Hukuman Pelaku Zina

Hukuman-Pelaku-Zina1.jpg

Imam Muhammad bin Ali asy-Syaukani berkata :

Jika dia (pelaku zina) seorang yang masih perawan dan merdeka, maka :

  • Dicambuk (dipukul) seratus kali.
  • Setelah dicambuk kemudian diasingkan setahun

Apabila yang berzina itu janda (tsayib)[1], maka :

  • Dicambuk seperti yang dilakukan pada perawan
  • Setelah itu dirajam sampai mati.

Dan cukup dengan sekali pengakuan. Adapun riwayat pengulangan pengakuan dalam beberapa peristiwa, maka maksudnya adalah meminta kepastian.

Adapun persaksian, maka wajib dari empat orang.

Hendaknya pengakuan atau persaksian terdiri dari pengakuan yang jelas tentang masuknya kemaluan pada kemaluan.

Had (hukuman) gugur dengan :

  • Syubhat yang mungkin terjadi
  • Menarik kembali pengakuan
  • Keadaan wanita masih perawan atau kemaluannya tertutup
  • Keadaan laki-laki terpotong kemaluannya atau impoten

Diharamkan untuk memberikan syafa’at dalam hal hudud (Hukuman-hukuman)

Orang yang akan dirajam dibuatkan lubang setinggi dada

Wanita mengandung tidak boleh dirajam hingga melahirkan dan menyusui anaknya jika tidak terdapat orang yang menyusuinya.

Boleh dilakukan pemukulan (cambuk) di saat sakit dengan menggunakan pelepah korma yang masih basah dan yang lainnya.

Orang yang melakukan liwath (homo), maka harus dibunuh sekalipun dia belum menikah

Begitu juga pasangan liwathnya (dibunuh) apabila dia tidak dipaksa.

Diberikan ta’zir orang yang menyetubuhi binatang.

Budak diberikan hukuman jilid (cambuk) dengan setengah hukuman orang merdeka.

Dan yang melakukan hukuman had adalah majikannya atau imam

Wallahu a’lam

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Ad-durarul Bahiyyah fil Masa-ilil Fiqhiyyah, Imam Muhammad bin Ali asy-Syaukani (e.i, hal. 137-139), Pentahqiq : Dr. Muhammad bin Abdul Aziz al-Khudhairi

[1] Dr. Muhammad bin Abdul Aziz al-Khudhairi berkata, Tsayib (janda) adalh lawan dari perawan (gadis). Dikatakan laki-laki duda dan wanita janda dan disebut juga dengan muhshan. Al-Wazir bin Hubairah dalam al-Ifshah, 3/233 berkata, “Para ulama sepakat bahwasanya di antara syarat muhshan adalah merdeka, baligh dan berakal, serta seorang menikah dengan wanita dengan nikah yang shahih dan sempat menggaulinya, dan mereka memiliki sifat-sifat ini.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: