Ketaatan Kepada Suami (bag 3)

Ketaatan-kepada-Suami-bag-3.jpg

Saudariku…

Saya sampaikan kepadamu kisah berikut, saya ingin kamu berpikir dan merenungkan makna-maknanya.

Ketika Asma bin Kharijah menikahkan putrinya, dia mendatanginya pada malam pengantin dan berkata kepadanya :

Wahai anakku, jika para wanita berhak mendidikmu, maka (memang) harus mendidikmu.

Jadikanlah dirimu hamba sahaya bagi suamimu niscaya dia akan menjadi hamba bagimu, janganlah kamu terlalu dekat dengannya, sebab hal itu membuatnya bosan kepadamu atau kamu yang bosan kepadanya, janganlah kamu menjauh darinya, kerena hal itu memberatkannya, jadilah kamu di mata suamimu sebagaimana yang telah aku ucapkan kepada ibumu :

Jadilah engkau pemaaf bagiku niscaya langgeng kasih sayangku.

Dan janganlah berbicara pada saat kemarahanku belum reda.

Dan janganlah sekalipun engkau memukulku seperti memukul rebana.

Sebab engkau tidak tahu bagaimana perpisahan

Sesungguhnya saya melihat kasih sayang dan kebencian dalam hati.

Apabila keduanya berkumpul maka kasih sayang akan sirna.

Di sini patut engkau ketahui-saudariku muslimah– bahwa usahamu dengan keseriusan dan kesungguhan dalam rangka mendapatkan keridhaan suamimu dan menanamkan kebahagiaan di dalam hatinya adalah perkara yang didambakan suami dari pendamping hidupnya.

Benar, sering terjadi perselisihan dan perbedaan antara dirimu dengan suamimu, kalau itu terjadi semestinya engkau mengatasi perbedaan dan perselisihan itu dalam waktu yang tepat dan mencari cara yang paling singkat untuk menyelesaikannya dan menyudahinya lalu jalankan cara tersebut.

Saudariku…

Benar, bisa jadi kebenaran berada di pihakmu dan kesalahan berada di pihaknya, akan tetapi dalam kondisi yang demikian engkau harus memahami mungkin saja suamimu berbeda pandangan dengan pendapatmu dan mengira bahwa dialah yang benar dan bisa jadi memang dialah yang benar karena suatu hikmah yang engkau tidak mengetahuinya. Dan mungkin juga dialah yang berada di atas kesalahan yang nyata baik dalam ucapan dan perbuatannya.


Dalam situasi dan kondisi demikian cobalah untuk menenangkan hatinya dan perasaannya yang tertekan terlebih dahulu, berusahalah untuk meringankan perkaranya, kemudian sesudah itu dengan tenggang waktu yang cukup sesudah dia merasa tentram jiwanya dan tenang pikirannya mulailah menjelaskan pendapatmu, dan sesungguhnya engkau tidak menginginkan kecuali kebaikan untuk dirimu dan dirinya, jelaskan pula kepadanya bahwa engkau tidak ingin sama sekali menyelisihinya, bagaimana mungkin ? sedangkan dia adalah pendamping hidupmu yang senantiasa engkau butuhkan.

Pada saat itu engkau dapat mempengaruhi suami untuk melaksanakan kemauanmu sesudah engkau memberikan kepadanya apa yang dia inginkan yaitu mendengarkan perkataannya dan melaksanakan perintahnya.

Beginilah semestinya engkau memikirkan bagaimana menjadikan suami bahagia, sehinngga dia juga menghiasi hidupmu dengan kebahagiaan dan ketentraman, akan tetapi hal itu tidak mungkin terwujud kecuali apabila engkau mengusai seni menarik hatinya dan memikat kekagumannya.

Semoga Allah memberikan taufik kepadamu. Amin

Sumber :

Tuhfatu an-Nisa, Abu Maryam Majdi Fathi As-Sayyid (e.id, hal. 71-72)

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: