Jangan Kau Makan Daging Saudaramu!

JANGAN-KAU-MAKAN-DAGING-SAUDARAMU.jpg

Sungguh orang-orang beriman adalah bersaudara, satu mukmin dengan mukmin lain bagaikan sebuah bangunan yang saling menopang. Sedangkan ghibah (mengunjing) dan namimah (mengadu domba) merupakan dua penyakit yang akan merusak bangunan ukhuwah yang indah ini, yang akan merobohkan bangunan umat, merobek-robek kebersamaan, melahirkan persaingan hidup serta kebencian, dan juga akan merubah 4 kehidupan bermasyarakat menjadi kubangan api yang membakar dedaunan hijau dan kering.

Kalau demikian jelek efeknya, lantas bagaimana kiranya dengan sebagian orang diantara kita yang masih merasa santai, menganggap baik penyakit akut tersebut, serta senang tanpa merasa sungkan untuk duduk berada dimeja hidangan yang menghadirkan ghibah dan namimah.

Sungguh dalam ghibah dan namimah merupakan perilaku akhlak yang buruk yang akan memecah belah persatuan umat serta merobohkan bangunan umat nan kuat. Sedangkan, definisi ghibah adalah engkau menyebut-yebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci baik dengan ucapan, isyarat, ejekan, atau dalam bentuk tulisan. Hukumnya adalah haram dalam agama, dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla secara tegas menegaskan dalam firman – Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS al-Hujuraat: 12).

 

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

( كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه )

“Setiap muslim atas muslim yang lain adalah haram darah, harta dan kehormatannya”. HR Muslim no: 2564.

 

Adapun definisi namimah adalah orang yang memindah isi pembicaraan orang ke tengah-tengah orang dengan tujuan ingin merusak hubungan mereka. Dan hukumnya juga sama 7 dengan ghibah yaitu haram didalam syari’at Allah azza wa jalla. sebagaimana dijelaskan dalam firman -Nya:

(وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ) (هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ)

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah”. (QS al-Qolam: 10-11).

 

Sedangkan Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam lebih tegas lagi dalam hal ini, beliau bersabda:

( لا يدخل الجنة النمام )

“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba”. HR Bukhari no: 6056. Muslim no: 105.

Ketahuilah tidak ada yang lebih berbahaya dari pada berlebihan dalam berbicara, betapa banyak dosa yang dihasilkan oleh lisan, dan betapa besar hukuman bagi pelakunya di sisi Allah Subhanahu wata’alla Rabb semesta alam.

Sungguh berlebihan dalam berbicara seperti ghibah dan namimah, dusta dan bohong, mengejek dan mengolok-olok, semuanya adalah penghancur yang akan menjerumuskan pelakunya kedalam neraka.

Tidakkah kita merasa malu apabila catatan amal kita kelak dibagikan kemudian kita mendapati catatan terbanyak hanya pada menukil ucapan orang katanya dan katanya, atau yang semisalnya dari ucapan-ucapan yang berlebihan yang bukan 9 termasuk perkara agama maupun membawa kebaikan pada perkara dunia?. Sedangkan Allah ta’ala menegur kita dalam firman -Nya:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS al-Israa’: 36).

 

Hati, lisan dan anggota badan seluruhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla ciptakan untuk para hamba -Nya, oleh karena itu jangan engkau sibukkan untuk selain ketaatan kepada – Nya, dari ucapan maupun amal sholeh, hati yang engkau miliki, gunakanlah untuk beriman serta mentauhidkan -Nya, lisan yang kita punya gunakanlah untuk berdzikir, memuji, serta mengagungkan Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan digunakan untuk berdakwah kepada -Nya, serta mengajari orang tentang syari’at -Nya.

Melepas pembicaraan adalah perkara yang tidak ada batasnya, namun yang terpenting ialah digunakan untuk membaca kitab Allah Shubhanahu wa ta’alla, yang menegaskan dalam firman -Nya:

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

 

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”. (QS an-Nisaa’: 114).

 

Akhirnya kita memohon kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, Ya Allah berilah kami petunjuk untuk menetapi budi pekerti yang paling baik, beretika didalam ucapan dan perbuatan, sesungguhnya tidak ada yang mampu memberi petunjuk melainkan Dirimu.

Diringkas dari terjemahan makalah Syaikh Muhammad bin Ibrahim At Tuwaijiri yang berjudul Al Ghibah wa An Namimah.

Sumber : islamhouse.com/

673 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: