Istri yang Selalu Bermuka Masam

yuzunuz_kizgin_mi_gorunuyor_1490944305_9997.jpg

Istri yang selalu bermuka masam itu merupakan tipe istri yang buruk secara mutlak. Kerena ia akan menyebarkan atmosfir kesedihan di dalam rumah. Ia akan membuat kehidupan di dalam rumah menjadi berat. Selain itu, ia telah bersikap berlawanan dengan apa yang diinginkan oleh sang suami dan ditunggu-tunggu darinya. Saat suami pulang kerja dalam kondisi lelah dan lesu, ia sangat berharap bila istrinya menebarkan udara kesejukan dan yang membangkitkan semangat di rumahnya. Yaitu dengan keceriaan senyum yang manis, wajah yang berseri seri, sikap optimis dalam hidup. Sebab, seorang suami itu bila pulang ke rumah yang di dalamnya istrinya berseri-serti, ia akan lupa dari kelelahannya. Ia akan merasa bahagia. Mereka berdua akan saling meberikan kekuatan dan kemampuan untuk menjalani pertarungan hidup.

Adapun istri yang selalu bermuka masam, maka ia akan membentuk kebalikan itu semua pada suaminya. Ia akan membuat suaminya merasa patah semangat bila di rumah. Kesedihannya lebih parah daripada apa yang ia rasakan daripada kepenatan bekerja, persaingan bisnis, dan pertarungan hidup. Selain itu, ia akan memberikan kesempatan bagi suaminya untuk beristirahat, bernafas lega, memperbaharui tenaga dan perasaan. Meski hanya sedikit tentang keindahan hidup.

Lebih dari itu, tersenyum merupakan pemandangan terbaik pada wajah wanita di dunia ini. Wanita yang kedua matanya berbinar-binar dan gigi serinya terlihat dalam senyuman yang menampakkan kegembiraan, dan bicaranya menandakan kebahagiaan dan keceriaan. Semangat yang tinggi ia nampakkan di depan suaminya dengan puncak kecerahan, keindahan, dan kehangatan sambutan. Meskipun sedang mendapatkan musibah, ia tetap menampakkan kegembiraan dan kecantikan. Sebab senyum adalah cahaya yang memancarkan keanggunan, keindahan, semangat, keceriaan hidup dan perasaan pada setiap titik wajah wanita, bahwa sesuatu yang berbahagia telah memenuhi setiap ruang udara.

Selalu cemberut yang terlihat di wajah istri akan menghapus keindahannya-meski sebenarnya ia cantik dan akan menutupi kepribadiannya. Ia akan membuatnya tampak sedih dan terkesan seperti berada dalam keburukan. Ia akan terlihat seperti berada dalam kesedihan yang menghimpit dada.

Sikap optimis akan membuat wanita bahagia dan gembira. Hatinya akan tersenyum untuk setiap kata yang diucapkan oleh suaminya. Sehingga suami akan merasakan keagungan suara-suara yang baik. Ia akan merasakan indahnya pertalian dengan istri yang suka tersenyum yang mewarnai semua ruang dengan keceriaan dan kegembiraannya. Dengan ini, maka optimisme itu bisa terwujud dengan mendengar dengan baik sebelum berbicara dengan baik. Dan dengan jawaban-jawaban yang manja yang tercermin dalam pembicaraan suami.

Adapun istri yang bermuka masam dan bermuram durja yang tidak pernah tertawa dan tersenyum oleh ucapan apapun dan tidak pernah merasa gembira oleh ucapan pujian, maka ia bagaikan tabir hitam yang diletakkan di kedua mata suami yang malang. Ia bagaikan batu keras yang menghadang di depan jalan suaminya.

Wanita itu diciptkan indah. Senyum itu perbuatan yang indah. Wanita dan senyuman itu mestinya selalu beriringan. Sebab keindahan itu biasanya akan condong kepada keindahan pula.

Akan tetapi, bila yang terjadi adalah sebaliknya dan suami mendapatkan istrinya selalu bermuka masam, maka ia telah tertimpa musibah. Ia bagaikan seorang yang membuka botol minyak wangi yang kelihatan menakjubkan namun ia terperanjat kaget karena ternyata baunya tidak  sedap.

Akan tetapi, sebenarnya suami memiliki peran dalam membuat istri tersenyum atau sebaliknya. Ini memerlukan bahasan lain. Karena kita disini hanya membicarakan istri yang bermuka masam tanpa sebab maupun kesalahan dari suami. Di sini kita mencela dan tidak memaafkannya, sebagaimana kita tidak akan memaafkan pohon mawar seandainya ia hanya menghasilkan duri saja untuk kita tanpa menunjukkan bunga sama sekali. Atau, botol minyak wangi bila ia hanya mengeluarkan bau yang tidak sedap.

Wallahu a’lam

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Aswa-ul Zaujat, Abdullah al-Ju’aitsan (ei.hal, 27-30)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: