Kelalaian (Serial Kisah Pertaubatan, bag.2)

masjid-6.jpg

­Al-Hasan pernah mengiringi jenazah. Duduklah ia di pinggir kubur seraya berkata, “Sesungguhnya suatu hal yang terbukti ini adalah ujungnya, maka selayaknya tidak terlena di awalnya (dunia). Dan sesungguhnya suatu hal yang terbukti ini adalah awalnya, maka selayaknya dikhawatirkan ujungnya (Kubur).”

­Ya Allah, berilah rahmat kepada kami, ketika kuburan kami telah lenyap dan nama kami tidak pernah disebut lagi. Tak ada lagi yang mengenal kami dan tak seorang pun yang menyebut-nyebut kami. Bahkan, tak seorang pun yang menziarahi kami lagi.

­Ya, Allah, berikanlah rahmat kepada kami, kala keluarga kami memandikan tubuh kami. Ya Allah, berikanlah rahmat kepada kami, kala mereka mengkafani tubuh kami. Ya Allah, berikanlah rahmat kepada kami, kala mereka menggotong kami di atas pundak mereka.

­Kaset itu berputar cepat. Aku mengikuti doa imam dengan penuh perhatian dan kecermatan. Aku mengulangi doa itu untuk kesekian kalinya. Sekali lagi, dan sekali lagi. Setiap doa yang diucapkannya. Segala yang diucapkannya dan menjadi doanya adalah benar adanya. Hidup kita memang akan berakhir.

­Kita akan dimandikan, dikafani, kemudian diletakkan di liang lahat, di dalam tanah. Nama kita akan segera terlupakan.

­Namun suara yang diiringi dengan kekhusyu’an itu membuatku terdiam sesaat. Aku memutar kembali kaset itu untuk ketiga kalinya.

­Saudariku adalah profil seorang dai wanita yang bersungguh-sungguh. Ia telah berusaha mengubah diriku menjadi orang yang selalu memelihara shalat, untuk selalu berbuat taat. Ia berusaha semaksimal mungkin, melalui kata-kata, melalui kaset, dan melalui buku-buku.

­Keesokan harinya, aku keluar rumah dengan santai, tanpa perasaan apa-apa. Dengan asal-asalan aku menekan tombol tape recorder, tanpa ingat kaset apa yang terdapat di dalamnya. Seperti biasanya, aku membayangkan suara lagu yang aku sukai. Akan tetapi sudah menjadi takdir Allah, ternyata yang terdapat dapat tape itu adalah kaset yang kusebutkan di atas. Aku mendengarkannya pada pagi hari, lalu kuulangi lagi pada sore harinya, dan juga sesudah Isya.

­Aku bertanya, “Kaset  apa yang engkau letakkan di sini ?” Suadariku balik bertanya, “Apakah engkau tertarik ?” “Tentu saja.” Jawabku. Tak seperti biasanya, ia menyambut ucapanku dengan suka cita. Ia tampak begitu gembira. Di tangannya terdapat buku, lalu diletakkan di sampingnya. Ia kembali mengulangi pertanyaannya, “Apakah engkau betul-betul tertarik dengan suara dan bacaan imam itu ?” “Sungguh, aku tertarik.” Jawabku lagi.

­Jawabanku itu menjadi pembuka percakapan kami yang panjang. Perbincangan semacam itu berulang beberapa kali.

­Namun kali ini, sungguh jauh berbeda. Di akhir perbincangan, saudariku berkata,

­“Saya akan bacakan kepadamu yang baru saja kubaca, ‘Suatu hari, al-Hasan al-Bashri lewat di hadapan seorang pemuda yang tenggelam dalam tawanya, ketika ia duduk bersama teman-temannya. Al-Hasan berkata kepadanya, ‘Wahai pemuda ! Pernahkah engkau melewati ash-Shirath ? ‘Sang pemuda menjawab, ‘Belum’. Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau tahu sedang berjalan menuju surga atau neraka ?’ ‘Tidak.’ Jawab pemuda itu lagi. ‘Lalu apa arti tawamu itu ?’ Tanya beliau lagi’.”

­Sejenak kami terdiam. Kemudian saudariku itu menengok ke arahku, seraya berkata, “Sampai kapankah kelalaian ini akan terus berlangsung ?”

­Sumber :

­Az-Zamanu al-Qodim, ­Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim (ei, hal. 8-10)

 

 

­Amar Abdullah bin Syakir

        

 

 

 

 73 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: