Kerusakan Yang Ditimbulkan Oleh Perbuatan Zina (bag.1)

awal-2.jpg

Dipraktekkannya kejahatan ini dan tersebar luasnya, benar-benar meninggalkan pengaruh dan mudharat yang membuat rambut beruban dan badan gemetar; dan awal dari kemudharatan-kemudharatan ini adalah :

1. Menodai kehormatan dan kemuliaan, menanggalkan simbol kesucian, kehormatan diri, dan keutamaan, serta mengotori pelakunya dengan aib dan cela.

2. Memakaikan pakaian kemurkaan di antara manusia kepada palakunya.

3. Menceraiberaikan hati dan membuatnya sakit, jika ia tidak membuatnya mati.

4. Merusak kerukunan rumah tangga, menggoyahkan kekuatan keluarga, memutus hubungan rumah tangga, dan membuat anak-anak beresiko memperoleh pendidikan yang buruk yang bisa menjadikan mereka menjadi brutal, melakukan penyimpangan dan tindak kejahatan.

5. Perbuatan zina mengakibatkan tersia-siakan dan tercampur baurnya nasab, serta memberikan harta kepada orang yang tidak berhak mendapatkannya pada saat pembagian harta warisan. Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- telah bersabda terkait orang yang mencampurbaurkan nasab, mana kala seorang laki-laki hendak menggauli seorang hamba sahaya yang kala itu sedang hamil, lalu ketika Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- melihatnya, beliau bersabda,

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَلْعَنَهُ لَعْنًا يَدْخُلُ مَعَهُ قَبْرَهُ كَيْفَ يُوَرِّثُهُ وَهُوَ لاَ يَحِلُّ لَهُ كَيْفَ يَسْتَخْدِمُهُ وَهُوَ لاَ يَحِلُّ لَهُ

Sungguh aku ingin sekali melaknatnya dengan suatu laknat yang masuk ke dalam kuburannya bersamanya. Bagaimana bisa dia memberinya harta warisan pahadal hal itu tidak halal baginya ? bagaimana bisa dia menjadikannya sebagai pelayan padahal hal itu tidak halal baginya ? (HR. Muslim, no. 1441 dalam kitab an-Nikah, bab Tahrim Wath-i al-hamil al-Masbiyyah)

Ibnul Qayyim-semoga Allah merahmatinya- berkata, “Maksudnya, apabila dia membawanya dan mengikutsertakannya dalam hak mendapatkan warisan, maka hal itu tidak halal baginya, karena dia bukan anaknya, dan jika dia menjadikannya sebagai hamba sahaya yang dia jadikan pelayan, maka itu tidak halal baginya, karena dia telah mengikutsertakannya di dalamnya dengan alasan bahwa air mani dapat menambah jasad janin(Zaadul Ma’ad, 5/155)

Beliau juga berkata, “Dan di dalam hal ini terkandung petunjuk yang sangat nyata atas diharamkannya menikahi perempuan hamil  (Zaadul Ma’ad, 5/155)

Demikianlah perkataan beliau, “Lalu apabila menikahi perempuan hamil itu diharamkan, baik perempuan itu adalah perempuan merdeka lalu ia menikahinya, ataupun perempuan itu berasal dari kalangan hamba sahaya lalu dia menggaulinya, lalu bagaimana menurut Anda apabila ‘tanah itu bertambah basah’ dengan dia berzina, dan laki-laki yang berzina tidak bertanya tentang perempuan yang dia zinai, dan perempuan itu bisa jadi hamil darinya sehingga dia memasukkan ke dalam kaumnya orang yang bukan berasal dari mereka, bisa jadi juga perempuan itu sedang hamil sehingga air mani laki-laki itu menambah jasad janinnya, dan bisa jadi juga tidak diketahui, apakah dia hamil dari suaminya atau dari orang lain, dari sini, maka nasab dan air mani bercampur baur.”

Di dalam hadis disebutkan,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَدْخَلَتْ عَلَى قَوْمٍ مَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ فَلَيْسَتْ مِنَ اللَّهِ فِى شَىْءٍ وَلَنْ يُدْخِلَهَا اللَّهُ جَنَّتَهُ وَأَيُّمَا رَجُلٍ جَحَدَ وَلَدَهُ وَهُوَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ احْتَجَبَ اللَّهُ مِنْهُ وَفَضَحَهُ عَلَى رُءُوسِ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ

Perempuan mana saja yang memasukkan ke dalam suatu kaum orang yang bukan berasal dari mereka, maka dia bukan apa-apa di sisi Allah dan Allah tidak akan memasukkannya ke dalam Surga-Nya. Dan laki-laki mana saja yang mengingkari anaknya dan dia melihat kepadanya, niscaya Allah menutup diri darinya dan membuatnya menanggung malu di hadapan orang-orang terdahulu dan orang-orang yang datang kemudian (HR. Al-Bukhari. Silakan lihat fath al-Bari, 8/45)

6. Zina adalah hubungan temporal yang sesudahnya tidak ada tanggung jawab, karena itu, ia merupakan perbuatan binatang yang seharusnya dijauhi oleh manusia yang mulia.

7. Zina merupakan salah satu sebab terjadinya pembunuhan, karena terkadang orang yang sangat pencemburu tidak menemukan suatu jalan yang dengannya dia membersihkan aib yang menimpanya dan menimpa keluarganya kecuali dengan cara menumpahkan darah.

8. Menghancurkan masyarakat, mencerai-beraikan ikatan-ikatannya, dan anak-anak jalanan dan orang-orang yang tersia-siakan, di mana seorang bayi dilahirkan dan dia tidak mengetahui bapak dan ibunya.

9. Zina mendatangkan kegelisahan, kesedihan, dan kekhawatiran, serta menjadikan pelakunya berada dalam dua bahaya, di mana apabila perempuan berzina, maka ia telah menimpakan aib kepada keluarganya, suaminya, dan kerabatnya, dia membuat kepala mereka tertunduk malu, kemudian jika dia hamil dari zina dan membunuh anaknya, maka dia telah menyatukan di antara dua kejahatan, yaitu zina dan pembunuhan, dan jika dia mengasuhnya, maka dia telah menambahkan kepada suaminya seseorang yang bukan anaknya.

Bersambung…

Sumber :

Wa Laa Taq-rabuu al-fawaahisya, Jamal Abdurrahman Ismail (ei, hal.2-6)

Amar Abdullah bin Syakir

 

 

 

 

119 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: