Jauhkan Dirimu dari Sifat Adu Domba!

Jauhkan-Dirimu-dari-Sifat-Adu-Domba.jpg

Lisan adalah anggota tubuh yang tak bertulang, namun ia memiliki dampak yang sangat besar bagi manusia. Ia dapat menjadikan seseorang terhormat dan dicintai, namun ia juga dapat menjadikan seseorang hina dan dibenci.

Allah menciptakan manusia dengan dua telinga dan satu lidah agar manusia lebih banyak mendengar dari pada bebicara, dan berfikir sebelum berkata-kata. Setiap yang keluar dari lidah kita akan dicatat oleh malaikat dan akan dipertanggungjawabkan nanti di akhirat,  Allah berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18)

Oleh karena itu salah seorang ulama mengatakan, “Ketika engkau berbicara sebenarnya engkau sedang mendikte malaikat yang mencatat perkataanmu, maka waspadalah selalu agar tidak keluar dari mulutmu kecuali yang baik-baik.”

Pada artikel-artikel sebelumnya kami sudah membahas salah satu maksiat lidah yang seringkali tidak disadari oleh pelakunya yaitu ghibah, kali ini kami akan membahas maksiat lidah yang tidak kalah tersebar dikalangan masyarakat seperti ghibah, yaitu namimah.

Apakah yang dimaksud dengan Namimah?

Para ulama mendefinisikan Namimah dengan lafadz yang berbeda-beda, namun maknanya secara global sama.

Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan bahwa namimah adalah mengutip suatu perkataan dengan tujuan untuk mengadu domba antara seseorang dengan si pembicara.

An-Nawawi rahimahullah dalam kitab Al-Adzkar menjelaskan tentang namimah yaitu “Mengutip perkataan sebagian orang kepada sebagian yang lain dengan tujuan merusak (hubungan antara mereka).”

Dengan kata lain “Namimah” adalah mengadu domba, misalnya mengatakan, “Saya pernah mendengar si fulan bilang kalau kamu begini dan begitu…” jika kata-kata seperti itu atau semacamnya terucap, maka sadar atau tidak, orang yang mengatakannya telah melakukan namimah yang dilarang oleh agama.

Hukum Namimah

Ulama telah ijma’ akan haramnya Namimah, banyak sekali nash-nash baik dari Al-Qur’an maupun hadits yang menunjukkan akan keharamannya.

Dari Sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

Tidak masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (Muttafaq Alaih)

Perkataan “Tidak akan masuk surga…” sebagaimana disebutkan dalam hadist di atas bukan berarti bahwa pelaku namimah itu kekal di neraka. Maksudnya adalah ia tidak bisa langsung masuk surga. Inilah madzhab Ahlu Sunnah wal Jama’ah untuk tidak mengkafirkan seorang muslim karena dosa besar yang dilakukannya selama ia tidak menghalalkannya.

Dalam hadits lain Ibnu Abbas meriwayatkan, “(Suatu hari) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati dua kuburan lalu berkata, lalu bersabda, “Sesungguhnya penghuni kedua kubur ini sedang diadzab, dan keduanya bukanlah diadzab karena perkara yang berat untuk ditinggalkan. Yang pertama, tidak membersihkan diri dari air kencingnya. Sedang yang kedua, berjalan kesana kemari menyebarkan namimah.” (HR. Al-Bukhari)

Namimah adalah suatu perbuatan yang sangat tercela, ia dapat menimbulkan permusuhan antara seorang teman dengan temannya yang lain bahkan saudara dengan saudaranya yang lain, dan itu semua disebabkan oleh lidah. Oleh  karena itu, Nabi shallallahu alaihi wasallam menjamin surga bagi orang yang bisa menjaga mulut dan kemaluannya, Nabi bersabda :

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada di antara kedua dagunya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan/farji), maka aku akan menjamin untuknya surga.” (HR. Al-Bukhari)

Semoga kita semua diberi taufiq dan kekokohan iman oleh Allah subhanahu wata’ala untuk selalu menjaga lisan dan seluruh anggota tubuh kita lainnya dari perbuatan yang tidak didhoiNya.

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan seluruh keluarga serta pengikutnya samapai hari akhir.

Disusun dari berbagai sumber.

Penyusun : Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

1,416 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: