Ketika Penyeru Kebaikan Dibunuh

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ  [آل عمران:

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa hak (alasan yang benar) dan membunuh orang-orang yang menyeru manusia berbuat adil, sampaikanlah kepada mereka kabar gembira, yaitu azab yang pedih. (Qs. Ali Imran : 21)

  • Faedah :

Di antara faeadah dan hukum yang dapat diambil dari ayat ini adalah :

1. Di dalam ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan disyariatkannya Amar Ma’ruf Nahi Munkar (Memerintahkan kepada kebaiakan dan mencegah kemungkaran) meskipun hal itu boleh jadi akan menyebabkan terbunuhnya orang yang menyerukan kebaikan tersesebut.

Ibnu al-‘Arabiy –semoga Allah merahmatinya- berkata, “Sebagian ulama kita mengatakan, ‘Ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan akan kewajiban beramar ma’ruf nahi munkar meskipun hal itu menyebabkan terbunuhnya orang yang menyerukannya. Dan, kami telah menjelaskannya di dalam kitab “al-Musykilainal-Amru bil Ma’ruf Wa an-Nahy ‘An al-Munkar, ayat-ayatnya dan hadis-hadisnya, syarat-syaratnya, dan faedah-faedahnya…ayat-ayat tentang hal itu cukup banyak, demikian pula hadis-hadisnya cukup jelas dan gamblang, dan ayat-ayat tersebut merupakan faedah dari pengutusan (para rasul Allah), dan merupakan syiar kepemimpinan para Nabi, dan hal itu juga merupakan kekuasaan ilahiyah bagi orang yang terhimpun pada dirinya persyaratan-persyaratan yang telah lalu (Ahkamu al-Qur’an, Ibnu al-‘Arabiy, 2/13)

2. Di dalam ayat ini juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa syariat amar ma’ruf nahi munkar termasuk syariat yang telah lama ada sejak zaman dahulu.

Imam al-Qurtubi -semoga Allah merahmatinya- mengatakan, “Ayat ini menunjukkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar keduanya merupakan hal wajib di kalangan umat terdahulu, hal itu merupakan faedah pengutusan para utusan, dan merupakan syiar kekuasaan para nabi (al-Jami’ Li Ahkami al-Qur’an, 4/47)

Dan ar-Raziy –semoga Allah merahmatinya- telah menyebutkan bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar, dan iman kepada Allah merupakan hal yang terjadi di seluruh ummat (Lihat, Mafaatih al-Ghaib, 3/27)

Syaikh Ibnu Bazz –semoga Allah merahmatinya- mengatakan, “Dan amar ma’ruf nahi munkar telah ada pada umat-umat terdahulu, karena itu Allah mengutus para rasul, dan karena itu pula Allah menurunkan kitab-kitab” (Majallah al-Buhuts al-Islamiyyah, 28/8)

Dan di antara hal yang juga menunjukkan bahwa kewajiban amar ma’ruf nahi munkar ini ada pada setiap syariat adalah firman-Nya,

لَيْسُوا سَوَاءً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ . يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ

Mereka itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara ahli kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (shalat).

Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang saleh (Qs. Ali Imran : 113-114)

Hal lainnya yang menunjukkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar telah ada di umat-umat terdahulu adalah perkataan Lukman,

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Wahai anak ! Laksakanlah shalat dan serulah (manusia) berbuat yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting. (Qs. Lukman : 17)

3. Agungnya kedudukan orang-orang yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran.

Al-Hasan –semoga Allah merahmatinya- mengambil faedah dari ayat ini bahwa orang yang memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran kedudukannya di sisi Allah menempati posisi setelah posisi kedudukan para Nabi. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa orang yang memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran kedudukannya di sisi Allah setelah kedudukan para Nabi, oleh karena itu disebutkan setelah mereka (Ghara-ib al-Qur’an Wa Raghaa-ib al-Furqan, 2/130)

Jamaluddin al-Qasimiy –semoga Allah merahmatinya- mengatakan, “Ayat ini (yakni, ayat 21 dari surat Ali Imran) sungguh menunjukkan akan agungnya kedudukan orang yang beramar ma’ruf (dan Nahi Munkar) dan betapa besarnya dosa orang yang membunuhnya karena hal itu dihubungkan dengan kekufuran kepada Allah dan pembunuhan terhadap para Nabi (Tafsir al-Qasimiy, 4/43)

4. Bahwa orang yang beramar ma’ruf dan nahi munkar hendaknya tahu bahwa jalan menuju ke Surga itu diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disukai oleh jiwa, penuh dengan onak dan duri. Mereka, para Nabi dan orang-orang yang memerintahkan manusia agar berbuat adil telah dibunuh padahal mereka menyeru dan mengajak manusia kepada kebenaran dan kebaikan, menyeru mereka untuk mendapat sesuatu yang akan menguntungan dan menggembirakan mereka, dan akan menjadikan keadaan mereka baik, meski demikian, mereka (orang-orang yang tidak suka kepada kebenaran dan kebaikan tersebut) justru membunuh mereka. Akan tetapi akibat yang baik dari kewajiban ini adalah para pelakunya akan mendapatkan keteguhan di dunia, terbimbing dengan petunjuk dan akan mendapatkan pertolongan untuk melawan orang-orang fasik yang suka membuat kerusakan di bumi, meskipun waktunya lama; karena kebenaran itu teruji, dan pada akhirnya pembelanya ditolong.

Muhammad Rosyid Ridha –semoga Allah merahmatinya- mengatakan, “Telah berlalu sunnah para Nabi, para rasul, dan para salafush sholeh (pendahulu yang baik) di atas jalan dakwah menyeru kepada kebaikan, amar makruf nahi munkar, meskipun jalan itu diliputi dengan hal-hal yang tidak disukai oleh jiwa dan menakutkan, betapa banyak mereka yang dibunuh di jalan tersebut, namun mereka menjadi para syuhada yang terbaik. (Tafsir al-Manar, 4/32)

5. Bahwa mengubah kemunkaran ketika dilakukan dalam kondisi seseorang takut dan mengkhawatrikan terhadap jiwa dan hartanya memiliki kedudukan yang sangat agung di sisi Allah, dan ibadah ini tidak mampu untuk dilakukan kecuali oleh sedikit dari kalangan orang-orang yang beriman, terlebih di zaman ini, sungguh keburukan telah mendominasi kebaikan, kerusakan telah mendominasi kemaslahatan, dan perkara bid’ah telah mendominasi perkara yang sunnah. (Tanwir al-Basha-ir Lin Nahyi ‘An al-Munkar, 1/78) dengan dalil besarnya kadar kejahatan orang yang membunuh orang yang menyeru manusia untuk berbuat adil.

6. Bahwa tindakan menyakiti orang-orang yang berupaya melakukan perbaikan dengan amar makruf dan nahi munkar, atau tindakan memusuhi mereka, atau mencemooh mereka, atau membesar-besarkan sebagian kesalahan mereka, dan menyebarkan informasi yang hoax tentang mereka merupakan dosa yang sangat besar.

7. Bahwa kemaksiatan itu ada yang menghapuskan (pahala) kebaikan di dunia dan di akhirat, seperti tindakan murtad, kufur terhadap ayat-ayat Allah dan melakukan penentangan terhadapnya. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman di sini (di dalam ayat ini, ayat 21 dari surat Ali Imran) kemudian Allah berfirman setelah ayat tersebut,

أُولَئِكَ الَّذِينَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

Mereka itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya di dunia dan di akhirat dan mereka tidak memperoleh pertolongan (Qs. Ali Imran : 22) (Lihat, Jami’ Latha-if at-Tafsir, 5/387)

Wallahu A’lam

Sumber :

Banyak mengambil faedah dariWaqafaat Ma-‘a Aayaati al-Hisbah Fii al-Qur’an al-Karim”, karya : Abu Abdirrahman Shadiq bin Muhammad al-Hadiy, hal. 17-20

Amar Abdullah bin Syakir

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *