Iman Kepada Takdir

Apakah manusia musayyar (tidak mempunyai pilihan) ataukah mukhayyar (Mempunyai pilihan) ??

Ketahuilah, manusia memiliki kehendak, keinginan dan pilihan dalam perbuatan yang dia rasakan di dalam dirinya, tetapi kehendaknya tidak akan terlaksana kecuali jika Allah Ta’ala menghendakinya.

Dalilnya firman Allah Ta’ala :

(لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ٢٨ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ( ٢٩

Artinya : Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus (28) Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam (29) (At-Takwir 28-29)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H pada ayat ini mengatakan :

{ لِمَنْ شَاءَ } bagi yang menginginkannya, pada kalimat ini difahami bahwasanya setiap hamba dapat memilih apakah ia berkeinginan menjadi hamba yang baik ataupun sebaliknya, dan ayat ini pula merupakan bantahan terhadap perkataan kelompok al-jabariyah yang mengatakan bahwasanya setiap manusia dikpaksa untuk melaksanakan segala perintah yang ada didalam Al-Qur’an dan tiada pilihan bagi mereka untuk menentukan jalan yang mereka tempuh, akan tetapi dengan adanya ayat ini perkataan mereka terbantahkan, maka barangsiapa yang belum berkeinginan menjadi insan yang taat maka baginya apa yang ia tentukan.

Dan Firman-Nya :

(إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ٢٩ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا (٣٠

Artinya : Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan (29) maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya (30). (Al – Insan 29-30)

Manusia mempunyai pilihan dalam hal ketaatan dan kemaksiatan, serta perbuatan-perbuatan ikhtiar lainnya, tetapi kehendaknya pada perbuatan itu tidak mutlak melainkan harus mengikuti kehendak Allah, seperti telah dijelaskan sebelumnya. Manusia tidak diberi pilihan oleh Allah Ta’ala dalam beberapa hal yang telah ditetapkan (ditakdirkan) atas dirinya, seperti mengalami sakit dan tertimpa musibah, namun (disisi lain) manusia menjadi penyebab atas apa yang menimpanya.

Allah Ta’ala berfirman :

(أَوَلَمَّآ أَصَٰبَتۡكُم مُّصِيبَةٞ قَدۡ أَصَبۡتُم مِّثۡلَيۡهَا قُلۡتُمۡ أَنَّىٰ هَٰذَاۖ قُلۡ هُوَ مِنۡ عِندِ أَنفُسِكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ (١٦٥

Artinya : Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dalam tafsir ayat ini disebutkan : Apabila kalian -wahai orang-orang mukmin- ditimpa musibah, ketika kalian mengalami kekalahan dalam perang Uhud dan sebagian dari kalian tebunuh dalam perang tersebut, sesungguhnya kalian telah mendapatkan dua kali lipat dari musuh kalian, dalam hal jumlah korban tewas dan tawanan perang dalam perang Badar.
Lalu kalian berkata, “Dari mana datangnya musibah (kekalahan) ini, sedangkan kita adalah orang-orang beriman, dan Nabiyyullāh berada di tengah-tengah kita?” Katakanlah -wahai Nabi-, “Musibah (kekalahan) itu datang dari diri kamu sendiri. Yaitu tatkala kalian berselisih paham dan tidak patuh pada perintah Rasulullah. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia menolong siapa saja yang Dia kehendaki, dan dapat menelantarkan siapa saja yang Dia kehendaki.

Semoga kita dimudahkan memahami dan menguasi materi pada artikel ini. Aamiin

Sumber :
• Kitab “Wahai Muslim.. inilah aqidahmu” Terbitan Pustak Imam Asy-syafi’i yang merupakan terjemahan Kitab “Aqiidatuka Ayyuhal Muslim” Karya Syaikh Abdurrahman bin Muhammad Alu Nashr -rahimahullah-
• Tafsirweb.com

Bogor, 27 Syawal 1441 / 19 Juni 2020

Imam ibn Zuhri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *