Kegembiraan Allah Dengan Taubat Hambanya

Allah ﷻ berfirman

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung. (Qs. An Nuur : 31)

Masalahnya tidak berhenti sebatas ajakan kepada taubat dan janji diterimanya taubat serta anjuran atasnya, padahal ini saja sudah cukup memotivasi dan mendorong seorang muslim untuk melakukan hal itu. Tetapi (lebih dari itu) Allah mencintai hambanya yang bertaubat dan bergembira dengannya. Termaktub dalam Ash Shahihain dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda

“Allah lebih bergembira dengan taubat hambanya tatkala bertaubat dari pada seorang dari kamu yang berada di atas kendaraannya di padang pasir yang tandus. Kemudian kendaraan itu hilang darinya, padahal di atas kendaraan itu terdapat makanan dan minumannya. Ia sedih kehilangan hal itu, lalu ia menuju pohon dan tidur di bawah naungannya dalam keadaan bersedih terhadap kendaraannya. Saat ia dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba kendaraannya muncul di dekatnya, lalu ia mengambil tali kendalinya. Kemudian ia berkata, kerena sangat bergembira, ‘Ya Allah Eangkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu’. Ia salah ucap karena sangat bergembira” (HR. Al Bukhari, no. 6309; Muslim, no. 2747 dari hadis Anas dan dari hadis Ibnu Mas’ud. Muslim juga meriwayatkannya dari hadis Al Barra dan hadis An Nu’man bin Abasyir ; dan At Tirmidzi dari hadis Abu Hurairah)

Al Allamah Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ berkata

Apa dugaanmu terhadap kekasihmu yang kamu cintai ditawan oleh musuhmu dan ia menghalangi antara kamu dengannya. Padahal kamu tahu bahwa musuh tersebut akan menimpakan kepadanya siksa yang pedih dan memberikan kepadanya berbagai bencana, sedangkan kamu ini lebih pantas bersamanya, karena ia adalah tanamanmu dan didikanmu. Kemudian ia lepas dari musuhmu dan menemuimu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Bukankah itu mengejutkanmu, sementara ia berada di depan pintumu merayumu, meminta kerelaanmu, meminta tolong kepadamu dan menyungkurkan wajahnya di depan pintumu. Bagaimana rasa gembiramu dengannya, padahal kamu mengistimewakannya buat hatimu, kamu merelakannya karena kedekatanmu dan kamu lebih mementingkannya dari pada selainnya?

Demikianlah kenyataannya, padahal bukan anda yang menciptakannya dan mencukupkan nikmatmu kepadanya. Sementara Allah yang menciptakan hambanya dan memberikan kenikmatan kepadanya ; dan Dia senang menyempurnakan nikmatnya itu kepadanya sehingga ia dapat menampakkan nikmatnya, menerimanya, menyukurinya, mencintai pemiliknya, menaatinya dan menyembahnya serta memusuhi musuhnya, membencinya dan tidak mematuhinya (Madarij As Salikin, 1/237-238)

Betapa indahnya kisah yang dikemukakan oleh Ibnul Qayyim dalam Madarij As Salikin, di mana ia berkata

Ini adalah hakekat yang masyhur dari sebagian arifin bahwa ia pernah terusir dari tuannya. Kemudian dia melihat di sebuah jalan ada pintu rumah terbuka. Keluarlah dari pintu itu seorang bocah yang sedang menangis, dan ibunya berada di belakangnya mengusirnya sehingga bocah itu keluar. Sang ibu lalu menutup pintu di hadapannya lantas masuk kembali. Bocah itupun pergi tidak jauh dari rumahnya, kemudian ia berhenti dalam keadaan berpikir. Ia tidak menemukan untuknya tempat tinggal selain rumah yang mana dia diusir darinya. Ia juga tidak menemukan orang yang mengajaknya bermain selain ibunya. Akhirnya ia kembali dengan hati yang menyesal lagi sedih, ternyata ia melihat pintu dalam keadaan tertutup. Kemudian ia berbaring sembari meletakkan pipinya di ondokan pintu lalu tertidur. Ketika ibunya keluar dan melihat si bocah dalam keadaan seperti itu, hatinya merasa iba kepadanya. Diambilnya anak itu dan diciumnya. Ia menangis seraya berkata, “Wahai anakku, kemana kamu mau pergi dariku? Siapakah yang merawatmu selainku? Bukankah aku katakan kepadamu jangan menyelisihiku dan jangan melakukan pelanggaran kepadaku sebagai balasan atas apa yang telah aku berikan kepadamu berupa kasih sayang, belas kasih dan maksud baikku kepadamu?” Kemudian sang ibu mengajaknya masuk.

Renungkanlah perkataan sang ibu: “Jangan melakukan pelanggaran kepadaku sebagai balasan atas apa yang telah aku berikan kepadamu berupa kasih sayang, belas kasih dan maksud baikku kepadamu”

Dan, renungkanlah perkataan Rasulullah ﷺ, “Allah lebih sayang kepada hambanya dari pada seorang ibu kepada anaknya.”

Manakah yang lebih nyata kasih sayang ibu dibandingkan kasih sayang Allah yang meliputi segala sesuatu? Jika seorang hamba membuatnya marah karena bermaksiat kepadanya, berarti mengundang larinya rahmat tersebut darinya. Jika dia bertaubat kepadanya, maka berarti mengundang apa yang layak padanya (rahmat Allah). Ini adalah sekelumit kecil yang memberikan gambaran kepada Anda mengenai kegembiraan Allah terhadap taubat hambanya yang lebih besar dari pada kegembiraan orang yang menemukan kendaraannya di tanah yang tandus setelah putus asa. Dan lain sebagainya yang tidak dapat dicakup oleh kata-kata dan tidak dapat dicapai oleh akal pikiran (Madarij As Salikin, 1/235-236)

Wallahu A’lam

 

Sumber :

Sabil An Najah Min Syu’mi Al Ma’shiyyah, Muhammad bin Abdullah Ad-Duwaisy (ei, hal.36-39)

Amar Abdullah bin Syakir

 

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

❇️ Yuk Donasi Paket Berbuka Puasa Bersama ❇️
Ramadhan 1442 H / 2021 M

📈 TARGET 5000 PORSI
💵 ANGGARAN 1 Porsi Rp 20.000

🔁 Salurkan Donasi Terbaik Anda Melalui

➡ Bank Mandiri Syariah
➡ Kode Bank 451
➡ No Rek 711-330-720-4
➡ A.N : Yayasan Al-Hisbah Bogor
Konfirmasi Transfer via Whatsapp : wa.me/6285798104136

Info Lebih Lanjut 👉 Klik Disini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *