dari istrinya dari sebagian istri Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ia mengatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ. أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَخَمِيْسَيْنِ “

Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-biasa berpusa 9 hari (pertama) bulan Dzulhijjah, hari Asyura (10 Muharram), tiga hari setiap bulan, hari senin pertama awal bulan dan dua Kamis (HR. an-Nasai, 4/205 dan Abu Dawud, dan dishahihkan olel al-Albani di dalam shahih Abu Dawud, 2/462)

2-Memperbanyak Tahmid, Tahlil dan Takbir

Disunnahkan pula untuk mempernyak takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dengan mengeraskan suara di masjid-masjid, rumah-rumah, jalan-jalan dan di setiap tempat yang dibolehkan untuk berdzikir, mengingat dan menyebut Allah-سُبْجَانَهُ وَتَعَالَى-, untuk menampakkan ibadah dan sebagai peryataan secara terang-terangan di dalam mengagungkan Allah-سُبْجَانَهُ وَتَعَالَى-.



Kaum lelaki mengeraskan suaranya, sedangkan kaum wanita melirihkannya.

Allah-سُبْجَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ  [الحج : 28]

Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak. (al-Hajj : 28)

Jumhur ulama berpendapat bahwa  ‘الأيام المعلومات’  (beberapa hari yang telah ditentukan) ini adalah sepuluh hari pertama (dari bulan Dzulhijjah), berdasarkan keterangan dari Ibnu Abbas-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ –bahwa ia mengatakan, ‘الأيام المعلومات’ adalah sepulah hari pertama bulan Dzulhijjah.

Dan Abdullah bin Umarرَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا—-meriwayatkan dari Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bahwa beliau bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْدِ

Tidak ada hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak pula yang lebih dicintai-Nya untuk beramal di dalamnya daripada sepuluh hari ini. Maka, perbanyaklah oleh kalian tahlil, takbir dan tahmid pada hari-hari tersebut. (HR. Ahmad 7/224, dan dishahihkan sanadnya oleh Ahmad Syakir)

Sifat Takbir :

اللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ،

Allahu akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallahu, Wallahu Akbar, Wa Lillahil hamd

Allahu Maha Besar, Allah Maha Bersar.  Tidak ada Tuhan yang berhak dibadahi dengan benar kecuali Allah. Allah Maha Besar. Dan bagi Allah-lah segala pujian.

Ada  juga sifat takbir yang lainnya.

Takbir di zaman ini telah menjadi sunnah yang terabaikan. Apalagi pada awal sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini. Maka, hampir saja Anda tidak mendengarnya kecuali dari sedikit orang saja. Oleh karena itu, hendaknya takbir tersebut dikeraskan untuk menghidupkan kembali sunnah dan sebagai pengingat bagi orang-orang yang lalai. Dan telah valid bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah- رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- dulu, keduanya biasa keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama ini, keduanya bertakbir (dengan suara yang keras) dan orang-orang pun bertakbir dengan sebab takbir yang dikumandangkan oleh keduanya. Dan, yang dimaksud adalah bahwa orang-orang mereka teringatkan dengan takbir tersebut, lalu mereka pun bertakbir masing-masing. Bukanlah yang dimaksud adalah takbir secara berjama’ah dengan satu suara, karena hal ini tidaklah disyariatkan.

Sesungguhnya menghidupkan kembali sesuatu yang hampir sirna berupa perkara-perkara sunnah terdapat pahala yang besar yang ditunjukkan oleh sabda beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيْتَتْ بَعْدِي فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا

Barang siapa menghidupkan satu sunnah dari sunnah-ku yang telah dimatikan sepeninggalku, sesungguhnya baginya pahala seperti orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka. (HR. at-Tirmidzi 7/443. Ini adalah hadis hasan karena ada riwayat-riwayat lain yang menguatkannya)

3-Menunaikan Haji dan Umrah

Sesungguhnya termasuk amal yang sangat utama untuk dilakukan pada sepuluh hari pertama ini adalah berhaji ke Batullah al-Haram. Maka, barang siapa diberikan taufik oleh Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-untuk menunaikan haji ke rumah-Nya, melakukan manasik-manasiknya sebagaimana yang diminta maka baginya bagian-insya Allah- dari sabda Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –

اَلْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّة .

Haji yang mabrur itu tidak ada balasannya kecuali Surga



4-Berkurban

Termasuk amal shaleh pula yang dianjurkan untuk dilakukan pada sepulah hari pertama bulan Dzulhijjah ini adalah bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-dengan menyembelih hewan kurban dan mendaya gunakan harta di jalan Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-.

Maka, hendaknya seorang  muslim bergegas memanfaatkan dengan sebaik-baiknya hari-hari nan utama itu sebelum orang yang menyepelekan menyesal atas apa yang dia lakukan. Dan sebelum ia meminta untuk dikembalikan kembali ke kehidupan dunia sementara tak akan diibah apa yang dimintanya.

Wallahu ‘Alam

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

Sumber :

Maa-huwa Fadhlu al-‘Asyr Min Dzil Hijjah, Muhammad Shaleh al-Munajjid.

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: Hisbahtv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

baru

Huruf-huruf Bunga

Published

on

أَنْتَ الْغَلَا أَنْتَ الْوَلَهُ * نَادَيْتَنِي قَلْبِي اتَّجَهَ

Kamu sangat berharga, kamu membuatku lupa

Kamu memanggil hatiku dan ia menyambut

Ia berasal dari huruf abjad yang 28, hanya saja ia dengan warna lain, bukan warna yang menjadi kebiasaan para suami.

Bagus bila suami-istri membiasakannya, membiasakan saling memberi dan menerima. Ia adalah ungkapan cinta, kata-kata rayuan dan perasaan yang jujur. Ia berdampak terhadap hati layaknya sihir. Kata-kata ini mengikis apa yang menempel dalam hati berupa tumpukan kesalahan, bekas-bekas kekeliruan, dan kesalahpahaman di antara suami-istri. Seandainya kalian berdua wahai suami istri membaca bait syair rayuan lalu mengungkapkannya kepada pasangannya melalui lisan atau tulisan.

Sanjunglah istrimu di depan anak-anak. Doronglah anak-anak agar mendoakan ibu mereka dengan keselamatan, kesehatan, dan taufik. Ceritakanlah kepada mereka tentang sifat-sifat mulia ibu mereka dan tabiatnya yang baik. Dan kamu wahai istri, lakukanlah hal yang sama. Mungkin sebagian dari kita tidak bisa atau malu untuk mencobanya, hanya karena tidak biasa, memang karena dia belum merasakan buahnya yang manis.






Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –bersabda,

اَلْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Kata-kata yang baik adalah sedekah.” (Muttafaq ‘Alaih)




Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Az-Zaujan Fi Khaimah as-Sa’adah Maharat wa Wasa-il, Abdurrahman bin Abdullah al-Qar’awi, hal. 100-101

Continue Reading

Trending