Jangan Menimbun Kebutuhan Penting Di Saat Wabah Melanda!

­Islam memang tidak membatasi berapa persen seorang pedagang boleh mengambil keuntungan, boleh berapapun selama pembeli setuju, selama tidak melampaui harga normal, atau terlalu murah dari batas harga yang disepakati pasar karena akan merusak persaingan.

Namun, ada satu hal lain yang sangat tercela yaitu menimbun kebutuhan penting, seperti pangan dan alat-alat medis pada saat musim wabah seperti ini.

­Yang mana pedagang menimbun stok yang ada sehingga terjadi kelangkaan pasokan, kemudian menyebabkan naiknya harga barang tersebut. Dan pada saat harga barang tersebut telah melambung, barulah dia menjual barang-barangnya, dan mendapatkan keuntungan yang berkali-kali lipat dari waktu biasa. Cara mendapatkan keuntungan seperti ini tidak boleh.


­Bagi yang mengerjakan demikian, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

عَنْ مَعْمَرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم. قَالَ: لاَ يَحْتَكِرُ إِلاَّ خَاطِئٌ

­Dari Ma’mar bin Abdullah; Rasulullah bersabda, “Tidaklah seseorang melakukan penimbunan melainkan dia adalah pendosa.” (HR Muslim)

­Dan dia termasuk ke golongan orang-orang yang memakan harta secara batil, Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

­“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS Annisaa:29)

­Dan secara hukum, orang-orang yang menimbun barang dapat dijerat Pasal 107 UU 7/2014, yang berbunyi:

­Pelaku Usaha yang menyimpan Barang kebutuhan pokok dan/atau Barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat terjadi kelangkaan Barang, gejolak harga, dan/atau hambatan lalu lintas Perdagangan Barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah).

­Maka hendaklah seorang pedagang bertakwa kepada Allah Ta’ala, justru seharusnya membantu sesama pada saat-saat sulit seperti ini, bukan malah mencari keuntungan pribadi.

­Dan bagi kaum muslimin yang melihat praktik ini, dapat melaporkannya kepada pihak yang berwajib, karena ini merupan sebuah kemungkaran, dan kita wajib amar ma’ruf nahi munkar sebisa mungkin.

­Semoga Allah Ta’ala segera mengangkat wabah ini, agar kita semua dapat beribadah di bulan Ramadhan dengan khusyuk dan tenang.

 

 

­Muhammad Hadrami

­Alumni Fakultas Syariah LIPIA JAKARTA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *