Iman Mendorong Mereka Bersemangat “Mengulurkan Tangan”

Mengulurkan-Tangan.jpg

Kebanyakan dari para shahabiyat hidup dalam kesederhanaan dan kekurangan. Walaupun demikian, tidak ada seorang pun di antara mereka yang merasa gembira apabila diberi harta. Bahkan bersedekah menjadi kebiasaan mereka, walaupun mereka sendiri dalam keadaan fakir dan sangat membutuhkan.

Hal ini merupakan tanda keimanan, karena tidak mungkin orang akan menginfakkan hartanya di jalan Allah dalam keadaan sehat jasmani dan sedikit harta, kecuali karena dorongan keimanannya yang sudah tertancap kuat dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dan merasuk ke dalam setiap ruas tubuhnya.

Berikut ini adalah ‘Aisyah, suatu ketika beliau diberi uang sebesar seratus ribu dirham, pada saat itu beliau sedang berpuasa. Beliau membagi-bagikan semuanya dan tidak ada sedikitpun dari harta tersebut yang tersisa di rumahnya. Pada sore harinya ia berkata,”Wahai budak perempuan, kemarilah dan bawakan makanan berbukaku.” Budak perempuan itu memberinya minyak dan roti. Budak perempuan itu berkata, “Apakah engkau tidak bisa membelikan kita daging seharga satu dirham dari uang yang engkau bagi-bagikan tadi sehingga kita berbuka puasa dengannya ? “ Dia menjawab,” Jangan mencelaku, seandainya engkau mengingatkanku sebelumnya, niscaya aku akan lakukan (Shifat ash Shafwah, 2/30)

Tamim bin Salamah meriwayatkan, bahwa Urwah berkata, “Aku melihat ‘Aisyah –semoga Allah meridhinya- membagi-bagikan uang sebesar tujuh puluh ribu, padahal dia sendiri benar-benar menambal kantong bajunya yang sobek (benar-benar miskin) (Hilyah al-Auliya’, 2/47)

Berikut ini, Abdullah bin az-Zubair –semoga Allah meridhainya- berbincang tentang ‘Aisyah dan Asma’, ibunya. Dia berkata,

“Aku belum pernah melihat wanita yang lebih dermawan daripada Aisyah dan Asma’. Bentuk kedermawanan mereka berdua berbeda. Adapun ‘Aisyah, beliau mengumpulkan hartanya sedikit demi sedikit, jika sudah terkumpul, dia menginfakkannya sesuai dengan kondisi yang ada, sedangkan Asma’ tidak menyimpan sesuatu pun untuk hari berikutnya. (al-Adab al-Mufrad, hal. 106, Siyar A’lam an-Nubala’, 2/292; serta Shifat ash-Shafwah, 2/58)

Telah disebutkan sebelumnya, pada saat berbicara tentang kezuhudan para shahabiyat dalam hal keduniaan yang tak perlu diulang lagi di sini, apa yang telah dilakukan oleh Zaenab binti Jahsy –semoga Allah meridhainya-, berupa kesungguhan beliau dalam bersedekah setiap mendapatkan harta.

Selain melakukannya, mereka juga telah menganjurkan dan mendorong umat ini (untuk bersedekah). Telah diriwayatkan bahwa Asma’ binti Abu Bakar –semoga Allah meridhainya- berkata kepada anak-anak perempuannya dan keluarganya,

“Berinfaklah dan bersedekahlah kalian semua ! Janganlah kalian menunggu kelebihan, sesungguhnya jika kalian menunggu harta kalian lebih, kalian tidak akan pernah mendapatkannya, dan seandainya kalian menyedekahkannya kalian tidak kehilangan harta tersebut (Musnad Ishaq bin Rahawaih, 1/135; dan ath-Thabaqaat al-Kubra, 8/252)

Ini adalah kata-kata yang diucapkan oleh Asma’ untuk meyakinkan bahwa berinfak dan bersedekah karena Allah –subhanahu wata’ala– tidak akan sia-sia selamanya. Karena yang menganjurkan untuk melakukannya adalah Allah –subhanahu wata’ala– , dan Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan seseorang, bahkan Dia akan melipatgandakan pahalanya, dan menjadikan sedekah hamba-Nya berkembang, sedangkan dia tidak merasakannya.

وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

Apa saja yang kalian nafkahkan pada jalan Allah, niscaya akan dibalas dengan cukup kepada kalian dan kalian tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Qs. Al-Anfal : 60)

Wallahu A’lam

Sumber :

Dinukil dari Durus Min Hayat ash-Shahabiyyat”, Dr. Abdul Hamid as-Suhaibani, ei,hal. 56-57

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: