Jangan Cela Sahabat Nabi!

Umar.jpg

Sebuah buku pelajaran atau lembar kerja siswa (LKS) Pendidikan Agama Islam (PAI) berjudul Sejarah Kebudayaan Islam di halaman 12 memuat gambar hewan babi. Namun, gambar itu dipakai untuk memuat nama salah seorang sahabat Nabi Muhammad, Umar bin Khattab.

Tambah pula, gambar itu diletakkan dalam konteks pengajaran silsilah keluarga Umar bin Khattab. Padahal, Umar termasuk Khulafaur Rasyidin.

Buku yang diperuntukan bagi anak-anak sekolah kelas X SMP/MTs itu sementara beredar di Jambi. Adapun buku itu ditulis oleh Dr. Fattah Syukur M.Ag dan diterbitkan oleh Penerbit Rahma Media Pustaka, di Semarang, Jawa Tengah. Buku ini juga dimaksudkan sebagai lembar kerja siswa. (Rebuplika.co.id)

Siapakah sahabat Rasulullah itu?

Mereka adalah orang-orang terdekat nabi, orang-orang yang menolong Rasulullah, berjihad bersamanya, dan merasakan kesulitan bersama beliau hingga datang pertolongan Allah. Mereka juga membantu beliau menyebarkan tauhid dan risalah Islam. Setelah Rasulullah wafat, mereka meneruskan dakwah tersebut.

Mereka beriman dan berjihad dengan jiwa dan harta mereka, merekalah orang-orang yang ridha kepada Allah dan Allah pun meridhai mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun memuji para sahabatnya dalam sabdanya,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang segenerasi denganku, kemudian yang setelah mereka, dan kemudian yang setelah mereka.”

Prinsip ahlussunnah waljama’ah adalah ridha kepada mereka, karena Allahpun ridha kepada mereka. Allah ta’ala berfirman,

وَٱلسَّـٰبِقُونَ ٱلاْوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَـٰجِرِينَ وَٱلأَنْصَـٰرِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّـٰتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا ٱلأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَداً ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat sayang dan cintai kepada sahabatnya, beliau berpesan melalui sabdanya,

“Jangan kalian mencela sahabatku, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud maka tidaklah menyamai 1 mud mereka atau setengahnya.” (HR. Bukhari, no. 3470 dan Muslim, no. 2540).

Larangan Mencela Sahabat

Dalam Islam, mencela sahabat adalah perkara yang sangat diharamkan, berikut dalil-dalil tentang masalah tersebut:

Allah telah meridhai mereka. Sehingga, bila mencela mereka, berarti menunjukkan ketidakridhaan kepada mereka. Demikian ini bertentangan dengan firman Allah :

لَّقَدْ رَضِىَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَافِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَة عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sungguh Allah telah meridhai kaum mukminin ketika mereka memba’iatmu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al Fath: 18)

Orang yang mencela sahabat, ia akan terkena ancaman laknat Allah, para malaikat bahkan seluruh manusia akan melaknatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ سَبَّ أَصْحَابِي، فَعَلَيْهِ لَعْنَـةُ اللهِ، وَالْـمَلَائِكَةِ، وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Barang siapa mencela sahabatku, atasnya laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya.” (HR. Thabarani dalam Mu’jamul Kabir, 12:142 dihasankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ahadis Ash-Shahihah, no.2340).

Larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Abu Sa’i,.

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya.” (HR. Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2540)

Bahkan sudah menjadi kesepakatan Ahlu Sunnah Wal Jamaa’ah, sebagaimana dinyatakan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (13/34): ‘Ahlu Sunnah Wal Jama’ah telah bersepakat atas kewajiban tidak mencela seorangpun dari para sahabat.[9]

Al-Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Termasuk hujjah (argumentasi) yang jelas adalah menyebut kebaikan-kebaikan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seluruhnya, dan menahan lisan dari membicarakan keburukan mereka dan perselisihan yang terjadi di antara mereka. Siapa saja yang mencela para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau salah satu di antara mereka, mencacat dan mencela mereka, membongkar aib mereka atau salah satu dari mereka maka dia adalah mubtadi (bukanlah ahlussunnah), rafidhi (Syi’ah) yang berpemikiran menyimpang. Mencintai para sahabat adalah sunah, mendoakan kebaikan untuk mereka adalah amalan ketaatan, meneladani mereka adalah perantara (ridha-Nya), mengikuti jejak mereka adalah kemuliaan. Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia terbaik, tidak dibenarkan bagi seorang pun menyebut-menyebut kejelekan mereka, tidak pula mencacat atau mencela dan membicarakan aib salah satu di antara mereka.”

Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk senantiasa berada di atas sunnah-sunnah Rasulullah dan para sahabatnya, serta menjauhkan kita dari perilaku keji seperti yang telah disebutkan di atas. Amiin. Wallahu a’lam.


Penyusun : Imam Jamal Sodik, S.Pd.I

Artikel : www.hisbah.net

Gabung Juga Menjadi Fans Kami Di Facebook Hisbah.net

712 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: