Hendaknya Engkau Berjalan dengan Tenang!

Hendaknya-Engkau-Berjalan-dengan-Tenang-.jpg

Dari Abdullah bin Abi Qatadah, bahwa ayahnya mengabarkan kepadanya, ia berkata : ketika kami bersama Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasllam- tiba-tiba beliau mendengar suara, maka beliau bersabda, “ada apa gerangan dengan kalian“? mereka pun menjawab : wahai Rasulullah, kami tadi terburu-buru untuk mengikuti shalat (berjama’ah). Nabi menimpali: janganlah kalian lakkukan yang demikian itu, bila iqomah telah dikumandangakan, maka janganlah kalian berdiri sebelum kalian melihat aku, hendaklah kalian berjalan dengan tenang, apa yang kalian dapati (bersama imam) maka ikutilah, dan apa yang terlewat dari kalian maka sempurnakanlah.
(HR. Ibnu Khuzaemah. Diriwayatkan juga oleh imam al-Bukhari, 2/137, hadis no. 635; Muslim, 5/102-103, hadis no. 1362)

Ihtisab di dalam Hadis

Di dalam hadis di atas terdapat banyak faedah dan pelajaran yang dapat dipetik yang terkait dengan masalah amar ma’ruf nahi munkar, di antaranya yang terangkum dalam  beberapa poin berikut ini :

1. Seorang muhtasib hendaknya berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan sebab-sebab kekhusyu’an saat pergi menuju ke tempat shalat.

2. Pengingkaran terhadap orang yang datang ke masjid untuk shalat berjama’ah dengan tergesa-gesa.

3. Seorang muhtasib hendaknya memberikan motivasi kepada orang-orang yang hendak melaksanakan shalat agar mereka beradab dengan adab-adab shalat agar shalat yang dilakukan tersebut dapat dilakukan dengan sempurna.

4. Pengingkaran terhadap orang yang segera bangkit untuk shalat sebelum melihat imam.

Penjelasan :

Seorang muhtasib hendaknya berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan sebab-sebab kekhusyu’an saat pergi menuju ke tempat shalat

Seorang muhtasib kala keluar dari rumahnya menuju ke masjid untuk melaksanakan shalat hendaknya berjalan dengan tenang dan berwibawa. Hendakanya ia keluar lebih awal agar nantinya mendapati takbiratul ihram (bersama imam). Karena, ia adalah teladan bagi orang lain. Oleh kerena itu, hendaknya ia bersungguh-sungguh untuk mendapatkan sebab-sebab kekhusyu’an kala kepergiannya menuju shalat sehingga nantinya ia dapat melaksanakan shalat secara sempurna.

Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “bila mana shalat telah ditegakkan, maka datangilah shalat itu dalam keadaan tenang dan berwibawa, lalu shalatlah kalian apa yang kalian dapati dan sempurnakanlah yang kalian terlewatkan. (HR. Ibnu Khuzaemah. 3/72, hadis no. 1646, dan Imam Bukhari meriwayatkan dengan redaksi yang semisal dengannya, hadis no. 636)

Pengingkaran terhadap orang yang datang ke masjid untuk shalat berjama’ah dengan tergesa-gesa.

Bila mana seorang muhtasib–baik seorang imam ataupun seorang makmum- melihat salah seorang yang hendak shalat yang datang (ke masjid) untuk melaksanakan shalat berjama’ah secara terburu-buru, hendaknya ia mengingkari perbuatan orang tersebut. karena Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- telah mengingkari sebagian sahabatnya kala beliau mendengar suara mereka ketika iqomah untuk shalat telah dikumandangkan, seraya mengatakan: janganlah kalian lakukan hal itu, jika iqomah telah dikumandangkan maka janganlah kalian bangkit sebelum melihat aku, hendaknya kalian (berjalan dengan) tenang, maka apa yang kalian dapati maka ikutilah, sedangkan yang terlewat maka sempurnakanlah. Berkata Ibnu Hajar, “di dalam hadis ini terdapat larangan tergesa-gesa ketika menghadiri shalat, dan (anjuran) untuk menghadiri shalat dengan tenang. (Fathul Baariy, 2/138). Karena, tindakan terburu-buru akan menjadikan pelakunya kelelahan dan terengah-engah nafasnya. Sehingga ia shalat dalam keadaan terengah-enghah di mana hal itu akan menafikan kekhusyu-an (Lihat, Fathul Baariy, Ibnu Hajar, 2/455, dan Mausu’ah al-manahi asy-Syar’iyyah, Salim al-Hilaliy, 1/343)

Seorang muhtasib hendaknya memberikan motivasi kepada orang-orang yang hendak melaksanakan shalat agar mereka beradab dengan adab-adab shalat agar shalat yang dilakukan tersebut dapat dilakukan dengan sempurna.

Seorang muhtasib hendaknya mengingatkan saudara-saudaranya yang hendak shalat tentang adab-adab yang berkaitan dengan shalat, di antaranya adalah tidak terburu-buru kala datang menghadirinya sekalipun iqomah telah dikumandangkan karena khawatir tidak mendapatkan takbiratul ihram bersama imam. Hendaknya mendatanginya dengan tenang.  Apa hikmahnya pergi shalat dalam keadaan tenang dan larangan tergesa-gesa? Karena berangkat menuju masjid sudah terhitung berada dalam shalat sebagaimana disebutkan dalam hadits lainnya dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا ثُوِّبَ لِلصَّلاَةِ فَلاَ تَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا كَانَ يَعْمِدُ إِلَى الصَّلاَةِ فَهُوَ فِى صَلاَةٍ

“Jika engkau hendak pergi shalat, maka datangilah dalam keadaan tidak tergesa-gesa. Hendaklah bersikap tenang. Apa saja yang kalian dapati dari imam, maka ikutilah. Sedangkan yang luput dari kalian, maka sempurnakanlah. Karena salah seorang di antara kalian menuju shalat sudah terhitung berada dalam shalat” (HR. Muslim no. 602).

Pengingkaran terhadap orang yang segera bangkit untuk shalat sebelum melihat imam.

Seorang muhtasib hendaknya mengingkari tindakan orang yang bangkit untuk melaksanakan shalat sebelum dirinya melihat imam, baik iqomah telah dikumandangkan ataupun belum, karena Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam-dalam hadis ini mengingkari tindakan para sahabatnya yang bangkit untuk melaksanakan shalat sebelum melihat kehadiran Nabi (untuk mengimami jama’ah shalat), seraya bersabda,  “bila iqomah shalat telah dikumandangkan maka janganlah kalian berdiri terlebih dahulu sebelum kalian melihat aku”. Hal ini karena dimungkinkan beliau tersibukkan dengan sesuatu yang memperlambat proses keluarnya beliau dari rumahnya sehingga proses menunggu kehadiran beliau (dalam kondisi berdiri) tersebut akan memberatkan mereka. (Fathul Baariy, Ibnu Hajar, 2/142, lihat juga, ad-Dibaaj ‘Ala Muslimin, Abu al-Fadhl as-Suyuthiy, 2/260)

Wallahu a’lam

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

al-Ihtisab Fii Shahih Ibni Khuzaemah”, karya : Abdul Wahab bin Muhammad bin Fayi’ ‘Usairiy, hal. 53-56

 

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: