Connect with us

sihir

Hukum Mendatangi Dukun Atau Peramal

Published

on

Perkara Ghaib adalah suatu hal tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala, baik di langit maupun di bumi, atau terkait masa depan.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

 Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah. ” (QS. An Naml: 65

Namun ada perkara ghaib yang dapat diketahui oleh makhluknya, namun demikian karena Allah Ta’ala memberitahunya, yaitu kepada para Rasulnya, sebagaimana firman-Nya:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَ                                                                                             داً

“ (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.”  (QS. Al-Jin: 26-27)

Maka dari itu dalam banyak hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menceritakan tentang keadaan di hari kiamat, yang itu baru akan terjadi di masa depan, demikian karena Allah Ta’ala yang mewahyukan tentangnya kepada Nabi.

 

Namun ada juga berita ghaib yang diketahui dengan cara mencuri kabar langit, demikian dilakukan oleh para jin kemudian diteruskan ke pada dukun.

Allah Ta’ala menceritakan fenomena tersebut:

وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ ۖ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا

dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). )QS Aljinn: 9)

 

Dan Nabi bersabda:

((إِذَا قَضَى اللَّهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتْ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خُضْعَانًا لِقَوْلِهِ كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ فَإِذَا { فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا } لِلَّذِي قَالَ { الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ } فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعِ وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضُهُ فَوْقَ بَعْضٍ –وَوَصَفَ سُفْيَانُ بِكَفِّهِ فَحَرَفَهَا وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ– فَيَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ ثُمَّ يُلْقِيهَا الْآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ حَتَّى يُلْقِيَهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوْ الْكَاهِنِ فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ فَيُقَالُ أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا وَكَذَا فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِي سَمِعَ مِنْ السَّمَاءِ)). رواه البخاري

“Apabila Allâh memutuskan sebuah perintah di langit, para malaikat menundukkan sayap-sayap mereka dengan penuh takut, bagaikan suara rantai yang ditarik di atas batu putih. Apabila telah hilang rasa takut dari hati mereka, mereka bertanya: ‘Apa yang dikatakakan oleh Tuhan kalian?’ Jibril menjawab: ‘Tentang kebenaran dan Ia Maha Tinggi lagi Maha Besar’. Lalu para pencuri berita langit (setan) mendengarnya. Mereka para pencuri berita langit tersebut seperti ini, sebahagian mereka di atas sebagian yang lain -Sufyan (rawi hadits) mencontohkan dengan jari-jarinya- maka yang paling di atas mendengar sebuah kalimat lalu membisikannya kepada yang di bawahnya, kemudian selanjutnya ia membisikan lagi kepada yang di bawahnya dan begitu seterusnya sampai ia membisikannya kepada tukang sihir atau dukun. Kadang-kadang ia disambar oleh bintang berapi sebelum menyampaikannya atau ia telah menyampaikannya sebelum ia disambar oleh bintang berapi. Maka setan mencampur berita tersebut dengan seratus kebohongan. Maka dikatakan orang: bukan ia telah berkata kepada kita pada hari ini dan ini… maka ia dipercaya karena satu kalimat yang pernah ia dengan langit tersebut.” (HR Bukhari)

 

Dari kedua dalil di atas, jelas bahwa kabar ghaib tidak lagi dapat dicuri di langit setelah Nabi Muhammad di utus, dan tidaklah kabar ghaib tersebut sampai ke telinga dukun kecuali jin telah mencampur-aduknya dengan seratus kebohongan.

Maka dari itu, mendatangi para dukun atau peramal adalah kobodohan di akal, karena para dukun tersebut juga telah dibohongi oleh para jin.

Maka orang yang mendatangi  dan bertanya kepada dukun berdosa besar, bahkan shalatnya selama 40 hari meskipun sah namun pahalanya tidak diterima oleh Allah Ta’ala, sebagaimana Nabi bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim)

Bahkan di dalam hadits lain mendatangi dukun adalah kekafiran, Nabi bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad)

Hadits ini dijelaskan olehulama seperti  Syaikh Salih Al Utsaimin dalam Syarah Riyadhussalihin bahwasanya pendatang dukun dapat menjadi kafir jika dia meyakini bahwa dukun itu juga mengetahui perkara ghaib layaknya Allah Ta’ala, dan ini tentunya menyelisihi Al Quran yang menyebutkan bahwa tidak ada yang mengetahui ghaib selain Allah Ta’ala.

 

Untuk itu, hendaklah seorang muslim untuk beriman, pasrah diri, dan bertawakkal kepada Allah Ta’ala semata, bukan dengan pergi ke dukun ketika ingin menjadi kaya sehingga melalukan pesugihan, atau bertanya kepada dukun jika kehilangan suatu barang atau ke dukun untuk berobat sekalipun. Namun tempuhlah jalan-jalan yang dibolehkan syariat seperti bekerja giat jika ingin kaya, berobat ke dokter jika sakit dan melapor kepada pihak berwenang jika kehilangan, sembari bertawakkal kepada Allah Ta’ala terkait hasil dari ikhitiyar tersebut.

 

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menaungi kita dengan taufik dan hidayah-Nya dan menjaga kita dan keluarga dari kekufuran dan kesyirikan.

 

Oleh: Ustadz Muhammad Hadrami, B.Sh

 
Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: Hisbahtv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

baru

Penyihir Tak Akan Menang

Published

on

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

{وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى} [طه:69[

Dan tidak akan menang penyihir itu, dari manapun ia datang (Qs. Thaha : 69)

 

Berikut ini adalah 10 faidah yang dapat diambil dari firman Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- di atas :

Pertama, Bahwa penyihir itu sebagaimana Allah  تبارك وتعالى  kabarkan, ia tak bakal beruntung selamanya ; Dan selayaknya kita tahu bahwa keberuntungan itu adalah memiliki kebaikan di dunia dan akhirat, maka peniadaan hal tersebut dari diri penyihir berarti penafian seorang penyihir untuk mendapatkan kebaikan di (kehidupan) dunianya dan akhiratnya. Maka, ia adalah orang yang rugi dan bangkrut di dunia dan akhirat.

Kedua, Bahwa sihir itu tidak hanya satu cara saja. Namun, sihir itu dilakukan dengan jalan yang cukup banyak dan bentuknya sangat beragam. Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-menyebutkan dalam ayat ini,  { حَيْثُ أَتَى}  dari manapun ia datang, yakni, apa saja caranya dan apa pun metodenya dalam melakukan sihir, dan di mana pun sihir itu dipelajari. Maka, sihir itu, apa pun caranya dan metodenya serta bentuknya, kesudahannya adalah bahwa pelakunya tidak akan beruntung secara mutlak, di dunia maupun di akhirat.

Ketiga, bahwa penyihir itu bila mana perkaranya sebagaimana yang Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-kabarkan ‘tidak akan beruntung dari mana pun ia datang. Maka, sesungguhnya orang yang datang kepada tukang sihir di mana ia mencari dari sisinya sebuah kemanfaatan dan kebaikan atau faedah, niscaya tentunya ia lebih-lebih lagi tidak akan beruntung.

Keempat, batilnya nusyrah, yaitu, tindakan membatalkan sihir dengan sihir. Telah datang dalam hadis yang shahih bahwa Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-pernah ditanya tentang Nusrah, beliau pun menjawab,

((هِيَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ))

Nusrah itu termasuk perbuatan setan.



Karena itu, tindakan membatalkan sihir dengan sihir pula, ini merupakan perkara yang tidak dibolehkan. Maka, diharamkan atas seorang Muslim untuk pergi ke tukang sihir bagaimana pun jika yang menjadi tujuan dari kepergiannya kepada tukang sihir tersebut adalah untuk melepaskan sebuah sihir yang tengah mengenai dirinya. Maka, ia termasuk ke dalam keumumam firman-Nya تبارك وتعالى  { حَيْثُ أَتَى}  dari manapun ia datang. Maka, tidaklah mungkin diperoleh dari sisi penyihir itu keberuntungan apa pun juga, walau hal tersebut adalah untuk melepaskan sihir.

Kelima, Bahwa penyihir itu, bila diketahui bahwasanya ia tidak akan beruntung-yakni, tidak akan mendapatkan kebaikan apa pun, tidak di dunia tidak pula di akhirat- maka sesungguhnya orang yang mendatanginya meskipun tujuannya adalah melepaskan sihir juga akan mendapatkan apa yang didapatkan oleh si penyihir berupa kerugian dan ketidak beruntungan. Oleh karena itu, sesungguhnya para tukang sihir itu ketika didatangi oleh seseorang walaupun tujuannya adalah melepaskan sihir yang mengenai orang yang datang tersebut, mereka tidak akan menerapinya kecuali dengan mendekatkan diri kepada setan-setan. Bisa jadi mereka menerapi penyakit ringan pada orang tersebut dan mereka menjatuhkannya pada sebuah bala (musibah) yang besar, yaitu, kekufuran kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-, terjatuh kedalam tindakan menyekutukan Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-, bergantung kepada setan-setan dan mendekatkan diri kepada mereka, dan lain sebagainya.



Keenam, Bahwa ayat ini menguatkan hati orang yang beriman berupa rasa ketawakkalan kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-dan percaya sepenuhnya kepada-Nya. Karena Allah azza wa jalla mengabarkan bahwa penyihir itu tidak akan beruntung. Dan, Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-telah berfirman,

{ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ} [البقرة:102]

Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah…(al-Baqarah : 102)

Maka, ini menguatkan ketawakkalan kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-dalam diri seorang hamba, dan percaya penuh kepada-Nya, tidak memalingkan hati kepada para tukang sihir dan para antek-anteknya karena takut kepada mereka atau yang lainnya. Bahkan, ia percaya penuh kepada Rabbnya dan bertawakkal kepada pelindungnya (yaitu, Allah -سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-), menambahkan keimanan dan kepercayaan penuh kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-, serta ketawakkalan kepadaNya semata. Karena keimanan bahwasanya tidak ada sesuatu yang dapat membahayakan dirinya kecuali dengan izin Allah تبارك وتعالى : Maka, orang ini hanya bersandar kepadaNya semata, ia hanya bertawakkal kepadaNya semata, dan ia hanya memohon pertolongan kepadanya semata.

Ketujuh, Bahwa keberuntungan dan ketinggian hanyalah bagi orang-orang yang memiliki iman. Dan telah lewat dalam rangkain ayat terkait dengan masalah ini bahwa para tukang sihir itu mereka mengatakan,

{ وَقَدْ أَفْلَحَ الْيَوْمَ مَنِ اسْتَعْلَى }  [طه:64]

“Dan sungguh beruntung orang yang menang pada hari ini.” (Qs. Thaha : 64)

Maka Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-menolak keuntungan itu kecuali bagi orang-orang beriman. Oleh karena itu, Allah-جَلَّ وَعَلَا-berfirman dalam rangkaian persoalan ini,

{وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى}

Dan tidak akan menang penyihir itu, dari manapun ia datang (Qs. Thaha : 69)

Setelah Dia-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-memerintahkan NabiNya dan RasulNya Musa- عَلَيْهِ السَّلَامُ- agar melemparkan tongkat yang kecil itu yang berada di tangannya, dalam menghadapi sekumpulan sihir yang cukup banyak,

وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى [طه : 69]

Dan lemparkan apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat. Apa yang mereka buat itu hanyalah tipu daya penyihir (belaka). Dan tidak akan menang penyihir itu, dari mana pun ia datang.” (Thaha : 69)

Kedelapan, Bahwa ketentuan hukum ini yang disebutkan oleh Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- di dalam ayat ini,

{وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى}

Dan tidak akan menang penyihir itu, dari manapun ia datang (Qs. Thaha : 69)

Merupakan ketentuan hukum yang berlaku untuk setiap penyihir di setiap zaman; hal ini kita mengetahuinya melalui al-Qur’an, di mana ungkapan yang disebutkan dalam ayat ini perihal para tukang sihir yang menghadapi Musa-عَلَيْهِ السَّلَامُ-, Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- tidak berfirman,

وَلَا يُفْلٍحُ هَؤُلَاءِ السَّحَرَةُ

Dan tidak akan menang mereka para penyihir itu.

Namun, Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

{وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى}

Dan tidak akan menang penyihir itu.

Maka, metode al-Qur’an itu, bila mana hukum tersebut tidak mengkhususkan pada perkara yang disebutkan secara langsung dalam rangkaian ayat untuk membatalkan perkara yang dilakukan namun mencakup setiap orang yang memiliki sifat yang sama, maka hukum tersebut berlaku umum, seperti dalam ayat ini, Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

{وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى}

Dan tidak akan menang penyihir itu.

Maka, ‘السَّاحِرُ , penyihir’ di sini, yakni, setiap penyihir di setiap zaman atau tempat. Maka huruf ال (alif dan lam) (dalam kata ini) untuk menunjukan jenis.

Kesembilan,  Pentingnya mempelajari sirah para Nabi-semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada mereka- ; bahwanya sirah mereka tersebut merupakan perjalanan hidup yang penuh dengan ibrah, nasehat, dan pelajaran yang sangat mendalam, di dalamnya terdapat unsur yang dapat menguatkan keimanan, mengikat hati orang yang beriman, menguatkan hubungannya dengan Rabbnya dan ketawakkalannya kepada-Nya ; maka barang siapa membaca kisah ini dan kisah-kisah yang semisalnya di dalam kitab Allah niscaya ia mendapati di dalamnya ibrah,  pengajaran dan pelajaran yang sangat mendalam, sebagaimana Allah تبارك وتعالى  berfirman,

[  {لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ } [يوسف:111

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal…(Qs. Yusuf : 111)

Kesepuluh, Dalam ayat ini terdapat penguat untuk firman Allah تبارك وتعالى ,

{وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ} [الطلاق:3]

Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…(Qs. ath-Thalaq : 3)

Dan firman Allah تبارك وتعالى ,

{أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ } [الزمر:36]

Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya…(az-Zumar : 36)

Musa-عَلَيْهِ السَّلَامُ-kala itu berada di hadapan kerasnya para tukang sihir, di mana mereka berjumlah kurang lebih 30.000 orang, sebagaimana yang disebutkan oleh para ahli tafsir, di mana semua yang mereka datangkan berupa sihir dan apa yang mereka himpun berupa tipu daya dan mereka pun bersatu padu melawan Musa , -عَلَيْهِ السَّلَامُ- , kesemuanya ini Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-batalkan,

مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ [يونس : 81]

Apa yang kalian lakukan itu, itulah sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan kepalsuan sihir itu…(Qs. Yunus : 81)

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-membatalkannya, dan kesudahan mereka adalah kerugian dan tidak menang.

 

Wallahu A’lam

 

Sumber :

Fawaid Min Qaulihi  وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى , Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Badr. https://al-badr.net/muqolat/2595

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

baru

Jangan Percaya Ramalan Zodiak

Published

on

Tidaklah lahir seorangpun ke dunia melainkan sudah ditetapkan baginya takdir, dari ajal sampai rejeki. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu -Ash Shadiq Al Mashduq-(seorang yang jujur menyampaikan dan berita yang disampaikannya adalah benar): ‘Sesungguhnya seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya setelah diproses selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Setelah empat puluh hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal; rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.’ Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sungguh ada seseorang darimu yang mengerjakan amal perbuatan ahli surga, hingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah satu hasta, namun suratan takdir rupanya ditetapkan baginya hingga ia mengerjakan amal perbuatan ahli neraka dan akhirnya ia pun masuk neraka. Ada pula orang yang mengerjakan amal perbuatan ahli neraka, hingga jarak antara ia dan neraka hanya satu hasta, namun suratan takdir rupanya ditetapkan baginya hingga kemudian ia mengerjakan amal perbuatan ahli surga dan akhirnya ia pun masuk surga.’ (HR Muslim)

 

Maka dari itu, tidaklah ada yang menghampiri seseorang ataupun tidak didapatkannya melainkan sudah ketetapan dari Allah Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal“. (QS Attaubah:51)

 

Dan semua ketetapan itu adalah perkara ghaib yang hanya diketahui oleh-Nya, Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS Annaml: 65)

 

Maka, mempercayai seorang peramal adalah tindakan tidak cermat dan mempercayai ramalannya adalah tidak masuk akal. Mengapa? Karena si peramal juga manusia, yang bahkan dia tidak bisa mengetahui masa depannya sendiri, bagaimana bisa dia mengetahui masa depan orang lain?

Dan ketahuilah bahwa meramal dan meminta diramal adalah salah satu bentuk perkara jahiliyyah yang dikecam oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ, أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ, أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَلَهُ, وَ مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَدٍ.

Bukan dari golongan kami orang-orang yang bertathayyur (meramal kesialan) atau minta dilakukan tathayyur terhadapnya, atau orang yang melakukan praktek perdukunan atau mendatangi dukun (menanyakan hal yang akan datang), atau melakukan sihir atau mantra disihirkan. Barang siapa mendatangi dukun lalu ia mempercayai apa yang dikatakannya, berarti dia telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muahmmad Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (HR Al Bazzar)

Maka, tidaklah sepantasnya seorang muslim menggantungkan semangatnya dalam bekerja misalnya, dengan ramalan mingguan, bulanan dsbg.

Namun, maksimalkanlah usahakan kemudian tawakkal kepada Allah Ta’ala.

Dan itu yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala sendiri, yaitu firman-Nya:

ذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS Ali Imran: 159)

 

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari kejelekan sihir dan semua yang berkaitan dengannya.

 

Penulis Ustadz Muhamad Hadromi,Lc.

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTV
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

Aqidah

Sihir, Kekufuran dan Merugikan Orang Lain

Published

on

Kejernihan akidah, kebersihan tauhid, keselamatan agama dan pengingkaran terhadap penyekutuan Tuhan adalah kewajiban yang dibebankan Allah kepada semua orang. Dalam rangka itulah, Allah menurunkan Kitab-kitab SuciNya dan mengutus Rasul-RasulNya.

وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُون

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya:”Bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS.Al-Anbiya’ :25)

Siapakah yang bisa menjadi tempat mengadu dalam situasi yang sulit, selain Allah ? Dan siapakah yang bisa menjadi pelarian dalam suka dan duka, susah dan mudah, selain Allah ?

فَفِرُّوا إِلَى اللهِ إِنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ وَلاَتَجْعَلُوا مَعَ اللهِ إِلَهًا ءَاخَرَ إِنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ

Maka segeralah kembali kepada (menta’ati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Dan janganlah kamu mengadakan ilah yang lain di samping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. (QS.Az-Zariyat :50-51)

Tidaklah kita berfikir wahai hamba Allah ? Di mana akal kita ? Apa yang mengotori hati ? Apa yang menyerang akal sehat ? Apa gunanya buhul yang di ikat ? Apa manfaat yang diharapkan dari manik-manik yang dikumpulkan atau gelang yang di pasang di tangan dan kaki ? Apa manfaat tumbal dan tabir ? Apa faedahnya kalung keramat, jimat, dan rajah ?

Semua itu adalah kebodohan dan kesesatan, keburukan dan kerusakan, penyimpangan di dalam hati dan fitrah, dan pelecehan terhadap kemuliaan akal dan kehormatan pikiran.

Saudaraku ! Begitu juga dengan mempercayai orang-orang yang mengaku mengetahui perkara gaib. Atau datang (berkonsultasi) kepada para dukun, peramal, penebak, astrolog, tukang mantera, dan pengikut dajjal yang mengaku mampu memberikan informasi tentang perkara gaib. Padahal sebenarnya hanyalah kebohongan, dusta, mengada-ada, dan mengaku-ngaku. Semua itu adalah kesesatan, kebatilan, penyakit yang berbahaya, dan keburukan yang memprihatinkan. Sebab, pengetahuan tentang perkara gaib hanya di kuasai oleh Allah.

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- berfirman :

قُل لاَّيَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ

Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah. (Qs.An-Naml :65)

Saudaraku.. ! berinteraksi dengan sihir berarti menggabungkan antara kekufuran dan merugikan orang lain. Karena tidak jarang orang-orang yang awam, sakit hati, lemah iman dan lemah akal beranggapan bahwa seorang penyihir bisa melakukan apa saja sesuka hatinya. Terkutuklah musuh Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-. Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- berfirman :

وَلَكِّنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَآأُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولآ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَاهُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَالَهُ فيِ اْلأَخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ وَلَبِئْسَ مَاشَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Tetapi hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan :”Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan ijin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Dan, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (Qs.Al-Baqarah :102)

Saudaraku ! Sihir adalah salah satu hal yang merusak dan dosa besar yang membinasakan. Allah dan Rasulnya telah memperingatkan umatnya agar tidak terjerumus ke dalamnya. Sebagaimana dinyatakan di dalam hadist riwayat Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu pada Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. “Jauhilah tujuh hal yang membinasakan.” (HR.Al-Buhkari, 2766 dan Muslim, 89)

Maka, waspadalah wahai hamba Allah ! Gantungkan harapan anda kepada Allah. Didiklah putra-putri anda dengan akidah yang benar. Besarkanlah keluarga anda dengan iman. Peliharalah mereka dengan dzikir dan Al-Qur’an. Sesungguhnya tahapan krusial yang dilalui umat menuntut adanya keseriusan dalam meluruskan pemahaman sesuai dengan jalur yang ditempuh oleh Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-. Sementara bertahan di kehidupan yang semu dan basa-basi, tanpa kejujuran di dalam akidah dan keyakinan, hanya akan membuat masalah ini semakin kompleks dan membuat kebatilan semakin laris dan kuat. Namun Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-selalu menjaga agamaNya, meninggikan kalimatNya, dan menolong para pendukungNya, kendati orang-orang musyrik tidak suka dan para pembohong serta berbuat sesuka hati.

Dengan menyebut asma-asmaNya yang indah dan sifat-sifatNya yang luhur, kita memohon kepada Allah agar berkenan menjadikan kita sebagai orang-orang yang bisa memberikan petunjuk dan mengikuti petunjuk. Bukan sebagai orang-orang yang sesat dan menyesatkan. Semoga kita bisa hidup berlandaskan iman, mati dan bangkit kembali di hari kiamat berasaskan akidah yang benar. Amin

Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTV
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

Trending