Hati yang Terbuat dari Baja

(Serial Kisah Anak-anak Durhaka, bag.1)

Dia hidup bersama ibunya dalam satu rumah, ditemani seorang pembantu yang mengurusi dan melayani ibunya. Dia adalah orang yang keras tabiatnya dan buruk perlakuannya, bahkan kepada ibunya yang telah kehilangan penglihatan dan lumpuh sekalipun. Bukannya bersimpati kepada ibunya dan memperlakukannya dengan penuh kasing sayang, dia malah memperdengarkan kepadanya kata-kata kasar yang dapat menyakitkannya dan melukai hatinya.

Suatu hari, anak durhaka ini pergi bersama ibunya ke bank untuk mengambil gaji bulanan ibunya. Dia mendudukkan ibunya di atas kursi roda lalu mendorongnya. Selama perjalanan ke bank ia terus menggerutu dan melontarkan kata-kata yang menyakitkan. Ibunya mendengar anak ini mengatakan, “Kamu adalah wanita yang buta lagi lumpuh. Saya telah diuji dengan keadaanmu ini.” Ucapan ini menyakiti hati ibunya, namun ia tidak berbicara sepatah kata pun.

Ibunya menangis karena ucapannya itu. Namun, anak ini kembali melontarkan kata-kata yang menyakitkan, “Demi Allah, kalau bukan karena gaji pensiun ini, pasti aku telah mengantarmu ke pantai jompo.” Dia melontarkan perkataan tersebuut sambil menghela nafas karena kesal dan menyesal. Sedangkan ibu yang lemah ini telah hancur hatinya karena rasa sakit ketika mendengar ucapan anaknya yang durhaka.

Setelah urusan selesai, anak ini pulang bersama ibunya. Sesampainya di rumah, dia langsung mengambil gaji ibunya yang baru saja dia terima dari bank dan meninggalkannya bersama pembantu. Dia pergi bersenang-senang bersama teman-temannya; duduk di sofa-sofa dan pergi tamasya tanpa sedikitpun memperhatikan ibunya dan mempedulikan keadaannya. Bahkan dia melarang siapa pun dari kerabat ibunya untuk menjenguknya atau menanyakan tentang keadaannya. Jika dia melihat salah seorang dari mereka, maka dia pun mengusirnya atau memperdengarkan padanya ucapan keji, menakut-nakuti juga mengancamnya. Beginilah ibu yang sengsara ini menghadapi cobaan dari anaknya yang durhaka, namun tidak bisa berbuat apa-apa.

Hingga pada suatu hari anak itu melakukan perjalanan bersama teman-temannya ke salah satu negeri tetangga. Mereka pergi dengan mengendarai mobil. Selesai menghabiskan liburan, mereka kembali ke negeri mereka. Saat perjalanan kembali itulah mobil yang mereka tumpangi terbalik, hingga mereka menderita luka-luka ringan kecuali anak yang durhak itu.

Dia dimasukkan ke ruang perawatan dan berada di rumah sakit sekitar satu bulan. Kemudian dia keluar dari rumah sakit dengan duduk di atas kursi roda dalam keadaan lumpuh dan tidak dapat bergerak.

Maka, terulanglah kejadian kepergiannya ke bank. Namun sekarang dia tidak pergi bersama ibunya yang duduk di atas kursi roda dan dia yang mendorongnya untuk menerima gaji, tetapi dia yang duduk di atas kursi roda dan didorong oleh pembantu untuk menerima gajinya.

Sesungguhnya ibu itu sosok yang penuh cinta dan kasih sayang. Tidak ada yang merasakan nikmat ini kecuali orang yang telah kehilangan (nikmat tersebut). Namun sebagian anak ada yang berhati keras seperti batu, bahkan lebih keras dari itu. Allah azza wa jalla Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa, dan hukuman bagi perbuatan durhak kepada orang tua itu akan disegerakan di dunia.

Setelah kita membaca kisah ini, kita jadi mengerti akan akibat dari perbuatan durhaka. Oleh karena itu, barang siapa yang ibunya masih hidup maka hendaknya bersyukur kepada Allah lalu mencium kepalanya dan kedua tangannya. Karena Allah akan memuliakan seseorang dengan doa kedua orang tuanya. Barang siapa yang telah kehilangan kedua orang tuanya maka hendaklah dia berdoa dan memohonkan ampunan bagi mereka agar Allah mengumpulkan mereka di tempat rahmat-Nya. Karena Dia Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Wallahu A’lam

Sumber :

Dinukil dari “Aba-ya’dzibuna abna-hum wa abna ya’dzibuna aba-ahum”, Khalid Abu Shalih, ei,hal. 25-27

Amar Abdullah bin Syakir

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *