Islam memandang ilmu sihir sebagai perbuatan terlarang

Hukum melakukan dan belajar ilmu sihir adalah haram. Hal ini karena perbuatan sihir itu sendiri mengandung kemusyrikan, juga terdapat unsur pelanggaran akidah, serta campur tangan setan.

Syaikh As Sa’diy rahimahullah menjelaskan bahwa ilmu sihir dapat dikategorikan sebagai kesyirikan dari dua sisi.

Pertama orang yang mempraktekkan ilmu sihir adalah orang yang meminta bantuan kepada para syaitan dari kalangan jin untuk melancarkan aksinya, dan betapa banyak orang yang terikat kontrak perjanjian dengan para syaitan tersebut akhirnya menyandarkan hati kepada mereka, mencintai mereka, ber-taqarrub kepada mereka, atau bahkan sampai rela memenuhi keinginan-keinginan mereka.

Kedua orang yang mempelajari dan mempraktekkan ilmu sihir adalah orang yang mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib. Dia telah berbuat kesyirikan kepada Allah dalam pengakuannya tersebut (syirik dalam rububiyah Allah), karena tidak ada yang mengetahui perkara ghaib melainkan hanya Allah ta’ala semata.( Al Qoulu As Sadiid, Syaikh Abdurrahman As Sa’diy, Cet. Dar Al Qobsi, hal. 182 ).

Tingkat keharaman sihir amat berat karena termasuk salah satu dosa besar dan membinasakan. Penegasan ini sebagaimana tertuang dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: “Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai, Rasûlullâh, apakah itu?” Beliau menjawab: “Syirik kepada Allâh, sihir, membunuh jiwa yang Allâh haramkan kecuali dengan haq, memakan riba, memakan harta anak yatim, berpaling dari perang yang berkecamuk, menuduh zina terhadap wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan, yang beriman, dan yang bersih dari zina”. [Hadits shahîh riwayat Bukhari, no. 3456; Muslim, no. 2669].

Tak sekadar balasan di akhirat kelak, Islam memberlakukan hukuman di dunia juga bagi para penyihir. Sebuah hadis riwayat at-Tirmidzi menyebut, sanksi bagi mereka ialah hukuman mati.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah suatu ketika, di akhir kekhalifahan beliau, mengirimkan surat kepada para gubernur, sebagaimana yang dikatakan oleh Bajalah bin ‘Abadah radhiyallahu ‘anhu, “Umar bin Khattab menulis surat (yang berbunyi): ‘Hendaklah kalian (para pemerintah gubernur) membunuh para tukang sihir, baik laki-laki ataupun perempuan’” ( Hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shohih.)

Argumentasi ini diperkuat dengan atsar yang diriwayatkan Jabalah dari Umar bin Khattab. Secara umum, menurut Abu Sa’id al-Khadimi, dalil-dalil tersebut meng ungkapkan sanksi bagi penyihir ialah hukuman mati.

Namun, sambung al-Khadimi, bila yang bersangkutan telah menyatakan pertobatan maka ia tidak dibunuh dan tobatnya diterima. Akan tetapi, jika ia mengingkari berbuat sihir, maka ia tetap dibunuh dan tobatnya tidak diterima.

wallahu a’lam

 

.( Al Qoulu As Sadiid, Syaikh Abdurrahman As Sa’diy, Cet. Dar Al Qobsi, hal. 182 )

[Hadits shahîh riwayat Bukhari, no. 3456; Muslim, no. 2669].

 

@Sofyanztdh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *