Hukum Menjual Khamar

Perbedaan pendapat para ulama tentang hukum najis atau tidaknya khamar jangan disalah-pahami bahwa boleh hukumnya memproduksi khamar, memperjual-belikan, dan mengonsumsinya. Bahkan, para ulama sepakat bahwa memproduksi, menjual belikan dan mengonsumsi khamar hukumnya haram.

Dalil-dalil pendapat ini di antaranya, adalah :

  1. Firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [المائدة : 90]

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijs termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (al-Maidah : 90)

Allah mengatakan bahwa khamar adalah kotoran, perbuatan setan dan wajib dihindari. Maka memproduksi khamar termasuk mubazir dan membuang-buang harta, karena khamar terbuat dari anggur yang hukumnya halal lagi baik. Maka bila anggur difermentasi menjadi khamar berarti mengubahnya menjadi kotoran yang wajib dihindari dan proses fermentasi tersebut termasuk perbuatan setan. Bila dijual-belikan berarti menjual kotoran yang diharamkan dan perbuatannya termasuk perbuatan setan yang wajib dihindari.

  1. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada saat penaklukan kota Mekkah,

إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالْأَصْنَامِ

Sesungguhnya Allah dan RasulNya telah mengharamkan menjual khamar, bangkai, babi dan patung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika diturunkan ayat-ayat terakhir surat al-Baqarah,

حُرِّمَتِ التِّجَارَةُ فِي الْخَمْرِ

“Perdagangan khamar telah diharamkan”. (HR. Bukhari)

  1. Abu Sa’id al Khudri berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di Madinah,

« يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُعَرِّضُ بِالْخَمْرِ وَلَعَلَّ اللَّهَ سَيُنْزِلُ فِيهَا أَمْرًا فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهَا شَىْءٌ فَلْيَبِعْهُ وَلْيَنْتَفِعْ بِهِ ». قَالَ فَمَا لَبِثْنَا إِلاَّ يَسِيرًا حَتَّى قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى حَرَّمَ الْخَمْرَ فَمَنْ أَدْرَكَتْهُ هَذِهِ الآيَةُ وَعِنْدَهُ مِنْهَا شَىْءٌ فَلاَ يَشْرَبْ وَلاَ يَبِعْ ». قَالَ فَاسْتَقْبَلَ النَّاسُ بِمَا كَانَ عِنْدَهُ مِنْهَا فِى طَرِيقِ الْمَدِينَةِ فَسَفَكُوهَا.

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah menyindir perihal khamar, sepertinya Allah akan menurunkan hukum tertentu tentang khamar, maka siapa di antara kalian yang memiliki khamar hendaklah ia menjual atau menggunakannya”. Rasulullah diam sesaat kemudian bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamar, maka barang siapa yang masih menyimpan khamar janganlah dia meminumnya dan janganlah dia menjualnya”. Lalu para sahabat kembali ke rumah masing-masing dan menumpahkan khamar di jalan-jalan kota Madinah. (HR. Muslim)

  1. Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang menghadiahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam segentong arak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidakkah engkau tahu bahwa Allah telah mengharamkan arak ?

Laki-laki itu berkata, “Tidak”.

Lalu laki-laki itu berbisik kepada teman didekatnya. Dan Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – bertanya, “Apa yang engkau bisikan kepada temanmu?

Ia menjawab, “Aku perintahkan dia untuk menjualnya”.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan minum khamar dan Allah juga telah mengharamkan menjual khamar”.

Lalu laki-laki itu membuka tutup gentong dan menumpahkan khamar ke tanah (HR. Muslim)

  1. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

« لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ »

Allah melaknat khamar, juga melaknat orang yang meminum, yang menuangkan, yang menjual, yang membeli, yang memproduksi, yang meminta untuk diproduksi, yang mengantarkan dan yang minta untuk di antarkan khamar kepadanya”. (HR. Abu Daud. Dishahihkan oleh Al-Albani).

Dari dalil-dalil yang begitu banyak dan tegas maka seluruh ulama sepakat bahwa haram hukumnya memproduksi, menjual, dan mengkonsumsi khamar.

Dan harta yang diperoleh dari hasil memproduksi, menjual, mendistribusikan, dan jasa menuangkan khamar (pelayan) adalah harta haram.

Wallahu A’lam

Sumber :

Harta Haram Muamalat Kontenporer, Dr. Erwandi Tarmizi, MA, BMI Publishing, Cetakan Keempat, April 2013, hal 76-78

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *