Hati-hati dengan Tradisi Perusak Tauhid di Bulan Muharram

Hati-hati-dengan-Tradisi-Perusak-Tauhid-di-Bulan-Muharram.jpg

Dengan masuknya bulan Muharram maka bergantilah tahun menjadi 1440 H, dan begitu juga dengan penanggalan Jawa, namun Muharram lebih disebut sebagai bulan Suro. Kaum Muslimin berbeda-beda dalam menyikapi pergantian tahun Umat Islam ini, sebagian memperingatinya dengan memanjatkan doa dan muhasabah diri, sebagian lainnya banyak juga yang memilih tidak menspesialkan pergantian tahun ini karena dianggap tidak ada tuntunan syariatnya, namun selain dua sikap ini, ada satu sikap yang berlebihan yang dilakukan oleh sebagian umat islam di negeri kita ini, mereka mengadakan acara-acara adat istiadat dan tradisi dalam rangka memperingati momen ini. Dan perlu diketahui, jika acara itu hanya sebatas pada adat kebiasaan tanpa diyakini memiliki nilai ibadah dan keharusan tertentu maka kebiasaan tersebut tidak mengapa dan diijinkan oleh syariat, namun ketika suatu acara tradisi dibangun diatas kepercayaan dan keyakinan yang tidak ada dasarnya di dalam agama, maka disini harus diterangkan kepada umat kekeliruan-kekeliruan yang ada pada acara tradisi tersebut agar seorang muslim tidak rusak akidahnya karena mengamini apa yang diyakini oleh masyarakat terkait acara tersebut.

Baiklah, berikut kami rangkum secara ringkas beberapa acara dan tradisi yang dilangsungkan di bulan Muharram ini namun ternyata pada acara-acara tersebut terdapat satu dua hal yang dilarang oleh syariat, apa saja acara-acara itu, berikut:

  1. Tradisi Kirab Kebo Bule Kyai Slamet

Tabarruk atau bahasa sederhananya Ngalap Berkah bukanlah suatu amalan yang mutlak dilarang oleh Islam, namun yang dilarang adalah ngalap berkah pada hal-hal yang tidak diakui oleh syariat dapat mendatangkan keberkahan, adapun pada hal-hal yang memang diakui maka dipersilahkan, seperti mencari keberkahan hidup dengan meminta doa kepada orang soleh yang masih hidup, atau mencari kesembuhan dengan berwasilahkan air zam-zam yang berkah, namun yang terjadi di masyarakat kita pada perayaan Suro atau Muharram ini, mereka meyakini keberkahan pada tubuh seekor kerbau, maka mereka kemudian berlomba-lomba sampai berdesak-desakan agar dapat mengusap tubuh kerbau tadi, dan bahkan sampai memperebutkan kotoran sapi yang notabene kotor dan bau itu.

Kemudian tidak hanya sampai disitu, ritual ini juga diyakini dapat mendatangkan keselamatan, sebagaimana pernyataan berikut:

”Pusaka dan kerbau ini diharapkan memberi kekuatan kepada masyarakat. Dengan ritual kirab, Tuhan akan memberi keselamatan dan kekuatan, seperti halnya Ia memberi kekuatan kepada pusaka yang dipercaya masyarakat Jawa memiliki kekuatan,” (http://keraton.perpusnas.go.id/)

Padahal Islam mengajarkan bahwasanya segala urusan baik itu tentang kemaslahatan dankemudharatan ada di tangan Allah Ta’ala, dan meminta keselamatan dan perlindungan dari keburukan juga kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya ataupun dengan melalui perantara yang tidak dibenarkan, seperti pada kerbau dan kotorannya tersebut, Allah Ta’ala berfirman:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. (QS Yunus: 13)

Dan pada sahabat Umar bin Khattab terdapat teladan dalam hal meyakini keberkahan sebuah benda mati, beliau berkata ketika mencium Hajar Aswad:

(والله إني لأعلم أنك حجر لا تضر ولا تنفع، ولولا أني رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقبلك ما قبلتك)

“Demi Allah, aku tahu bahwa engkau hanyalah sebuah batu yang tidak dapat memberikan mudharat ataupun kebaikan, jika bukan karena aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu”.

  1. Sedekah Gunung Merapi

“Ritualnya adalah sesaji kepala kerbau di puncak Gunung Merapi. Dengan harapan memanjatkan doa kepada Tuhan untuk memberikan perlindungan dan keselamatan warga Selo dan Boyolali. Adapun, akhir prosesi sedekah Gunung Merapu adalah pelarungan kepala kerbau ke kawah puncak Gunung Merapi. Hal ini bermakna rasa syukur yang mewujudkan hubungan baik dengan manusia dan alam sekitar, terutama gunung Merapi yang menjadi keberkahan khususnya warga Selo Boyolali.” (http://visitjawatengah.jatengprov.go.id/)

Bisa dilihat dari keterangan diatas bahwa tradisi yang kedua ini sangat bersebrangan dengan akidah tauhid Islam, yang mana setiap penyembelihan hanyalah khusus diperuntukkan untuk Allah Ta’ala, bukan kepada selain-Nya meskipun dengan anggapan hal tersebut hanya sekedar perantara. Larangan perbuatan seperti ini dengan jelas tersurat didalam firman-Nya:

وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَٰذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَٰذَا لِشُرَكَائِنَا ۖ فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلَا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَىٰ شُرَكَائِهِمْ ۗ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

“ Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu.” (QS Al An’am 136)

Dan firman-Nya:

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (QS Az Zumar: 3)

Maka dari itu, tujukanlah rasa syukur ataupun harapan untuk mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala kepada-Nya sahaja dan langsung, bukan melalui perantara. Karena jika dicermati, ayat-ayat diatas menceritakan kesyirikan yang ada pada masyarakat jahiliyah, dan ternyata mereka bukan mengingkari adanya tuhan, ataupun tidak menyembahnya, namun mereka di cap sebagai musyrikin karena menyekutukan Allah Ta’ala dalam penyembahan-Nya dengan menyertakan unsur lainnya.

Dan masih banyak lagi di nusantara tradisi dan ritual sejenis dengan yang telah disebutkan, yang hampir kesemuanya dilakukan karena kurangnya pemahaman masyarakat terhadap agama yang benar, sehingga akhirnya beragama hanya dengan ikut-ikutan apa kata orang dan ‘konon katanya’, dan akhirnya ibadah pun terbubuhi dengan adat istiadat yang bukan ibadah, dan akidah tercemari dengan keyakinan nenek moyang yang bertentangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: