Jangan Larang Istri Anda Shalat di Masjid !

Jangan-Larang-Istri-Anda-Shalat-di-Masjid-.jpg

Dari Ibnu Umar –semoga Allah meridhainya- ia berkata, Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “ Janganlah kalian melarang istri-istri kalian (mendatangi) masjid-masjid, sekalipun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mareka”. Seorang anak lelaki berkata kepada Abdullah bin Umar : Tentu, demi Allah, kami pasti akan melarang mereka. Maka, Ibnu Umar berkata, “engkau mendengar apa yang aku katakan dari Rasullullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- sementara engkau katakan apa yang engkau katakan?!

(HR. Ibnu Khuzaemah. Diriwayatkan pula oleh imam Abu Dawud, 1/271, hadis no. 567, Ahmad, 2/76. Al-Albani menshohihkannya dengan penguat-penguatnya, sebagaimana disebutkan dalam ta’liqnya terhadap shahih Ibni Khuzaemah, 3/92)

Ihtisab di dalam Hadis

Dalam hadis ini terdapat banyak faedah dan pelajaran yang dapat dipetik yang terkait dengan masalah amar ma’ruf nahi munkar, di antaranya yang terangkum dalam  beberapa poin berikut ini :

1. Pengingkaran terhadap orang yang menentang sunnah Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- dengan akalnya.

2. Orang Tua hendaknya beramar ma’ruf Nahi Munkar terhadap anaknya dan mendidiknya-meskipun si anak telah dewasa- bila mana ia berbicara hal yang tidak sepatutnya.

3. Peneladanan orang-orang yang beramar ma’ruf nahi munkar terhadap para sahabat terkait dengan tindakan berhenti pada nas-nas syar’i, serta mengingatkan orang lain dengan penuh hikmah dan gaya yang baik.

Penjelasan :

Pengingkaran terhadap orang yang menentang sunnah Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- dengan akalnya.

Sungguh, setiap kebaikan dan keberuntungan tidak akan diraih kecuali dengan melaksanakan perintah-perintah yang terdapat dalam nash-nash al-Qur’an dan Sunnah. Tidaklah Nabi meninggalkan sebuah kebaikan melainkan beliau telah menunjukkan kita kepadanya dan tidaklah pula meninggalkan keburukan melainkan beliau telah memberikan peringatan kepada kita darinya, Allah ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu (Qs. Al-Maidah : 3)

Oleh karena itu, tidak boleh sama sekali menganggap baik sesuatu yang menyelisihi nash-nash kitab dan sunnah, sekalipun seseorang mengira atau meyakini dengan akalnya bahwa hal tersebut ada kebaikan di dalamnya. Karena, kita telah dicukupkan (dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya), segala puji bagi Allah.

Hendaknya seorang muslim berusaha untuk melaksanakan perintah-perintah syari’at, tidak mengkiaskan masalah dengan akalnya. Hendaknya ia beradab dengan baik dalam menyikapi nas-nas syariat ini. Dan, seorang muhtasib hendaknya mengingkari orang yang dilihatnya berpaling dari nas-nas kitab dan sunnah dengan akalnya, yang mengatakan kata-kata salah (bertentangan dengan nas) dengan lisannya, oleh karena bahayanya persoalan ini.

Inilah dia Abdullah bin Umar, beliau mengingkari perkataan anaknya yang berpaling dari sunnah Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- seraya mengatakan kepada anaknya, “engkau mendengar apa yang aku katakan dari Rasullullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- sementara engkau katakan apa yang engkau katakan ?! “ . Dalam sebagian riwayat, disebutkan bahwa Ibnu Umar berkata cukup keras kepada anaknya. Disebutkan dengan ungkapan, “ menghardiknya” (HR. Muslm,4/383, hadis no. 991). Dalam riwayat lain, dikatakan, (oleh perowi), “maka ibnu umar mencercanya dengan cercaan yang belum pernah aku melihat seseorang melakukannya”. (HR. Ad-Darimi, 1/117). Dalam riwayat lain, dikatakan, “ maka ibnu umar memukul dada anaknya”  (HR. Muslm,4/383, hadis no. 993). Maka dari itu, orang yang ingin memberikan arahan terhadap perkataan pembuat syariat kepada makna yang diinginkannya hendaknya hal tersebut dilakukan dengan penuh adab dan penghormatan serta kebaikan dalam memberikan arahannya. (Taisir al-Allam, Abdullah al-Bassam, 1/137)

Orang Tua hendaknya beramar ma’ruf Nahi Munkar terhadap anaknya dan mendidiknya-meskipun si anak telah dewasa- bila mana ia berbicara hal yang tidak sepatutnya

Seorang muslim-terlebih seorang muhtasib- wajib mendidik atau memberikan pengajaran tentang adab terhadap anak-anaknya, memerintahkan mereka untuk melakukan kebaikan dan mencegah mereka dari melakukan kemunkaran, menanamkan di lubuk hati mereka kecintaan terhadap sunnah, melaksanakan perintah syariat, beradab terhadap syariat-syariat tersebut.

Tidak mengapa dalam melakukan pengingkaran terhadap anaknya sampai pada tingkatakn memberikan hukuman bila mana persoalannya terkait dengan penolakan terhadap nas-nas syariat. Dengan memperhatikan situasi dan kondisi tentunya. Jika sang anak tidak memaksudkan dengan ucapannya menok syariat, maka tentu cara pengingkarannya berbeda.

Yang bisa jadi difahami dari perkataan anak Abdullah bin Umar adalah bahwa kemungkinan karena ia berpandangan bahwa zaman telah berubah tidak seperti zaman Nabi, di mana di zaman di mana ia tengah hidup kaum wanita sudah sedemikian bebas di dalam berhias dan berpakaian. Maka, kondisi inilah yang kemudian mendorong kecemburuan dirinya untuk menjaga kehormatan kaum wanita, hingga ia mengatakan- tanpa bermaksud menolak syariat- “ Demi Allah, kami akan mencegah mereka (untuk shalat si masjid”. Namun, sang ayah (barang kali) memahami ungkapan kata anaknya tersebut sebagai bentuk penolakan terhadap sunnah Nabi-shallallahu ‘alaihi wasalam- sehingga hal tersebut mendorong beliau marah karena Allah dan RasulNya, beliau menghardik anaknya dengan hardikan yang cukup keras. (Taisir al-Allam, Abdullah al-Bassam, 1/137)

Peneladanan orang-orang yang beramar ma’ruf nahi munkar terhadap para sahabat terkait dengan tindakan berhenti pada nas-nas syar’i, serta mengingatkan orang lain dengan penuh hikmah dan gaya yang baik.

Sungguh, hendaknya seorang muhtasib meneladani para sahabat Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hal kesemangatan untuk berpegang teguh dengan perintah-perintah syariat dan mempraktekkan hal tersebut secara nyata. Demikian pula dalam hal upaya meluruskan kesalahan setiap orang yang menyelisihi nas-nas syar’i dengan akalnya, baik hal tersebut dilakukan dengan kesengajaan maupun tidak. Yang demikian itu dilakukan sebagai bentuk pembelaan terhadap agama yang mulia ini dan bentuk penjagaannya, serta sebagai tanda kecemburuan dirinya terhadap agamanya. Namun, tentunya hal tersebut dilakukan dalam koridor petunjuk islam dalam hal tersebut.

Dan hendaknya pula seorang muhtasib menjadikan kemarahannya karena Allah dan karena Rasul-Nya, bukan karena ia membela dirinya, bukan karena orang lain menyelisihi dirinya , atau karena orang yang ditegur tidak lekas melaksanakan perintahnya atau tidak lekas meninggalkan larangannya. Hendaknya kemarahannya seperti halnya kemarahan Abdullah bin Umar, ia marah kepada anaknya karena Allah, karena anaknya menyelisihi petunjuk Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Karena, boleh jadi atau bahkan sering kali seorang muhtasib berhadapan dengan orang yang menentangnya, atau mencelanya, atau enggan untuk menerima kebenaran yang disampaikannya, dan yang lainnya. Maka, dalam kondisi ini hendaknya ia tidak marah karena dirinya sehingga ia segera saja membalas orang tersebut dengan tindakan yang serupa. Namun, hendaknya ia membela dan marah karena Allah dan RasulNya. Inilah yang menjadi kebiasaan para sahabat Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam-, mereka marah karena Allah dan RasulNya. Demikian juga, hendaknya ia menghiasi kesemuanya itu dengan timbangan syariat dan hikmah yang diperintahkan, tidak melampaui batas-batasan yang telah ditentukan dan tidak pula menyimpang dari adab-adab yang harus diperhatikan.

Wallahu a’lam

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

al-Ihtisab Fii Shahih Ibni Khuzaemah”, karya : Abdul Wahab bin Muhammad bin Fayi’ ‘Usairiy, hal. 59-62 dengan ringkasan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: