Hukum Merekayasa Transaksi Riba

astagfirullah.jpg

Niat seseorang ketika melakukan suatu amalan, sangat mempengaruhi hukum amalan tersebut, bukan hanya dalam hal peribadahan, bahkan dalam hal muamalat (hubungan interaksi sesama manusia) dan juga adat istiadat.

Ibnu Taimiyyah berkata : “Sesungguhnya niat dan keyakinan senantiasa diperhitungkan dalam setiap perbuatan dan tradisi, sebagaimana keduanya senantiasa diperhitungkan dalam setiap amalan taqarrub dan ibadah. Sehingga niatlah yang menjadikan satu hal halal atau haram atau sah atau rusak/batal, atau sah dari satu sisi dan batal dari sisi lain. Sebagaimana niat  dalam amalan ibadah menjadikannya wajib,atau sunnah atau haram atau sah atau rusak/batal. (al-Fatawaa al-Kubra, 6/54)

Di antara dalil yang membuktikan akan peranan niat dalam menentukan hukum setiap amalan ialah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin Abdillah –semoga Allah meridhainya- berikut,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- telah melaknati pemakan riba (renternir), orang yang memberikan/membayar riba (nasabah), penulisnya (sekretarisnya), dan juga dua orang saksinya.” Dan beliau juga bersabda, “Mereka itu sama dalam hal dosanya (HR. Muslim)

Dan pada hadis lain yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik –semoga Allah meridhainya- dinyatakan :

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي الْخَمْرِ عَشْرَةً عَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَشَارِبَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُوْلَةَ إِلَيْهِ وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَآكِلَ ثَمَنِهَا وَالْمُشْتَرِي لَهَا وَالْمُشْتَرَاةَ لَهُ

Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- melaknati berkaitan dengan khamer sepuluh orang : Pemerasnya, orang yang meminta untuk diperaskannya, peminumnya, pembawanya (distributornya), orang yang membawakan kepadanya, penuangnya (pelayan yang mensajikannya), penjualnya, pemakan hasil jualannya, pembelinya, dan orang yang dibelikan untuknya. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Albani)

Ibnu Taimiyyah berkata : Orang-orang yang tidak mempertimbangkan peranan niat ketika menghukumi berbagai transaksi, niscaya ia tiadak akan melaknati pemeras anggur (yang dijadikan khamr), dan membolehkannya memeras anggur untuk siapa saja, walaupun telah nampak jelas baginya bahwa pemesan hendak menjadikannya khamr, dengan alasan niat dapat berubah, dan niat tidak memiliki peran dalam hukum transaksi. Sungguh mereka telah dengan tegas menyatakan akan hal itu, dan sudah barang tentu itu merupakan penyelisihan nyata terhadap sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- (al-Fatawaa al-Kubra, 6/54)

Berdasarkan kaedah ini, banyak dari ulama yang mengharamkan setiap rekayasa/upaya yang ditempuh oleh seseorang guna melanggar hukum riba, dikarenakan berbagai kerusakan yang karenanya Allah ta’ala mengharamkan riba tetap terwujud (baca al-Qawa’id an-Nuraniyah oleh Ibnu taimiyah, hal. 119-121)

Oleh karena itu, jauh-jauh hari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- telah memperingatkan ummatnya dari ulah-ulah semacam ini, sebagaimana diriwayatkan oleh shahabat Abu Hurairah, ia menuturkan bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لَا تَرْتَكَبُوْا مَا ارْتَكَبَ الْيَهُوْدُ, فَتَسْتَحِلُّوْنَ مَحَارِمَ اللهِ بِأَدْنَى الْحِيَلِ

“Janganlah kalian melakukan apa yang pernah diperbuat oleh orang-orang Yahudi, sehingga kalian melanggar hal-hal yang diharamkan Allah dengan melakukan sedikit rekayasa (HR. Ibnu Baththah dengan sanad yang dihasankan oleh Ibnu Taimiyyah dan lainnya)

Di antara bentuk rekayasa yang dilakukan oleh para pedagang guna melanggar hukum riba ialah transaksi ‘inah.

Gambaran transaksi ‘inah adalah : A menjual barang dagangan (misalnya seekor sapi) kepada B yang sedang membutuhkan uang, seharga Rp. 2.000.000,- dengan pembayaran dihutang selama 5 bulan. Setelah transasksi jual beli ini selesai, dan sapi telah berpindah tangan kepada pembeli, yaitu B, pada gilirannya B menjual kembali sapi tersebut kepada A seharga Rp. 1.500.000, –  dengan pembayaran kontan. Sehingga pada gambaran transaksi ini, A berhasil mendapatkan kembali sapinya, dan mendapatkan bunga/riba sebesar Rp. 500.000,- atas piutangnya.

Inilah jual beli ‘inah dan praktek-praktek semacam ini telah ada sejak zaman dahulu, sebagaimana nampak dengan jelas pada kaedah berikut :

Dari Aisyah, ia mengisahkan : pada suatu saat aku sedang berada di dekat Aisyah, kemudian datanglah Ummu Mahabbah, yang serta merta bertanya kepadanya, “Wahai Ummul Mu’minin, apakah engkau mengenal Zaed bin Arqam ? Aisyah pun menjawab “ya”. Ummu Mahabbah berkata, “Sesunngguhnya aku pernah menjual kepadanya seorang budak wanita seharga 800 dengan pembayaran dihutang hingga ia menerima jatahnya (dari baitul Maal). Dan dikemudian hari ia hendak menjual kembali budak tersebut, maka akupun membelinya kembali seharga 6000 dengan pembayaran kontan. “Maka Aisyah berkata kepadanya, “Alangkah buruk apa yang engkau beli dan apa yang ia beli. Sampaikan kepada Zaid bahwa ia telah menggugurkan jihadnya bersama Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bila ia tidak bertaubat (HR. Ad-Daruquthni dan al-Baihaqi)

Di antara dalil yang membuktikan akan haramnya transaksi semacam ini ialah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu umar berikut :

« إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ »

“Bila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah, membuntuti ekor sapi, merasa puasa dengan hasil pertanian, dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan yang tidak pernah Dia angkat hingga kalian kembali kepada agama kalian (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-baihaqi dan dishahihkan oleh al-Albni)

Sumber :

Riba dan Tinjaun Kritis Perbankan Syariah, Dr. Muhammad Arifin bin Badri, MA. Penerbit : Pustaka Darul Ilmi, hal. 40-44.

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: