Ketaatan kepada Suami (bag 2)

ketaatan-kepada-suami.jpg

Saudariku…para istri yang shalehah, semoga Allah merahmatimu…

Pernikahan adalah salah satu nikmat Allah –subhanahu wata’ala- yang diberikan kepada laki-laki dan perempuan dalam kadar yang sama, ia adalah wujud kecintaan, kasih sayang, itsar (mementingkan pasangan hidup) dan saling memberi dan menerima. Hal itu jelas tergambar dalam firman-Nya,

وَمِنْ ءَايَـٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ

“ Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan Allah menjadikan di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Qs. Ruum : 21)

Demi menjaga kelanggengan kasih sayang dan hubungan baik antara suami istri, maka Allah meletakkan hak masing-masing atas pasangannya.

Firman Allah –subhanahu wa ta’ala-,

وَلَهُنَّ مِثْلُ ٱلَّذِى عَلَيْهِنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ ۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌۭ ۗ

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dari istrinya (Qs. Al-Baqarah : 228)

Engkau mempunyai hak-hak atas suami yang tidak sedikit yang wajib diberikan kepadamu bahkan ia dianggap bermaksiat dan berdosa di sisi Allah –subhanahu wa ta’ala- jika ia tidak melaksanakan hak-hak mu.

Akan tetapi kita sekarang ini sedang membicarakan salah satu hak suami atas istri, dengan memenuhi niscaya istri akan masuk Surga Rabbnya dan berbahagia di dunia dan akhirat.

Hal tersebut adalah hendaknya seorang muslimah menjadi istri yang patuh kepada suaminya dengan menunaikan hak-haknya.

Sesungguhnya istri yang patuh kepada suaminya, dia bisa menjadikan suaminya merasa bahwa dia adalah segalanya bagi istrinya, dan dia juga merasa bahwa istri selalu membutuhkannya seperti kebutuhannya terhadap makan dan minum.

Sesungguhnya istri yang tunduk kepada suaminya, dia memahami hak suami sehingga dia tidak memerlukan peringatan atau penjelasan tentang hak itu.

Sesungguhnya istri yang taat kepada suaminya, dia mengetahui bahwa suaminya bisa saja salah sebab dia bukan ma’shum, akan tetapi istri dengan kejeliannya dan pemikirannya yang luas, dia mengetahui bagaimana menjaga ketaatan kepada suaminya dan bagaimana mengatasi problema yang mengancam rumah tangganya.

Sesungguhnya istri yang taat kepada suaminya, dia dapat memilih waktu yang tepat dan cara yang sesuai untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukan suaminya.

Sesungguhnya istri yang patuh kepada suaminya, dia senantiasa berlapang dada kepada suaminya dan berusaha melupakan sebagian besar sisi negatif yang ada pada diri suaminya, dan, asalkan tidak sampai kepada batas kekhawatiran dan kecemasan.

Sesungguhnya istri yang tunduk kepada suaminya, dia mengetahui bahwa suaminya menikahinya karena memang dia mencintai dirinya dan berusaha untuk membahagiakannya. Oleh sebab itu, meskipun sering terjadi perbedaan pendapat dia tidak mengabaikan bahwa suaminya menikahinya karena membutuhkannya.

Sesungguhnya istri yang taat kepada suaminya dia berusaha sebatas kemampuannya untuk memenuhi perkara-perkara yang disukai oleh suaminya meskipun dia membenci sebagian darinya sebagai wujud kecintaannya kepada suami.

Sesungguhnya istri yang taat kepada suaminya, dia selalu mengoreksi dan bertanya kepada dirinya sendiri sesudah terjadinya perbedaan dan perselisihan :

“Apa yang menyebabkan suaminya melontarkan ucapan seperti itu atau melakukan perbuatan seperti itu? “

“Apa yang telah dia lakukan sehingga perkaranya bisa jadi begini? “

Sesungguhnya istri yang patuh kepada suaminya, di sini dia berusaha mencari aib-aibnya dan menyingkap kesalahan-kesalahannya sebelum ditunjukkan oleh suaminya.

Sesudah merenung sejenak bersama diri sendiri, dia kembali bertanya kepada diri sendiri : Bukankah lebih baik diam dan tidak mengawali suami dengan pembicaraan sekarang? Bukankah lebih baik berbicara kepadanya dengan cara begini?

Beginilah istri yang taat kepada suaminya bergaul dengan suaminya, sang pembimbing hidupnya seakan-akan ia tidak bisa lepas darinya dalam situasi dan kondisi apapun asalkan tidak dalam bermaksiat kepada Allah-subhanahu wa ta’ala-.

Sumber :

Tuhfatu an-Nisa, Abu Maryam Majdi Fathi As-Sayyid (e.id, hal. 67-70)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: