Hijab Jadi Topeng Penyamaran?

Hijab-Jadi-Topeng-Penyamaran.jpg

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar ungkapan-ungkapan sinis mempertanyakan keteguhan sikap akhwat atau muslimah dalam berhijab dan cadarnya, maka dalam tulisan kali ini, kita akan membahas beberapa ungkapan itu dan menjelaskan kesalahan-kesalahan padanya, semoga jawaban-jawabannya sampai hingga ke telinga orang-orang yang menuturkan ungkapan-ungkapan tersebut.

1 – Mereka mengatakan:

“Cadar itu berpotensi mengganggu keamanan, karena dapat digunakan oleh penjahat sebagai samaran.”

JAWABAN:

Pertama harus dipahami terlebih dahulu bahwa konsekuensi iman adalah tunduk dan patuh dengan ketentuan-Nya, dibarengi dengan keyakinan bahwa tidak ada satupun yang berasal dari-Nya kecuali berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya, apakah hal itu dapat dicerna oleh akal kita maupun yang tidak. Allah Ta’ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An Nisaa: 65)

Jadi, tidak layak bagi kita untuk lancang mempertanyakan apalagi mengkritik kebijakan-Nya, atau menyelewengkan maksudnya, Allah Ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ ۚ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dialah Yang Maha cepat hisab-Nya.” (QS Ar Ra’d: 41)

Kedua, cadar itu disyariatkan dengan teks-teks perintah yang valid dan jelas, maka tidak dibenarkan untuk menganggapnya sebagai penyebab ketidak amanan, karena ini sama saja beranggapan bahwa DIA Ta’ala memerintahkan hal yang berpotensi negatif, Mahasuci Allah dengan anggapan seperti ini.

Jika diperhatikan dengan seksama, cadar bukan topeng samaran favorit para penjahat, justru banyak penjahat yang bersembunyi dibalik jas berdasi, atau seragam aparat. Maka menvonis cadar sebagai alat kejahatan adalah pendapat yang sangat keliru dan tidak logis.

2 – Mereka mempertanyakan:

“Mengapa hijab hanya diwajibkan atas wanita? Bukankah perempuan juga dapat tergoda dengan tubuh lelaki?”

JAWABAN:

Hijab merupakan perintah yang diwajibkan Allah Ta’ala atas kaum wanita, maka seharusnya untuk tunduk dan patuh. Jadi bagi yang berbicara persamaan hak antara lelaki dan wanita bukan saja melanggar aturan syariat, tapi juga salah secara logika dan hikmah. Wanita secara alamiah memang menarik perhatian kaum lelaki, maka dari itu syariat hijab datang untuk mereka, agar dengannya hal-hal negatif yang ditimbulkan dapat ditanggulangi.

Kemudian jika pointnya laki-laki juga dapat menarik perhatian wanita; Sekilas memang benar, tapi coba kasusnya dibalik, wanita jika sudah menarik perhatian lelaki, maka segala macam cara laki-laki tersebut akan mendatanginya, beda jika seorang lelaki yang menarik perhatian wanita, keputusan akhirnya tetap ada ditangan wanita, apakah menyambut tarikan tersebut atau membiarkannya. Maka kesimpulannya, tersambutnya fitnah yang terjadi itu tetap berasal dari wanita, baik itu dia yang memulai ataupun yang tergoda, maka dari sinilah datangnya kewajiban hijab atas mereka untuk menutup jalan itu.

3 – Mereka bertanya: “Mengapa menyentuh wanita dilarang walaupun tanpa dibarengi syahwat? Kan hanya sebatas teman?”

JAWABAN:

Berjabat tangan atau menyentuh wanita non mahram hukumnya haram, baik itu dibarengi syahwat ataupun tidak sama sekali. Islam dalam penerapannya sangat realistis, tidak berdasarkan perumpaan, maka dengan realita yang ada bahwa antara lelaki dan perempuan secara biologis tarik menarik, maka islam memandang jauh kedepan yaitu konsekuensinya jika kedua insan itu dibiarkan begitu saja, untuk ditutuplah jalan-jalan menuju ke arah tersebut sedini mungkin, seperti larangan bersentuhan ini. Untuk itu, hindarilah interaksi dengan non mahram, dan jika memang memiliki rasa maka halalkan dengan pernikahan yang sah.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat“. (QS An Nur: 30)

Diketik ulang dari fatwaSyubhat tentang hijab dan bantahannya”

Link: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=210586

Muhammad Hadhrami Achmadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: