Connect with us

Keluarga

Istri yang tidak Patuh (Dosa Besar ke-42)

Published

on

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا [النساء : 34]

 

“Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasehat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.” (Qs. An-Nisa : 34)

Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَلَمْ تَأْتِهِ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

 

“Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur tetapi sang istri menolaknya sehingga sang suami marah kepadanya sepanjang malam, maka para malaikat akan melaknatnya sampai Subuh” (Muttafaq Alaih) [1]

 

Ada teks lain di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim ,

إِذَا بَاتَتِ الْمَرْأَةُ هَاجِرَةً فِرَاشَ زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

 

“Apabila sang istri semalaman menjauhi tempat tidur suaminya, maka para malaikat akan melaknatnya sampai Subuh.”

Di dalam teks lain tercantum,

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهَا فَتَأْبَى عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِى فِى السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا

 

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Ketika ada seorang suami yang mengajak istrinya ke tempat tidur tetapi sang istri mengabaikannya, maka Dzat yang ada di langit akan murka kepadanya sampai suaminya ridha kepadanya (memaafkannya).”

 

Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Tidak halal bagi seorang wanita (istri) untuk berpuasa (puasa sunnah) sementara sang suami sedang bersamanya kecuali dengan seizinnya, dan tidak halal (pula) baginya memberi izin (mempersilahkan seseorang masuk) ke rumah suaminya kecuali dengan seizinnya” (HR. al-Bukhari) [2]

Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

 

“Kalau saja aku dibolehkan untuk menyuruh seseorang agar bersujud kepda orang lain, niscaya akan aku perintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya.” [3] (Dishahihkan oleh Imam at-Tirmidzi)

 

Berkata Ammah bin Muhshan, “Aku pernah menceritakan suamiku kepada Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-lalu beliau bersabda,

اُنْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّهُ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Perhatikanlah di mana kedudukanmu di hadapannya, karena sesungguhnya ia (suamimu) adalah surga dan nerakamu” (HR. an-Nasai)

 

Dari Abdullah bin Amr, ia berkata bahwa Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِىَ لاَ تَسْتَغْنِى عَنْهُ

 

“Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya sedangkan ia masih membutuhkan suaminya” (HR. an-Nasai dan sanad-sanadnya shahih)

 

Diriwayatkan dari Nabi -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- bahwa beliau bersabda,

مَنْ خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تَرْجِعَ أَوْ تَتُوْبَ

 

“Barang siapa (seorang istri) keluar dari rumah suaminya (tanpa izin suaminya), maka para malaikat akan melaknatnya sehingga ia kembali atau bertaubat” [4]

 

Dalam bab ini banyak sekali hadis-hadis yang membicarakannya.

 

Penjelasan :

 

Syaikh Utsaimin-رَحِمَهُ اللهُ- berkata [5] sabda Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-, “Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya (berhubungan intim), kemudian ajakannya ditolak sehingga si suami tidur dalam keadaan marah kepada istrinya, maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi atau sampai para malaikat kembali (ke langit).”

Karena kewajiban seorang istri apabila sang suami mengajaknya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, maka ia harus melayaninya, kecuali jika ada alasan syar’i, seperti dalam keadaan sakit sehingga tidak mampu melayani suaminya atau ada alasan lain yang menghalanginya sehingga tidak bisa melayaninya, maka semua itu dibolehkan. Jika tidak ada alasan, maka sang istri wajib untuk melayani ajakan suaminya. Inilah hak suami atas istrinya dan demikian pula seharusnya seorang suami jika melihat istrinya ingin berhubungan badan, maka ia pun harus melayani ajakan istrinya. Karena Allah ta’ala berfirman,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut.” (an-Nisa : 19)

 

Hadis kedua menerangkan bahwa seorang istri tidak oleh berpuasa (sunnah) pada saat suaminya berada di rumah, kecuali dengan seizin suaminya dan tidak boleh mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya, kecuali dengan seizin suaminya pula.

Permasalahan yang pertama adalah puasa dan puasa terbagi kepada dua macam, pertama puasa wajib; seorang istri harus melaksanakan puasa wajib ini tanpa seizin suaminya.

Kedua puasa sunnah; seorang istri tidak boleh berpuasa pada saat suaminya berada di rumah, kecuali dengan seizin suaminya. Adapun jika sang suami sedang tidak ada di rumah, maka ia bebas melakukannya. Akan tetapi, jika ada di rumah, maka ia tidak boleh berpuasa; karena barang kali sang suami akan mengajaknya untuk berhubungan intim pada saat istrinya sedang berpuasa, akhirnya sang suami dan istri sama-sama merasa dilematis.

Adapun jika puasanya puasa wajib. Contohnya ketika seorang istri mempunyai utang puasa Ramadhan, kemudian Ramadhan berikutnya hanya tinggal beberapa hari lagi, maka ia wajib melunasi utang puasanya, baik diizinkan oleh suaminya maupun tidak. Contohnya jika sang istri mempunyai utang puasa Ramadhan sebanyak sepuluh hari dan waktu Ramadhan berikutnya telah dekat dan hanya tersisa sepuluh hari lagi. Maka ia wajib berpuasa baik diizinkan ataupun tidak. Bahkan jika suaminya menghalang-halanginya untuk berpuasa, si istri tetap wajib untuk berpuasa karena hukumnya wajib.

Adapun jika si istri mempunyai utang puasa sebanyak sepuluh hari dan waktu yang tersisa untuk sampai ke bulan Ramadhan berikutnya masih satu atau dua bulan lagi atau bahkan lebih, maka si suami boleh melarang istrinya berpuasa, dan si istri tidak boleh berpuasa tanpa seizin suaminya. Alasannya hal ini dikarenakan waktunya yang masih leluasa. Jika waktunya masih leluasa, maka tidak layak seorang istri mempersulit suaminya. Jika suami telah mengizinkan dan meperbolehkan istrinya untuk berpuasa, maka apabila puasa yang dijalaninya adalah puasa wajib, maka haram bagi suami untuk membatalkan puasa istrinya hanya karena ingin berhubungan intim. Hal ini dikarenakan si suami telah mengizinkan istrinya berpuasa dan puasa wajib harus ditunaikan sampai selesai. Akan tetapi, jika puasanya adalah puasa sunnah, maka boleh bagi seorang suami untuk menyetubuhinya meskipun puasa istrinya menjadi batal, karena puasa sunah tidak harus disempurnakan sampai berbuka.

Akan tetapi, jika istrinya berkata, ‘Suamiku, engkau telah mengizinkanku untuk berpuasa. Engkau pun telah berjanji tidak akan membatalkan puasaku.” Maka wajib bagi sang suami untuk memenuhi janjinya dan haram membatalkan puasa istrinya.

 

Allah ta’ala berfirman,

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا  [الإسراء : 34]

 

“Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra : 34)

 

Adapun sabda beliau, ‘Dan tidak boleh seorang istri mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya kecuali dengan seizin suaminya.” Maksudnya tidak boleh seorang pun masuk ke dalam rumah, kecuali dengan seizin suaminya. Jika sang suami melarang istrinya agar tidak mempersilahkan orang lain masuk ke rumahnya, seperti dengan berkata “Si fulan tidak boleh masuk ke rumahku!” Maka haram bagi sang istri untuk mengizinkan si fulan tersebut masuk ke rumahnya karena rumah tersebut adalah milik suaminya.

Adapun jika suaminya tersebut merupakan orang yang berlapang dada, ia tidak terlalu mempermasalahkan setiap orang yang masuk ke rumahnya, maka sang istri tidak harus meminta izin kepada suaminya.

Wallahu A’lam

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

Sumber :

1-Al-Kabair, Muhammad bin Utsman adz-Dzahabiy

2-Syarh Riyadhish Shalihin, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

 

Catatan :

[1] HR. al-Bukhari, hadis no. 5193 dan HR. Muslim, hadis no. 1436

[2] HR. al-Bukhari, hadis no. 5195

[3] HR. at-Tirmidzi, hadis no. 1159

[4] Majma’ Zawaa’id juz 4 hal.313

[5] Syarh Riyadhis Shaalihiin, hal. 335, Baabu Tahriimi Imtinaa’il Mar-ati min Firasyi Zaujihaa.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fiqih

Tauhid Pondasi Keluarga

Published

on

Akidah tauhid merupakan pondasi dan pilar keluarga.
Kita katakan ,iya, akidah tauhid merupakan pondasi dan pilar dalam kehidupan umat seluruhnya, dan juga dalam kehidupan setiap insan. Hal tersebut juga merupakan pondasi kehidupan keluarga.
Akidah tauhid yang jernih yang berdiri di atas pemahaman dan landasan :

لا إله إلا الله محمد رسول الله

(Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Muhammad adalah utusan Allah)
jika apa yang ditunjukannya secara ilmiah dan pengamalan telah kokoh tertancap di dalam kehidupan keluarga niscaya keluaga tersebut akan mengalami perubahan keadaan yang sangat berbeda. Karena konsekuensi dari akidah ini adalah menanggalkan seluruh bentuk peribadatan kepada selain Allah, berupa kesyirikan dan berhala-berhala serta tradisi-tradisi jahiliyah, ketaatan terhadap orang-orang yang menyimpang dan orang-orang fasik dan orang-orang yang gemar melakukan dosa. Menanggalkan diri dari hal-hal tersebut dan menjadi taat kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, dan mentaati rasul-Nya-shallallahu alaihi wasallam-. Karena taat kepada belaiu merupakan ketaatan kepada Allah.
Jadi, pondasi keluarga yang harus di bangun di atasnya adalah akidah tauhid. Akan tetapi kita menyayangkan karena seringkali kita tidak membangun keluarga kita di atas pondasi ini, oleh karenanya kita banyak menjumpai banyak dari keluarga tidak memahami akidah tauhid ini …

Wahai saudaraku sekalian…
Mengapa kita mengosongkan diri dari mendidik keluarga kita di atas pemahaman akidah ini ?
Mengapa kita tidak mendidik keluarga di atas akidah yang berdiri di atas keimanan kepada Allah dan pengingkaran terhadap thaghut-thaghut?
Sesungguhnya ini, mendidik keluarga di atas pondasi ini merupakan hal mendasar. Akan tetapi, mengapa kita kurang perhatian dalam hal ini ?




Sungguh sangat lemah pangaruh akidah ini dalam jiwa kita, dan jiwa keluraga kita serta jiwa pasangan hidup kita dan anak-anak kita.
Wahai saudara-saudaraku sekalian !
Sesungguhnya ketika akidah ini diajarkan dan ditanamkan dalam keluarga dengan benar, niscaya akan menjadikan seorang ayah sebagai sang pendidik banyak mendapatkan hal yang melegakan dirinya dalam banyak hal dalam kehidupan. Misalnya, ketika keluarga dididik di atas aqidah ini, mengesakan rabbnya dengan rasa takut, tawakal dan cinta. Sehingga menjadi sebuah keluarga yang tidak takut kecuali kepada Allah, dan tidak bertawakal dalam seluruh urusannya kecuali kepada Allah. Akan tetapi, cobalah Anda menengok keluarga kita, betapa banyak persoalan yang muncul dalam keluarga, disebabkan karena sang ibu atau sang istri takut terhadap kefakiran, atau takut kepada selain Allah-subhanahu wa ta’ala-.

Ya, jika keluarga terdidik di atas pondasi aqidah tauhid, niscaya akan senantiasa bergantung kepada Allah, sehingga kehidupan akan berjalan dengan lurus. Keluarga akan tidur sementara dia merasa lega, tidak takut akan adanya ‘ain (pandangan mata jahat) kecuali dengan izin Allah. Tidak takut akan adanya gangguan jin melainkan dengan izin Allah. Tidak takut akan adanya gangguan makhluk melainkan hal itu terjadi dengan izin Allah. Maka, bila keluarga telah bergantung dengan hal ini, niscaya keluarga benar-benar menjadi keluarga yang tenang dan lapang dada.

Kemudian, setelah itu, juga akan menjauhkan keluarga dari bergantung dan berhubungan dengan hal-hal yang syirik yang akan banyak menimbulkan kegelisahan dan kerisauan jiwa. Karena, sebagian keluarga itu ketika lemah pemahamannya terhadap akidah tauhid dan konsekuensi-konsekuensinya, dan wajibnya menjauhkan diri dari kesyirikan dan segala macam dan bentuknya, mulailah terjatuh ke dalam hal-hal kesyirikan, terjatuh ke dalam berbagai bentuk ruqyah dan tamimah yang diharamkan. Tamimah-tamimah yang haram ini yang telah valid dari nabi akan terlarangnya, jika terdapat di tengah-tengah keluarga, akan mengubah keluarga menjadi keluarga yang carut marut. Maka Anda akan mendapati sang ibu selalu saja mengkhawatirkan terhadap anaknya, sehingga hal itu mendorongnya untuk mengalungkan jimat-jimat, ia takut anaknya akan terkena ‘Ain, dan boleh jadi ia mengkhayalkan bahwa anaknya sakit, sehingga ia pun dirundung stres, dan ia pun mondar mandir ke beberapa rumah sakit, ia menjadikan suaminya stres dan menjadikan keluarganya stres pula. Padahal anaknya tidak terkena apa-apa. Namun, ibunyalah yang bermasalah karena kelemahan iman dan akidahnya.
Kemudian, setelah itu, juga akan menjauhkan keluarga ini dari terjatuh ke dalam berbagai bentuk kesyirikan yang kecil dan kesyirikan yang besar, yang akan dapat menghapuskan amal, sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. (An-Nisā’ [4]:48)
Wahai saudaraku sekalian …

Sesungguhnya mendidik keluarga di atas akidah tauhid ini akan menjadikan kecintaan Allah sebagai sebuah prioritas utama yang lebih dikedepankan atas kecintaan kepada selain-Nya, meskipun selain-Nya tersebut adalah suami atau istrinya.
Ketika kecintaan terhadap Allah bertolak belakang dengan kecintaan kepada istri atau suami, atau bertolak belakang dengan kecintaan kepada anak atau orang tua, maka manakah yang akan diprioritaskan oleh orang yang memiliki akidah yang jernih ? Manakah kiranya antara kedua hal ini yang akan diprioritaskan oleh orang yang telah tertanam di dalam dirinya akidah yang selamat ini ?
Namun, sungguh di antara hal yang dapat disaksikan -dan patut disayangkan- adalah bahwa pada galibnya yang terjadi di banyak keluarga adalah kecondongan cinta seorang suami atau istri tidak jarang mengantarkan seseorang kepada keburukan. Maka, boleh jadi Anda mendapatkan seorang wanita yang beriman kepada Allah, namun boleh jadi ia telah menikah dan sedemikian mencintai suaminya-terlebih ketika telah dikaruniai anak-ia lebih memprioritaskan cinta kepada suami dan anak-anak atas kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya. Bisa jadi pula, kadang Anda mendapati suami wanita ini seorang zindik, bisa jadi ia banyak melakukan penyimpangan, bisa jadi dalam bentuk mengolok-olok agama Allah, atau suaminya tersebut tidak melaksanakan shalat, atau hal-hal lainnya yang merupakan perkara yang dapat membatalkan keislaman seseorang Anda mendapati terjadi pada orang tersebut, sedangkan Anda dapati sang istrinya ini telah sedemikian menundukkan kepalanya kepada suaminya tersebut, sedangkan ia tidak menundukkan kepalanya kepada Dzat yang Esa, Dzat yang Maha Perkasa, maka ia tetap bertahan hidup di samping suaminya tersebut.




Demikian pula, seorang suami, boleh jadi di sisinya ada seorang wanita sebagai istrinya yang tidak mengerjakan shalat, namun tetap saja ia mempertahankannya di sisinya. Ia tidak mengedepankan kecintaan kepada Allah atas kecintaan kepada makhluk meskipun ia adalah orang yang paling dekat hubungannya dengan dirinya.
Wahai saudaraku sekalian…!

Sesungguhnya kecintaan kepada Allah semata dan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam hal tersebut merupakan pondasi aturan keluarga, karena kesempurnaan kecintaan itu akan terwujud dengan beribadah kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ

Di antara manusia ada yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi-Nya) yang mereka cintai seperti mencintai Allah. (al-Baqarah : 165)
Maka, bila kecintaan kepada selain Allah lebih dikedepankan atas kecintaan kepada Allah sesungguhnya ini termasuk syirik besar. Sementara konsekwensi terbesar dari kecintaan kepada Allah adalah mentaati Allah dan mengikuti rasul-Nya,
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Āli ‘Imrān : 31)

Maka, kecintaan kepada Allah berkonsekuensi mendahulukan kecintaan kepada Allah dan mentaati Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam-atas ketaatan kepada makhluk meskipun ia adalah manusia yang paling dekat hubungannya dengan Anda, meskipun ia sebagai seorang ayah atau ibu, meskipun ia sebagai seorang suami atau istri, atau pun yang lainnya.
Inilah pondasi akidah tauhid. Maka, ketika akidah ini jernih dan selamat, akan menumbuh kembangkan keluarga dengan baik dan menjadi susunan yang benar.
Wallahu A’lam
Amar Abdullah bin Syakir
Sumber :
Aqidatu at-Tauhid Asasu al-Usrati Wa Qawamuha, Abdurrahman bin Shaleh al-Hamud, 1/6.

Continue Reading

Keluarga

Tidak Adil Di Antara Anak

Published

on

Sebagian orang tua ada yang sengaja memberikan perlakuan khusus dan istimewa kepada sebagian anaknya. Anak-anak itu diberikan berbagai macam pemberian, sedang anak yang lainnya tidak mendapatkan pemberian.

Menurut pendapat yang kuat, tindakan semacam itu hukumnya haram, jika tidak ada alasan yang membolehkannya. Misalnya, anak tersebut memang dalam kondisi yang berbeda dengan anak-anak yang lain. Seperti sedang sakit, dililit banyak utang sehingga tak mampu membayar, tidak mendapat pekerjaan, memiliki keluarga besar, sedang menuntut ilmu atau karena ia hafal Al-Qur’an sehingga diberikan hadiah khusus oleh sang ayah.((Secara umum, hal ini dibolehkan manakala masih dalam hal memberi nafkah kepada anak yang lemah, sedang sang ayah mampu, Ibnu Baz).)










Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –bersabda,

اَلْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Kata-kata yang baik adalah sedekah.” (Muttafaq ‘Alaih)




Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Az-Zaujan Fi Khaimah as-Sa’adah Maharat wa Wasa-il, Abdurrahman bin Abdullah al-Qar’awi, hal. 100-101

Continue Reading

Trending