Ketika Rasulullah Meluruskan Kesalahan Orang yang Melakukan Badal Haji

45.jpg


Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- mendengar seorang lelaki yang mengatakan : labbaika ‘an syubrumah (aku penuhi seruanmu dari Syubrumah). Beliau pun bertanya kepada lelaki tersebut : siapakah Syubrumah itu ? lelaki tersebut menjawab : ia adalah saudaraku atau kerabatku. Beliau kembali bertanya kepada lelaki tersebut : apakah engkau telah menunaikan haji sebelumnya untuk dirimu sendiri ? lelaki tersebut menjawab : belum. Beliau lalu berujar kepada lelaki tersebut : jika demikian, maka jadikanlah manasik ini dari dirimu, kemudian hajikanlah Syubrumah (pada kesempatan lain)


(HR. Ibnu Khuzaemah. Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, 2/276, hadis no. 1811, Ibnu Majah, 3/414, hadis no. 2903, al-Baihaqiy, 4/336. Hadis ini dishahihkan isnadnya oleh Syaikh al-Albani sebagaimana ta’liqnya terhadap shahih Ibnu Khuzaemah, 4/345)   


Ihtisab
 dalam Hadis :


Dalam hadis ini terdapat banyak faedah dan pelajaran yang dapat dipetik yang terkait dengan masalah amar ma’ruf nahi munkar, di antaranya yang terangkum dalam  poin berikut ini :


Pertama
,
ihtisab
terhadap orang yang menghajikan orang lain sementara dia sendiri belum melakukan haji untuk dirinya sendiri sebelumnya.


Kedua,

Bersegeranya seorang muhtasib mengajari orang yang belum mengerti.

 

&
Penjelasan :


  • Berihtisab terhadap orang yang menghajikan orang lain sementara dia sendiri belum melakukan haji untuk dirinya sendiri sebelumnya


Sungguh, Allah telah mewajibkan haji atas hamba-hambaNya, dan menjadikan kewajiban tersebut sebagai salah satu rukun Islam. Kewajiban tersebut hanya satu kali seumur hidup bagi orang yang mampu. Adapun pelaksanaannya lebih dari sekali, maka hukumnya sunnah. Allah ta’ala berfirman,

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا


Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah (Qs. Ali Imran : 97)


Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Wahai sekalian manusia ! Sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji. Berujarlah seorang lelaki : apakah setiap tahun wahai Rasulullah ? beliau tetap diam hingga lelaki tersebut mengulangi pertanyaannya sebanyak 3 kali. Lalu, Nabi bersabda : kalaulah aku katakan, “Iya” nisacaya diwajibkan (haji tersebut atas seseorang yang mampu setiap tahunnya) dan kalian tak akan bakal mampu melaksanakannya. Dan, beliau bersabda, “biarkanlah apa yang aku tinggalkan untuk kalian. Karena, orang-orang sebelum kalian telah banyak yang binasa karena banyaknya pertanyaan mereka dan penyelisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka. Maka dari itu, apa yang aku perintahkan kepada kalian maka lakukanlah semampu kalian, dan apabila aku melarang kalian dari melakukan sesuatu, maka tinggalkanlah (HR. Ibnu Khuzaemah, 4/129, hadis no. 2508, Muslim, 9/105, hadis no. 3244). Oleh karenanya, wajib atas seorang muslim untuk bersegera menunaikan haji yang wajib selagi memungkinkan. Tidak boleh baginya menunda-nunda tanpa uzur. Demikian pula, tidak boleh menghajikan orang lain terlebih dahulu sebelum dirinya melakukannya untuk dirinya sendiri. Hal demikian, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis yang tengah kita bahas ini dimana Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- mengingkari seorang lelaki yang didengarnya mengatakan : aku penuhi pangggilanmu dari syubrumah, maka beliau mengatakan kepadanya, siapakah syubrumah itu ? lelaki itu pun menjawab : ia adalah saudaraku atau kerabatku. Beliau bertanya lagi kepadanya, “ apakah kamu telah menunaikan haji sebelumnya untuk dirimu sendiri ? lelaki tersebut menjawab : belum. Beliau pun berujar kepada lelaki tersebut, “ jika demikian, maka jadikanlah manasik haji mu ini untuk dirimu, kemudian barulah engkau hajikan Syubrumah.


  • Bersegeranya seorang muhtasib mengajari orang yang belum mengerti


Seorang muhtasib hendaknya bersegera berihtisab (amar ma’ruf nahi munkar) terhadap orang yang melakukan ibadah kepada Allah dengan cara yang tidak benar. Nabi telah mengingkari lelaki tersebut yang bertalbiyah untuk haji untuk Syubrumah sementara ia sendiri belum menunaikan haji untuk dirinya sendiri. Maka, beliau bertanya kepadanya,’apakah kamu telah berhaji sebelumnya ? lalu, ketika beliau tahu bahwa lelaki tersebut belum berhaji untuk dirinya sendiri, beliau mengatakan kepadanya :     “ jika demikian, maka jadikanlah manasik haji mu ini untuk dirimu, kemudian barulah engkau hajikan Syubrumah. “ Maka, beliau-shallallahu ‘alaihi wasallam- segera saja mengajari lelaki tersebut, membimbingnya dengan cara yang baik, karena orang tersebut beribadah dengan cara yang tidak benar. Al-Bassam mengatakan : bahwa hadis ini menunjukkan wajibnya bersegera mengajari orang yang bodoh (belum mengerti) bila mana ia melakukan ibadah dengan cara yang tidak benar (Taudhiih al-Ahkaam, 3/271).


Oleh karena itu, seorang muhtasib hendaknya bersegara memberikan pengajaran terhadap orang yang belum menegerti hal yang benar, dan menjelaskan kesalahan yang dilakukannya, serta memberikan penjelasan kepadanya cara yang benar dalam melakukan tindakannya yang ia terjatuh ke dalam kesalahan tersebut.

 


Wallahu A’lam


Sumber :


Diterjemahkan dari “ al-Ihtisab Fii Shahih Ibni Khuzaemah”, karya : Abdul Wahab bin Muhammad bin Fayi’ ‘Usairiy, hal. 224-225

 


Amar Abdullah bin Syakir

 

 

 

 

 

95 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: