Hadiah Nabawiyah Agar Terbebas dari Kesedihan

gift-1420830__340.jpg

Saudariku Muslimah

Di antara hadiah nabawiyah yang aku  berikan kepada mu adalah hadiah nabawiyah yang terkandung di dalamnya kebebasan dari kesedihan-kesedihan bagi siapa yang ikhlas, khusyu’ dan rendah hati kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Abdullah bin Mas’ud –semoga Allah meridhainya- berkata : Saya mendengar Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَا أَصَابَ مُسْلِمًا قَطُّ هَمٌّ أَوْ حَزَنٌ فَقَالَ : اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ ، عَدْلٌ فِي قَضَاؤُكَ ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي ، وَجِلاَءَ حُزْنِي ، وَذَهَابَ هَمِّي ، إِلاَّ أَذْهَبَ اللَّهُ هَمَّهُ ، وَأَبْدَلَهُ مَكَانَ حُزْنِهِ فَرَحًا قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ أَلاَ نَتَعَلَّمُ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ ؟ قَالَ : بَلَى يَنْبَغِي لِمَنْ سَمِعَهُنَّ أَنْ يَتَعَلَّمَهُنَّ

Tidak ada kesedihan atau kesusahan yang menimpa seorang muslim, kemudian dia berdoa : ‘Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hamba laki-lakiMu, anak hamba perempuanMu, ubun-ubunku berada di tanganMu, hukumMu berlaku kepadaku, keputusanMu bagiku adil. Saya memohon kepadaMu dengan setiap nama yang Engkau miliki, (yaitu) yang Engkau telah menamakan diriMu dengannya, atau Engkau telah menurunkannya di dalam kitabMu, atau Engkau telah mengajarkannya kepada seseorang dari makhlukMu, atau Engkau masih menyimpannya dalam ilmu ghaib di sisiMu, agar Engkau menjadikan al-Qur’an sebagai siraman hatiku, cahaya dadaku, pembebas kesusahanku dan pelepas kesedihanku, kecuali Allah azza wajalla akan menghilangkan kesusahannya dan mengganti kesedihannya dengan kebahagiaan.” Mereka berkata, “Ya Rasulullah, apakah kita tidak belajar kalimat-kaliamat tersebut ? Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- menjawab, Ya sepantasnya bagi yang mendengarnya untuk mempelajarinya.

(Hadis Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad 1/452, Ibnu Abi Syaibah 10/253 dalam Mushannafnya, Ibnu Hibban 2375, al-Hakim 1/509, Ibnus Sunni 340 dalam Amalil Yaum dan ath-Thabrani 10/209 dalam Mu’jamul Kabir)

Saudariku Muslimah …

Hadis yang agung ini mengandung beberapa perkara, seperti ma’rifat (pengetahuan), tauhid dan ubudiyah (al-Fawaid, hal. 16)

Di antaranya; orang yang berdoa dengannya membuka permintaannya dengan ucapan : “Sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, anak hamba laki-lakiMu, anak hamba perempuanMu”, hal ini mencakup orang di atasnya yaitu bapak-bapak dan ibu-ibunya sampai kedua orang tuanya yaitu Adam dan Hawa dan terkandung di dalamnya kebutuhan kepada-Nya, merasa fakir di hadapanNya dan pengakuan bahwa dia adalah kepunyaan-Nya, begitu juga bapak-bapak mereka. Sesungguhnya seorang hamba tidak mempunyai (sesuatu) kecuali pintu majikannya, keutamaan dan kebaikannya. Apabila majikannya meninggalkan dan melepaskannya, niscaya dia binasa, tak seorang pun yang menampung dan mengasihinya, bahkan dia terlunta-lunta.

Saya membuka pengakuan ini karena sesungguhnya saya tidak bisa terlepas darimu sekejappun, dan saya tidak mempunyai seorang yang bisa saya jadikan pelindung dan pengayom, kecuali sayid (majikan)ku yang aku (datang) sesudahnya. Dan terdapat dalam perkara ini pengakuan bahwa dia adalah hamba yang diatur, diperintah dan dilarang, dia berperilaku dengan hukum ubudiyah, bukan hukum pilihan diri sendiri, ini bukan urusan hamba, tapi ini adalah urusan raja-raja yang merdeka.

Adapun hamba, maka perilaku bagi mereka berdasarkan (hukum) ubudiyah semata, mereka itu para hamba ketaatan, yang dinisbatkan kepada Allah dalam firman-Nya,

 

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka (Qs. Al-Hijr : 42)

Dan firman-Nya,

 

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا

Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati (Qs. Al-Furqan : 63)

Manusia selain mereka adalah para hamba dengan (hukum) kekuatan dan rububiyah, maka penisbatan mereka kepada-Nya seperti penisbatan rumah-rumah kepada pemiliknya dan penisbatan mereka sama seperti penisbatan Baitul Haram kepadaNya.

Maka arti dari ucapannya : “Sesungguhnya aku adalah hambaMu”, adalah berpegang teguh dengan (sikap) penghambaan kepada-Nya, yang mencakup kerendahan (diri), kepasrahan, inabah (kembali kepadaNya), menjalankan perintah sayyidnya, menjauhi laranganNya, selalu merasa fakir kepadaNya, bersandar kepadaNya, memohon pertolongan, tawakkal kepadaNya, berlindung kepadaNya, dan hendaknya hatinya tidak tergantung dengan selainNya dengan kecintaan, ketakutan dan pengharapan.

Di dalamnya juga terkandung makna bahwa sesungguhnya saya adalah hamba dari segala segi, kecil maupun besar, hidup maupun mati, taat maupun maksiat, selamat maupun cacat dengan ruh dan hati, lisan dan anggota badan.

Di dalamnya juga terkandung makna bahwa sesungguhnya Engkaulah yang telah menganugerahkan semua nikmat yang aku rasakan, semua itu termasuk nikmatMu kepada hambaMu.

Di dalamnya juga terkandung makna bahwa sesungguhnya saya tidak berwenang terhadap paa yang Engkau berikan kepadaku baik harta maupun jiwaku kecuali dengan perintahMu sebagaimana seorang hamba tidak berwenang kecuali dengan izin majikannya dan sesungguhnya saya tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan kepada diriku sendiri, tidak juga suatu kemanfaatan, kematian, kehidupan dan kebangkitan.

Apabila telah benar baginya saksi-saksi perkara di atas, maka dia telah berkata sesungguhnya saya adalah hamabMu yang sebenarnya.

Wallahu A’lam

 

Sumber :

Tuhfatu an-Nisa, Abu Maryam Majdi Fathi as-Sayyid, (Ei), hal. 146-148

Amar Abdullah bin Syakir

117 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: