Kebaikan Ummat ‘Tergadaikan’ dengan Penegakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

lelah-1.jpg

Allah ta’ala berfirman,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu (Ummat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik (Qs. Ali Imran : 110)

  • Faedah dan Pelajaran :

Di antara faedah yang dapat diambil dari ayat ini adalah bahwa ayat ini menunjukkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar merupakan sebab kebaikan ummat ini, hal tersebut merupakan pilar ummat ini, dan tidak ada kebaikan dan kemaslahatan bagi mereka melainkan dengan cara mereka menegakan haknya. Maka, ummat ini menjadi baik dengan amar ma’ruf nahi munkar dan akan rusak karena meninggalkannya. Maka, amar ma’ruf nahi munkar merupakan benteng ummat ini.

Oleh karenanya, Ibnu Mas’ud-semoga Allah meridhainya- mengatakan :

هَلَكَ مَنْ لَمْ يَعْرِفْ الْمَعْرُوْفَ, وَيُنْكِرْ الْمُنْكَرَ بِالْقَلْبِ

Binasalah siapa orangnya yang tidak mengenal perkara yang ma’ruf dan (tidak pula) mengingkari kemungkaran dengan hati(nya). (Syu’ab al-Iman, 6/95, 7588 dan Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 8/667)

Beliau-semoga Allah meridhainya- mengisyaratkan kepada bahwa pengetahuan tentang hal yang ma’ruf dan pengingkaran kemungkaran dengan hati merupakan perkara wajib. Kewajiban tersebut tidak gugur dari siapa pun orangnya. Maka, barang siapa yang tidak mengenal atau tidak mengetahui hal yang ma’ruf niscaya ia binasa, dan kapan seseorang diam tidak melakukan amar ma’ruf nahi mungkar karena ingin mendapatkan ridha manusia dan menarik kecintaan mereka (terhadap dirinya) niscaya orang tersebut lebih parah keadaannya daripada orang yang melakukan kemungkaran.

Oleh karenanya, Ibnul Qayyim –semoga Allah merahmatinya- mengatakan :

Agama bukanlah sekedar meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan. Bahkan, hal itu (meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan) haruslah diiringi dengan perkara-perkara yang dicintai oleh Allah azza wa jalla, seperti amar ma’ruf nahi munkar, berjihad di jalan-Nya, menolong Allah, rasul-Nya, kitab-Nya dan agama-Nya, memberikan nasehat kepada hamba-hamba-Nya ; dan manusia yang paling sedikit kadar agamanya dan yang paling dimurkai Allah di antara mereka adalah siapa yang meninggalkan kewajiban-kewajiban ini, meskipun ia zuhud terhadap kehidupan dunia semuanya. Dan, sangat jarang Anda melihat di antara mereka orang yang memerah wajahnya karena marah karena Allah, murka karena perkara yang diharamkannya dilanggar, mengorbankan kehormatan dirinya dalam menolong agama-Nya…(‘Uddatu ash-Shabirin Wa Dzakhiratu asy-Syakirin, 22/37)

Wallahu A’lam

Sumber :

Banyak mengambil faedah dariWaqafaat Ma-‘a Aayaati al-Hisbah Fii al-Qur’an al-Karim”, karya : Abu Abdirrahman Shadiq bin Muhammad al-Hadiy, hal. 62-63

Amar Abdullah bin Syakir

 

 128 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: