Hadiah Nabawiyah Kepada Semua Wanita yang Bertaubat

kajian.jpg

Saudariku muslimah

Ini adalah hadiah nabawiyah untukmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda:

“Tidaklah seorang hamba mukmin yang melakukan dosa kemudian dia bersuci dengan baik, lalu shalat dan memohon ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.”

Dalam riwayat lain :

“Berwudhu dan shalat dua rakaat memohon ampun kepada Allah dari dosa tersebut kecuali Allah mengampuninya” (HR. At-Tirmidzi)

Abu Bakar-semoga Allah meridhainya- berkata : Dan Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam-membaca ayat ini,

 

وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

 

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui “(Qs. Ali Imran : 135)

 

Saudariku…

Marilah kita renungkan ayat di atas yang digabungkan dengan hadits di atas yang merupakan wujud dari hadiah nabawiyah yang sedang kita bahas.

Firman-Nya,

وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji

Kata fakhisyah dipergunakan untuk semua jenis maksiat, dan sering dikhususkan dengan zina sehingga Jabir bin Abdillah –semoga Allah meridhainya- menafsirkan ayat ini dengan zina.

 

Al-Fakhisyah hakikatnya adalah sifat bagi suatu perkara yang ditinggalkan, ia adalah perbuatan buruk yang menyimpang dari jalan yang diizinkan oleh Allah ta’ala.

اَلْفَحْشُ asalnya adalah keburukan dan penyimpangan dari batasan dan ukuran dalam setiap perkara. Oleh karena itu, sesuatu yang panjangnya melampaui batasnya

( إِنَّهُ فَاحِشُ الطَّوْلِ ) “Sesungguhnya panjangnya melampaui batas “, maksudnya panjangnya buruk akibat menyimpang dari ukuran yang semestinya.

Begitu pula ucapan yang buruk dikatakan اَلْكَلَامُ الْفَاحِشُ “perkataan yang buruk sekali”, dan orang yang mengucapkannya dikatakan : أَفْحَشُ فِي كَلَامِهِ “buruk dalam ucapannya”, apabila dia berbicara dengan yang buruk (Tasfir ath-Thabari, 4/62)

 

Firman-Nya,

اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ

Atau menzalimi diri sendiri

Ada yang mengatakan bahwa أَوْ  “atau” di sini maknanya adalah اَلْوَاوُ “dan”, maksudnya selain dosa-dosa besar.

As-Suddi –semoga Allah merahmatinya- berkata : “Yakni mereka melakukan sendiri sesuatu yang semestinya tidak pantas mereka lakukan, dan sesuatu yang mereka lakukan itu adalah dosa dan maksiat, yang mana bisa mengakibatkan turunnya balasan yang setimpal.”

 

Firman-Nya,

ذَكَرُوا اللّٰهَ

(Segera) mengingat Allah

Maknanya (mengingat-Nya) dengan rasa takut kepada-Nya akan siksa-Nya dan rasa malu kepada-Nya (Tafsir al-Qurthubiy, 4/135)

AD-Dahhak –semoga Allah merahmatinya- berkata : “Mereka ingat pada saat menghadap berdiri dihadapan Allah”.

Al-Kalbi-semoga Allah merahmatinya- berkata : “Mereka merenungkan pada diri mereka bahwa Allah akan bertanya kepada mereka.”

Muqatil –semoga Allah merahmatinya- berkata, “Sesungguhnya mereka mengingat Allah dengan lisan pada saat berbuat dosa.”

Ibrahim an-Nakha’i –semoga Allah merahmatinya- berkata : “Mereka mengingat Allah. Maksudnya, mereka mengingat ancaman Allah akibat dosa maksiat yang mereka kerjakan kepada-Nya.”

 

Saudariku muslimah…

 

Adapun firman-Nya,                                                                                      

   فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ

Lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya,

yakni mereka memohon ampunan karena dosa-dosa mereka, dan setiap doa yang terkandung di dalamnya lafazh atau makna tersebut maka ia disebut istighfar.

Istighfar balasannya besar dan pahalanya agung.

Ibrahim an-Nakha’i berkata : “Mereka meminta kepada Tuhan mereka agar menutup dosa-dosa mereka dengan maaf-Nya dari siksaan atas dosa-dosa mereka.”

Istighfar yang benar adalah istighfar yang menghentikan keinginan mengulangi dosa, maknanya terpatri di hati sanubari bukan cuma dilafazh kan dengan lisan.

Adapun seorang wanita yang berucap dengan lisannya : astagfirullah sementara hatinya masih terus menerus bermaksiat kepada Allah, maka istighfarnya membutuhkan istighfar lagi.

Semoga Allah memberikan rahmat kapada al-Hasan al-Bashriy yang pernah berkata pada abad kedua hijriyah : “istighfar kita membutuhkan istighfar.”

Ucapan ini diucapkan pada zamannya, lantas bagaimana dengan zaman kita ? Di mana banyak dosa-dosa dan kesalahan baik yang besar maupun yang kecil.

 

Firman-Nya,

وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ

Dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?

Yakni, tidak ada seorang pun yang mengampuni maksiat dan tidak menghapus siksanya kecuali Allah.

Ibrahim an-Nakha’i berkata : Yakni memaafkan pelakunya dan menutupinya kecuali Allah.

 

Firman-Nya,

وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.

Yakni, mereka tidak konsisten dan tidak berniat kuat untuk melakukannya lagi.

Mujahid berkata : “yakni tidak terus berjalan (di atas dosa),”

 

Saudariku Muslimah …

 

Sesudah perjalanan imaniyah bersama ayat al-Qur’an di atas, saya (penulis) kembali dan mengingatkanmu dengan dasar hadiah nabawiyah, yaitu shalat dua rakaat sehinngga Allah mengampuni dosamu.

Semoga Allah memberikan taufik kepadaku dan kepadamu untuk beramal shaleh, semisal bertaubat kepada-Nya. Amin

Wallahu A’lam

 

 

Sumber :

Dinukil dari “Tuhfatu an-Nisaa”, Abu Maryam Majdi Fathi as-Sayyid, (ei, hal.124-132) dengan ringkasan

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 184 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: