Connect with us

Kisah

Hari ‘Asyura, Saat Tumbangnya Kebatilan Fir’aun dan Pengikutnya

Published

on

Segala puji bagi Allah ta’ala sesembahan yang hak, sedangkan sesembahan yang lainnya adalah batil.

﴿ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ﴾

“Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (tuhan) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, Itulah yang batil, dan Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al-Hajj : 62)

Dialah Dzat yang telah mengutus Rasul-RasulNya dengan membawa kebanaran ajaran agamanya.

﴿هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ﴾

“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS. At-Taubah : 33)

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad yang telah menyampaikan risalah rabbnya, sehingga kita -ummatnya- dapat mengetahui dan membedakan antara yang hak (yang benar) dan yang batil (yang salah).

Maka, sunggguh ini adalah nikmat yang agung yang selayaknya kita syukuri. Di antara bentuk kesyukuran kita atas nikmat ini adalah senantiasa mengkaji dan terus mengkaji kitabNya, risalah yang telah disampaikan oleh RasulNya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut. mentadabburinya dan mengambil pelajaran dari kisah-kisah yang disebutkan didalamnya.

Saudaraku…

Di antara kisah yang Allah sebutkan di dalamnya adalah kisah tentang Nabiyullah Musa dan Fir’aun, yang mengisahkan tentang pertarungan antara yang hak (benar) dan yang batil (salah). Kisah yang Allah kisahkan kepada kita di dalam kitabNya adalah kisah yang benar sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

﴿نَتلُواْ عَلَيْكَ مِن نَّبَإِ مُوسَىٰ وَفِرعَونَ بِٱلْحَقِّ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ﴾

“Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Firaun dengan benar untuk orang-orang yang beriman.”  (QS. Al-Qashash: 3)

Saudaraku…

Fir’aun sebagaimana Allah menyebutkan beberapa karakternya di dalam kitabNya, ia adalah sosok diktator yang paling buruk, seorang raja dari Mesir. Dia kufur karena mengingkari wujud Allah Yang Maha Tinggi secara nyata. Allah berfirman tentangnya,

﴿فَحَشَرَ فَنَادَى فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى﴾

“Maka dia (yakni, Fir’aun) mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya  . (Seraya) berkata: ‘Akulah tuhanmu yang paling tinggi’.” (QS. Al-Nazi’at: 23-24).

﴿وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَٰٓأَيُّهَا ٱلْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرِى …﴾

“Dan berkata Firaun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku”.” (QS. Al-Qashash : 38)

Dia berbuat aniaya terhadap kaum Bani Israil, kaum yang lebih baik  dari dirinya pada zaman itu, menimpakan kepada mereka siksa yang sangat pedih:

﴿إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلاَ فِي ٱلأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعاً يَسْتَضْعِفُ طَآئِفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَآءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ ٱلْمُفْسِدِينَ﴾

“Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 4)

Adapun Musa ia terlahir pada tahun dibunuhnya bayi lelaki yang terlahir. Maka ibu Nabi Musa sangat khawatir dan takut jika bayinya yang pada usia balighnya kelak akan mendapat wahyu ini akan terbunuh ditangan tentara Fir’aun, dia akan menjadi pemimpin umat.

Bayi yang kecil mungil, masih menyusu ini, yang sangat dikhawatirkan oleh ibunya karena ancaman pedang Fir’aun telah mendapat pemeliharaan Allah, sebagaimana penjagaan Allah terhadap para nabi dan rasulNya:

﴿…ۚ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِيٓ﴾

“Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (QS. Thaha: 39).

Maka Allah membukakan hati istri Fir’aun sebelum pintu benteng dan istana terbuka, anak tersebut besar di dalam didikan orang yang justru menjadi musuh baginya. Lalu Musa ‘alaihis salam keluar dari istana Fir’aun dengan suatu ujian:

﴿وَجَآءَ رَجُلٌ مِّنْ أَقْصَا ٱلْمَدِينَةِ يَسْعَىٰ قَالَ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّ ٱلْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَٱخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ ٱلنَّٰصِحِينَ﴾

“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu”.” (QS. Al-Qashash: 20).

Setelah itu dia tumbuh dewasa lalu menikah dengan maskawin menggembala kambing. Pada saat dirinya telah dewasa, sempurna akalnya dan siap mengemban risalah Allah ta’ala mewahyukan kepadanya. Dan dia didukung oleh saudaranya Harun sebagai pendukung dirinya dalam berdakwah, Allah memerintahkan kepadanya,

﴿فَأْتِيَا فِرْعَوْنَ فَقُولَآ إِنَّا رَسُولُ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ ١٦ أَنْ أَرْسِلْ مَعَنَا بَنِيٓ إِسْرَٰٓءِيلَ﴾

Maka datanglah kamu berdua kepada Firaun dan katakanlah olehmu: ‘Sesungguhnya kami adalah Rasul Tuhan semesta alam. Lepaskanlah Bani Israel (pergi) beserta kami’.” (QS. Asy-Syu’ara: 16-17)

Maka Fir’aun terlaknat menyambut mereka dengan sikap mengingkari Allah subhanahu wa ta’ala:

﴿قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ قَالَ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَآ ۖ إِن كُنتُم مُّوقِنِينَ﴾

“Firaun bertanya: “Siapa Tuhan semesta alam itu?”. Musa menjawab: “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya. (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya”.” (QS. Asy-Syu’ara: 23-24).

Lalu perdebatan berlangsung alot dan berubah menjadi perdebatan dalam bentuk lain, Fir’aun mengumpulkan para tukang sihirnya agar membuat tipu daya terhadap Musa namun Allah selalu mengawasi mereka:

﴿وَجَآءَ ٱلسَّحَرَةُ فِرْعَوْنَ قَالُوٓاْ إِنَّ لَنَا لَأَجْرًا إِن كُنَّا نَحْنُ ٱلْغَٰلِبِينَ – قَالَ نَعَمْ وَإِنَّكُمْ لَمِنَ ٱلْمُقَرَّبِينَ﴾

“Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Firaun mengatakan : ‘Apakah sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?’. Firaun menjawab: ‘Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)’.” (QS. Al-A’raf: 113-114).

Mereka adalah para tukang sihir yang ahli:

﴿قَالُواْ يَٰمُوسَىٰٓ إِمَّآ أَن تُلْقِيَ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ نَحْنُ ٱلْمُلْقِينَ ١١٥ قَالَ أَلْقُواْۖ  فَلَمَّآ أَلْقَواْ سَحَرُوٓاْ أَعْيُنَ ٱلنَّاسِ وَٱسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَآءُو بِسِحْرٍ عَظِيمٍ ١١٦﴾

Ahli-ahli sihir berkata: ‘Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?’. Musa menjawab: ‘Lemparkanlah (lebih dahulu)!’. Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan).” (QS. Al-A’raf : 115-116).

Namun Fir’aun dan rakyatnya, serta para tukang sihir dan dukun dikagetkan dengan sebuah peristiwa,

﴿وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنْ أَلْقِ عَصَاكَۖ  فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ ١١٧ فَوَقَعَ ٱلْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ ١١٨ فَغُلِبُواْ هُنَالِكَ وَٱنقَلَبُواْ صَٰغِرِينَ ١١٩﴾

“Dan kami wahyukan kepada Musa: ‘Lemparkanlah tongkatmu!’. Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.” (QS. Al-A’raf: 117-119)

Walaupun peristiwa yang lebih menggegerkan dan mengejutkan belum memuncak, akan tetapi suasana semakin memanas pada saat seluruh tukang sihir yang didatangkan oleh Fir’aun beriman kepada Allah ‘azza wa jalla:

﴿وَأُلْقِيَ ٱلسَّحَرَةُ سَٰجِدِينَ ١٢٠ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ ١٢١ رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ﴾

 “Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata: ‘Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (yaitu) Tuhan Musa dan Harun’.” (QS. Al-A’raf: 120-122).

Maka Fir’aunpun mulai mengancam dan menindak mereka:

﴿لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُم مِّنْ خِلَٰفٍ ثُمَّ لَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ ١٢٤﴾

“Demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuany.” (QS. Al-A’raf: 124).

Dalam waktu yang sangat singkat mereka berubah mengumumkan keimanan mereka secara jujur dan terang-terangan dari kekafiran sambil menantang diktator yang paling jahat di atas permukaan bumi. Penyampaian risalah saling bergantian antara Nabi Musa dan saudaranya, dan tekanan Fir’aun terhadap Musa dan saudaranya berjalan sampai kisah tersebut berakhir dengan apa yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Musa ‘alaihis salam agar mereka berjalan pada malam hari dari Mesir dan Fir’aun sangat bingung dengan perkara tersebut. Maka diapun mengirim berita kepada seluruh penjuru Mesir agar rakyat berkumpul. Kemudian Fir’aunpun mengumpulkan bala tentaranya dan berjalan menuju arah yang dilalui oleh Musa, yaitu laut merah:

﴿فَلَمَّا تَرَٰٓءَا ٱلجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَٰبُ مُوسَىٰٓ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ ٦١﴾

“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul’.” (QS. Asy-Syu’ara: 61).

Lautan dihadapan kita, jika kita melewatinya maka kita akan tenggelam padanya, sementara Fir’aun dan kumnya berada di belakang kita, jika kita berhenti maka mereka akan menangkap kita. Maka Musa menegaskan dengan lisan seorang Mu’min yang yakin dan percaya dengan janji, pertolongan dan rahmat Tuhannya:

﴿قَالَ كَلَّآ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ ٦٢﴾

Musa menjawab: ‘Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku’.” (QS. Asy-Syu’ara: 62)

Pada saat Nabi Musa telah sampai di lautan maka Allah memerintahkan kepadanya untuk memukul laut tersebut dengan tongkatnya, maka lautan tersebut terpecah menjadi dua belas jalan. Maha Suci Allah, di tanganNyalah segala sesuatu dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Lalu pada saat Musa dan kaumnya berjalan melewati laut merah yang telah terbelah tersebut, seakan mereka berjalan di atas padang pasir maka Fir’aun pun ikut mengejar melewati jalan yang sama, lalu pada saat mereka telah sampai di tengah lautan Allah memerintahkan agar lautan tersebut kembali seperti keadaannya yang semula, maka laut itupun menghantam Fir’aun dan bala tentarannya sehingga menenggelamkan dan membinasakan mereka semua.

Demikianlah akhir tumbangnya kebatilan, dedengkotnya dan para pengikutnya.

Allah menyelamatkan para pengikut kebenaran dan yang memperjuangkannya, yaitu Nabiyullah Musa beserta para pengikutnya. Peristiwa ini terjadi para hari ‘Asyura sebagaimana disebutkan dalam hadits yang bersumber dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika datang ke Madinah, beliau mendapati orang-orag Yahudi tengah berpuasa pada hari ‘Asyura. Maka, beliau pun bersabda kepada mereka, hari apakah ini yang kalian berpuasa di dalamnya? Mereka pun menjawab ini merupakan hari yang agung di mana pada hari itu Allah menyelematkan Musa beserta kaumnya dan Allah menenggelamkan Fir’aun beserta kaumnya. Oleh karenanya, Musa berpuasa sebagai bentuk kesyukurannya. Lalu, kami pun berpuasa. (Mendengar hal tersebut) Rasulullah kemudian bersabda, kami lebih berhak dan lebih utama terhadap Musa daripada kalian. Maka, Rasulullah berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan (para sahabatnya) untuk berpuasa pada hari tersebut. (HR. Muslim, no. 2714)


Penyusun : Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Fans Page hisbah.net

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

baru

Lilin dan Seorang Pemuda Suci

Published

on

(Kisah Seorang Pemuda Selamat dari Dosa Zina Lantaran Panasnya Api Lilin yang Dinyalakannya)

***

Ada tujuh kelompok manusia, yang Allah menaungi mereka di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya … (salah satunya) Anak muda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah. [Muttafaq ‘Alaih]

Ini adalah sabda Nabi-صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-, yang cocok untuk anak muda pahlawan kisah ini, anak muda bersih yang merupakan tokoh dalam riwayat kita ini.

Anak muda ini terdidik di atas keshalihan dan kelurusan sejak kecil, pertama karena karunia Allah, kemudian karena bapak ibunya mendidiknya dengan pendidikan yang baik. Anak muda ini tumbuh dalam ibadah kepada Allah. Menginjak usia dewasa, keadaannya membuatnya harus meninggalkan rumahnya yang baik demi melanjutkan sekolahnya. Anak muda ini pergi jauh dari kedua bapak ibunya tinggal di sebuah tempat yang kecil.

Orang-orang di komplek anak muda itu tinggal mencintainya, mereka merasa bahagia dengan keberadaannya di tengah-tengah mereka. Anak muda ini adalah teladan dalam kemuliaan akhlak, dan ini yang semakin membuat mereka mencintainya. Anak muda ini gemar membantu mereka dan bergaul dengan mereka dengan baik. Sepertinya anak muda ini mengejar kebaikan yang tersebut dalam sabda Nabi-صلى الله عليه وسلم-,

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia

Banyak kalangan membicarakannya, menyanjung, dan memuji akhlaknya yang luhur dan sifatnya yang mulia.

Di komplek tersebut ada seorang gadis belia yang cantik; dia mendengar sanjungan orang-orang kepada pemuda itu, maka dia mengagumi anak muda tersebut, dia selalu mencuri-curi pandang kepadanya, menunggu kesempatan untuk melihatnya, berangan-angan duduk bersamanya, berbincang dengannya dan memandanginya dari dekat.

Gadis ini mulai menyusun rencana untuk bisa memandang anak muda tersebut, dia ingin membuka apa yang terpendam dalam dadanya.

Pada suatu hari, saat pemuda ini berjalan di dekat rumah si gadis, gadis itu memanggilnya, si pemuda melihat kepadanya lalu buru-buru menundukkan pandangannya, kemudian si gadis mengajaknya masuk ke rumahnya dengan berkata, “Ada barang-barang yang kami tidak kuat membawanya. Apakah kamu bersedia membantu kami ? “ Karena pemuda itu dikenal suka berbuat baik dan membantu orang-orang, maka dia tidak menolak. Akan tetapi anak muda itu berkata kepadanya, “Katakan kepada orang-orang di rumah, aku datang.” Dia mundur sedikit.

Pemuda itu membawa apa yang gadis itu tunjuk, kemudian dia keluar dengan segera. Gadis itu menyesalkan mengapa anak muda itu tidak berlama-lama di sisinya. Pandangan sesaat belum memuaskan hasrat gadis ini, dia ingin lebih.

Di sore yang dingin, hujan turun dengan derasnya, pemuda itu duduk di rumahnya sambil mengulang-ulang,

اَللَّهُمَّ غَيْثًا مُغِيْثًا

Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang berkah

Di dekatnya ada lilin, dia membuka-buka sebuah buku. Tiba-tiba pintu rumah diketuk dengan keras. Pemuda tersebut memasang telinganya. Ketukan bertambah keras.  Pemuda ini mendekati pintu dengan heran, siapa yang datang malam-malam begini dalam keadaan hujan deras pula ?

Dia membuka pintu, dan ternyata di depan pintu, gadis itu jatuh luruh ke tanah di bawah kaki pemuda yang tak tahu apa yang terjadi. Beberapa saat kemudian, gadis itu berbicara, “Aku mengetuk pintu rumahku, namun keluargaku tidak membukanya. Aku datang kepadamu untuk berlindung dari dingin dan hujan.”



Gadis ini masih bersimpuh di tanah. Pemuda ini terpesona dengan kecantikan gadis yang dilihatnya, yang sekarang tergeletak di tanah. Namun dia langsung teringat akan bahaya situasi dan musibah besar yang sedang dialaminya ini. Detak jantungnya bertambah cepat, nafasnya keluar masuk memburu.

Anak muda ini menoleh ke lilin yang dia gunakan untuk menerangi ruangannya. Ia bergegas ke sana, menjulurkan salah satu jarinya ke api, namun dia tidak merasakan apa-apa, tetapi bau daging yang terbakar tercium di ruangan. Gadis itu melihat dengan keadaan sangat cemas dengan apa yang dilihatnya. Setelah beberapa saat, pemuda ini berteriak karena panasnya api lilin. Dia berlari keluar rumah dan meninggalkan si gadis di dalam rumahnya.

Setelah malam beranjak naik hingga berlalu mayoritas waktunya, di mana pemuda ini menghabiskannya di luar rumah, dia kembali ke rumahnya dan tidak melihat gadis tersebut. Pemuda ini mengucapkan hamdalah atas keselamatannya dari situasi dosa tersebut. Dia berkata dalam dirinya, “Bila aku tidak kuat menahan panas api lilin kecil itu, mana mungkin aku kuat menahan api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu?  Tidak, aku tidak akan kuat. Tidak.”

Ketika gadis itu pulang ke rumahnya, dia semakin mencintai pemuda tersebut. Gadis itu sadar bahwa pemuda itu tidak menginginkan dirinya lewat jalan haram. Gadis itu merenungkan bagaimana jalan untuk mendapatkan pemuda itu ? Akhirnya dia berkata, “Aku harus menikah dengannya. Harus!”



Gadis itu berbicara kepada ayahnya tentang pemuda itu dan bahwa dia ingin menikah dengannya. Ayahnya yang memang tidak memiliki harapan yang lebih besar daripada menikahkan putrinya dengan pemuda yang baik dan shalih itu, langsung menemuinya esok paginya. Dia berkata, “Putraku, aku ingin menikahkanmu dengan putriku.” Pemuda itu setuju. Saat itu sang pemuda teringat bahwa barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Saat dia meninggalkan sesuatu yang haram karena takut kepada Allah, maka Allah memberinya sesuatu itu dari jalan yang halal.

Sumber :

Dinukil dari, “Shuwarun Min al-‘Iffah”, Muhammad bin Abdurrahman al-Ajmi, ei, hal. 21-27

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

baru

Ketika Dua Kelompok Saling Bunuh

Published

on

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِين [الحجرات : 9]

Dan kalau ada dua kelompok dari orang-orang yang beriman berperang, maka damaikan oleh kalian antara keduanya ! Akan tetapi, kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, maka perangilah oleh kalian (kelompok) yang melanggar perjanjian itu sampai mereka kembali kepada perintah Allah. Kalau mereka telah kembali, maka damaikanlah antara keduanya dengan adil. Dan hendaklah kalian berlaku adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil (al-Hujurat : 9)

**

(Dan kalau ada dua kelompok dari orang-orang yang beriman) baik jumlahnya sedikit atau pun banyak, (berperang), baik yang sedang berperang atau akan berperang, (maka damaikan oleh kalian antara keduanya!) dengan membuat perjanjian kesepakatan. (Akan tetapi, kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain), dengan menolak perjanjian tersebut atau tidak ridha dengan hukum Allah (maka perangilah oleh kalian (kelompok) yang melanggar perjanjian itu sampai mereka kembali kepada perintah Allah,) yaitu sampai mereka kembali kepada kebenaran.

(Kalau mereka telah kembali, maka damaikanlah antara keduanya dengan adil. Dan hendaklah kalian berlaku adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil)[1]   

Syaikh as-Sa’di-رَحِمَهُ اللهُ-berkata, “Peperangan merusak hubungan persaudaraan seiman. Oleh karenanya hal itu termasuk dosa besar yang paling besar. Sesungguhnya iman dan persaudaraan seiman tidak lenyap dengan adanya peperangan (antara sesama orang yang beriman), sebagaimana dosa-dosa besar lain yang berada di bawah syirik (tidak melenyapkan iman). Dan inilah madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, begitu pula dalam permasalahan : wajibnya mengadakan perdamaian di antara orang-orang yang beriman dengan adil, wajibnya memerangi orang-orang yang melanggar perjanjian atau pemberontak sampai mereka kembali kepada perintah Allah. Dan (setelah memerangi mereka), harta mereka dilindungi (atau tidak menjadi ghanimah/rampasan perang), yang dibolehkan hanyalah membunuh mereka ketika mereka terus melakukannya, tetapi tidak dibolehkan mengambil harta-harta mereka[2]

Sebab Turunnya Ayat

Para ulama berbeda pendapat tentang sebab turunnya ayat ini. Sebab turun yang shahih tercantum dalam hadis berikut :

Diriwayatkan dari Anas-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-bahwasanya dia berkata, ‘disarankan kepada Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-, ‘Sebaiknya Anda menemui Abdullah bin Ubaiy.’ Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-pun pergi dan diikuti oleh kaum Muslimin menuju tanah yang tandus. Ketika Nabi -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-menemuinya, berkatalah Abdullah bin Ubaiy, ‘Menjauhlah dariku ! Demi Allah ! Bau keledaimu telah menggangguku.’ Maka berkatalah seorang laki-laki dari Anshar ,’ Demi Allah ! Keledai Rasulullah -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-lebih harum daripada dirimu.’ Kemudian marahlah seorang laki-laki dari kaumnya karena Abdullah diejek. Mereka berdua pun saling mengejek, kemudian teman laki-laki itu marah karena membela kawannya, dan terjadilah pemukulan dengan pelepah kurma, tangan dan sandal-sandal. Dan kami diberitahukan bahwa karena hal itulah diturunkan ayat,

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا

Dan kalau ada dua kelompok dari orang-orang yang beriman berperang, maka damaikan oleh kalian antara keduanya ! [3]

Firman-Nya,

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا

Dan kalau ada dua kelompok dari orang-orang yang beriman berperang, maka damaikan oleh kalian antara keduanya !

Dalam ayat ini Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-masih menamai kedua kelompok tersebut sebagai kaum yang beriman, meskipun sekelompok orang Mukmin yang satu memerangi dan membunuh sekelompok orang Mukmin lainnya. Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-juga tidak mengatakan bahwa orang atau kelompok yang membunuh sebagai orang kafir.

Imam al-Bukhari mengatakan, ‘Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-menamai mereka sebagai orang-orang yang beriman.’ Ini menunjukkan bahwa imam al-Bukhari memahami bahwa hal tersebut tidak menyebabkan salah satu dari dua kelompok tersebut keluar dari agama Islam.

Begitu pula jika kita perhatikan ayat yang membicarakan tentang qishash. Allah -سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَى بِالْأُنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ [البقرة : 178]

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, maka hendaklah (yang dimaafkan) mengitu dengan cara yang baik…(Qs. al-Baqarah : 178)

Pada ayat ini Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- menyebut orang yang membunuh sebagai seorang yang beriman dan tidak menghilangkan keimanan dan persaudaraan seiman  pada dirinya dengan firman-Nya,

فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ

Barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya

Dalam ayat ini, Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-masih menyebut orang yang membunuh sebagai saudara yang lain.

Begitu pula sabda Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-,

لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ

Jangan kalian setelahku menjadi orang-orang kafir, sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain[4]

Pada hadis ini, meskipun Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-menyebut mereka sebagai orang kafir, tetapi Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-menganggap sebagian mereka sebagai bagian yang lain. Ini menunjukkan bahwa kekafiran yang dimaksud bukanlah kekafiran yang menyebabkan mereka keluar dari agama Islam.

Begitu pula dengan sabda Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-ketika beliau menyebutkan tentang peperangan yang akan terjadi di antara para sahabat :

تَمْرُقُ مَارِقَةٌ عِنْدَ فُرْقَةٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يَقْتُلُهَا أَوْلَى الطَّائِفَتَيْنِ بِالْحَقِّ

Dan akan ada kelompok yang keluar ketika terjadi perpecahan di antara kaum Muslimin. Kemudian kelompok yang lebih utama memerangi mereka dengan haq (kebenaran) [5]

Dan kita ketahui dalam sejarah Islam, bahwa setelah ‘Utsman bin Affan-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-wafat, maka terjadilah perselisihan antara pendukung pemerintahan Ali bin Abi Thalib-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-dengan pendukung Mu’awiyah bin Abi Sufyan -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-, sehingga terjadi peperangan antara dua kelompok besar kaum Muslimin.

Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-telah mengabarkan hal ini sebelumnya, yaitu tentang cucu beliau yang bernama al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-,

إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيْمَيْنِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ

Sesungguhnya anakku ini (yaitu, cucu beliau Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-) adalah sayyid (pemimpin). Mudah-mudahan Allah akan mendamaikan dua kelompok besar kaum Muslimin dengan sebabnya [6]

Dengan demikian, kita mengetahui bahwa peperangan dan bunuh-bunuhan yang terjadi antara dua kelompok besar tersebut tidak menyebabkan salah satu kelompok menjadi orang kafir, keluar dari Islam.

Wallahu A’lam

Sumber :

Majalah as-Sunnah, Edisi : Muharram 1436 H/November 2014 M, hal. 9-11. Dengan sedikit gubahan.

Amar Abdullah bin Syakir

[1] Lihat, Aisarut Tafasir IV/122 dan Tafsir as-Sa’di hal. 800

[2] Tafsir as-Sa’di, hal. 800

[3]  HR. al-Bukhari, no. 2691

[4]  HR. al-Bukhari no. 121 dan Muslim no. 65/223

[5]  HR. Muslim no. 1065/2458

[6]  HR. al-Bukhari, no. 2704

Continue Reading

baru

Terbunuhnya ‘Utsman bin Affan –radhiyallahu anhu-

Published

on

Munculnya fitnah pada zaman Sahabat terjadi setelah terbunuhnya Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab–رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-; masa sebelum wafat beliau ibarat sebuah pintu yang terkunci dari berbagai fitnah. Ketika beliau terbunuh, muncullah berbagai fitnah yang besar, dan muncullah orang-orang yang berseru kepadanya (fitnah) dari kalangan orang yang belum tertanam keimanan dalam hatinya, dan dari kalangan orang-orang Munafik yang sebelumnya menampakkan kebaikan di hadapan manusia, padahal mereka menyembunyikan kejelekan dan makar terhadap agama ini.

Dijelaskan dalam ash-shahihain dari Hudzaifah –رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- bahwasanya Umar –رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- berkata,

“Siapakah di antara kalian yang hafal sabda Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- tentang fitnah ?” Lalu Hudzaefah berkata, “Aku hafal seperti yang beliau sabdakan ?.” (Umar) berkata,”Kemarilah, engkau memang berani.” Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda, “Fitnah seorang laki-laki (yang ada) pada keluarganya, hartanya, dan tetangganya, bisa dihapus dengan shalat, shadaqah, dan amar ma’ruf nahi munkar.” Beliau (‘Umar) berkata, “Bukan yang ini, akan tetapi yang bergelombang seperti gelombang ombak di lautan.” Dia (Hudzaefah) berkata, “Wahai Amirul Mukminin ! Hal itu tidak jadi masalah bagimu, sesungguhnya di antara engkau dengannya ada pintu yang tertutup.” Beliau (‘Umar) bertanya, “Pintu itu dibuka atau dirusak?” Dia menjawab, “Tidak, bahkan dirusak.” Beliau berkata, “Pintu itu pantas untuk tidak ditutup.” Kami (Syaqiq) bertanya, ‘Apakah beliau tahu apakah pintu itu ?’ Dia menjawab, “Betul, sebagaimana (dia tahu) bahwa setelah esok hari ada malam, sesungguhnya aku meriwayatkan hadis dan bukan cerita bohong.’ Lalu kami sungkan untuk bertanya kepadanya, dan kami memerintahkan Masruq agar ia bertanya kepada beliau, lalu dia berkata, “Siapakah pintu itu ?” Dia (Hudzaefah) menjawab, “Umar.” [1]

Itulah yang pernah dikabarkan oleh Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -. ‘Umar telah terbunuh, pintu telah dirusak, muncullah berbagai fitnah dan terjadilah banyak musibah. Fitnah yang pertama kali muncul adalah terbunuhnya Khalifatur Rasyid, Dzun Nuraini,, ‘Utsman bin ‘Affan oleh para penyeru kejelekan, yang berkumpul untuk menghadapinya dari Irak dan Mesir. Mereka memasuki Madinah dan membunuhnya sementara beliau berada di rumahnya [2]

Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-menjelaskan kepada ‘Utsman bahwa musibah akan menimpanya, karena itulah beliau bersabar dan melarang para sahabat agar tidak memerangi orang-orang yang membangkang kepadanya, sehingga tidak ada pertumpahan darah karenanya [3]

Dijelaskan dalam hadis Abu Musa al-Asy’ariy, ia berkata,

“Pada suatu hari Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-masuk ke sebuah kebun dari kebun-kebun Madinah…lalu datang ‘Utsman, aku berkata, ‘Tunggu dulu ! Sehingga aku memohon izin (kepada Rasulullah) untukmu,’ kemudian Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – berkata, ‘Izinkanlah ia, berilah kabar kepadanya dengan Surga, bersamanya ada musibah yang menimpanya. ” [4]

Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –mengkhususkan ‘Utsman dengan menyebutkan musibah yang akan menimpanya, padahal Umar pun meninggal dengan terbunuh. Hal itu karena ‘Umar tidak mendapatkan cobaan sebesar yang didapatkan oleh ‘Utsman ; berupa sikap kaumnya yang lancang dan memaksanya untuk melepaskan jabatan kepemimpinan atas tuduhan kezhaliman dan ketidakadilan yang dinisbatkan kepadanya, dan ‘Utsman memberikan penjelasan yang lugas serta bantahan atas pernyataan-pernyataan mereka.[5]

Dengan terbunuhnya Utsman kaum Muslimin menjadi berkelompok-kelompok, terjadilah peperangan antara para sahabat, berbagai fitnah dan hawa nafsu menyebar, banyaknya pertikaian, pendapat menjadi berbeda-beda, dan terjadilah berbagai pertempuran yang membinasakan pada zaman sahabat. Sebelumnya, Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-sudah mengetahui fitnah yang akan terjadi pada zaman mereka. Dijelaskan dalam sebuah hadis :

عَنْ أُسَامَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أَشْرَفَ عَلَى أُطُمٍ مِنْ آطَامِ الْمَدِينَةِ ثُمَّ قَالَ « هَلْ تَرَوْنَ مَا أَرَى إِنِّى لأَرَى مَوَاقِعَ الْفِتَنِ خِلاَلَ بُيُوتِكُمْ كَمَوَاقِعِ الْقَطْرِ »

Dari Usamah bahwa Nabi pernah memperhatikan sebuah bangunan tinggi dari beberapa bangunan tinggi di Madinah, lalu beliau berkata, ‘Apakah kalian melihat fitnah yang aku lihat ? ‘ Para sahabat menjawab, ‘Tidak.’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya aku melihat fitnah-fitnah terjadi di antara rumah-rumah kalian bagaikan kucuran air hujan.’ [6]

An-Nawawi berkata, “Penyerupaan dengan kucuran air hujan terjadi pada sesuatu yang banyak dengan cakupannya yang umum, artinya fitnah tersebut banyak dan tidak khusus menimpa satu kelompok. Ini merupakan isyarat adanya peperangan yang terjadi antara mereka, seperti perang jamal, Shiffin, Hurrah (daerah berbatu), pembunuhan ‘Utsman dan al-Husain…dan yang lainnya. Hadis tersebut juga menunjukkan adanya mukizat Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-yang nampak.[7]

 

Wallahu A’lam

 

Sumber :

Asyraatus saa’ah, Yusuf bin ‘Abdillah bin Yusuf al-Wabil

 

Amar Abdullah bin Syakir  

 

[1]  Shahih al-Bukhari, kitab al-Manaqib, bab ‘Alaamatun Nubuwwah (VI/603-604,al-Fath), dan shahih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyratus Saa’ah (XVIII/16-17, Syarh an-Nawawi).

[2]  Lihat perincian itu peristiwa itu dalam kitab al-Bidayah wan Nihaayah (VII/170-191)

[3]  Lihat, al-‘Awashim minal Qawashim (hal.132-137) tahqiq dan ta’liq Muhibbudin al-Khathib

[4]  Shahih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab al-Fitnah allati Tamuuju ka Maujil Bahri (VIII/48, al-Fath)

[5]  Lihat Fathul Baariy (XIII/51)

[6]  Shahih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyratussa’ah

[7]  Syarh Muslim, karya an-Nawawiy (XVIII/8)

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

Trending