Cara Bertaubat Dari Dosa Gibah

ghibah.jpg

Ghibah

Sebelumnya kami telah kami paparkan yang kami petik dari kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi tentang bahaya ghibah, dalil keharamannya dan keharaman mendengarkannya, serta hukuman bagi pelakunya pada artikel: Jangan Makan Daging Saudaramu! (Bagian 1), kemudian kami paparkan perkataan Imam Nawawi tentang macam-macam ghibah yang dibolehkan pada artikel: Jangan Makan Daging Saudaramu! (Bagian 2). Kali ini kami akan membahas bagaimana cara bertaubat dari ghibah agar kita selamat dari segala ancaman Allah kepada pelaku ghibah dan bagaimana cara membentengi diri kita agar tidak terjerumus kedalam perbuatan ghibah.

Harus diketahui bahwa siapa saja yang terjerumus kedalam suatu kemaksiatan maka wajib baginya untuk bertaubat. Taubat memiliki 3 syarat sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama yaitu;

  1. Berhenti melakukan maksiat waktu itu juga,
  2. Menyesal terhadap perbuatannya,
  3. Dan bertekad kuat untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat tersebut. Dan jika maksiat tersebut berhubungan dengan manusia maka ditambah dengan syarat keempat yaitu mengembalikan hak orang yang didzolimi atau meminta keridhoannya.

Ghibah adalah

salah satu bentuk kezholiman terhadap orang lain, sehingga bagi orang yang telah mengghibah orang lain dan ia ingin bertaubat ia harus memenuhi empat syarat diatas, karena ghibah berhubungan dengan manusia, dan ia harus meminta kehalalan atau keridhoannya agar terbebas dari dosa ghibah. Cukupkah dengan mengucapkan, “maafkanlah saya karena saya telah menggunjing anda”? Ataukah ia harus menjelaskan kepada orang yang ia gunjing tentang gunjingan apa yang dikatakan? Ada dua pendapat dalam madzhab syafii.

Yang pertama mensyaratkan untuk menyebutkan perkara apa yang ia gunjingkan, misalnya ia mengatakan, “saya memohon maaf karena telah mengatakan kamu begini dan begitu,” dalam pendapat pertama ini jika ia tidak menjelaskan perkara apa yang ia gunjingkan maka permintaan maafnya tidak diterima, sama halnya jika ia meminta kehalalan atas harta yang tidak diketahui dari orang yang ia ambil hartanya.

Sedangkan Pendapat kedua mengatakan tidak harus ia menjelaskannya selama orang yang bersangkutan memaafkannya, karena masalah yang bisa selesai dengan dimaafkan tidak disyaratkan untuk diketahui detailnya berbeda halnya dengan harta. Imam Nawawi menguatkan pendapat pertama, alasannya karena mungkin saja seseorang bisa memaafkan jika digunjing dalam suatu perkara dan ia tidak bisa memaafkan dalam perkara lain, biasanya yang bersangkutan dengan harga diri.

Bagaimana jika orang yang dighibah sudah meninggal?

Otomatis tidak akan bisa diminta keridhoannya? Ulama berkata bahwa ia harus banyak-banyak mendoakan dan memohonkan ampunan bagi orang yang ia ghibah, serta memperbanyak amalan baik.

Sangat dianjurkan bagi orang yang digunjing untuk memaafkan orang yang telah menggunjingnya walaupun itu tidak wajib karena itu adalah haknya, tetapi sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi bahwa hukum memaafkannya adalah sunah muakkadah yang dengan memaafkannya ia berarti telah membebaskan saudaranya sesama muslim dari dosa ghibah, dan ia akan mendapatkan pahala yang besar dan kecintaan Allah ta’ala. Allah berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٣٤)

“Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 133-134)

Diantara cara untuk mengobati rasa sakit hati terhadap gunjingan orang lain pada kita sehingga membuat hati kita lembut dan bisa memaafkan orang yang telah menggunjing kita adalah dengan menyadari bahwasanya hal ini sudah berlalu dan tidak mungkin terulang lagi sehingga sangat disayangkan jika kita melewatkan kesempatan untuk mendapatkan pahala yang besar dari Allah ‘azza wajalla dengan memaafkan saudara sesama muslim sekaligus menyelamatkannya dari adzab Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَاللَّهُ في عَوْنِ العَبْدِ ما كَانَ العَبْدُ في عَوْنِ أخيهِ‏

“Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya” (HR. Muslim)

Dipetik dari Kitab “Al-Adzkar” karangan Imam Nawawi bab ‘Kaffarah Ghibah’.

Penyusun : Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

612 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: